
Cklak
Pintu kamar dibuka oleh seseorang. Dari balik pintu muncullah sosok Kenzie dengan langkah kaki jenjangnya. Dia masuk ke dalam kamar dan tidak melihat Azira. Menoleh ke sebelah kanan, dia menemukan Azira sedang tertidur di ruang kerja kecilnya.
Awalnya Kenzie tidak mengindahkannya dan berniat berbalik keluar dari kamar. Namun langkahnya tiba-tiba tertahan saat telinganya menangkap sebuah isakan kecil. Kenzie lantas menoleh melihat ke arah Azira.
Tertidur di atas meja, Kenzie memperhatikan bila wajah Azira basah karena menangis. Melihat ini Kenzie tertegun, kakinya tanpa sadar berputar menuju meja kerjanya. Datang menghampiri Azira dengan keraguan di matanya.
Mungkinkah Azira sedang bersandiwara untuk menarik perhatiannya?
"Ibu...hm...Ibu..." Isaknya memanggil dalam tidur.
Kenzie berhenti tepat di depan Azira. Dia lalu merendahkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Azira. Diam, iris gelapnya mengamati wajah tertidur Azira dengan mata menyelidik.
"Kamu mengigau.." Suara Kenzie rendah.
Setelah diperhatikan baik-baik, Kenzie akhirnya yakin jika Azira tidak sedang berpura-pura. Melainkan Azira benar-benar tertidur dan mengigau dalam tidurnya.
"Kamu merindukan Ibumu." Kenzie lalu menegakkan punggungnya menatap khusyuk wajah tertidur Azira.
Tidak ada emosi apapun yang terlihat di wajahnya. Datar tanpa ekspresi, mata gelapnya berkedip ringan memikirkan apa yang sedang Azira impikan di dalam tidurnya sehingga membuatnya sampai mengigau.
"Ibu... Azira hik...Ayah tidak mau mengakui Azira sebagai putrinya hik..." Ucap Azira mengigau dalam tidurnya.
Mata Kenzie melebar, dia sangat terkejut dengan sepotong informasi yang baru saja dia dengar tadi. Ayah, mungkinkah Ayah yang Azira maksud adalah Ayah Humairah?
Benar, mungkin saja yang dimaksud adalah Ayah yang sama karena saat mereka menikah kemarin, keluarga Humairah menolak mengakui Azira sebagai bagian dari keluarga dan bahkan anak sah Ayah, mereka mengeluarkan suara-suara keraguan terhadap identitas Azira di dalam rumah itu.
"Azira, apa yang sedang terjadi kepadamu?" Bisik Kenzie rendah.
Tangan besarnya menyentuh puncak kepala Azira, menyentuhnya hati-hati dan mengelusnya dengan lembut. Ajaibnya, ketika tangan Kenzie menyentuh puncak kepala Azira, isakan tangis Azira langsung berhenti. Tidak hanya berhenti menangis, namun Azira juga berhenti mengigau. Azira tiba-tiba tenang dalam tidurnya.
__ADS_1
"Apakah rasanya sangat melelahkan, hem?" Kenzie menundukkan kepalanya berbisik tepat di depan wajah basah Azira.
Namun Azira tidak merespon pertanyaannya dan Kenzie pun tidak membutuhkan jawaban darinya.
"Jika kamu kelelahan, maka tidurlah lebih lama. Bangun saat kamu merasa jauh lebih baik, mengerti?"
Lagi-lagi Azira tidak merespon apapun dan Kenzie lebih tidak perduli lagi.
Dia mengangkat Azira dari kursi kerjanya dan merebahkan Azira ke tempat tidur. Gerakannya sangat berhati-hati agar tidur Azira tidak terganggu. Setelah membantu Azira memakai selimut, Kenzie tidak tinggal lama di dalam kamar.
Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Sasa, adiknya yang ada di lantai satu. Pada awalnya dia tadi ingin membawa Azira keluar untuk membeli pakaian dan kebutuhan pribadi Azira sesuai dengan janjinya semalam. Akan tetapi rencananya terpaksalah harus ditunda ketika melihat Azira tertidur sambil mengigau di dalam kamar mereka. Kenzie jadi tidak enak membangunkan Azira.
Sebagai seorang dokter dia mungkin memahami ada sesuatu yang salah dengan kehidupan Azira hingga membuatnya mengalami tekanan batin sampai-sampai terbawa mimpi. Umumnya ini bukanlah masalah yang serius karena masih memiliki solusi baik tanpa perlu berkonsultasi ke psikiater.
