Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 24.2


__ADS_3

Azira merasa enggak enak sama suaminya. Dia menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil melirik suaminya malu-malu. Sikapnya yang pemalu tak pelak langsung mengundang tawa renyah suaminya.


Azira jadi cemberut. Pipinya tanpa sadar menggembung tampak seperti ikan buntal, imut.


"Tapi asal mas Kenzie tahu, aku merupakan wanita yang keras kepala. Bila suatu hari mas Kenzie berpaling memikirkan wanita lain maka aku tidak akan pernah ragu berpisah dengan mas Kenzie. Bagiku melepaskan mas Kenzie adalah obat mujarab untuk rasa sakit di dalam hatiku. Aku tidak mau bertahan di dalam pernikahan yang tak bisa memberikan diriku kebahagiaan tapi malah mengirimkan luka. Sungguh mas, aku enggak akan ragu menyerah dalam pernikahan ini." Kata Azira bersungguh-sungguh.


Penampilannya yang imut tidak sebanding dengan kata-kata berat yang keluar dari bibirnya tadi. Kenzie tersedak, menahan rasa marah di dalam dada yang mulai mengamuk. Dia tahu bahwa hari itu tidak akan datang selama dirinya berserah diri kepada Allah, namun tetap saja dia tidak senang mendengar Azira mengatakan ini. Dia marah dan pada saat yang sama tidak bisa menerimanya. Sungguh, dia tidak rela berpisah dari belahan jiwanya.


"Allah adalah saksi mengenai kebenaran di dalam hatiku. Di sini," menunjuk tepat di dadanya yang tengah berdegup kencang,"kamu adalah wanita pertama yang berhasil memasukinya dan insya Allah, atas izin Allah dan ridho ku sebagai seorang suami, tempat mu tidak akan pernah tergeser dan menjadi terakhir. Azira, sebelumnya aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku ingin kamu menjadi bidadariku di dunia ini dan wanita surgaku di akhirat kelak. Ketahuilah, keinginan ku ini adalah puncak hatiku yang menunjukkan bahwa hatiku sudah sepenuhnya menjadi milik kamu. Jika kamu sampai pergi meninggalkanku, maka aku telah kehilangan alasanku mencintai seorang wanita kecuali Umi dan adik-adik ku." Kata Kenzie mengejutkan Azira.


Kenzie tidak menakut-nakuti Azira. Dalam hidupnya Azira menawarkan warna kepadanya sehingga Kenzie tidak terlalu terpaku pada dunianya sendiri. Tapi jika Azira pergi meninggalkannya, maka dia akan kehilangan warna itu lalu kembali menjadi Kenzie yang cuek.


Azira sudah membayangkannya. Dia tersanjung, tapi lebih dari itu semua dia sangat bersyukur sebab dirinya benar-benar berharga di hati sang suami.


"Aku tidak akan pergi, mas. Selama kamu masih menginginkan aku, maka aku tidak akan pergi." Janji Azira bersungguh-sungguh.


Kenzie menghela nafas berat. Dia menarik Azira ke dalam pelukan dan memeluknya seerat mungkin seolah-olah takut jika dia tidak memegang erat-erat, Azira akan pergi kapan saja.


"Mas.." Azira mengusap dada suaminya nyaman.


Kenzie diam tak berbicara tapi kekuatan tangannya tak berkurang sedikitpun. Barulah setelah merasa lebih tenang dia akhirnya melonggarkan pelukan mereka berdua.


Azira menjauh,"Mas Kenzie, ih. Tenaganya enggak dikira-kira. Untung saja aku enggak penyok." Azira mengeluh.


Kenzie akhirnya tertawa lagi.


"Tapi kamu suka, kan?"


Azira malu. Wajahnya langsung terasa panas.


"Suka, dong." Akuinya blak-blakan.


Siapa yang enggak suka, coba?


Jawaban blak-blakkan nya langsung mengundang tawa Kenzie.


