Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 11.2


__ADS_3

"Hah, buang-buang waktu saja." Keluhnya kesal.


Dia lalu naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar lampu telah dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur yang bersinar redup. Di atas kasur Kenzie tengah tertidur lelap, tidak menyadari bahwa orang di samping tidurnya baru saja kembali dari luar.


Jangan salahkan Azira mengintai pembicaraan pasangan ibu dan anak itu, pasalnya orang-orang itu memiliki rencana buruk kepadanya dan bahkan merendahkan martabatnya sebagai istri Kenzie. Bagaimana mungkin dia tidak merasa terancam?


Selain itu hatinya...um, hatinya sangat kesal setiap kali memikirkan bagaimana tatapan Frida kepada Kenzie ketika berbicara di tangga setelah selesai makan malam. Hatinya sakit dan pada saat yang sama dia tidak rela melihat mereka berdua bersama, mungkinkah dia merasa cemburu?


Apalagi ketika memikirkan senyuman Kenzie kepada Frida saat itu, rasa-rasanya hati ini tertusuk dan diiris-iris oleh benda tajam. Sangat menyakitkan.


Mungkinkah ini cemburu?


Azira tidak tahu. Namun ketika melihat Kenzie tidak meladeni dan tidak menganggap serius permintaan Frida bertemu di ruang tengah, dia tiba-tiba merasa lega dan beban di hatinya seolah terangkat. Dia senang karena Kenzie mengabaikan Frida.


"Apakah aku cemburu kepada mu, mas?" Gumam Azira sembari mendudukkan dirinya di atas kasur.


Dengan hati-hati dia menggeser duduknya, mendekati wajah tertidur lelap Kenzie. Ragu-ragu, tangan yang kapalan bergerak menyentuh wajah tampan Kenzie.


Bila Kenzie bangun, dia tidak mungkin berani melakukan ini. Karena di saat sedang tidur pun, Azira membutuhkan keberanian yang sangat besar.


"Jangan terus memberikan ku perhatian, mas. Aku takut karena terlalu terbiasa dengan perhatian darimu membuatku lupa siapa aku di sini. Dan aku sangat takut karena perhatianmu membuatku semakin ingin dekat dengan kamu. Itu menakutkan." Bisik Azira dengan suara yang amat sangat lembut.


Enggan, dia lalu menyingkirkan tangannya dari wajah suaminya. Lalu kembali ke tempat tidurnya, memberikan jarak yang cukup jauh dan menaruh bantal guling sebagai pembatas di antara mereka berdua.


"Dengan begini aku tidak akan memeluk mas Kenzie lagi." Ucap Azira percaya diri.


Setelah itu dia memejamkan matanya. Karena sudah mengantuk, tak membutuhkan waktu lama bagi dirinya untuk memasuki dunia mimpi. 10 menit kemudian, suara nafasnya yang teratur bergema di dalam ruangan ini.


Tiba-tiba Kenzie membuka matanya. Matanya terlihat sangat jernih, seperti orang yang tidak pernah tidur ataupun baru bangun. Dia jelas belum pernah tidur dan hanya berpura-pura tidur saja.


Memastikan bahwa Azira benar-benar tertidur. Kenzie lalu menyingkirkan bantal guling di antara mereka dan dengan rapi menaruhnya di pinggir kasur.


Kemudian telapak tangannya melambai di depan wajah tertidur Azira. Tak ada respon. Dia benar-benar tidur.


"Hem, kamu semakin menarik. Aku pikir ketenangan yang kamu tampilkan selama ini ketika berhadapan dengan Frida memang benar adanya. Tapi ternyata itu hanyalah penyamaran. Kamu cemburu? Harus. Karena," Dengan mudahnya Kenzie menarik Azira ke dalam pelukannya.


"Inilah hukuman yang aku inginkan." Ucapnya sambil tersenyum, namun bukan lagi disebut sebagai senyuman.


...*****...


Hampir pukul 04.00 pagi Azira dan Kenzie bangun bersama. Namun seperti malam-malam sebelumnya, Azira merasa heran karena menemukan dirinya terbangun lagi di dalam pelukan Kenzie.


Padahal dia sudah menaruh bantal guling di antara mereka berdua, tapi kenapa dia tetap berakhir di dalam pelukan Kenzie.


"Lalu di mana bantal gulingnya?" Gumam Azira bingung.


Kenzie dengan murah hati menunjukkan,"Di belakang mu." Suaranya serak.


Sontak saja, tubuh Azira langsung membeku ketakutan. Dengan kaku dia mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata gelap itu, Kenzie juga bangun!


