
Pokoknya bersama mereka, dia tidak terlalu takut.
"Nak?" Ayah sangat shock mendengar ucapan Azira.
Dia tak menyangka bila Azira akan mengatakan semua ini dengan jelas dihadapan orang lain. Ayah merasa malu, tapi dibandingkan perasaan malu ini dia merasa sedih. Mata tuanya berkerut tidak nyaman melihat ke arah Azira. Mencari-cari mungkin saja ada sedikit penyesalan di dalam mata putrinya itu setelah melontarkan kata-kata kejam tadi, tapi di dalam mata putrinya itu dia tidak menemukan penyesalan ataupun kesedihan yang diharapkan, jangan kau merasa sedih atau menyesal, emosi marah saja tidak terlihat di mata itu. Mata itu bersinar jernih, terlihat sangat murni. Mata yang selalu mengingatkannya pada wanita polos di desa bertahun-tahun yang lalu.
"Inikah yang Ibu ajarkan kepadamu? Oh, pantas saja aku tidak merasa heran karena ibumu memang orang yang seperti itu."
"Pekerjaan Ibuku memang tidak biasa, tapi dibandingkan dengan dirimu, dia jauh lebih baik. Haruskah aku mengatakannya di sini bahwa semua yang Ibuku lalui pada masa-masa itu sangat berkaitan erat dengan kalian?" Kata Azira dingin.
Bertahun-tahun berkubang dalam pekerjaan itu, Azira hanya tahu kalau Bibi Safa yang merancang Ibunya masuk ke dalam pekerjaan itu. Tapi logikanya, Bibi Safa tidak mungkin bekerja sendirian mengingat orang-orang di rumah tidak terlalu terkejut ketika mengetahui apa pekerjaan Ibunya. Seolah-olah mereka sudah lama tahu dan bersikap memang seharusnya itulah yang terjadi. Azira curiga kalau Ibu tirinya ikut andil dalam kehancuran ibunya. Ini bisa saja terjadi sebab di dalam hati ibu tirinya, Ibu adalah duri yang tidak mudah dihapuskan jejaknya. Ada kebencian dalam yang tertanam kuat di dalam hati ibu tirinya saat mengetahui Ayah pernah bersanding dengan wanita lain sebelumnya. Dibandingkan dengan bibi Safa yang tidak langsung bersangkutan dengan Ayah, Azira lebih percaya bahwa semua rencana itu diprakarsai oleh Ibu tirinya.
__ADS_1
"Apa.. apa yang kamu katakan!" Mama merasa bersalah dan tanpa sadar mengelak dari mata Azira.
Rahasia dulu dia tidak mungkin mengakuinya. Merasa marah karena diselidiki oleh Azira, dia kemudian melampiaskan kemarahannya kepada Kenzie yang sedari tadi hanya diam menyimak apa yang istrinya bicarakan.
"Kenzie, sebagai seorang suami kamu harus bersikap tegas kepada istri kamu ini. Dia telah mempermalukan kami dan berani bersikap kurang ajar kepada kami, bukankah seharusnya kamu menegur Azira dan memintanya untuk meminta maaf kepada kami?" Cerca Mama meminta Kenzie untuk segera mendisiplinkan Azira.
Laki-laki lain pasti malu ditegur seperti ini oleh orang tua. Dan akan langsung memarahi istri agar segera meminta maaf kepada orang tua. Toh, orang tua harusnya dihormati.
Namun sayang seribu sayang. Kenzie tidak berjalan sesuai dengan kartunya. Bukannya Azira untuk segera meminta maaf kepada mereka, dia malah melindungi Azira.
Jangan salahkan dia karena mengeluarkan kata-kata yang kejam. Dia mengatakan kata-kata kejam ini bukan karena dia membenci mereka berdua ataupun dia tidak menghormati mereka berdua, tidak, tindakannya ini justru karena dia sudah muak dengan apa yang mereka berdua telah lakukan kepada istrinya. Baiklah, urusan masa lalu yang terjadi di antara mereka hanya istrinya lah yang berhak mengambil sikap untuk semua itu. Kenzie tidak memberikan komentar apa-apa, dia tahu apa yang terbaik dan lebih memilih untuk diam. Tapi satu demi satu Mama mulai menyinggung Azira dengan berbagai macam sudut, menuduhnya sengaja mempermalukan mereka dan bahkan sampai hati mengungkit masalah Ibu mertuanya yang belum 1 tahun meninggal dunia. Kenzie merasa bahwa ini sudah kelewatan batas. Dia berpikir bahwa tidak seharusnya dia diam saja mendengar apa yang mama katakan dan tuduhkan. Dan Kenzie berpikir bahwa tak seharusnya Mama mengucapkan kata-kata ini, karena logikanya dia adalah orang tua, mereka berpikir jauh lebih jernih dan dewasa daripada mereka yang masih muda. Tapi apa yang terjadi baru saja?