Ah, ini tidak baik. Bukannya baik-baik saja melihat ini, Azira malah semakin malu. Wajah tersipu malu tampak sangat manis di mata suaminya. Kenzie tergoda, untuk sesaat dia tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh wajah tersipu malu istrinya.


Azira menundukkan kepalanya. Mengalihkan pandangannya dari Kenzie karena malu, tapi diam saja tidak bergerak saat saat Kenzie menggerakkan tangan ke sisi wajahnya yang lain. Bukannya dia marah, tapi malah diam-diam menantikan sentuhan lembut jari jemari suaminya.


Um, tiba-tiba dia merindukan bau keringat suaminya yang telah bekerja keras seharian. Ugh, menciumnya pasti sangat nyaman dan cukup menyegarkan untuknya.


"Jangan seperti ini di depan orang lain selain aku?" Awalnya Kenzie ingin mengusap pipi istrinya.


Tapi semakin dirinya memperhatikan wajah tersipu malu istrinya, dia semakin tidak rela dan berputar mencubit pipi istrinya yang gembil.


"Akh..." Azira memegang susi wajahnya yang tidak dicubit.


Niatnya ingin mengamankan dari cakar suaminya. Tapi yang tidak dia duga tindakannya ini lagi-lagi mengundang tawa renyah dari suaminya.


Entah sudah berapa kali Kenzie tertawa di buatnya. Suasana mencekam dan menegangkan dari pembicaraan mereka entah sejak kapan menguap kemana dia tidak tahu.


"Kenapa, mas?" Azira heran.


Kenzie mendengus,"Pokoknya cuma aku yang berhak." Tekan Kenzie tak mau menerima sanggahan.


Azira malu. Melihat sikap keras kepala suaminya, sekilas dia langsung tahu apa yang dimaksud oleh suaminya.


Malu,"Iya, mas." Katanya berkomitmen.


Tak terasa pembicaraan mereka berdua telah menghabiskan banyak waktu. Azan subuh akhirnya berkumandang di luar, menarik pikiran mereka berdua yang tadinya lengah kini kembali fokus.

__ADS_1


Karena suara azan mereka berdua kompak tidak berbicara lagi namun diam-diam mendengarkan dan menjawab azan di dalam hati.


"Ayo ambil wudhu lagi." Kenzie mendesak.


Shalat subuh berjamaah di masjid mempunyai keutamaan yang sungguh jika orang-orang mengetahuinya, tentu akan berlomba-lomba berada di shaf terdepan shalat. Melaksanakan shalat shubuh dan shalat isya menjadi ujian tersendiri bagi sebagian orang. Seperti ujian pada umumnya, kedua shalat ini pun menjanjikan hadiah yang manis bagi manusia yang berhasil melaksanakannya. Dan salah satu keutamaan kedua sholat ini yang menjadi faktor orang-orang berlomba untuk melaksanakannya di masjid adalah,


“Barangsiapa yang melakukan shalat isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu,”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu).


Tentu saja terlepas dari itu semua faktor yang paling mendukung berasal dari rasa kecintaan dan rindu terhadap Sang Maha Romantis, Allah subhanahu wa ta'ala. Jika tidak mendapatkan ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala, mana mungkin dia bisa pergi meninggalkan istrinya di rumah salat sendirian?


Tidak mungkin. Hanya ridho Allah yang membuat dirinya rela melepaskan diri sejenak dari Azira. Untuk itu dia akan berusaha tetap hadir ke masjid setiap waktu subuh dan berusaha agar tidak absen dari saf depan.


"Mas Kenzie mau langsung pergi ke masjid?" Tanya Azira sebenarnya sudah tahu jawaban suaminya.


Kenzie tersenyum. Dia mengusap puncak kepala Azira penuh kasih.


"Iya, Abah pasti sudah menunggu di bawah." Katanya.