Dan betapa bodohnya Azira, seharusnya setelah bangun dia harus buru-buru menyingkir dari pelukan sebelum Kenzie bangun. Tapi dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan lebih mementingkan bantal guling yang dia taruh di tengah-tengah mereka semalam!


Ini sangat memalukan.


"Mas... Aku... Benar-benar nggak tahu, semalam aku naruh bantal guling sebagai pembatas di antara kita berdua. Harusnya bantal guling itu masih di tengah sehingga aku tidak ceroboh lagi saat tidur, tapi kenapa tiba-tiba bantal guling itu ada di belakang ku?" Azira berusaha menjelaskan dengan gugup kepada suaminya.


Pasalnya ini sangat memalukan. Dia tidak pernah tahu kalau tidurnya akan ceroboh seperti ini dan ibu juga tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki tidur yang buruk.


Kenzie mengusap matanya berpura-pura bingung,"Oh... Lalu kenapa kamu memelukku... Setiap malam?" Tanya Kenzie tidak mengerti.


Azira memejamkan matanya malu. Jangankan Kenzie, dia pun tidak mengerti mengapa dirinya selalu berakhir di dalam pelukan Kenzie setiap malam.


"Aku juga nggak tahu, mas... Tiba-tiba aja... Ini terjadi. Masalahnya Ibu nggak pernah ngomong sama aku kalau kalau tidur punya kebiasaan yang buruk." Azira menjelaskan dengan serius.


Tapi Kenzie menyalah artikan nya.


"Jadi kamu ingin bilang kalau aku yang memeluk kamu?"


Azira buru-buru menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia menuduh Kenzie karena buktinya dia sendiri yang memeluk Kenzie setiap malam, yah itulah yang dia temukan ketika baru bangun!


"Nggak, nggak mas! Aku nggak pernah bilang kalau mas Kenzie yang memeluk aku duluan. Aku cuma bingung aja kenapa selalu memeluk mas Kenzie saat bangun tidur..." Azira menjelaskan dengan lemah.


"Kamu bingung tapi kenapa masih memelukku?" Tanya Kenzie lucu.

__ADS_1


Azira dengan keras kepala menggelengkan kepalanya membantah.


"Itu benar-benar di luar kendali ku, mas. Aku nggak tahu kalau setiap malam pasti memeluk mas Kenzie ketika tidur." Azira menjelaskan berkali-kali kepada Kenzie kalau dia tidak tahu dan bingung sendiri memikirkannya. Tapi Kenzie tidak mau tahu, dia terus-menerus menanyakan hal yang sama dan membuat Azira semakin malu!


"Kamu ngomong apa sih, aku tahu kalau kamu nggak sadar waktu tidur, tapi sekarang kamu sadar kan? Terus kenapa kamu masih memeluk aku?" Kenzie dengan murah hati mengingatkan Azira bahwa mereka sedang berpelukan, Oh tepatnya, Azira lah yang sedang memeluknya.


Ketika melihat petunjuk dari Kenzie, dia langsung tersadar dan baru menyadari kalau dia masih memeluk pinggang Kenzie. Panik, dia langsung menyingkirkan tangannya dari pinggang Kenzie sembari mundur ke belakang untuk menjaga jarak. Tindakan yang pemalu dan penakut membuatkan Kenzie agak kesal. Karena entah kenapa Kenzie merasa kalau Azira sedang menghindari wabah penyakit.


"Apa aku terlihat sangat menyeramkan?" Tanya Kenzie dengan nada mengeluh.


Azira memalingkan wajahnya malu. Kenzie sama sekali tidak menyeramkan. Tidak, tapi ini murni naluri hatinya yang gugup terlalu dekat dengan Kenzie.


"Tidak.... tidak, mas Kenzie, ah, jangan banyak tanya!" Kata Azira malu.


Tersenyum dalam, Kenzie mengubah posisi tidurnya jadi menyamping dan menggunakan tangan kanan sebagai penyangga kepalanya di atas bantal.


"Lho, kok kamu jadi yang marah?" Goda Kenzie kepada istrinya.


Azira merenggut tak senang. Dia tidak mau meladeni suaminya lagi. Karena dia tahu kalau suaminya sedang menggodanya sekarang. Ini sungguh sangat memalukan!


"Ngomong-ngomong, apa mas Kenzie keberatan dengan tidurku yang buruk? Jika mas Kenzie keberatan maka kenapa kita tidak pisah tidur saja? Aku nggak masalah kok tidur di lantai ataupun di sofa, selama aku tidak-"


"Keberatan." Potong Kenzie memasang wajah serius.


