Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 19.3


__ADS_3

Pagi-pagi keesokan harinya keluarga Ayana datang ke rumah karena mereka akan berangkat bersama-sama secara berkelompok. Karena Ayana dan Fathir tidak pernah pergi berbulan madu semenjak menikah, jadi mereka berdua memutuskan untuk ikut berbulan madu bersama Azira dan Kenzie. Mereka tidak datang sendirian tapi juga membawa keluarga besar. Sangat ramai dan berisik, rumah dipenuhi oleh suara hiruk pikuk orang-orang yang sibuk menyiapkan barang ataupun makanan. Awalnya Kenzie berencana untuk tidak membawa makanan karena puncak sudah memiliki segalanya jadi mereka tinggal membeli saja. Tapi Ayana dan para wanita yang lain bersikeras membawa makanan dari rumah. Dengan alasan makanan yang ada di puncak tidak sebagus milik mereka di rumah dan yang lebih penting lagi makanan yang ada di puncak sangat mahal. Padahal kualitasnya biasa saja.


"Kak Azira, tadi malam aku sama mas Fathir pergi membeli beberapa makanan untuk kita pakai barbeque nanti malam di puncak. Coba deh kakak liat, kira-kira kakak suka nggak ini atau kakak mau nambah lagi? Mumpung masih ada waktu, kita bisa pergi berbelanja sekarang."


Saat melihat Azira turun dari atas, Ayana langsung berlari kecil menghampirinya. Dia menarik tangan Azira ke ruang tamu dan menunjukkannya barang-barang yang dia beli semalam.


Di atas meja ada banyak sekali bahan-bahan makanan mentah ataupun tidak mentah. Mulai dari jagung hingga perdagingan, mata Azira berbinar terang melihatnya.


"Yakin bisa ngabisin makanan sebanyak ini?" Fathir bertanya heran sama istrinya.


Ide untuk membeli makanan ini sudah pasti bukan miliknya tapi milik istrinya. Tidak seperti para wanita, laki-laki tidak pilih-pilih soal makanan. Apapun yang wanita bawa, itulah yang akan mereka makan. Hanya saja.. menatap sederetan makanan di sini... Dia menggelengkan kepalanya tanpa daya. Makanan ini pasti tidak bisa dihabiskan dalam waktu 3 hari pikirnya menyayangkan.


"Mas Fatir nggak usah ikut campur. Udah, nanti terima beres aja di puncak. Kita juga beli makanan buat kalian semua." Ayana jadi sewot.


Mulut Fathir berkedut. Jujur saja, makanan-makanan ini lebih disukai oleh para wanita daripada mereka laki-laki. Jadi... Bisa dibilang makanan ini dibeli untuk memuaskan keserakahan mereka para wanita!


"Yah...ya, terserah kalian."


Ayana mengabaikan ekspresi rumit suaminya.


"Ini udah cukup banget, Ayana. Nanti kalau kurang kita kan bisa beli di puncak." Kata Azira merasa cukup.


"Kalau kak Azira bilang cukup, aku ngikut aja deh. Oh ya, ngomong-ngomong gimana persiapan barang-barang kakak, udah beres kan?"


Azira menganggukkan kepalanya penuh semangat. Semalam dia tidak jadi beres-beres karena ada dinas dan baru bisa beres-beres tadi pagi. Untungnya barang-barang mereka tidak sebanyak itu jadi mereka tidak butuh banyak waktu untuk membereskan semuanya.


"Sudah."


Baru saja dia menjawab Sasa tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua dengan wajah kesusahan.


"Kak Azira, kak Ayana, bantuin aku dong beres-beres pakaian aku di dalam."


Ayana memutar bola matanya malas,"Kenapa beresinnya baru sekarang, emang kamu baru bareng sebanyak apa sih?" Meskipun dia berkata begitu, dia dan Azira tetap berjalan menuju kamar Sasa.


Begitu masuk ke dalam Azira dan Ayana langsung tercengang melihat betapa berantakannya kamar Sasa. Banyak buku dan kertas-kertas putih diletakkan secara asal-asalan di atas kasur. Alat make up yang belum dirapikan di atas meja rias, dan beberapa pakaian yang belum terlipat rapi di atas sofa. Belum lagi beberapa bungkus makanan ringan yang sangat menonjol di samping meja rias.


Ayana yang mencintai kerapihan bertanya-tanya bagaimana anak ini bertahan hidup di dalam kamar seberantakan ini?


Oh, mungkinkah ini masih bisa disebut kamar?


Meringis malu,"Seperti yang kalian lihat, barang-barang aku sebanyak ini. Tadi malam mau rapihin tapi karena ada tugas dosen dan deadline-nya nanti malam, aku memutuskan untuk langsung mengerjakannya tadi malam biar hari ini aku nggak kelabakan. Lagian mana bisa aku ngerjain tugas di puncak. Sampai-sampai sana mungkin aku langsung tepar kecapean." Sasa menjelaskan dengan bersungguh-sungguh.


