
"Aku berangkat," Kenzie menyelesaikan sarapannya dengan cepat tanpa sisa di piring.
Piringnya sangat bersih. Azira kadang heran melihat cara makan suaminya yang rapi dan bersih. Dia sangat menghargai makanan dan tidak pernah meninggalkan sisa sedikitpun di atas piring. Pernah berpikir apakah suaminya orang yang perfeksionis karena melihat cara makannya sungguh tidak biasa.
"Iya, mas." Azira berdiri canggung di dekatnya.
Dia bingung kenapa Kenzie masih berdiri di tempat dan tidak bergerak. Jangankan bergerak, bersuara saja tidak. Sudah begitu wajah lempengnya langsung menatap lurus ke arahnya. Azira jadi grogi di depan Kenzie dan tidak tahu harus melakukan apa-apa.
"Ugh, kasihan. Kak Kenzie manja banget sih. Nih, masa enggak mau jalan kalau kak Azira belum peluk cium? Hahaha..." Sasa tertawa keras tanpa memperhatikan citranya sebagai seorang gadis.
Biasanya Umi akan menegurnya bila melakukan tindakan konyol, tapi kali ini Umi juga ikut tertawa bersama dengannya. Tentu saja dia menertawakan wajah lempeng Kenzie. Kalau cuma lempeng biasa sih Umi enggak akan kaget, soalnya Kenzie memang pembawaannya seperti itu. Tapi ini agak tidak biasa karena sorot mata Kenzie seperti orang yang mengeluh?
"Hem." Kenzie mengirimkan adiknya tatapan tajam.
"Ups." Dengan patuh Sasa langsung membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara lagi.
__ADS_1
Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa melawan kakaknya karena uang jajannya berasal dari kakaknya. Jika dia tidak patuh, maka bisa dibayangkan dompetnya bukan ini akan kurang gizi.
"Aku mau ke dapur dulu." Umi menarik Sasa pergi sehingga menyisakan Azira dan Kenzie.
"Mas...maaf, aku..." Azira mengusap lehernya canggung.
Kenzie menggelengkan kepalanya tak ambil pusing.
"Tidak apa-apa, biasakan saja."
"Um." Azira menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pikiran yang membuatnya kembali pusing.
Um, wajahnya menjadi panas memikirkan kejadian tadi pagi ketika terbangun di dalam pelukan suaminya.
"Mas Kenzie," Meraih tangan kanan Kenzie dan mengecupnya cepat.
__ADS_1
"Tolong hati-hati di jalan dan jangan lelah bekerja." Sambung Azira dengan wajah panas.
Dia sangat malu. Buru-buru melepaskan tangan Kenzie dari tangannya yang hampir terbakar karena gugup. Kepalanya tetap tertunduk menatap lantai tanpa niat menegakkannya apalagi sampai menatap sang suami. Um, anehnya reaksi tubuhnya sangat aneh sekarang.
Mengintip wajah tertunduk Azira yang tersembunyi,"Tentu," lalu obsidian dinginnya beralih menatap tangan sendiri yang baru saja dikecup oleh Azira. Tersenyum tipis, dalam waktu sekejap mata tangan itu sudah berada di atas puncak kepala Azira.
Azira terkejut. Kedua bola matanya melebar kaget saat merasakan usapan lembut di atas kepalanya.
"Aku akan berusaha pulang sebelum makan malam. Jaga rumah dan temani Umi, jika butuh sesuatu telpon saja aku. Assalamualaikum." Suara berat itu berselancar bebas di dalam gendang telinga Azira.
Azira tenggelam dalam pikirannya hingga tidak sadar bila sang suami sudah tidak terlihat lagi. Begitu menoleh ke halaman, mobil suaminya sudah tidak ada di tempat parkir. Azira menggigit bibirnya sangat menyesal.
"Waalaikumussalam..." Bisik Azira tersipu malu.
Bersambung...
__ADS_1
Pemanasan dulu 😬