Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 1.8


__ADS_3

Huh, bahkan sampai dengan detik ini mereka masih berkeyakinan bila aku adalah anak haram Ayah. Padahal jelas-jelas aku adalah anak sah Ayah yang sayangnya tidak dianggap hanya karena aku lahir dari rahim seorang wanita yang miskin dan bekerja di tempat yang tercela!


"Oh ya, aku membelikan mu sesuatu saat pulang kerja tadi." Ucapnya sambil memberikan ku sebuah paper bag ukuran sedang berwana putih. Mengambil paper bag itu, aku tidak langsung membukanya karena aku tahu ia pasti saat ini sedang memandangku sebelah mata karena aku adalah anak yang miskin.


"Terimakasih." Ucapku basa-basi seraya menaruh paper bag tersebut di sampingku.


"Tidak perlu berterima kasih dan anggap saja ini adalah ucapan selamat datang ku kepadamu sebagai saudara."


Dia bilang saudara?


Saudara, kami adalah saudara?


"Apa kau tadi mengatakan bahwa kita adalah saudara?" Tanyaku ingin memastikan, dan aku juga sangat meragukan hal ini.


Gadis ini langsung mengangguk tanpa keraguan sedikitpun, menjawab pertanyaan yang cukup jelas sebenarnya di kepalaku.


"Jadi..kau adalah anak dari..wani-ah, maksudku dari Ibu angkatku?" Tanyaku dengan perasaan campur aduk.


Ada sakit juga kecewa karena Ayah ternyata telah bersama wanita itu disaat masih hidup bersama Ibu. Apa ini, usia kami bahkan tampaknya tidak jauh.


Mungkin satu atau bulan?


"Haha..iya kau benar, aku adalah putri mereka jadi setelah semua kita berdua adalah saudara sekarang." Tawanya terdengar canggung.


Oh, pantas!


Pantas saja aku selalu merasa bahwa gadis ini tidak asing untuk ku karena ternyata ia adalah anak dari Ibu angkatku itu. Ini adalah hasil dari pernikahan sah mereka yang begitu mereka banggakan dan tunggu-tunggu kehadirannya.


Ini adalah hasil pernikahan kedua Ayah dan diklaim sebagai satu-satunya pernikahan Ayah!


Tunggu, aku harus memanggil wanita kaya itu apa. Apakah harus Ibu tiri atau Ibu angkat?


Hah, sejujurnya, panggilan apapun yang ku sematkan kepadanya, dia tidak akan pernah mau mengakui ku sebagai bagian dari keluarga ini. Keluarga kaya raya nan harmonis yang telah menghancurkan kehidupan Ibuku.


Oh, wanita itu ternyata melahirkan gadis yang sangat cantik, yah karena gadis ini... karena gadis ini mereka semua menatapku selayaknya sampah di jalanan.


Ah..betapa kejamnya!


"Oo..ya." Aku tidak tahu harus meresponnya apa. Ini adalah kejutan untukku!


Aku memang sangat-sangat terkejut!


"Namaku adalah Humaira, siapa namamu?"


Deg


Mataku tanpa sadar jatuh ke matanya yang cantik dengan bulu mata panjang nan lentik yang mempesona.

__ADS_1


Memandangnya dengan perasaan lucu yang sangat menyesakkan di dalam dadaku, rasanya sungguh sakit, Tuhan.


Ah, aku sekarang mengerti mengapa orang-orang tadi begitu terkejut mendengar namaku karena putri sah keluarga ini ternyata punya nama yang sama denganku. Tidak, sejujurnya Ibu pernah mengatakannya tapi benar-benar tidak pernah menganggapnya dengan serius karena Ayah pasti tidak akan pernah memberikan nama yang sama pada putri-putrinya.


Tapi apa yang sekarang aku temukan?


Entahlah, namun aku bertanya-tanya apa yang dipikirkan Ibuku ketika memberikan ku nama kutukan ini?


Apa yang dia pikirkan ketika memberikan ku gelar sampah ini?


Oh, sial!


Aku memaksakan senyum, meraih uluran tangannya dengan sangat enggan, "Aku adalah Azira, Azira Humaira." Ucapku memperkenalkan diriku yang lagi-lagi disambut dengan tatapan terkejut darinya.