"Hah?" Azira kecewa.


Um, padahal dia sendiri yang menawarkan, ketika suaminya bersedia untuk tidur berpisah, hatinya tiba-tiba merasa kecewa dan malah berpikir kalau suaminya keterlaluan. Bisa-bisanya mereka pisah ranjang!


"Aku keberatan kita tidur terpisah!" Jelas Kenzie masih dengan nada yang sangat serius.


Di bawah tatapan tajam suaminya, Azira tak mampu berpaling dan dengan bodoh menatap patuh suaminya.


"Lalu... Bagaimana jika setiap malam aku mengganggu tidur mas Kenzie?" Tanya Azira ragu-ragu.


Wajah serius Kenzie perlahan mencair, dan bibirnya menarik sebuah senyum dalam, samar, Azira merasa tidak nyaman dengan senyuman itu. Seolah-olah ada makhluk buas yang tengah menatap mangsanya. Dia sering merasakan ini ketika Kenzie menatapnya dengan cara yang salah atau memberikan senyum seperti ini.


"Aku bilang aku tidak keberatan. Bukankah semalam aku sudah mengatakan kepadamu bahwa setiap kali kamu memelukku, maka setiap itu terjadi kamu akan mendapatkan hukuman dariku. Jadi kita tidak masalah tidur bersama dan aku tidak masalah dengan kebiasaan buruk tidurmu karena kamu pasti mendapatkan hukuman dariku." Ucap Kenzie sambil tersenyum.


Entah kenapa Azira bisa mendengar ada nada bangga di dalam suaranya. Mungkinkah ini hanya ilusinya saja?


Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.


"Bukan hukuman yang sama. Kalau sama terus, nggak seru tahu."


Jantung Azira berdetak kencang. Dia meneguk ludahnya gugup memikirkan hukuman apa yang akan Kenzie berikan kepadanya malam ini. Jika itu sangat buruk, maka dia berjanji akan bangun lebih dulu dari Kenzie agar dia tidak mendapatkan hukuman lagi!


"Lalu hukuman apa yang akan mas Kenzie berikan kepadaku sekarang?" Tanya Azira harap-harap cemas.


Dia berharap... Mengharapkan sesuatu, tapi dia sangat cemas dan agak takut...


Mungkinkah seperti yang dia bayangkan?


Bagaimana jika tidak?


"Hukuman ini," Tanpa menunggu Azira siap, Kenzie langsung menarik tengkuk Azira agar wajahnya lebih dekat dengannya, lalu dalam sekejap mata sebuah sentuhan lembut dan basah membuat kepala Azira langsung kosong.


Kenzie mencium bibirnya, tidak lama, hanya beberapa detik saja tapi sensasinya terus berputar di dalam kepalanya. Lembut dan basah, Azira tidak merasa geli sama sekali. Malah setelah reaksi terkejut, kepalanya menginginkan lebih. Dia mau lebih dari ini.


"Manis." Ucap Kenzie setelah menjauhkan wajahnya dari wajah Azira.


Mereka berpisah. Sementara sementara Kenzie tersenyum lebar dalam suasana hati yang baik, Azira justru masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Apa yang baru saja dilakukan oleh Kenzie?


Mereka... Berciuman?


Berciuman!


Azira sontak menutup wajahnya, merasakan panas yang mulai merambat wajahnya kembali!


Apa-apaan ini!


Hukuman macam apa ini!

__ADS_1


Kenapa Kenzie tidak memberitahunya lebih dulu agar dia.. setidaknya melakukan persiapan!


Tapi itu tidak penting sekarang!


Karena yang terpenting adalah mengapa Kenzie menciumnya?


Dan... Dalam keadaan kotor- maksud Azira, dia belum sikat gigi jadi kenapa Kenzie menciumnya!


Oh... Meskipun Kenzie hanya mencium biasa bibirnya, tapi... Tapi setidaknya bibirnya harus bersih! Bagaimana jika bibirnya bau iler, ah!


Dan apa yang baru saja Kenzie katakan kepadanya?


Manis!


Apanya yang manis!


Azira sangat panik. Kepalanya tidak berhenti berpikir, memikirkan berbagai macam faktor yang aneh-aneh. Malu semua malu dirinya. Diam-diam dirinya mengutuk Kenzie karena tidak tahu malu!


Ugh, setelah semua ini. Apa yang akan dia katakan kepada Kenzie dan bagaimana dia harus bersikap?