__ADS_1
Mama tidak takut sama sekali membeberkan tentang luka di dalam hati istrinya. Bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan Kenzie maupun Umi tidak terlihat di tempat ini. Mungkinkah prestige keluarga mereka begitu rendah di mata mama?
"Kamu... baik Kenzie, bagus! apa yang kamu katakan benar-benar bagus! Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Humairah selama ini! Kamu sudah masuk ke dalam pengaruh Azira! Rubah betina ini telah berhasil mempengaruhi jalan pikiran kamu sehingga kamu tidak sadar telah menyimpang ke jalan yang sesat. Nak, gara-gara wanita ini kamu melupakan masa lalu yang terjadi di antara kamu dengan Humairah! Jujur, aku masih sangat marah kepadamu karena kamu tidak datang ke rumah untuk meminta maaf tentang kegagalan pernikahan kalian berdua. Jika kamu memang memiliki etika yang baik terhadap keluarga, seharusnya kamu datang ke rumah untuk meminta maaf! Minta maaf kepada putriku karena kamu telah memilih wanita rubah ini daripada putriku! Tapi kamu tidak memiliki itikad yang baik. Sampai dengan hari ini kamu tidak pernah datang ke rumah untuk menyampaikan maaf. Jangankan minta maaf kepada kami, datang saja ke rumah sebagai seorang menantu kamu tidak melakukannya! Apakah kami masih ada di depan matamu? Apakah kami masih memiliki nilai di depan matamu! Coba lihat wanita jahat yang tengah duduk bersama kamu sekarang. Dia adalah wanita yang merampas kebahagiaan kamu dengan Humairah, dia adalah wanita penjahat yang berhati serigala! Sadarlah bahwa dia bukanlah wanita yang baik!" Kata Mama dengan nafas memburu menumpahkan semua isi hatinya kepada Kenzie.
Dia tidak lagi menahan diri untuk menuduh Azira sebagai wanita jahat atau rubah betina yang licik, dia melepaskan semua yang ada di dalam hatinya untuk membuat Kenzie sadar bahwa Azira bukanlah wanita yang baik.
Azira dan yang lainnya sangat terkejut dengan apa yang mama katakan. Ayah bahkan tidak sempat bereaksi dan menahan mama untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Sekarang semuanya sudah dilepaskan. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi Umi. Entah apa yang dipikirkan Umi sekarang, wajah ramahnya yang biasanya selalu tersenyum kini kehilangan senyum. Dia menatap Mama dengan ekspresi datar. Tidak ada yang tahu pastinya apakah Umi marah saat ini atau tidak sebab Umi tidak menunjukkan apa-apa di wajahnya. Namun Azira orang yang paling dekat duduk dengan Umi dapat merasakan perubahan deru nafas Umi. Sebenarnya Umi sangat marah sekarang tapi berusaha menahannya di dalam dada.
Azira menggigit bibirnya ingin membantah kata-kata Mama tapi tangannya tiba-tiba dipegang oleh Umi, menggenggamnya erat seolah mengingatkan Azira untuk tidak membuka mulut sekarang.
"Mungkin ada kesalahpahaman yang Mama lupakan." Kata Kenzie datar kepada Mama.
__ADS_1
Dia tidak tersenyum sopan lagi namun menampilkan sisi acuh tak acuh yang dingin. Kenzie merasa bahwa tidak ada gunanya bersikap sopan kepada mereka. Pasalnya mereka tidak bisa menjaga hati orang lain dan tidak ragu untuk menimbulkan masalah.
"Apa?" Jantung Mama berdebar kencang melihat sikap dingin Kenzie yang jauh berbeda daripada sebelumnya.