
"Mona, Mama minta tolong sama kamu. Malam ini piringnya Mona yang cuci, ya? Yana enggak boleh kerja dulu soalnya besok kan dia ada ujian jadi setelah selesai makan malam Yana harus balik ke kamarnya untuk lanjut belajar. Mama minta tolong sekali, ya, Mona." Beberapa hari ini Yana sering membantu di dapur entah itu membantu memasak atau membantu membersihkan dapur.
Tapi khusus malam ini mama tidak mengizinkan Yana bekerja dulu karena dia harus fokus belajar untuk ujian besok. Mama juga berpikir kalau Yana membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya biar besok dia tidak terlalu gugup saat menghadapi ujian sehingga hasilnya lebih maksimal.
Wajah Mona langsung cemberut.
"Em.... Yana masih bisa kok, ma. Lagian cuma cuci piring, sebentar aja selesai kok." Yana buru-buru berbicara sebelum Mona meledak-ledak.
Mama menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Enggak boleh. Kamu harus stay di dalam kamar untuk belajar." Mama menekankan.
Yana membuat alasan.
"Yana sudah mempelajari semua buku-buku yang kak Ayana kasih. Dan Yana sudah bosan terlalu banyak belajar. Malam ini Yana mau sedikit lebih bersantai biar nggak terlalu tertekan besok."
Mama masih tidak setuju dengan Yana.
"Kalau kamu bosan belajar ya udah nggak usah belajar. Kamu bisa kok santai-santai, Mama nggak ngelarang. Karena mama ngerti kamu membutuhkan waktu untuk mengkondisikan pikiran dan mental kamu-"
"Okay, Mona akan cuci piring sekarang." Sela Mona tidak mau mendengarkan.
Setelah berkata begitu dia mengumpulkan peralatan makan yang kotor di atas meja dan membawanya ke wastafel untuk dicuci. Mona memindahkan semuanya bolak-balik sebelum mulai mencuci. 20 menit kemudian dia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.
Mengelap tangannya menggunakan tissue, begitu keluar dari dapur dia tidak menemukan siapapun di rumah. Entah ke mana mereka semua pergi.
Ketika dirinya diliputi perasaan kebingungan, dia mendengar suara-suara dari lantai dua. Melihat ke arah sana, pintu kamar Yana terbuka dan sekilas Mona bisa melihat kedua orang tuanya tengah berdiri di samping pintu.
Melihat pemandangan ini, Mona menghela nafas panjang. Dia lalu membawa kakinya keluar rumah. Berjalan pelan di bawah cahaya redup lampu jalanan, entah apa yang dirasakan hatinya sekarang, ada ketidakrelaan.
Orang tuanya lebih memperhatikan Yana daripada dirinya sendiri yang lahir dari darah daging mereka. Bohong bila Mona mengatakan bahwa dia tidak cemburu. Dia sangat cemburu malah. Tapi apa yang bisa dia lakukan?
Hehehe...
Dia tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali untuk berlapang dada dan berusaha tidak terlalu memikirkan semua ini.
"Mona, akhirnya kamu datang juga. Dari kemarin kakak kamu nyariin terus." Begitu memasuki gerbang rumah Abah, dia langsung disambut oleh Umi.
Mona tersenyum cerah. Salah satu alasan kenapa Mona sering ke sini adalah karena keluarga Abah sangat hangat dan alasan lainnya karena dia mengidolakan Azira!
"Hehehe... Mona baru-baru ini sibuk, Umi, makanya jarang datang." Mona membuat alasan.
Umi tersenyum pengertian. Dia lalu meminta Mona masuk ke dalam karena Azira sudah menunggunya. Melihat punggung Mona semakin menjauh dari pandangannya, Umi bergumam aneh,"Kenapa Mona terlihat jauh lebih murung dari biasanya?"
Mungkinkah karena Yana?
Umi tidak tahu jawaban pastinya tapi dia mengira bahwa ini pasti ada hubungannya dengan Yana. Entahlah, Umi tidak terlalu berani membuat komentar karena itu adalah kehidupan adik iparnya. Hanya saja terlalu condong ke satu sisi sampai-sampai melupakan sisi yang lain terlalu tidak baik. Sayang sekali adik iparnya tidak terlalu peka dan selalu menganggap bila Mona masih belum dewasa, emosinya masih labil dan kekanak-kanakan. Haih, memikirkan nasib Mona, Umi merasa kasihan.
Mona sama sekali tidak tahu jika Umi prihatin kepadanya. Saat ini dia langsung ke ruang tengah, tempat biasa semua orang berkumpul. Mona langsung berlari menghampiri Azira ketika melihatnya sedang duduk bersandar di sofa sementara Kenzie di atas karpet dengan setumpuk dokumen di atas meja.
