Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 18.5


__ADS_3

"Assalamualaikum, kak." Sasa masuk ke dalam mobil bersama Mona.


Mereka berdua duduk di kursi belakang sambil membawa beberapa tugas kuliah dari dosen. Hari ini mereka keluar agak lambat. Biasanya jam 5 sore sudah kelas dan langsung pulang. Tapi hari ini dosen lagi mood cerewet sehingga membuat waktu molor sampai sampai magrib. Saat mendengar suara orang mengaji di masjid, barulah mereka dipulangkan.


Sasa dan Mona dongkol. Mau marah tapi itu dosen mereka. Sekalipun dosen salah di sini tapi tetap saja di mata dosen, mahasiswa lah yang salah. Jadi dengan hati dongkol mereka terpaksa menahan semua kepahitan dengan getir.


"Waalaikumsalam. Kalian kenapa mukanya pada lesu?" Azira prihatin.


Mona mengeluh,"Dosennya hari ini ngeselin banget, kak. Seharusnya kita pulang jam 5, eh dosennya malah ngalor ngidul enggak jelas di dalam kelas sampai kebablasan mau magrib. Jengkelin banget enggak, sih."


Sasa yang duduk di sampingnya juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh,"Kalau ngomongin pelajaran sih enggak apa-apa, yah, kita masih memaklumi. Itu kalau bahas tentang pelajaran, tapi ini malah bahas tentang hutang-hutang dia. Katanya dia iseng berhutang di bank biar gajinya tiap bulan ada yang dipotong. Dia juga bilang kalau dia sengaja mau ngambil hutang di bank karena dia sangat penasaran bagaimana rasanya berhutang banyak uang. Dan anehnya lagi dia bilang semua hutang-hutang di bank tidak membuatnya terbebani karena itu bisa dipotong dari gajinya setiap bulan di kampus. Konyol banget nggak, sih? Ada gitu manusia iseng ngambil hutang? Dan poin paling penting adalah apa faedahnya dia menceritakan kami tentang hutang-hutangnya di bank? Kami sama sekali nggak ngerti. Ini sangat tidak lucu." Cerita Sasa tak mampu berkata-kata lagi.


Piur, ini konyol banget. Dia belum pernah bertemu dengan dosen sekonyol ini. Bisa-bisanya dosen itu menceritakan masalah pribadinya dengan mudah dan tentunya dengan cara berpikirnya yang konyol. Di mana letak manfaat dari cerita ini, dia sama sekali tidak tahu dan pada saat yang sama tidak ingin tahu tepatnya.

__ADS_1


Azira tidak pernah melihat dunia kuliah apalagi merasakannya. Jujur, dia senang mendengar Sasa dan Mona menceritakan tentang pengalaman mereka di kampus. Rasanya seperti mengintip dunia luar.


"Apakah dosen selalu seperti ini?" Kesannya cukup bebas dan tidak kaku seperti guru-gurunya di sekolah dulu.


"Setiap dosen memiliki karakter yang berbeda-beda." Kata Kenzie singkat.


Azira mengerti.


Azira menatap suaminya dengan tatapan bertanya.


Tanpa melihatnya pun Kenzie bisa merasakan tatapan lembut istrinya.


"Langsung pergi ke butik biar cepat pulang."

__ADS_1


Sasa dan Mona kompak ber'oh dia di belakang. Lalu mata mereka tidak sengaja melihat kedua tangan pasangan suami-isteri itu terhubung.


"Cek, kak Kenzie ternyata bisa romantis juga, yah." Bisik Sasa lucu.


Mona juga melihatnya.


"Hooh, akhirnya ada sisi manusia juga di dalam dirinya." Balas Mona berbisik sambil terkekeh.


"Shutt, hati-hati kalau ngomong. Gimana kalau di dengar sama kak Kenzie, bisa habis kamu di geprek, mau?" Peringat Sasa masih trauma dengan kemarahan Kenzie.


Setelah diingatkan Mona langsung berhenti berbicara. Mereka saling memandang sebelum akhirnya tertawa receh dan mulai membicarakan topik aneh.


Di kursi depan, Kenzie melirik mereka dari kaca spion dan tidak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2