Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 3.8


__ADS_3

Setelah Azira mengungkapkan kedua bukti ini, wajah Mama dan Ayah langsung berubah. Ekspresi wajah mereka sangat buruk namun tak ada satupun kata yang terucap dari bibir.


Bibi Sifa menghela nafas berat, dia menggelengkan kepalanya dan enggan menatap kakaknya yang hanya terdiam membisu tanpa mengucapkan kata-kata bantahan.


"Jadi Humairah adalah putri keduanya?"


"Aku tidak menyangka beliau pernah menikah sebelum menikahi Mama Humairah..."


Ada banyak diskusi diantara para tamu yang membuat Ayah dan keluarga besarnya menjadi sangat malu. Pernikahan pertama Ayah adalah sebuah aib yang tidak bisa diungkapkan dimuka umum. Keluarga kaya manapun pasti malu memiliki menantu miskin dan berasal dari daerah tertinggal. Tidak ada yang mau memiliki menantu serendah ini secantik apapun dia. Begitu pula keluarga besar Ayah. Mereka menolak pernikahan itu dan secara paksa mendorong Ibu Azira hingga ke posisi ini. Dianggap hina dan kotor karena pekerjaannya sebagai wanita malam.


"Ini, bohong kan, kak?" Bibi Safa bertanya kepada Ayah.


Ayah tidak mengatakan apa-apa. Diamnya Ayah merupakan tanda persetujuan bila apa yang Azira katakan memang benar adanya.


"Tidak...tidak mungkin! Tidak mungkin! Ini semua bohong! Katakan Ma, jika semua ini bohong!" Humairah memeluk Mama sambil menangis terisak-isak.


Suara tangisnya sangat memilukan dan menyayat hati orang-orang disekelilingnya. Humairah, gadis manja yang telah mereka jaga dengan hati-hati dan penuh kasih saat ini sedang menangis dalam hati yang hancur. Belum pernah dalam hidup ini mereka melihat gadis ceria nan manja ini menangis sehancur kepada Kenzie.


Mata Kenzie menyala kaget mendengarkan pertanyaan Ayah. Kenzie sama sekali tidak menyangka setelah identitas Azira terungkap, Ayah masih mengabaikannya


Ayah merasa sangat sakit melihat Humairah seperti ini. Dia sangat menyesali keputusannya membawa Azira pulang ke rumah ini. Jika saja dia tidak membawanya pulang, maka pernikahan putrinya bisa diselamatkan dan hari ini harusnya semua orang dalam suasana suka cita yang baik.


"Azira, kesalahan di masa lalu tidak seharusnya kamu menumpahkannya kepada Humairah, dia adalah saudaramu." Ayah berbicara dengan nada tuanya.


Mengingatkan Azira dengan tulus jika Humairah adalah saudaranya, adiknya yang harus dijaga dengan baik!


Namun sayang, Azira sudah tidak memiliki rasa empati untuk keluarga ini.


Azira mencibir sikap Ayahnya yang tidak tahu malu.

__ADS_1


"Benar, aku juga putri sah mu, lalu kenapa selama ini kamu mengecap ku sebagai anak haram mu?" Balas Azira bertanya balik.


Dia ditinggalkan, dihina, dan dianggap menjijikkan. Padahal dia adalah anak yang baik, lahir dengan cara yang baik pula namun dianggap rendah hanya karena lahir dari Ibu yang miskin.


Ayah sangat malu ditanya balik. Wajahnya tuanya terlihat sangat tidak sedap dipandang seakan Azira berhutang puluhan milyar kepadanya.


"Kenzie, apakah kamu benar-benar mengakui pernikahan ini?" Suara penuh harap Umi mengalihkan fokus semua orang.


Umi tidak perduli dengan keluarga yang kacau ini lagi dan langsung bertanya kepada putranya mengenai pernikahan ini selanjutnya.


Kenzie menatap Umi tegas tanpa goyah sedikitpun. Melihat ketegasan putranya, Umi merasa sangat kecewa. Dia menggelengkan kepalanya lemah.


"Abi, ayo pulang." Ajak Umi dalam suasana hati yang buruk.


Abi memegang tangan Umi yang sudah dingin, lalu dia menatap putranya yang masih teguh dengan pilihannya sendiri. Menghela nafas panjang, dia mengangguk ringan kepada Kenzie dan pergi tanpa mengatakan apapun kepada Ayah.


"Baiklah, ayo pergi."


