Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 30.7


__ADS_3

Sekalipun tubuh paman ringkih tapi tinjunya tidak main-main. Setiap pukulan tepat mengenai sisi wajah ayah, tak memberikan Ayah peluang untuk membela diri ataupun melarikan diri.


Bug


"Ini untuk sakit hati adikku yang kamu tinggal ke kota selama bertahun-tahun."


Saat pukulan pertama jatuh orang-orang yang mengelilingi mama dan bibi Safa berhenti membuat kekacauan. Mereka berhenti memukul Bibi Safa dan mama tapi tidak melepaskan, memegangnya erat-erat sambil menonton Paman memukul ayah.


Bug


Memukul lagi.


"Ini untuk rasa sakit adikku sewaktu melahirkan Azira tanpa kehadiran kamu!"


Selesai berbicara, Paman langsung melontarkan pukulan yang lain ke sisi wajah Ayah.


Suara pukulannya sangat nyaring dan sangat sulit untuk diabaikan. Azira memiringkan kepalanya menatap paman memukuli ayah yang lemah dan lemas tak bisa bergerak di atas karpet. Mata Azira basah karena sedih. Jujur, dia merasa sangat tidak nyaman melihat ayah seperti ini. Air mata telah berkumpul di pelupuk mata, berkedip beberapa kali air mata itu pasti tumpah.


Sampai akhirnya sebuah tangan besar menutupi matanya.


"Jangan melihat lagi. Kamu tidak akan kuat." Siapa lagi yang berbicara selain suaminya sendiri?


Azira dengan patuh menganggukkan kepalanya, dia berjanji tidak akan melihatnya lagi karena pemandangan ini sungguh tidak sedap dipandang. Namun karena itu adalah ayahnya, dia merasa kesulitan untuk mengabaikannya.


"Aku tahu pasti kamu tidak nyaman melihat ayah dipukuli. Aku bisa mengerti perasaan kamu. Terlepas dari penderitaan yang kamu jalani, kamu pasti tidak ingin Ayah terluka. Hanya saja istriku, kamu juga harus memahami posisi mereka juga selaku saudara-saudara Ibu. Saudara yang mereka saksikan tumbuh dan hidup bersama dianiaya sedemikian rupa oleh ayah, naudzubillah, bila posisi itu diambil alih oleh Sasa maupun Mona, aku mungkin akan lepaskan kendali. Aku akan bertindak jauh lagi karena aku sama sekali tidak rela ada orang yang menyakiti adik-adikku. Kurang lebih itulah yang mereka rasakan kepada ibu, sayang." Sambil mengelus punggung Azira, dia berusaha memberikannya pengertian dan membuat Azira memahami apa yang dirasakan oleh orang-orang ini.


"Jangankan mereka mas, aku saja yang telah hidup bersama Ibu dan menyaksikan susah senangnya bersama Ibu juga berharap bawa semua penderitaan yang ibu lalui akan dibayar tunai oleh Ayah atau siapapun yang telah membuat Ibuku menangis." Bisik Azira sembari menggeser kepalanya mencari posisi yang nyaman untuk bersandar.


Kenzie tersenyum lembut.


"Hum, aku mengerti apa yang kamu rasakan."


Sementara itu di sisi ayah dan paman.


Bug


"Ini untuk penderitaan adikku yang nekat pergi ke kota untuk mencari kamu, tapi malah kamu sia-siakan." Sampai di pukulan ini ayah sudah mulai kehilangan kesadaran.


Wajahnya lebam lebam, ada darah mengucur dari sudut bibirnya yang sobek dipukul oleh Paman.


Bug


Hantaman pukulan ini sangat keras. Dan karena pukulan ini ayah akhirnya pingsan sepenuhnya.


"Dan ini untuk kebejatan kamu mengirim adikku ke tempat kotor itu!"

__ADS_1


"Tolong....tolong... Ada pembunuhan! Tolong selamatkan lah suamiku! Jangan biarkan laki-laki tua Bangka itu membunuh suamiku!" Mama berteriak histeris meminta tolong kepada orang-orang agar Ayah segera diselamatkan.


