
Selepas Sasa masuk ke dalam rumah, sosok yang menyembunyikan diri dibalik pintu akhirnya keluar dari persembunyiannya. Dia menatap punggung adiknya yang berjalan jauh tanpa menoleh ke belakang, lalu beralih menatap wanita kurus yang kini sedang menyapu halaman belakang. Sosok kurus dan lemah itu terlihat kekurangan banyak daging meskipun dia menggunakan pakaian gamis yang longgar. Pakaian longgar yang dia kenakan tidak mampu menyembunyikan betapa ringkihnya tubuh itu. Bergerak ke sana kemari untuk mengumpulkan sampah dedaunan di tanah, tubuh ringkih itu memberikan sebuah ilusi bahwa sewaktu-waktu akan ambruk jika terlalu banyak bergerak.
"Azira, berhenti bekerja. Ayo sarapan."
Tubuh yang tadinya rileks kembali menegang saat mendengar panggilan Kenzie. Dia lalu menoleh menatap langit di atas sana, perlahan sinar mentari mulai menyapu kegelapan yang sempat berkuasa.
"Sudah pagi." Bisik Azira.
Dia tidak tahu sejak kapan Kenzie pulang ke rumah karena pikirannya tadi sempat teralihkan.
"Tunggu sebentar lagi. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Azira kembali mengayunkan sapu lidinya menyapu dedaunan di tanah.
"Aku bilang ke sini." Tekan Kenzie.
Azira keras kepala.
"Mas duluan aja, setelah menyelesaikan pekerjaan aku akan menyusul. Ibuku juga bilang gak boleh bekerja setengah-setengah, pamali."
Kenzie mengatupkan bibirnya tidak berbicara lagi. Azira mengira jika dia sudah pergi karena tidak mendengar suara darinya. Tapi selang beberapa detik kemudian, tangannya tiba-tiba ditarik dan sapu lidi yang dia pegang dibuang ke pinggir.
__ADS_1
"Pergi. Biasakan untuk mendengarkan kalau disuruh. Dan apa yang Ibu bilang itu cuma akal-akalan orang dulu agar tidak malas."
Azira melongo kaget. Untuk sejenak dia bingung. Jujur, Azira kaget Kenzie memanggil Ibunya dengan sebutan 'Ibu' dan bukan 'Ibumu'. Apa Azira terlalu banyak berpikir dan berharap Kenzie mengakui Ibunya sebagai Ibu mertua?
"Kenapa diam saja? Ayo pergi, semua orang sudah menunggu kita di dalam." Kenzie menarik Azira agar ikut bersamanya, namun Azira tidak mau bergerak.
"Sasa sudah mengirimkanku sarapan. Aku bisa memakannya di sini dan mas masuk saja, karena Abah dan Umi sudah menunggu di dalam."
Kenzie langsung mengalihkan matanya menatap nampan makanan di atas meja. Dia kemudian membuka tudung saji. Di dalamnya ada sepiring nasi goreng beserta lauk pauknya dan segelas air putih. Sarapannya lezat, tapi entah kenapa tidak sedap dipandang di matanya.
Berkedip samar, dia menarik Azira dan duduk di kursi taman. Tangan satunya mengambil nampan, meletakkannya di atas pahanya sendiri.
Azira sama sekali tidak menebak tindakan ini. Dia malah mengira jika Kenzie akan ikut bergabung sarapan dengan yang lain, tapi apa yang dia lihat saat ini? Kenzie diam di sini dan sarapan bersamanya. Sudah begitu mereka makan satu piring berdua dan yang paling mengejutkan adalah, Kenzie menyuapinya.
"Aku..." Azira tidak nyaman melihat ekspresi datar di wajah suaminya dan terpaksa menelan kata-kata yang akan diucapkan, selanjutnya dengan membuka mulutnya untuk menerima suapan dari suaminya.
Setelah Azira mengambil suapan pertama, sang suami lalu mengambil suapan kedua. Kenzie terus melakukan ini hingga makanan di piring habis tanpa menyisakan 1 butir nasi.
"Biasakan diri untuk tidak menyisakan makanan apapun di atas piring." Katanya sambil menyerahkan air putih kepada Azira.
__ADS_1
Azira malu, rasanya aneh diperlakukan seperti ini oleh Kenzie. Memikirkan bagaimana dia sarapan tadi dengan sang suami, desiran aneh itu kembali hidup di dalam jantungnya. Perasaan apa ini?
"Iya, mas. Aku sudah terbiasa menghabiskan apapun yang ada di atas piringku. Ibu mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kami makan harus disyukuri. Karena apa yang dimakan hari ini belum tentu bisa dimakan hari selanjut-" Azira tertegun melihat sang suami kini tengah sedang memperhatikannya berbicara dan dia tahu bahwa dia mengatakan sesuatu yang salah.
"Maaf, aku terlalu banyak bicara." Azira menyadari bahwa dia terlalu banyak bicara dan segera menutup mulut. Kemudian dengan patuh menyesap air putih di dalam gelas.
Setelah merasa cukup, Azira ragu mengembalikan gelas itu kepada sang suami. Dilema, di akhirnya memutuskan untuk menaruh gelas itu di atas nampan tapi langsung diambil oleh sang suami. Di bawah mata shock Azira, sang suami meminum air di gelas di tempat yang sama dengan Azira. Ekspresi sang suami tetap datar dan biasa-biasa saja, sedangkan Azira merasa tubuhnya langsung lemas dan pipinya terasa panas.
Dug
Dug
Dug
Suara detak jantungnya menggebu-gebu di dalam dada. Jari jemarinya yang saling meremas anehnya gemetaran di tengah-tengah desiran aneh ini.
"Ada apa?" Kenzie menaikkan salah satu alisnya bertanya.
Malu, Azira spontan mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain,"Bukan apa-apa..."
__ADS_1