Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 18.6


__ADS_3

Suasana di dalam mobil sangat menyenangkan setelah Mona dan Sasa masuk. Mereka berdua tidak berhenti berbicara, membicarakan berbagai macam hal entah itu tentang kampus atau hal-hal lainnya. Apapun yang mereka bicarakan Azira pasti sesekali berbicara sehingga obrolan datang tiada habisnya. Barulah setelah beberapa menit mereka akhirnya sampai di depan sebuah tempat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Butik yang mereka datangi cukup besar dan cukup menonjol di antara beberapa tokoh pakaian di sini.


Setelah memarkirkan mobil di tempat parkir, mereka berempat lalu berjalan beriringan menuju sebuah butik yang tidak jauh jaraknya dari mereka. Nama butik ini simpel dan to the poin, Muslimah. Itu saja. Dari namanya saja setiap orang yang melihatnya langsung tahu kalau barang-barang di dalam butik ini adalah milik para muslimah.


"Apakah aku boleh masuk?" Tanya Kenzie skeptis.


Soalnya yang dia tahu rata-rata butik yang berfokus pada pakaian wanita tidak memperbolehkan laki-laki masuk ke dalam. Jadi mau tidak mau dia bertanya untuk memastikan. Harapannya sih dia bisa masuk ke dalam untuk menemani istrinya memilih pakaian.


"Boleh, kak. Tapi cuma di bagian samping aja. Kakak bisa duduk menunggu kami sambil meminum kopi atau memesan makanan. Ada juga beberapa buku yang bisa kakak baca untuk mengusir rasa bosan. Kalau kakak ingin melihat kak Azira, gampang, lihat saja dari kaca transparan pembatas. Apapun yang kak Azira lakukan di dalam pasti bisa kakak pantau dari sana. Butik ini bagus banget, kan? Konsepnya emang beda dari yang lain." Sasa menjelaskan secara singkat kepada kakaknya.

__ADS_1


Tidak lupa juga dia membanggakan butik kesayangannya ini kepada Kenzie.


Kenzie melihat Azira yang tersipu malu di sampingnya


"Begitu, menarik."


Azira dan yang lainnya langsung diarahkan masuk ke bagian dalam pakaian sementara Kenzie di arahkan menyamping, masuk ke dalam ruangan tunggu yang sengaja di desain nyaman sehingga orang-orang tidak merasa bosan di sini. Seperti yang dijelaskan oleh adiknya tadi, ruangan ini sepenuhnya dilingkupi oleh dinding kaca transparan beserta beberapa rak buku dengan berbagai genre. Suasananya sangat khusyuk, membaca buku di tempat ini sambil ditemani secangkir kopi atau sepotong kue manis rasanya cukup memuaskan. Namun poin ini sama sekali tidak menarik perhatian Kenzie. Karena poin terpenting dari tempat ini adalah dia bisa melihat istrinya bergerak ke manapun atau melakukan apapun di dalam sana melalui kaca transparan ini.


Ini adalah poin yang paling penting dan yang paling menguntungkan dari tempat ini. Dibandingkan dengan butik-butik di luar sana, tempat ini jauh lebih baik dan lebih unggul, tentunya.

__ADS_1


"Kak Azira, sini deh." Sasa menarik lengan Azira.


"Kenapa, dek?" Azira mendekat dengan koperatif.


Sasa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia berbisik dengan suara kecil ke telinga Azira.


"Kak, kenapa pelayan wanita terus ngeliatin, kakak? Apakah kalian saling mengenal?" Tanya Sasa sambil melirik pelayan wanita di sudut.


Tatapan pelayan wanita itu terlalu jelas dan sangat sulit diabaikan. Kalau sebentar sih enggak apa-apa, tapi pelayan itu terus saja menatap Azira dari awal masuk sampai sekarang. Kalau yang ngeliatin laki-laki sih nggak apa-apa, itu wajar-wajar saja soalnya Azira adalah wanita yang cantik. Tapi ini masalahnya yang ngeliatin wanita, jadi Sasa rada-rada paranoid sendiri.

__ADS_1


__ADS_2