Dia merasa sakit sendiri melihat suaminya diperlakukan seperti itu. Tapi sebanyak apapun dia berteriak meminta tolong, tak ada satupun orang yang mau datang membantu. Mereka semua hanya berdiri diam menonton Paman memukul ayah tanpa berniat membantu sedikitpun. Untuk apa mereka membantu laki-laki ini? Di saat nyawa manusia tidak begitu berharga di tangannya.


"Saudaraku, tolong berhenti. Dia sudah pingsan." Akhirnya Abah menghentikan paman memukul Ayah lagi.


Paman berhenti. Nyatanya dia sudah puas memukul sampai pingsan. Sebenarnya itu tidak benar-benar cukup, tapi Paman masih tahu batasan. Jika dia memukul terus maka kehidupan ayah akan mengalami masalah. Paman tidak mau ayah mati begitu saja. Hukuman ini terlalu cepat dan ringan untuknya. Paman ingin menikmati hari tuanya dengan melihat betapa sengsaranya ayah hidup.


"Aku sudah selesai memukulnya. Tangan-tangan ini... Sudah lama ingin melampiaskan semua penderitaan yang adik aku alami." Kata paman sambil melihat kedua tangannya mengkerut dan keriput.


Tangan Paman agak mati rasa setelah digunakan untuk memukul wajah ayah.


"Saudaraku tenang saja. Putraku akan mengurus langkah selanjutnya untuk orang-orang ini. Semua yang terlibat dalam masalah ini akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal." Kata Abah berjanji kepada paman.


Dia dan Kenzie telah membicarakan masalah ini sebelumnya bahwa mereka akan menyerahkan masalah yang dialami oleh ibu Azira ke kantor polisi dengan tuduhan perdagangan manusia.


"Wohoho...kalian semua berhati kejam! Kalian menganiaya kami dan mempermalukan kami di depan banyak orang. Wohoho.... lihat saja, aku akan melaporkan kalian semua ke kantor polisi." Tangisan Mama tiba-tiba menyala pembicaraan paman dan Abah.


Mama mengancam akan melaporkan semua ini ke kantor polisi- ah, tidak. Ini bukan sekedar ancaman biasa. Tapi dia bersungguh-sungguh ingin melaporkan mereka semua yang terlibat hari ini ke kantor polisi. Entah itu pihak dari ibu Azira ataupun pihak dari keluarga abah yang bersikap 'menonton kesenangan' akan dilaporkan juga. Lagi pula semua bukti-buktinya jelas.


Badan mereka bertiga babak belur, pakaian mereka compang-camping dan jilbab mereka terkoyak entah kemana. Belum lagi bagaimana penampilan wajahnya sekarang. Mama tidak tahu seperti apa rupanya sekarang tapi dia yakin bila semua riasan wajahnya telah dikacaukan.


Dan itu semua gara-gara wanita paruh baya udik dari kampung ini. Dia merasa sangat terhina dan tidak bisa menerima semuanya!


Dia harus melaporkan mereka semua ke kantor polisi untuk memuaskan kemarahan di dalam hatinya!


"Ingin melaporkan ke polisi? Kebetulan aku juga ingin melaporkan kalian ke kantor polisi. Mulai dari kasus perdagangan manusia yang kalian lakukan kepada Ibu hingga penyerangan yang dilakukan Humairah kepada Azira, masalah ini akan sampai di meja hijau. Kamu tenang saja, sebelum kamu bertindak ke kantor polisi kami pasti sudah lebih dulu mengambil langkah." Ucapnya dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.


Kenzie tidak kalah serius dari mama. Dia telah memikirkannya sepanjang waktu. Untuk kejahatan sebesar itu polisi harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Lagi pula perdagangan manusia itu adalah kasus yang serius bagi polisi dan sangat serius bagi Kenzie karena itu menyangkut Ibu mertuanya yang meninggal dalam ketidakadilan. Ini juga merupakan luka lama bagi istrinya. Sekalipun istrinya jarang membicarakan masalah ini dan tidak pernah mengeluhkan masalah ini kepadanya, tapi Kenzie tahu bahwa masalah ini selalu membayang-bayangi Azira.


