Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 13.6


__ADS_3

Kenzie melembutkan matanya. Mungkin tahu kalau Azira merasa gugup dengan sikapnya saat ini.


"Dengar. Jawab Kenzie dengan nada sabar


Dia mengalihkan pandangannya dari wajah merah Azira. Kemudian mulai membereskan dokumen di atas meja dan menutup file-file penting di dalam laptop.


Azira meragukannya. Dia menduga kalau suaminya itu benar-benar tidak mendengar apa yang dia katakan tadi.


"Kita langsung sholat, mas?" Tak berdiam diri, Azira ikut membantu suaminya membereskan hal-hal yang ada di atas meja.


Dia juga mengambil alih dokumen itu dari tangan suaminya. Sempat ingin mengambil laptop itu, tapi Kenzie tidak mengizinkannya.


"Berat, biar aku saja." Tolak Kenzie.


Setelah membereskan meja, mereka berdua lalu pergi ke kamar.


"Kamu bilang apa tadi?" Kenzie ingat Azira sempat mengatakan sesuatu di bawah tadi.


Tapi karena fokusnya sedang teralihkan dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan istrinya tadi.


"Kita masih ada waktu buat sholat malam, mas." Kata Azira mengingatkan.


Setengah jam lagi imsak. Masih ada waktu yang cukup untuk sholat malam. Kali ini Azira ingin melaksanakan shalat malam dan sebenarnya lebih bersemangat dari malam-malam yang lain. Tak perlu mengatakan apa alasannya. Tentu saja itu karena hubungan mereka tidak lagi sekaku awal-awal menikah. Apalagi telah terjadi perubahan besar di dalam hubungan mereka, maka respon Azira tentu lebih antusias dari sebelumnya.

__ADS_1


Kenzie berujar kepada Azira,"Malam ini kita nggak shalat dulu soalnya aku enggak pernah tidur dan begadang semalaman."


Tangannya sesekali menyentuh pangkal hidungnya dan telah lama diperhatikan oleh Azira.


"Kenapa mas Kenzie tidak bekerja di dalam kamar aja tadi malam?" Di sana ada lampu kerja yang dapat membantu melindungi mata suaminya bekerja.


Setidaknya tidak terlalu pusing dan lelah seperti sekarang.


Kenzie mendengus.


"Lebih nyaman di bawah." Katanya menjawab asal-asalan.


Azira heran dengan jawaban suaminya. Biasanya tiap malam Kenzie selalu bekerja di dalam kamar. Enggak pernah tuh Azira melihat suaminya bekerja di luar apalagi di bawah. Kecuali pergi ke perpustakaan, suaminya tidak tinggal di luar terlalu lama. Itupun semalam karena mereka punya konflik makanya Kenzie tinggal sangat lama di dalam perpustakaan. Kalau tidak ada konflik, setengah jam pun Kenzie nggak bisa betah di sana.


Kenzie terdiam. Beberapa detik kemudian menjawab.


"Saat itu aku nyaman di kamar."


Jadi tergantung mood. Aneh saja melihat mood suaminya kebetulan berubah tadi malam.


Boleh enggak ya aku berpikir kalau mas Kenzie sengaja nungguin aku di bawah tadi malam makanya dia sampai begadang di sana? Batin Azira berharap.


"Gimana keadaan Sasa?"

__ADS_1


Azira tersadar.


"Alhamdulillah demamnya sudah turun, mas. Hari ini dia mungkin bisa beraktivitas kembali seperti biasanya." Jawab Azira melaporkan kondisi adik iparnya itu.


Kenzie kembali mendengus.


"Bagus kalau sudah baikan. Kalau enggak, aku sendiri yang akan menyeretnya ke ruang operasi."


Azira geli. Suaminya ternyata masih menyimpan dendam tentang semalam.


"Jangan keras-keras, mas. Dia adik kamu."


Kenzie menghentikan langkahnya dan melihat Azira sambil tersenyum- Azira langsung gemetar melihat senyum berbahaya suaminya.


"Kamu kasihan sama adik aku Sasa, itu bagus. Tapi apa kamu enggak kasihan sama adik aku yang di bawah?"


Adik yang dibawah?


"Maksud mas Kenzie- oh,"


Azira menatap wajah suaminya dengan tatapan kosong. Bibirnya tak mengeluarkan suara lagi namun wajahnya yang mengembangkan rona merah telah menjelaskan semuanya. Dia paham!


"Hati-hati lain kali." Ucap Kenzie melanjutkan lagi langkahnya naik tangga.

__ADS_1


__ADS_2