Dia memang begadang semalaman buat ngerjain tugas sampai-sampai nggak punya waktu untuk membereskan kamar. Jangankan membersihkan kamar, tidur saja dia cuma punya waktu 2 jam yang sangat menyedihkan. Tapi demi pergi liburan dia rela melakukan semua itu. Apalagi dia pergi liburan bersama keluarga besarnya, sudah lama mereka tidak pergi bersama-sama jadi dia sangat antusias untuk hari ini.


"Sasa...Sasa, kamu teh udah besar dan bentar lagi mau nikah, masa iya sih kamar sendiri nggak bisa dirapiin." Ayana berdecak heran.


Sasa tertawa,"Mau nikah sama siapa, kak? Calon aja aku masih belum punya. Nah, di tempat kerja kakak ada yang masih jomblo nggak? Kalau ada kenalin dong kak. Sasa juga mau punya calon dokter." Di saat seperti ini Sasa masih sempat-sempatnya mencari kesempatan.


Vibes dokter tuh berbeda. Mau ganteng apa nggak, kalau udah pakai baju seragam putih, wanita pasti tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Begitu pula yang dirasakan oleh Sasa. Dia suka melihat kakaknya menggunakan seragam putih dan dia lebih suka lagi melihat laki-laki tampan menggunakan seragam putih. Rasanya tuh keren banget.


"Boleh, tapi sayangnya teman-teman aku udah pada nikah semua. Tunggu mereka jadi duda aja ya, atau kalau kamu nggak sabar, kenapa nggak minta tolong aja sama kak Kenzie. Teman-temannya kak Kenzie itu banyak banget dan luas! Kamu bisa puas memilih!"

__ADS_1


Di saat Ayana dan Sasa mulai membicarakan masalah kenalan, Azira sudah bekerja membereskan pakaian yang tidak terlipat rapi. Dia lipat ulang baju-baju Sasa dan memasukkannya ke dalam tas ransel Sasa.


"Minta kak Kenzie kenalin aku sama temen-temennya, jangan mimpi deh, kak. Yang ada aku nanti disemprot lagi sama dia. Aku nggak berani." Nyali Sasa langsung menciut.


Pernah ada kejadian Sasa dekat dengan salah satu teman Kenzie di rumah sakit. Begitu Kenzie mengetahui tentang kedekatan mereka, Sasa langsung dimarah habis-habisan dan diminta untuk menjauhi teman-temannya di rumah sakit. Sasa marah karena belum mengetahui dan mengerti kenapa kakaknya marah. Tapi setelah beranjak dewasa dia akhirnya mengerti kenapa kakaknya marah dan karena kejadian itulah dia tidak berani lagi dekat dengan teman-teman kakaknya.


"Dulu kamu salah pilih orang, makanya dimarahin. Kalau kamu pilih yang bener, kak Kenzie mana mungkin marah, tapi dengan syarat laki-laki itu serius sama kamu. Nggak usah pakai pacaran segala, langsung tunangan dan nikah, selesai. Ini namanya baru laki-laki." Ayana juga mengetahui tentang kejadian itu dan dia tahu kalau Sasa agak trauma dengan kemarahan Kenzie dulu.


Azira melihat wajah lelah Sasa dan berkata,"Mas Kenzie melakukan itu demi kebaikan kamu sendiri, dek."


Sasa menyeringai,"Aku tahu hehe.."


*****


Melihat istrinya pergi ke kamar Sasa bersama Azira, dia pergi menuju ruang tengah di mana tempat orang-orang berkumpul. Di ruang tengah kebanyakan para laki-laki yang berkumpul. Mulai dari sepupu-sepupu hingga paman dan mertuanya, mereka duduk bersama ditemani secangkir kopi di atas meja.


"Kenzie, ayo bicara." Dia memanggil laki-laki jangkung pendiam yang paling menonjol di antara semua orang.


Kenzie mengangguk ringan. Dia berdiri dan mengikuti Fathir menuju luar rumah. Setelah keluar dari rumah mereka berdua duduk di kursi depan. Tidak ada yang berbicara. Fathir terdiam menatap pemandangan di balik gerbang rumah. Tidak ada yang menarik dari sana. Tapi dia suka melihatnya.


Sementara Kenzie di sampingnya juga tidak mengambil inisiatif untuk berbicara. Matanya terpejam dengan pikiran mengambang entah ke mana. Sekilas orang-orang yang mengenalnya tahu kalau suasana hatinya saat ini sedang baik.


"Nabil semalam bilang sama aku kalau dia kembali." Suara Fathir tiba-tiba.