"Jangan menutup wajahmu. Hal seperti ini sudah wajar di antara suami istri. Malahan ini belum seberapa. Lagi pula kamu akan menemukan berbagai macam metode hukuman yang akan ku berikan kepadamu jika kamu terus memiliki tidur yang buruk. Ini sudah konsekuensi, jadi jangan merasa malu lagi." Kenzie berbicara dengan santai berpura-pura bahwa tindakannya ini merupakan hal yang normal.


Padahal nyatanya dia sangat malu. Lihat saja daun telinganya yang mengembangkan warna merah. Situasinya jelas tidak lebih baik dari Azira.


"Apakah Ini pertama kalinya bagimu?" Tanya Kenzie serius.


Karena ini juga pertama kali baginya. Dulu dia pikir orang yang melakukan kontak intim seperti ini agak menjijikan. Dia merasa bahwa mungkin mulut seseorang itu belum bersih, mungkin mulutnya bau, mungkin seseorang itu pernah memakan sesuatu yang menjijikan, ada segala kemungkinan yang membuatnya merasa bahwa orang-orang yang melakukan kontak intim seperti ini agaknya berlebihan.


Tapi setelah dia merasakannya tadi, walaupun cuma sesaat, bukankah menarik?


Menarik. Batinnya mulai tertarik.


"Ini...um, pertama." Azira menundukkan kepalanya tidak berani menatap suaminya lagi.


Saat suaminya mengatakan bahwa melakukan kontak fisik seperti ini adalah sesuatu yang wajar di antara hubungan suami istri, dia merasa bahwa apa yang di katakan suaminya benar, tapi untuk hubungan mereka berdua, apakah ini memang benar?


"Mas Kenzie.." Panggil Azira ragu.


"Hum?" Suaranya berat.


"Aku... Hanya memanggil saja." Jawab Azira mencicit.


Kenzie tersenyum tersenyum geli,"Oh, aku pikir kamu menginginkannya lagi." Katanya menggoda Azira.


Azira sontak memutar bola matanya malas. Suaminya mulai lagi.


"Mas Kenzie mulai lagi, deh. Sekarang hampir jam 04.00 pagi, mas. Kalau mas gini terus, mas Kenzie akan melewatkan waktu shalat malam." Azira mencari alasan untuk mengganti topik pembicaraan.


Kenzie melihat jam dinding di kamar mereka. Bukan hampir lagi, tapi sudah lewat jam 4. Karena terlalu asik menggoda Azira, dia sampai melalaikan ibadah malamnya yang berharga. Duh, inikah yang dimaksud bila seorang perempuan adalah fitnah terbesar di dunia ini?


Hum, sepertinya masuk akal.


"Terima kasih sudah mengingatkan, istriku. Mau mandi bersama?" Canda Kenzie.


Azira tersenyum lebar,"Ayo?" Balasnya berani.


Hanya dalam waktu sekejap, Kenzie kehilangan warna di wajahnya. Dia menatap Azira datar.


"Huh."


Azira tertegun melihat perubahan wajah suaminya. Dan dia sekarang sadar bahwa, memang seperti inilah suaminya. Godaan, tawa dan canda tadi tiada lain merupakan pencemaran suaminya. Inilah alasan kenapa Azira tidak mengerti suaminya. Terkadang suaminya bersikap lembut dan perhatian, tapi terkadang dia akan memasang wajah seperti ini kepadanya.


"Ngomong-ngomong, kamu ke mana semalam? Kenapa saat aku berbalik, aku tidak menemukan kamu di samping tempat tidur?" Tanya Kenzie mengejek.


Azira langsung panik mendengar pertanyaan sensitif dari suaminya. Apakah Kenzie menyadari sesuatu?


Tidak mungkin, kan?


"Aku semalam... Aku semalam turun ke bawah, mas, karena nggak bisa tidur. Setelah minum cukup air dan duduk di ruang tengah sebentar, aku akhirnya mulai mengantuk dan kemudian kembali ke kamar." Jawab Azira berbohong.


Kenzie menatapnya tanpa berkedip. Azira merasa tak nyaman dengan tatapan suaminya.


"Kenapa, mas?"

__ADS_1


Kenzie menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Ah... Mas Kenzie kenapa, sih? Semoga aja dia tidak tahu kalau aku turun ke bawah menguping pembicaraan Frida dan bibi Indring. Kalau dia tahu, aku tidak tahu bagaimana tanggapannya kepadaku." Gumam Azira cemas karena merasa bersalah.


__ADS_2