Saat melihatnya tadi, sekilas Kenzie tahu jika Azira butuh teman untuk bicara dan berbagi tekanan hatinya. Hati Azira sepertinya terkunci dan membutuhkan lingkungan yang hangat serta baik untuk melonggarkan kuncinya. Dan Kenzie selaku suami sekaligus seorang dokter tidak akan pernah mengabaikan apalagi berdiri diam melihat Azira terjebak dalam psikologis nya sendiri.
Tok
Tok
Tok
Beberapa detik kemudian pintu kamar Sasa dibuka. Berdiri di dalam, Sasa melihat Kenzie dengan ekspresi muram di wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Sasa jutek.
Kenzie tidak merasa kesal dengan nada jutek adiknya. Lagipula kemarahan Sasa hanya berlangsung beberapa saat saja dan itu juga tidak serius.
"Bisakah kamu meminjamkan kakak pakaianmu untuk dipakai sementara oleh Azira?"
Mendengar nama Azira disebut, kemarahan Sasa langsung naik. Dia sama sekali tidak habis pikir mengapa kakaknya sangat baik kepada wanita yang telah menghancurkan pernikahannya sendiri?
__ADS_1
Tidak hanya bersikap baik tapi kakaknya juga malah membawa Azira pulang ke rumah ini dan mengakuinya sebagai istri! Apa-apaan, bukankah kakaknya gila?!
Jika dia tidak tahu asal-usul Azira sebelumnya maka mungkin dia akan curiga bila Kenzie berselingkuh dengan Azira sebelumnya. Tapi setelah mendengar beberapa rumor yang beredar, Sasa langsung menepis masalah perselingkuhan Kenzie dengan Azira. Dasarnya orang-orang mengatakan jika Azira tiba-tiba datang entah darimana dan baru-baru ini berhasil memasuki rumah Humairah sebagai anak angkat.
Perselingkuhan itu jelas terbantahkan, lalu mengapa Kenzie membawa wanita asing itu pulang ke rumah ini?!
"Untuk wanita itu? Aku enggak akan sudi, kak. Aku lebih baik membuang semua pakaian itu ke tempat sampah daripada memberikannya kepada wanita asing itu!" Tolak Sasa mentah-mentah.
Kenzie mengernyit tidak senang. Wajah tampannya langsung mengeras menatap tajam adiknya.
Kemarahan Sasa tanpa sadar langsung menyusut saat menerima tatapan tajam kendur. Kakaknya itu jarang marah, tapi sekalinya marah Kenzie terlihat jauh lebih mengerikan dari siapapun.
Nyali Sasa langsung menjadi ciut.
"Bukankah kakak sudah mengatakannya semalam jika Azira adalah istriku dan mulai dari saat itu kamu harus memanggilnya kakak, Sasa!" Kenzie dengan murah hati mengingatkan adiknya tentang perkataannya semalam.
Bahwa semenjak Azira memasuki rumah ini sebagai istrinya, maka semenjak itu Azira menjadi anggota keluarga ini. Meskipun kehadiran Azira cukup fenomenal hingga membuat banyak penolakan di dalam keluarga, Kenzie tidak akan berkomentar apa-apa selama mereka tidak merendahkan Azira.
Sasa merasa bersalah dan tidak bisa menerimanya.
"Kak Kenzie, dia adalah wanita yang tidak benar dengan asal usul yang tidak jelas. Harusnya kak Kenzie batalkan saja pernikahan ini." Kata Sasa keras kepala namun suaranya tidak selantang pertama.
Membatalkan pernikahan, Kenzie tersenyum miring,"Apakah ini sudah saatnya kamu menggurui keputusan ku?"
Sasa menggerakkan mulutnya beberapa kali tapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa. Dia memegang erat gagang pintu kamarnya tidak berdaya.
"Dimana pakaiannya?" Desak Kenzie mengabaikan wajah muram adiknya.
Sasa menghentakkan kakinya marah sebelum masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaian. Dia sebenarnya tidak mau melakukannya tapi dia takut dengan Kenzie dan tidak ingin memancing kemarahannya lagi.
Karena marah kepada Azira, dia sengaja mengambil pakaian yang sudah ketinggalan jaman yang telah lama terabaikan di dalam lemarinya. Rencananya dia akan membuang pakaian ini ke tempat sampah, tapi sepertinya dia tidak perlu lagi melakukan itu karena di rumah sekarang ada tempat sampah berjalan. Jadi buang saja ke sana.
__ADS_1