
Kenzie menjauhkan kepalanya, menatap karyanya yang terukir dengan indah di leher Azira, lidahnya bergerak sensual menjilat bibirnya. Senyum di bibirnya semakin dalam ketika memperhatikan dada istrinya yang naik turun dengan panik. Sekali lihat saja dia telah memiliki kesimpulan samar di dalam hati. Suasana hatinya langsung membaik berkali-kali lipat. Dia sangat puas.
Badannya bergerak menjauh, namun tidak segera menyingkir dari atas Azira. Kedua tangan kuatnya bertumpu di atas kasur dengan kepala tertunduk memandangi wajah cantik Azira yang telah semerah tomat. Di tambah dengan kedua mata basah Azira yang tidak fokus, label 'menggoda' secara alami tersemat di wajah Azira.
"Huh, dasar penggoda." Gumam Kenzie serak.
Azira tak mendengar apa yang dia katakan dengan jelas karena pikirannya masih melanglang buana entah kemana. Sebelumnya dia berpikir bila suaminya mungkin vampir karena lehernya digigit. Tetapi ketika merasakan lidah lunak dan licin Kenzie menjilat tempat yang baru saja digigit, kepala Azira langsung jadi kacau.
Dia memiliki ilusi yang sangat beracun gara-gara ini.
"Apa yang mas katakan tadi?" Pikirannya perlahan jernih dan wajahnya yang sudah mulai memanas lagi.
Kenzie tersenyum aneh.
"Aku bilang ini adalah kompensasi untukku darimu setelah memeluk ku tidur seperti gurita. Lain kali kamu melakukannya lagi, coba tebak apa yang akan aku lakukan kepadamu?"
Jantung Azira kembali menggila di dalam dadanya.
"Apa yang akan mas lakukan?" Dan dengan bodohnya dia bertanya.
__ADS_1
Terkekeh,"Lebih dari ini. Kamu harus tahu." Setelah menjawab pertanyaan Azira, dia lalu bangun dan turun dari kasur.
20 menit lagi pukul empat, dia tidak mau melewatkan sholat malam jadi buru-buru pergi ke kamar mandi. Jika tidak memperjuangkan sholat malam, maka dia tidak keberatan menggoda Azira lebih lama lagi. Pasalnya Azira memiliki reaksi yang sangat menarik saat sedang digoda.
"Hum, kenapa aku tidak pernah menyadari kalau wanita juga memiliki sisi ini di dalam dirinya?" Heran Kenzie sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu Azira yang telah digoda hingga lemas masih berbaring di atas kasur tak bergerak. Matanya menatap kosong langit-langit kamar dengan pandangan linglung.
Tangannya meraba sisi leher yang digigit dan dijilat oleh suaminya. Seperti ada tonjolan di sisi itu, mungkin mulai membengkak. Dan tentunya tonjolan itu agak lengket karena air liur suaminya.
"Baru saja, apa yang sedang terjadi?" Tanyanya dengan wajah tersipu malu.
Sasa menatap Azira untuk yang kesekian kalinya. Wajah cantiknya mengkerut penasaran ingin menanyakan sesuatu kepada kakak iparnya itu. Soalnya sejak masuk ke dalam dapur, Azira sering memegang leher kanannya. Sempat berpikir Azira sedang pegal-pegal, tapi rasanya salah ketika melihat wajah merah Azira.
"Pagi kak Kenzie?" Sasa menyapa dengan manis.
Kenzie masuk ke dalam dapur untuk mengambil sesuatu di dalam kulkas.
"Pagi, dek." Tersenyum rapi, sebelum keluar dari dapur dia menghampiri Azira yang tak bergerak fokus memotong sayuran.
__ADS_1
Reaksi Azira yang kaku dan pemalu langsung ditangkap oleh mata Sasa. Dia bertanya-tanya di dalam hati, kenapa reaksi Azira agak canggung di depan kakaknya?
"Masih sakit, enggak?" Tanya Kenzie kepada Azira.
Azira langsung menoleh, menatap Kenzie dengan tatapan melotot. Jika mata adalah pisau, maka mungkin Kenzie sudah dicincang menjadi beberapa bagian sekarang olehnya.
"Enggak. Sakit!" Kata Azira menekankan.
Melihat reaksi lucu Azira, Kenzie langsung merapatkan bibir tersenyum nya dan memasang wajah datar.
"Baiklah." Kemudian dia berjalan keluar dari dalam dapur.
Azira merasa bersalah. Dia pikir Kenzie kesal kepadanya. Tetapi belum beberapa detik Kenzie keluar dari dapur, suara tawanya yang keras langsung menggelegar di telinga semua orang.
Kenzie tertawa kencang sambil memegang perutnya dan berhasil mengundang keheranan para penghuni rumah.
Sementara itu Sasa yang telah menyaksikan semuanya terbengong di tempat tak memahami kelakuan absurd kakaknya yang tak biasa.
Mulutnya berkedut tertahan,"Hehe...kakakku mulai gila.." Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1