
Azira terbengong mendengar perintah Kenzie. Sholat Sunnah dua rakaat?
Sholat apa itu, kenapa ia tidak pernah mendengar Ibu menyebut sholat ini sebelumnya?
Kenzie mengernyit, ia menoleh ke belakang melihat Azira yang masih duduk di tempat tidak bergerak. Mata besar Azira menatapnya dengan polos.
"Apa yang kamu tunggu? Bangun dan segera ambil air wudhu." Desak Kenzie tak sabar.
Azira langsung turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lalu, beberapa menit kemudian ia keluar dengan beberapa bagian tubuh yang basah.
Ragu, Azira melihat punggung tegap Kenzie yang sedang membelakanginya. Berdiri di atas sajadah yang telah di gelar menghadap kiblat. Tak satupun kelopak bunga yang tersebar di atas sajadah.
"Kenapa bengong saja?" Suara datar Kenzie menarik Azira dari pengamatannya.
Azira kemudian berjalan mendekati Kenzie. Berdiri di belakangnya, ia melihat mukena putih yang terlipat rapi di atas sajadah. Tanpa bertanya pun Azira tahu mukena ini untuknya. Jadi ia langsung memakainya.
Mukena ini masih baru, mungkin sengaja disiapkan untuk Humairah.
Tersenyum miring, sayang sekali mukena ini hanya menjadi angan-angan Humairah saja.
"Sudah siap?" Tanyanya tanpa menoleh.
Azira buru-buru berjalan ke depan dan berdiri tepat di samping kiri Kenzie.
"Sudah." Katanya seraya menghadap depan.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanya Kenzie sambil mengernyit.
Ia menatap Azira heran sekaligus lucu. Tidakkah Azira pernah mempelajari sebelumnya jika makmum tidak boleh berdiri berdampingan dengan imam?
Atau... mungkinkah ini hanya akal-akalan Azira saja untuk menarik perhatiannya?
Azira tanpa sadar menoleh ke samping dan bertemu dengan tatapan aneh Kenzie. Mereka sedekat ini, Azira tidak terbiasa.
"Sholat...kita mau sholat, kan?" Jawab Azira ragu.
Seharusnya mereka sholat, kan?
Ugh, Azira sebenarnya tidak nyaman berdiri sedekat ini dengan Kenzie, apalagi jika Kenzie menatapnya, hati Azira merasa terancam. Entah mengapa mata gelap Kenzie selalu memberikan ilusi bahwa dirinya sedang ditatap oleh seekor serigala.
"Kita akan sholat, tapi kenapa kamu berdiri di sampingku?" Tanya Kenzie sambil menatap Azira dengan tatapan menyelidik.
Apakah ini salah?
Azira rasa tidak. Ketika Azira dan Ibu sholat bersama, Ibu selalu meminta Azira berdiri di samping dan telah menjadi kebiasaan Azira sejak saat itu.
__ADS_1
Jadi itulah mengapa Azira berdiri di samping Kenzie sekarang. Ia pikir kebiasaan ini juga berlaku di sini. Tapi melihat reaksi Kenzie, sepertinya itu tidak mungkin.
"Oh...kalau begitu aku di belakang saja." Kata Azira berusaha menghilangkan rasa malunya.
Ia lalu mundur ke belakang dan berdiri tepat di belakang Kenzie.
"Jangan di sini, tapi di sebelah kiri." Perbaiki Kenzie.
Azira bingung lagi, tapi masih menurut apa yang Kenzie perintahkan kepadanya. Dengan polos ia menggeser kakinya ke sebelah kiri.
Melihat gerakan asal-asalan Azira yang terkesan polos, Kenzie memiliki tebakan samar di dalam hatinya. Namun apakah itu masih mungkin?
Sebab keluarga Humairah adalah keluarga terhormat dan dekat dengan Allah. Masalah sepele seperti ini tak mungkin tidak diketahui oleh mereka.
"Sekarang kita bisa mulai." Setelah itu Kenzie kembali menghadap ke depan dan memulai sholat sunah dua rakaat mereka dengan takbir pertama yang bergema nyaring di dalam kamar.
Jujur, Azira tidak tahu apa tujuan sholat ini dan ia juga tidak tahu apa niat sholat ini. Ibu pernah bilang cukup niatkan saja di dalam hati jika tidak tahu karena Allah maha tahu apa yang ada di dalam hati manusia.
Alhasil, Azira hanya melaksanakan sholat berdasarkan gerakan Kenzie. Bila Kenzie ruku', maka ia pun ruku'. Dan bila Kenzie sujud, maka ia pun sujud. Ia tidak pernah melewatkan satupun gerakan imam di depannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi..." Sholat akhirnya selesai.