Azira mengangguk. Dia berdiri dan mengantar suaminya keluar. Saat di depan pintu, Kenzie menyuruh Azira agar jangan keluar dan tetap di dalam kamar.


"Sholat di sini, yah?"


Azira mengangguk pasti.


"Iya, mas. Mas Kenzie hati-hati ya di luar sama Abah. Langsung balik ke rumah setelah selesai salat dan jangan keluyuran di luar." Azira beberapa kali mendengar tentang para gadis di komplek perumahan di sini.


Beberapa orang kiranya suka memperhatikan suaminya di luar. Mungkin suaminya pernah menjadi cinta dalam diam mereka yang tak tuntas dan masih belum bisa dilupakan. Azira tidak terlalu perduli karena dia tidak menginginkannya.


Kenzie terkekeh.


"Okay, setelah turun dari masjid aku dan Abah langsung pulang. Apakah kamu tidak mau makan bubur?" Biasanya Azira suka dibelikan bubur di luar.


Apalagi membeli bubur dari pedagang ibu-ibu tua di samping masjid, Kenzie sering memperhatikan penampilan lucu istrinya saat memakan bubur yang dibeli dari sana.


"Kalau mas beli bilang ya santannya jangan kebanyakan."


"Iya, nanti aku bilangin. Mau dibeliin apalagi selain bubur?"


Azira cukup dengan bubur.


"Cukup."


Kenzie mengangguk mengerti. Dia mengusap puncak kepala Azira sebelum pergi. Awalnya ingin berlama-lama mempermainkan kepala istrinya tapi suara Abah memanggil dari bawah yang memaksanya untuk berhenti. Dia mengecup bibir Azira singkat, mengucapkan salam dan lari terbirit-birit ke bawah tanpa menunggu reaksi dari Azira.


Azira lantas memegang bibirnya, berkedip linglung merasakan suhu hangat yang tertinggal. Lama terdiam, wajah merahnya perlahan memanas seiring pikirannya yang mulai bergerak liar. Dia malu. Memegang wajahnya kemudian melirik sekelilingnya. Mengawasi apakah ada orang lain di sini..


"Ya Allah, mas Kenzie mengagetkan saja." Azira lega sambil mengelus dadanya.


"Tapi," mengingat rasa barusan, dia cekikikan sendiri.


"Mas Kenzie manisnya enggak kira-kira." Hatinya seperti ditumpahkan segenggam madu, sangat manis dan lengket.


Azira sering senyum sendiri memikirkannya.


"Ah...wudhu lagi. Aku harus sholat subuh sebelum turun bantu-bantu Umi di bawah." Azira menepuk jidatnya kesal.


Dia menutup pintu kamar dan melepas mukena yang dia pakai, lalu melemparkannya dengan asal-asalan di atas kasur. Ketika masuk ke dalam kamar mandi, dia langsung teringat dengan tespek yang dia abaikan dari tadi. Gugup, kebahagiaan di dalam hatinya perlahan surut digantikan oleh ketegangan. Dia tidak tahu hasilnya tapi sangat berharap hasil ini dapat memuaskan suami serta keluarganya. Meski Kenzie tidak mengatakan tidak apa-apa dan tidak terlalu menuntut, Azira tahu jika Kenzie pasti sangat menginginkannya. Selain Kenzie, ada juga Umi yang telah menunggu kabar kedatangan cucunya.


Umi tidak mendesak, hanya sesekali bertanya. Azira jadi tidak enak hati dan mulai terburu-buru. Harapannya ingin segera memiliki buah hati untuk membahagiakan keluarga suaminya.


Bismillahirrahmanirrahim, aku yakin hasil yang Allah berikan kepadaku hari ini adalah yang terbaik untukku. Batin Azira sambil memejamkan matanya untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Benar, terlepas dari harapan semua orang semuanya kembali kepada Allah. Jika Allah ridho, maka jadilah dan bila tidak, Azira harus lebih bersabar.