"Kak Azira!" Panggil Mona mulai bersikap manja.
"Eh, Mona!" Azira berseru kaget dan segera merentangkan tangannya menerima pelukan Mona.
"Kak Azira, aku kangen." Rengeknya menyedihkan.
__ADS_1
Azira mencubit hidung Mona geli.
"Kalau kangen kenapa kamu enggak pernah ke sini lagi? Kakak sampai bingung lho karena kamu tiba-tiba ngilang tanpa kabar. Kakak kirain kamu kenapa-kenapa tau." Omel Azira tidak serius.
Mona terkikik malu. Dia memeluk Azira sayang untuk berbagi kekuatan. Untuk sejenak rasa tubuh letih ini akhirnya memiliki tempat untuk bersandar. Meskipun cuma sebentar tapi bagi Mona ini sudah cukup membuatnya bernafas lega.
"Ah, kak Azira, beberapa hari ini aku sering disakiti sama orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mona mau nyamperin kak Azira buat mengadu, tapi Mona enggak enak hati karena kak Azira pasti punya masalah yang lebih besar dari aku." Keluh Mona mengungkapkan isi hatinya.
Dia sengaja berbicara seperti anak kecil yang manja, jadi setiap orang yang mendengarnya akan berpikir kalau dia cuma berbohong dan mengarang cerita asal-asalan.
Tapi sayangnya Azira menyadari bila Mona sepertinya sedang ada masalah.
"Ngomong sama kakak, orang jahat mana yang jahatin kamu? Nanti kakak minta kak Kenzie yang marahin mereka." Kata Azira kekanak-kanakan.
Mona lantas tertawa.
"Udah ah, kak. Mona lapar. Di sini lauknya apa aja? Kak Azira masih punya stok gorengan enggak?" Mona mengusap perutnya yang belum kenyang.
"Lauknya seingat kakak ada telur dadar, sambal cumi sama apa mungkin, kak Azira lupa. Kamu tinggal liat sendiri di dapur nanti. Hari ini kakak enggak ada stok gorengan karena mas Kenzie enggak bolehin kakak beli. Jadi malam ini kamu makan apa aja yang ada, besok kalau kakak beli pasti disimpan kan buat kamu." Malam ini Azira makan malamnya dengan bubur jadi dia tidak terlalu memperhatikan lauk di meja.
"Yah, tapi enggak apa-apa deh. Lain kali kakak simpankan buat aku juga yah. Aku lapar banget, aku ke dapur dulu ya, kak."
"Pergi aja." Kata Azira.
Mona langsung meluncur ke dapur. Mengambil seporsi besar nasi beserta lauk pauk untuk menebus rasa laparnya dari kemarin.
Sementara itu di ruang tengah, Sasa akhirnya keluar dari kamar dan duduk di samping Azira dengan sebuah buku di dalam pelukannya.
"Rajin banget, dek." Ujar Azira menggoda.
Sasa tertawa tidak jelas.
"Oh, begitu. Kamu tahu enggak Mona sekarang di sini.."
Sasa langsung menegakkan punggungnya. Orang yang dia tunggu-tunggu kedatangannya akhirnya datang juga.
"Dimana Mona, kak?" Melihat ke kiri dan ke kanan, dia tidak melihat sosok menyebalkan sepupunya itu.
Azira tersenyum.
"Dia di dapur- nah, itu dia." Tepat setelah Azira berbicara, Mona kembali ke ruang tengah dengan bau sambal cumi di mulutnya.
Saking laparnya dia menghabiskan 3 ekor sambal cumi karena terlalu enak. Malah dia mau nambah lagi tapi otaknya mengingatkan kalau cumi mengandung kolesterol tinggi dan selain itu enggak bagus makan banyak-banyak di malam hari. Kalau enggak, dia masih sanggup menghabiskan dua atau tiga piring lagi.
"Mon, akhirnya kamu datang juga." Sasa berteriak kegirangan melihat Mona akhirnya datang ke sini.
Mona meliriknya curiga.
"Ada apa?"
Sasa tidak menjawab. Dia buru-buru menarik tangan Mona menuju kamarnya.
"Ikut aku. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada kamu." Kata Sasa sangat antusias.
Mona nurut-nurut saja ditarik ke dalam kamarnya. Dia sudah terbiasa.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Mona mengulangi pertanyaan yang sama setelah mereka masuk ke dalam kamar.
Sasa menutup pintu kamar serapat mungkin, kemudian memamerkan buku yang dia bawa tadi ke Mona.