Benar, perasaan yang kamu rasakan sama dengan apa yang kurasakan. Kamu pasti jijik dengan kesamaan kita ini, kan?


"Namamu adalah Azira Humaira?" Tanyanya tidak percaya.


Apa dia tuli?


Atau pendengarannya mengalami suatu masalah?


"Ya, namaku adalah Azira Humaira." Jelas ia begitu terkejut karena nama depan kami persis sama. Mungkin di dalam hatinya timbul rasa jijik dan muak karena aku mempunyai nama yang sama persis dengannya. Yah, jika bisa aku sejujurnya berharap hanya nama belakang saja yang sama dan jangan sampai nama depan juga sama.


Karena jika iya...aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Ibuku yang malang.


Sangat-sangat lucu.


"Jadi..jadi kau juga bernama Azira Humaira?" Ku mohon semoga saja aku salah dengar.


"Ya, aku juga Azira Humairah, tapi Humairah nya ada huruf h dan kamu tidak menggunakan huruf h. Tapi menurutku perbedaan ini tidak ada artinya dan aku pikir nama kita sama persis Azira!" Jawabnya tanpa ragu sedikitpun!


Oh, Ibu apa yang dulu kau pikirkan ketika memberikan ku nama ini?


Mengapa namaku sama persis dengannya?


Walaupun ada perbedaan huruf h, tapi tetap saja nama kami kedengarannya sama.


Bu, apa kamu sangat mencintai laki-laki yang tidak bertanggungjawab itu sampai-sampai memberikan ku nama yang sama persis dengan putri yang diklaim satu-satunya sah?


Tidak, tidak sama sekali. Nama ini adalah milikku dari sejak awal karena aku adalah anak yang pertama lahir dibandingkan gadis ini!


Ya, merekalah yang mencuri nama ini dariku. Mereka semua mencuri apa yang seharusnya aku miliki di dunia, bahkan kebahagiaan Ibuku.. mereka tanpa ampun mencurinya!


"Jadi, siapa panggilan mu?" Tanyaku berusaha menarik tanganku kembali dari genggamannya.


Aku tidak sudi bersentuhan dengan darah daging yang pernah menusuk Ibuku dari belakang, membuang dan mengkhianatinya tanpa belas kasih.

__ADS_1


"Panggil saja aku Humairah." Jawabnya cepat.


Syukurnya nama panggilan kami berbeda.


"Baiklah Humairah, kau juga bisa memanggilku dengan Azira." Kataku enggan memberitahunya.


"Ini sudah dari awal aku lakukan." Katanya sambil menutupi mulutnya untuk tertawa kecil.


Bukankah dia terlalu lebay?


Sedikit-sedikit tertawa kecil, sedikit-sedikit menutupi mulutnya tertawa.


Kenapa dia tidak terbahak-bahak langsung saja tanpa perlu menutupinya?!


"Ah..yah." Gumam ku tidak berdaya.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada 'adikku' terkasih ini.


"Azira, aku punya sesuatu-"


Terd


Terd


Terd


"Ah, maaf aku mendapatkan telpon. Azira, aku permisi dulu untuk menerima telpon. Nanti setelah makan malam kita akan kembali berbincang-bincang lagi jadi luangkanlah waktumu di sini." Ucapnya pamit seraya mengangkat telpon dari sang penelepon.


Dia buru-buru keluar dari kamar dan menutup pintu kamarku dengan sopan. Memberikan ku sebuah senyuman cerah diwajahnya sebelum berpisah.


Aku tahu dia pasti mengejekku tadi.


Menjijikkan, keluarga ini sangat menjijikkan. Aku sangat muak!


"Kita adalah saudara?" Aku tidak bisa menahan tawaku.


Betapa memalukannya ini?


"Tuhan, mengapa Kau begitu senang mempermainkan hidupku?"


Sudah berapa kali aku dihancurkan dalam hidup ini?


Sudah berapa gelombang penderitaan yang aku rasakan dalam hidup ini, namun Tuhan... Tuhan sama sekali tak mau menolongku!


Dia diam saja melihatku menderita!


"Aku sungguh lelah... Tuhan, permainan ini tolong ditahan sebentar saja..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2