Azira menundukkan kepalanya mendengarkan doa-doa bahasa Arab yang dilantunkan oleh Kenzie. Karena begadang semalaman dan cukup lelah dengan rutinitas hari ini, Azira jadi mengantuk.
"Maaf.." Azira memaksakan diri tetap terjaga.
Ia tanpa sadar menjangkau tangan Kenzie tapi tidak menciumnya.
Kenzie menaikkan salah satu alisnya mengamati wajah sayu Azira yang mengantuk parah.
"Ayo tidur." Putusnya datar.
Ia menjabat tangan Azira dan menariknya bangun dari atas sajadah.
"Terima kasih..." Kata Azira disela-sela rasa kantuknya.
Ia jatuh berbaring di atas kasur tanpa pertahanan seperti terakhir kali.
"Ck, lain kali kamu akan menangis." Gumam Kenzie dengan suara rendahnya.
Kenzie menggelengkan kepalanya geli. Malam pertama yang seharusnya dipenuhi hasrat manis justru harus berakhir konyol. Mungkin ia adalah salah satu pengantin laki-laki konyol yang kesepian di malam pernikahannya sendiri.
Menghela nafas berat. Kenzie tidak langsung tidur menyusul Azira ke dalam mimpi. Bukannya beristirahat, Kenzie malah sibuk melipat sajadah dan membersihkan kelopak bunga di lantai.
Setengah jam kemudian, kamarnya jauh lebih enak dipandang karena tidak ada kelopak bunga mawar merah menyala lagi yang memasuki bidang penglihatannya.
__ADS_1
Sebenarnya Kenzie tidak terlalu suka bunga, apalagi bunga mawar yang terlalu menggoda. Jika bukan paksaan Umi, maka kamarnya pasti lebih bersih dan nyaman di tempati.
"Baiklah, sekarang sudah jauh lebih baik..." Bisik Kenzie nyaman.
Kenzie lalu melirik wajah polos Azira yang telah memasuki dunia mimpi. Wajah itu jauh lebih lembut tanpa ekspresi antisipasi seperti biasanya. Kenzie tidak tahu apa yang telah Azira lalui di rumah itu dan Kenzie juga tidak tahu mengapa Azira nekat melakukan ini, namun yang pasti Kenzie akan memastikan bahwa Azira akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya memainkan pernikahan.
"Yah, Azira...aku tak pernah menduga bila kamu jauh lebih picik dari Humairah..."
...****...
"Bangun."
"Umh.." Azira menggeliat tak nyaman.
Ia merasa risih dan kesal saat sedang enak-enak nya tidur, orang lain malah menggangunya.
"Bangun." Suara dingin itu kembali mengguncang kesadaran Azira.
Azira sangat kesal. Dengan luapan amarah, ia bangun dari tidurnya sambil menghentak tangannya di atas kasur.
"Aku enggak mau- akh!" Kenzie langsung memercikkan Azira air dingin sebelum suara tingginya membangunkan seisi rumah.
Azira kian marah. Ia mengusap wajahnya tidak sabar. Namun setelah melihat siapa tersangka yang telah memercikkan air ke wajahnya, amarah Azira langsung menguap.
Ia memalingkan wajahnya takut melihat Kenzie. Yang benar saja pikirnya, apakah ia ketiduran?
Otaknya mulai bekerja. Mungkinkah Kenzie masih mengejarnya untuk melakukan hubungan itu?
Tapi...tapi Azira, tidakkah kamu terlalu tenang tinggal di ranjang yang dengan Kenzie semalaman?! Batin Azira panik.
"Bangun, apa yang kamu pikirkan?"
Azira langsung menyingkirkan selimut nya sembari membuang jauh-jauh pikirannya.
"Ya...ya, aku bangun." Kata Azira sambil bergegas turun dari atas kasur.
"Sana pergi mandi dan ambil air wudhu. Kita akan sholat sunah lagi." Kata Kenzie datar sambil mengamati perubahan ekspresi Azira.
Azira merasa aneh, mengapa laki-laki ini suka sekali melaksanakan sholat sunnah?
"Sholat sunah lagi?"
"Kenapa?" Tanya Kenzie dengan alis terangkat.
Ia terlihat sangat mempesona. Azira langsung pangling melihatnya. Apalagi saat melihat senyuman miring di sudut bibir Kenzie, pesona Kenzie naik berkali-kali lipat!
__ADS_1