
"Pasangan yang bertengkar?" Suara hak tinggi yang tajam bergema nyaring di lorong rumah sakit.
Baik Azira maupun Humairah kompak melihat ke asal suara. Ketika melihat siapa wanita yang berbicara tadi, wajah Humairah langsung lebih pucat seolah kehilangan banyak darah.
Dia tidak menyukai Ayana. Kata-kata Ayana dihari itu sangat kejam dan menyakitkan. Humairah merasa dipermalukan. Dan setelah kejadian penolakan dan pengabaian Ayana dihari itu, Humairah memiliki sisa rasa ketakutan. Di rumah sakit dia berusaha menjauhi Ayana, menghindari setiap pertemuan diantara mereka berdua dengan berbagai macam cara.
"Ayana, kamu datang." Azira menganggukkan kepalanya ringan sebagai sapaan sopan.
Dia terkejut melihatnya datang secepat ini dan agak malu sebenarnya melihat Ayana menonton lelucon yang dibuat oleh Humairah.
"Jika aku tidak datang, kak Kenzie akan menyiapkan meja operasi khusus untukku di masa depan." Canda Ayana sambil menepuk pundak Azira.
Ayana mudah bergaul dengan karakternya yang ramah- tapi keluarga bilang ini topeng sebab pekerjaannya sebagai dokter anak. Mereka lebih setuju kalau Ayana adalah duplikasi Kenzie dengan jenis kelamin yang berbeda. Pasalnya mereka rada mirip dalam hal sifat maupun karakteristik.
"Kamu ngapain ke sini?" Mengalihkan perhatiannya ke Humairah.
Humairah yang ditanya langsung kehilangan keberaniannya untuk berbicara.
Tidak menjawab, Ayana mencerca dengan suara sinis.
"Humairah, aku pikir kamu harus pergi menemui psikiater. Ada masalah dengan dirimu sendiri. Jika kamu membiarkannya begitu saja tanpa mengambil tindakan apa-apa, aku takut kamu akan kehilangan dirimu sendiri." Ayana membuat penilaian serius.
Hati Humairah sakit tidak bisa menerima penilaian telanjang dari Ayana. Untuk sesaat dia tidak tahu apakah Ayana serius mengatakan ini atau hanya kata-kata sarkasme saja untuk mempermalukannya.
"Aku... aku tahu bagaimana tubuhku sendiri. Aku hanya butuh mas Kenzie untuk memulihkannya." Kata Humairah malu-malu bercampur rasa takut.
__ADS_1
Azira diam-diam mengacungi jempol pada wajah tebal Humairah. Aneh saja. Dulu sewaktu Ibunya dicampakkan dan diusir oleh Ayah, Ibu tidak pernah mencari ataupun mengejar Ayah lagi. Sesulit apapun kehidupan yang dijalaninya dan semenderita apapun hidup yang dilewati, Ibu tak pernah sekalipun berbalik mencari Ayah. Apalagi sampai kehilangan wajah seperti yang Humairah lakukan sekarang, sungguh kasihan sekali. Sayang seribu sayang, tak ada simpati sedikitpun Azira untuknya.
"Kamu benar-benar membutuhkan perawatan." Ayana. Menggelengkan kepalanya perihatin.
Tiba-tiba matanya tertarik melihat tanda merah di punggung tangan dan jari tengah Azira. Menatap tak percaya, sebelum Azira memperhatikan keanehannya, dia langsung menarik tangan Azira ke hadapannya dan mendorong jauh kain yang menutupi sebagian tangan Azira.
"Ayana?" Azira bingung.
Kedua mata Ayana langsung membola kaget. Tidak salah lagi, tanda merah ini adalah cetakan gigi.
"Subhanallah, kak Kenzie ternyata galak juga ya sama kak Azira." Goda Ayana bercanda.
Malu, Azira langsung menarik tangannya sambil memperbaiki lengan panjangnya. Wajahnya terasa panas seiring semburat merah mulai mengembang dengan malu-malu di wajah cantiknya.
Dadanya langsung terasa sesak dengan berbagai macam pikiran liar yang berkelebat di dalam kepalanya.
Tidak,
Tidak, mungkin!
Dia tahu betul orang seperti apa Kenzie. Dia tidak mungkin menyentuh wanita apalagi jika wanita itu pernah menghancurkan pernikahannya!
Humairah tidak percaya!
Ayana tersenyum lebar berpura-pura tidak melihat ketakutan di dalam mata Humairah.
__ADS_1
"Tidak perlu heran, ini wajar bagi pasangan suami-isteri. Kelak kamu pun begitu jika sudah halal."
Humairah menggelengkan kepalanya menolak percaya.
"Apakah kamu ingin bergabung bersama kami di dalam?" Melihat ke samping kanan dan samping kiri lalu kembali memandangi Humairah,"Tidak nyaman membicarakan masalah suami-isteri di sini, jadi sebaiknya kita masuk saja ke dalam?" Ayana menawarkan dengan murah hati.
Humairah mengepalkan tangannya menahan malu. Matanya masih tertuju pada tangan kanan Azira, menatapnya linglung.
"Tidak, tidak perlu. Aku...aku masih punya urusan lain... assalamualaikum." Humairah langsung melarikan diri setelah mengucapkan salam kepada mereka berdua.
Kepalanya pusing dan dadanya terasa sangat sesak. Air mata entah sejak kapan mulai menghujani pipinya. Mengungkapkan betapa sakit yang dia rasakan sekarang.
"Dia melarikan diri, baguslah."
Azira tersenyum malu,"Maaf telah membuatmu melihat lelucon di antara kami."
Ayana melambaikan tangannya tidak ambil pusing.
"Tidak masalah, lagipula aku senang membuatnya ketakutan. Okay, berhenti memperhatikannya. Ayo masuk sebelum makanan ini jadi dingin." Ayana menunjukkan kotak makanan ringan yang dia bawa kepada Azira.
Makanan ini sengaja dia beli untuk Azira karena sejak terakhir kali mereka bertemu, dia belum pernah bertemu dengannya lagi.
Kedua mata Azira langsung berbinar terang melihat makanan yang dibawa oleh Ayana.
"Baiklah, ayo masuk."
__ADS_1