Masalah ini adalah mimpi buruk untuk istrinya. Selama keadilan itu tidak diberikan kepadanya, makan sama itu pula Azira akan terjebak dalam kesedihan. Tak ada satupun anak di dunia ini yang mau melihat orang tuanya dianiaya dan hidup menderita sepanjang hidup. Tidak ada yang menginginkan hal seperti itu terjadi. Yang ada malah setiap anak berharap bila kedua orang tuanya hidup dalam kebahagiaan dan menghabiskan waktu dalam hari-hari damai di masa tuanya.


"Apa... Silakan saja laporkan masalah ini..." Mama kelabakan dan tidak menyangka Kenzie akan mengancamnya.


Abah tahu rencana putranya. Dan dia sangat mendukung keputusan putranya untuk membangun masalah ini ke ranah hukum. Abah malah sudah tidak sabar membuat laporan saat melihat Humairah ingin menyerang menantunya. Harapannya orang-orang ini segera masuk penjara untuk mendapatkan sanksi atas semua perbuatan yang telah mereka lakukan.


"Tentu saja. Kamu tidak perlu mendesak kami. Laporan pertama sudah kami buat dan akan dikirim hari ini bersama dengan laporan kedua, yaitu penyerangan yang Humairah lakukan kepada Azira. Masalah ini harus diselesaikan secara adil di kantor polisi. Biarkan hukum berikan keadilan kepada kami karena kalian tidak mampu memberikannya." Putus Abah mewakili sikap keluarga.


Setelah Abah mengatakan ini, mama dan bibi Safa yang masih sadar langsung menghirup udara dingin. Ada rasa takut di dalam hati masalah ini dibawa ke ranah hukum. Alasannya tentu saja karena mereka berdua bersalah. Jika mereka berdua tidak bersalah, maka mereka tidak perlu takut. Sayang sekali mereka terlibat dalam perdagangan manusia, tapi itu semua gara-gara Ibu Azira. Jika wanita udik dari desa itu tidak datang ke kota untuk mencari ayah, tentu saja mama dan bibi Safa tidak akan mengambil tindakan sekejam itu.


"Kami tidak akan takut. Lagipula kalian tidak memiliki bukti!" Bibi Safa melepaskan diri dari wanita paruh baya itu.


Dengan kedua kaki gemetar dia bangkit dan berdiri lurus melihat keluarga Kenzie. Ada getaran ketakutan di dalam hati, namun dia memiliki keyakinan kuat di dalam hati bahwa walaupun masalah ini dibawa ke hukum, mereka semua tidak memiliki bukti atas apa yang dia lakukan dulu. Adapun masalah Humairah, itu bisa diselesaikan dengan sejumlah uang. Dia tidak percaya jika polisi menolak uang mereka.


Abah menatapnya dalam,"Tentu saja, setelah hari ini pertemuan kita selanjutnya ada di pengadilan. Aku harap kalian tidak menyesali apa yang telah kalian perbuat selama ini." Kata Abah sangat tenang, tidak ada emosi apapun diwajahnya.

__ADS_1


Justru karena ketenangan ini bibi Safa merasakan getaran ketakutan di dalam hati.


Dia sudah lama mendengarkan tentang prestise Abah di dunia bisnis. Orang bilang dia berhati baja dan menyembunyikan pisau di dalam senyumnya. Dulu dia tidak mempercayainya, karena dia beranggapan bahwa rumor ini seperti cerita di novel-novel yang tidak nyata. Tapi melihatnya sekarang. Dia akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh orang-orang itu ketika membicarakan tentang Abah. Seperti yang orang bilang, senyumnya menyembunyikan pisau.


"Apakah kita tidak melaporkannya sekarang mumpung mereka ada di sini?" Umi bertanya kepada Abah.


Pertanyaan ini juga mewakili orang-orang dari pihak keluarga Ibu Azira beserta para tamu yang sudah geregetan dengan keluarga ayah.


Abah menatap Kenzie, dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, biarkan mereka mempersiapkan diri." Kata Abah dengan suara rendah.


