
Sebentar lagi masuk waktu magrib ketika mereka keluar dari kawasan tempat kumuh. Setelah Azira pergi dari tempat Ibu, dia tidak berniat singgah dulu ke rumah kontrakannya yang dulu. Tidak ada apa-apa di sana yang bisa dilihat, tidak ada apa-apa yang bisa didapatkan ketika kembali ke sana kecuali goresan luka yang telah tercurah sejak beberapa tahun yang lalu.
Azira tidak mau terlalu mengenang masa lalu. Keluar dari tempat menyakitkan itu, hatinya jauh lebih tenang dan diliputi oleh perasaan manis. Tentu saja itu karena suaminya. Um, janji manis suaminya selalu terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Seolah Kenzie membicarakannya tepat di samping telinganya.
"Muka kamu kok merah banget, kenapa?" Kenzie melirik istrinya di samping.
Wajahnya sangat merah seperti orang yang sedang demam. Keningnya mengernyit, merasa heran karena istrinya tiba-tiba jatuh sakit. Mungkinkah pertemuan mereka memberikan pukulan yang cukup besar untuk Azira?
Azira sontak memegang wajahnya yang memanas. Ugh, dia sangat malu. Mana mungkin dia berkata kepada suaminya kalau wajahnya jadi merah gara-gara memikirkan janji yang suaminya katakan kepada Ibu. Itu sangat memalukan.
"Um... aku kegerahan, mas. Iya, hari ini kok panas banget, yah?" Azira membuat alasan lain sambil berpura-pura mengipasi wajahnya.
"Panas?" Kenzie melirik AC mobilnya yang selalu menyala.
__ADS_1
Di dalam mobil rasanya sejuk. Tidak panas sama sekali.
"Oh... Lain kali kalau keluar rumah pakai payung biar kamu enggak kepanasan." Kenzie malah berpikir positif.
Yah, mungkin saja itu karena efek panas di luar.
Azira mengalihkan matanya tak berani melihat Kenzie.
"Ya... Mungkin tidak perlu."
10 menit kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah restoran bergaya traditional. Agak unik sebenarnya. Restoran ini terlihat sangat mencolok dibandingkan dengan tempat makan yang bersebelahan dengannya. Di tengah-tengah kota ini, penampilan restoran ini cukup menarik perhatian dan tergolong unik.
"Hari ini agak ramai karena cabang ini baru hari ketujuh dibuka. Temanku bilang masakan di sini mirip dengan masakan rumahan, dan setelah mencoba sekali katanya kita akan ketagihan terus. Aku meragukannya. Menurut kamu gimana?" Kenzie tidak memiliki harapan besar tentang bisnis temannya yang satu ini.
__ADS_1
Bukannya dia meremehkan temannya, tapi Kenzie sendiri adalah tipe orang yang lebih suka makan makanan yang dimasak oleh orang-orang rumah daripada membeli makanan di luar.
"Mungkin rasanya benar-benar enak, mas. Soalnya di hari ketujuh pun restoran ini masih ramai dan betah dikunjungi banyak orang." Azira agak excited ingin masuk ke dalam restoran.
Dalam hidupnya dia belum pernah masuk ke dalam restoran oleh karena itu dia sangat menghargai momen ini. Bertanya-tanya seperti apa di dalam sana dan bagaimana rasa masakan di dalam sana. Ugh, dia cukup menantikannya.
"Jangan terlalu optimis. Mereka masih ramai karena restoran sedang mengadakan diskon besar-besaran selama 1 bulan untuk menarik pelanggan. Bisa jadi ramai-" Kenzie terdiam ketika melihat binar terang di mata Azira.
Azira mungkin sangat ingin masuk ke dalam sana.
"Mas Kenzie tadi bilang apa?"
Kenzie tersenyum tipis,"Apakah kamu mau makan di sini?" Dia mengubah kata-katanya.
__ADS_1
Azira sebenarnya ingin makan di sini. Tapi dia ingat Umi, Abah, Sasa dan Mona masih menunggu kepulangan mereka di rumah. Selain itu malam ini rumah tidak masak, jadi orang-orang di rumah pasti kelaparan menunggu kedatangan mereka.
"Lain kali saja, mas. Di dalam pasti ramai banget. Tunggu waktu yang lebih tenang aja." Kata Azira menolak.