"Hum," mengambil nafas panjang, dia akhirnya memberanikan diri untuk mendekati wadah tersebut.


Melihat tespek di sana, dengan tangan gemetar Azira mengambil tissue menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya menjangkau tespek-tespek itu.


Ting~


Suara tabrakan di dalam gelas.


Azira langsung menutupinya dengan tissue, mengusap tespek itu agar kering dan berusaha tidak berbau lagi. Dia tidak berani membilas tespek-tespek ini dengan air, takutnya ada masalah. Maklum saja, dia orang awam dan belum pernah menggunakan tespek. Dia tidak berpengalaman dan tidak memiliki orang lain yang bisa menasehatinya.


Gelisah di dalam kamar mandi, Azira memutuskan untuk keluar. Pasalnya di dalam kamar mandi dia tidak bisa berbicara karena suaminya bilang tempat itu terlarang. Azira tidak tahan untuk tidak berbicara dengan keadaan seperti ini, jadi dia memutuskan untuk keluar.


Di dalam kamar Azira berjalan mondar-mandir sambil mengelap tespek. Tiba-tiba gerakan tangannya membeku.


"Ah.." saat mengelap tespek-tespek itu, Azira tidak sengaja menangkap hasil salah satu tespek.


Jantungnya berdegup kencang. Dengan panik dia menyingkirkan tissue.


"Garis dua?" Bibirnya gemetar melihat dua garis merah yang bersinar terang di tespek.


Tak cukup dengan satu tespek, dia langsung melihat yang lainnya.


Semuanya garis dua!


Tidak ada keraguan karena setiap tespek memiliki garis yang sangat jelas dan terang, seolah-olah mengatakan kepada Azira bahwa tidak ada keraguan dalam kejutan ini!


Kejutan bila Azira akhirnya hamil!


"Artinya...aku hamil?" Bisiknya ragu.


"Gunakan wadah kecil untuk menampung urine pertama kamu hari ini dan letakkan semua tespek ini di dalam wadah selama 15 menit. Ingat, dua garis berarti positif dan satu garis berarti negatif. Hasilnya... serahkan saja kepada Allah, kamu jangan terlalu terbebani karena aku tidak terlalu menuntut apapun hasilnya. Yah... kamu bisa masuk sekarang dan aku...aku akan menunggu di kamar."


Suara Kenzie terngiang-ngiang di dalam kepalanya dan dia langsung yakin bahwa dia memang hamil.


"Ya Allah.." Tubuhnya lemas dan jatuh ke kasur.


Tangannya yang gemetar memegang erat tespek-tespek itu tak mau kehilangan. Menatapnya sekali lagi, dia memeluknya bahagia. Tak terasa air mata mulai berjatuhan dari sudut matanya. Dia menangis tapi bibirnya tak berhenti tersenyum.


"Alhamdulillah...ya Allah, alhamdulilah...aku akhirnya hamil. Mengandung darah daging laki-laki yang sangat ku cintai, terima kasih ya Rabb karena telah memberikan diri ini kesempatan untuk menjaga amanah dari-Mu. Aku...aku berjanji akan menjaganya dengan baik. Aku tidak akan menyia-nyiakan anakku apapun yang terjadi. Aku akan menjaganya..." Ucap Azira mengungkapkan rasa syukur di dalam hatinya.


Tangannya mengelus perutnya yang masih datar tapi agak berlemak. Sebelumnya dia kira berat badannya naik, tapi memikirkannya sekarang ada buah hatinya bersama Kenzie di dalam sana. Iya, ada anaknya di sini. Hidup dan tumbuh di dalam perutnya, Azira merasa bersalah karena tidak makan teratur beberapa hari ini sehingga mengganggu asupan anaknya.