"Sungguh tidak tahu malu. Keluarga ini benar-benar membuka mataku terhadap dunia. Setelah menganiaya kehidupan Ibu Azira hingga putus asa, kini giliran generasi mereka yang ingin menyakiti Azira. Apakah keluarga ini tidak memiliki otak untuk berpikir?" Suara dingin Ayana mencibir.


Dia datang terlambat karena ada urusan di rumah sakit. Ketika dia dan suaminya datang ke sini, orang-orang sedang ribut. Dengan bingung dia bergabung dengan para tamu menonton apa yang sedang terjadi. Dia sangat terkejut ketika melihat keluarga Ayah dipukul habis-habisan sekelompok orang yang tidak dikenal. Dan dia semakin merasa aneh melihat para tamu dan keluarga abah tidak melakukan sesuatu untuk menghentikan perbuatan orang-orang itu. Tapi setelah menyimak pembicaraan orang-orang dia akhirnya tahu mengapa mereka semua diam saja. Hati Ayana langsung sesak, rasa-rasanya dia ingin bergabung dengan orang-orang itu untuk menghabisi mereka bertiga. Tapi suaminya tidak mengizinkan dia pergi. Maka jadilah dia hanya bisa menonton kesenangan dari luar.


"Mereka adalah keluarga yang kejam. Tidak hanya memiliki hati nurani, tapi otak mereka juga menyimpang. Entah siapa yang mau berteman dengan mereka setelah kejadian ini menyebar." Suara Mona mencemooh.


Bibi Safa mengepalkan kedua tangannya marah. Dia juga mengkhawatirkan masalah ini. Jika masalah ini menyebar ke telinga banyak orang, mungkinkah keluarga mereka masih baik-baik saja?


Tidak, mungkinkah perusahaan mereka tidak mengalami masalah?


Bibi Safa meragukannya.


Hanya saja dia sangat marah saat ini. Setelah dipermalukan dan dipukul habis-habisan di depan banyak orang, bibi Sifa serta suaminya malah bertindak terasing dengan mereka. Padahal mereka adalah satu keluarga. Dan dia semakin kesal ketika memikirkan suaminya tidak ada di sini. Jika suaminya ada di sini, hal ini tidak akan pernah terjadi!


"Ugh...mas Rama..." Mama membangunkan suaminya yang kembali sadar dari pingsannya.


Ayah menatap sekelilingnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian wajahnya langsung menjadi pucat dan menatap waspada pada paman yang telah memukulnya hingga pingsan. Tapi Paman tidak bergerak. Dia hanya memandangnya dengan kedua mata melotot.


"Ma, Ayah. Ayo kita pulang." Humairah juga ikut bangun.


Faktanya dia hanya berpura-pura pingsan. Awalnya dia ingin bangun untuk membuat keributan barusan, tapi ketika mengetahui keluarga Azira datang dan memukuli keluarganya, Humairah memutuskan untuk berpura-pura pingsan saja untuk menghindari pemukulan.


"Nah, wanita tidak tahu malu ini akhirnya bangun juga." Seseorang mencibir.


"Mungkin saja tadi dia berpura-pura pingsan. Memangnya ada ya orang pingsan gara-gara ditimpuk pakai bantal sofa?" Beberapa orang meragukannya.


"Aku tidak pernah mendengarnya. Lagian yang bener aja, masa pingsan gara-gara ditimpuk pakai bantal sofa? Orang ditimpuk pakai balok aja belum tentu pingsan, kenapa ini langsung pingsan kena bantal sofa?"


Humairah mendengarkan semua kata-kata cemoohan itu. Dia marah dan malu pada saat yang sama karena kebohongannya dilihat oleh orang lain, tapi dia berusaha untuk bersikap acuh tak acuh, menyembunyikan rasa malunya.


Sebenarnya pukulan Kenzie sangat sakit, Humairah sama sekali tidak berbohong. Meskipun cuma bantal, tapi Kenzie memukulnya dengan sekuat tenaga sehingga efek yang dia rasakan tidak main-main.


"Ayo pulang." Tegas bibi Safa hanya segera melarikan diri dari tempat ini.

__ADS_1


Bibi Safa membantu keponakan tersayangnya bangun. Mereka berdua berjalan tertatih-tatih di bawah pengawasan semua orang.


__ADS_2