Melihat semua keluarganya pergi, Kenzie juga tidak berniat tinggal lama di sini. Dia mendekati Azira dan mengambil tangannya untuk digenggam. Sejenak, Kenzie terkejut merasakan perlawanan samar Azira kepadanya. Tangan Azira yang kasar sangat dingin dan berkeringat, ketika disentuh rasanya tidak nyaman tapi Kenzie tidak melepaskannya. Malah, Kenzie mempererat genggaman tangan mereka.


Lalu dia menarik Azira menghampiri Ayah. Azira jelas enggan pergi karena langkahnya agak tertahan, namun karena Kenzie sudah menariknya pergi, Azira tidak mau membuat perlawanan lagi.


"Ayah, kami berdua pamit pulang."


Azira mendengus, dia memalingkan wajahnya tidak mau melihat Ayah. Tanpa disengaja matanya tertuju pada wajah gelap bibi Safa. Bibi Safa tidak pernah memalingkan wajahnya dari Azira, seolah-olah dia berharap matanya bisa menjadi pisau bumerang untuk Azira.


Azira terkekeh geli. Dia tersenyum lebar ke bibi Safa tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hari ini dia berhasil menjatuhkan martabat keluarga ini di depan banyak orang dan dia juga berhasil menghancurkan pernikahan Humairah, anak emas yang selalu mereka banggakan.


"Bibi Safa, mengapa terlihat muram? Tidakkah bibi ikut senang dengan pernikahan ku?"

__ADS_1


Azira menyapa bibi Safa dengan sikap yang baik dan senyuman yang menyenangkan pula.


Bibi Safa menggertakkan giginya marah. Tangannya terkepal erat berusaha mempertahankan kewarasannya di depan semua orang. Jika tidak, kedua tangan ini pasti sudah lama mencekik leher Azira.


"Betapa hinanya, kamu dan Ibumu memang tidak ada bedanya. Sama-sama manusia kotor!" Hina bibi Safa dengan suara rendah.


Manusia kotor?


Azira tersenyum getir. Dia memiringkan kepalanya seiring dengan senyumnya yang perlahan menghilang, "Manusia kotor? Kamu haruslah lebih tahu siapa yang lebih kotor di sini. Bibi, tidakkah kamu ingat siapa yang membunuh Ibuku malam itu?" Tersenyum dingin,"Aku tidak bisa melupakannya, bibi, karena itulah aku di sini. Jika bibi bisa merenggut kehidupan Ibuku, maka aku juga bisa merenggut kebahagiaan Humairah. Lihat? Hari ini aku berhasil membunuh pernikahan bahagia yang Humairah impikan dan bahkan menjadi istri mas Kenzie. Kita... harusnya sudah seimbang, kan?"


"Kamu!" Bibi Safa tersulut emosi.


Dia mengangkat tangannya untuk menampar Azira, akan tetapi sebelum tangan itu mendarat di wajah Azira, lengan Azira tiba-tiba ditarik ke belakang sehingga tangan bibi Safa hanya mengenai udara tipis saja.


"Apa yang kamu lakukan Kenzie?" Bibi Safa menatap Kenzie dengan tatapan rumit.


Kenzie melirik wajah pucat Azira sebelum berbicara dengan bibi Safa.


"Bibi, kami pamit pulang, maaf telah menggangu waktumu." Mengabaikan ekspresi kecewa bibi Safa, dia mengangguk sopan dan menarik Azira pergi.


Azira menoleh ke belakang dan mengirimkan bibi Safa sebuah seringai lebar sebagai sapaan terakhir.


Bibi Safa sangat marah. Dadanya bergemuruh dalam kemarahan tanpa bisa melepaskannya kepada Azira. Di dalam hati bibi Safa tanpa lelah merutuki Azira dengan berbagai macam kutukan dan cecaran penghinaan, namun masih tidak bisa meredakan amarahnya. Mata merahnya yang basah hanya bisa memandangi punggung Azira yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Saat mereka melangkah pergi, Humairah tiba-tiba berteriak tidak rela dan terus memanggil nama Kenzie untuk segera kembali. Namun langkah Kenzie sangat teguh bahkan tidak melambat sedikitpun. Sikap Kenzie acuh meskipun Humairah terus membuat keributan di dalam. Jika Azira tidak tahu namanya, maka dia akan berpikir bila Kenzie bukanlah orang yang bernama Kenzie.


Azira melihat tangan besar itu memegang pergelangan tangannya yang kurus dan jauh lebih gelap dari warna kulit Kenzie.


Canggung, dia mengangkat kepalanya mengintip Kenzie.

__ADS_1


Ekspresi Kenzie sangat tenang sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu. Tidak ada jejak kemarahan, sedih, dan kecewa di wajahnya yang membuat Azira sangat bingung.


Azira bingung dan merasa bila laki-laki ini sedikit berbahaya untuknya.


__ADS_2