"Tahun ini Allah telah memberikan banyak nikmat kebahagiaan di dalam hidupku. Dia kirimkan mas Kenzie, lalu keluarga mertua yang sangat baik dan penyayang, aku sama sekali tidak merasa tidak nyaman bersama mereka, malahan aku merasa hangat bersama mereka. Kasih sayang keluarga yang tidak bisa kurasakan dulu, kini akhirnya aku rasakan dan aku sangat bersyukur Allah mengizinkan ku masuk ke dalam keluarga sebaik milik mas Kenzie. Kemudian hari ini, buah hati yang telah lama kami akhirnya hadir. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya mas Kenzie dan keluarga mendengar kabar baik ini." Azira tertawa konyol memikirkannya.


Ternyata buah dari kesabaran semanis ini, pikirnya. Setelah dihujani dengan berbagai macam penderitaan di masa lalu yang sangat melelahkan, Allah akhirnya memberikan dia kesempatan untuk mencicipi betapa manis buah dari kesabaran yang selama ini dia pupuk.


Manis, manis sampai rasanya tidak bisa melupakan bagaimana rasanya.


"Terima kasih ya Allah... terima kasih.." Pada akhirnya semua ini terjadi atas ridho Allah.


Azira tak bisa menahan diri untuk terus mengucapkan terima kasih atas semua kebahagiaan ini.


"Terima kasih, ya Allah." Bisiknya lembut.


"Bu, lihat? Ternyata apa yang pernah Ibu bilang itu benar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Allah selalu senantiasa bersama kita, Bu. Dia ada, selalu ada bersama kita. Aku minta maaf, Bu. Maaf karena sering menyakiti hati Ibu dan menyalakan segala sesuatu kepada Allah. Padahal Ibu berulang kali mengingatkan kepadaku agar bersabar dan menerima semuanya sebab Allah tidak pernah tidur. Tapi aku tidak pernah mendengarkan Ibu, keras kepala, aku selalu seperti ini. Sekarang lihatlah anugerah yang Allah limpahkan dalam hidupku. Sungguh sulit dipercaya. Dulu aku tumbuh besar tanpa seorang Ayah dan mungkin karena kehidupan kita yang sulit, Ibu kadang bersikap keras kepadaku. Namun sekarang setelah Ibu pergi, setelah satu-satunya sandaranku di dunia ini pergi, Allah tiba-tiba mengirimkan ku sebuah keluarga yang sangat baik dan hangat. Sebelumnya aku tidak pernah bermimpi mendapatkan keluarga sehangat ini, Ibu. Mereka memberikanku kasih sayang seorang Ayah dan seorang Ibu, kemudian menerimaku apa adanya terlepas dari masa lalu kita, Bu. Aku sungguh sangat bahagia... Dan akan sangat bahagia lagi bila Ibu dapat melihat semua ini. Aku yakin Ibu juga sama bahagianya dengan diriku." Rasa sukacita perlahan menjadi duka di dalam hati.


Kini dia akan menjadi seorang Ibu. Menarik ingatan dirinya kembali ke masa lalu saat dia hidup sebatang kara bersama Ibu di kota entah berantah. Karena hidup sangat sulit, kelembutan yang ada di dalam diri Ibu menjadi keras. Azira sering sekali cekcok dengan Ibunya. Dulu dia diam saja dibentak ataupun dipukul oleh Ibu, tapi lama-lama seiring dia tumbuh besar dia mulai kehilangan kesabaran dan sering membalas perkataan Ibu dengan kata-kata kasar pula. Azira salah, sungguh sangat salah. Bentakannya, kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya pasti bagaikan pisau tajam yang mengiris hati Ibu berkali-kali. Faktanya Ibu bersikap keras kepadanya juga demi dirinya sendiri. Mana mungkin Ibu bermaksud jahat, tidak. Itu tidak benar. Ibu selalu menjadi orang yang baik. Namun penyampaiannya dengan cara yang berbeda-beda.


Baru memikirkannya sekarang... Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit karena dia...

__ADS_1


"Aku sangat rindu, Ibu." Bisiknya merindu.


__ADS_2