Mona melihat sampul buku yang tidak asing lagi untuknya. Ini adalah buku yang hari ini Al berikan kepadanya. Menurut kelangkaan buku ini, dia mengira jika Sasa tidak mendapatkan bagian. Tapi ternyata dia dapat juga.
"Kamu dapat. Beli dimana?" Sampulnya masih baru dan masih memiliki aroma buku baru, jelas Sasa membelinya di toko buku.
Sasa memainkan buku ditangannya dengan arogan. Dengan sengaja memperlihatkannya kepada Mona bila buku ini masih baru dan berbau toko buku.
"Masih baru, kan?" Bukannya menjawab, tapi Sasa malah bertanya balik.
Mona merasa sepupunya ini agak enggak jelas hari ini- eh, bukannya dia selalu tidak jelas, yah?
"Udah tahu buku kamu masih baru, kamu beli dimana?" Tanya Mona geregetan.
Sasa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi tidak sabar di wajah sepupunya ini. Puas memainkannya, dia kemudian memeluk buku itu dan memperlakukannya seperti seorang bayi, sangat berharga. Mona agak ngeri melihat penampilan sepupunya yang semakin enggak jelas. Mungkinkah ini akibat terlalu banyak begadang mengerjakan tugas kuliah?
Wah, efeknya enggak kira-kira!
"Sas, kamu gila, yah?" Mona menggodanya.
Sasa memutar bola matanya tak puas.
"Kamu kali yang gila." Sasa kehilangan minat. Jadi dia menaruh buku itu dengan hati-hati di tempat yang paling mencolok dan bagus di antara buku-bukunya yang lain.
Disaat buku lain berebutan ruang di sebuah rak buluk, buku ini justru diperlakukan dengan istimewa bak raja di sebuah negeri.
"Serius, sampai segitunya?" Mona heran.
Dia duduk di pinggir kasur menonton semua yang dilakukan oleh sepupunya. Satu kata yang pasti, sepupunya yang aneh bertambah semakin aneh lagi di sini.
"Kamu tahu apa? Ini tuh pemberian. Jadi harus aku jaga hati-hati." Kata Sasa sibuk mengatur ruang untuk bukunya tersebut.
Pemberian dari orang dijaga sampai segitunya, Mona penasaran siapa orang yang telah memberikan buku ini sampai-sampai membuat Sasa hampir kehilangan kewarasannya?
"Dari siapa?"
Sasa tersenyum malu. Pipinya memerah di bawah pengawasan mata telanjang. Ugh, jangan katakan itu lagi. Dia merasa kakinya menyentuh awan setiap kali memikirkan sosok tampan itu.
"Siapa lagi menurut kamu? Selain pak Al, aku enggak akan sebahagia ini." Kata Sasa dengan senyum malu-malu di wajahnya.
Mona otomatis kehilangan senyum di wajahnya.
"Pak Al yang memberikan kamu buku ini?" Tanyanya dengan suara gemetar.
Mona menyentuh tenggorokannya, lalu pura-pura batuk untuk menyamarkan reaksinya tadi.
"Iya, eh, tapi enggak juga disebut pemberian sih karena aku cuma nitip sama dia. Tapi...kamu tahu sendiri kan, Mona, kalau pak Al itu orangnya gimana. Mau disuruh beliin aku buku aja udah luar biasa lho, Mona. Aku lihat-lihat enggak ada tuh satupun mahasiswi yang bisa nyuruh dia beliin buku selain aku. Artinya apa, Mona?" Sasa berbalik menatap Mona dan tidak menyadari ada sesuatu yang salah dengan sepupunya ini.
"A...apa?" Mona mengendalikan suaranya senormal mungkin.
Sasa mengeluh.
"Ih, masa begitu aja kamu enggak tahu! Artinya ini kabar baik dong, Mona. Berarti ada kemajuan di antara kami berdua. Coba deh kamu hitung. Pertama dia mengenal aku, kedua dia mau berbicara sama aku, dan ketiga dia bersedia aku mintai tolong buat beli buku dan taraa...dia berhasil mendapatkan buku ini! Padahal buku ini langka banget, kamu tahu sendiri kan, Mona! Duh, bahaya nih...makin dipikirkan aku makin deg degan. Terus habis ini apa lagi yahhh...aku harap ada kabar baik lainnya!" Sasa tertawa sendiri mulai menantikan pertemuan selanjutnya.
__ADS_1
Sementara Mona yang sedang berusaha mencerna semua ini perlahan menundukkan kepalanya menyembunyikan tatapan sendunya.
Aku... terjatuh lagi. Batinnya menertawakan diri sendiri.