Sunyi. Fathir menajamkan telinganya mendengarkan pergerakan di sebelah. Tapi nihil. Bingung, dia tanpa sadar menoleh ke samping untuk melihat bagaimana reaksi Kenzie. Menurut Fathir seharusnya Kenzie sangat terkejut atau setidaknya panik, tapi melihatnya sekarang, Kenapa Kenzie tidak bermain mengikuti kartu yang seharusnya?


"Kenapa?" Kenzie membuka matanya heran.


Fathir jauh lebih bingung daripada Kenzie.


Namun sekali lagi nihil. Fathir tidak tahu apakah ini karena Kenzie terlalu pintar bersandiwara atau memang karena beginilah reaksi alaminya.


Kenzie mengangguk.


"Dia siapa yang kembali ke Indonesia?" Tanyanya main-main.


Fathir tahu dirinya dipermainkan tapi masih menjawab.


"Amara. Dia kembali. Mungkinkah kamu tidak dihubungi sama Nabil?" Tanyanya ragu.


"Oo.." kemudian dia menggelengkan kepalanya ringan,"dia nggak bilang apa-apa. Emangnya kenapa dia harus bilang sama aku?" Tanyanya dengan senyum yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.


Sejujurnya Nabil mengirim pesan kepadanya beberapa hari ini. Tapi Kenzie tidak pernah berniat untuk membukanya. Dia pikir setelah pulang dari restoran itu, hubungan mereka ternyata tidak sebaik itu, makanya dia mengabaikan Nabil. Yah kalau dipikir-pikir sesungguhnya Nabil juga bukan orang yang penting untuknya jadi Kenzie tidak mau ambil pusing.


Fathir tercengang.


"Aku pikir...yah, kamu tahu perpisahan kalian tidak menyenangkan dulu jadi aku khawatir kamu masih merindukan Amara."


Kenzie terkekeh.


"Kamu terlalu berekspektasi tinggi. Masa lalu tidak seperti yang kamu pikirkan dan tidak sepenting yang kamu khawatirkan." Ucap Kenzie santai.


Orang-orang belum cukup mengenalnya dan Kenzie tidak pernah mempermasalahkannya. Sekalipun orang-orang itu menyimpulkan berbagai macam hal tentang kehidupannya di masa lalu, Kenzie tidak pernah menjelaskan atau bersuara karena dia berpikir bahwa orang-orang ini tidak cukup mengenalnya. Dan di sisi lain dia merasa tidak perlu menjelaskan sesuatu yang menurutnya tidak penting. Itu terlalu membuang-buang waktu.

__ADS_1


Fathir tidak mengerti tapi secara samar menangkap sesuatu.


"Maafkan aku ikut campur dalam masalah ini. Aku hanya khawatir dengan kehidupan rumah tanggamu. Dan kamu pasti tahu kalau istriku sangat menyukai Azira. Tidak hanya istriku saja, tapi yang ku perhatikan semua orang di rumah ini hampir menyukainya. Walaupun kalian bertemu dengan cara yang agak unik tapi aku dan semua orang berharap bahwa hubungan kalian tetap harmonis. Kami tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian." Ujar Fathir tiba-tiba membuat Kenzie terkejut.


Fathir orangnya nggak banyak bicara dan terkesan menghindari urusan orang lain. Jadi wajar saja Kenzie terkejut mendengar apa yang Fathir katakan tadi. Dapat dilihat dari nada suaranya Fathir mengatakan ini karena memang tulus dan berniat baik kepadanya. Dan Kenzie sangat menyadari alasan kenapa Fathir sampai mau mengungkapkan masalah ini. Kalau bukan dari dorongan istrinya, Ayana, Fathir mungkin tidak akan secara terang-terangan membicarakan masalah ini kepadanya.


"Aku mengerti apa yang kalian semua maksud." Kenzie tersenyum.


Mengalihkan pandangannya menatap hamparan langit di atas langit. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Matanya yang gelap bersinar terang menunjukkan ide-ide samar dengan dirinya.


"Tantangan ini, terima kasih aku ucapkan sebelumnya kepada istrimu. Karena apa yang dia katakan kepada istriku, masalah yang seharusnya tidak serius mungkin memiliki cerita berbeda di dalam hati istriku. Aku tidak marah, sungguh."


Kenzie itu sulit dimengerti. Hal ini juga dirasakan oleh Fathir sendiri. Apa yang dimaksud oleh Kenzie, dia pun tidak bisa menebaknya. Tapi satu hal yang dia yakini bahwa Kenzie tidak akan menyakiti Azira.


"Istriku tidak berniat apa-apa, serius. Ngomong-ngomong kepulangan Amara pasti akan tersebar beberapa hari lagi dan aku yakin orang pertama yang dia cari adalah kamu, jadi... hati-hati." Pengingat Fathir murah hati.


Amara adalah tabu, setidaknya inilah yang orang-orang pikirkan. Karena setahu mereka Kenzie berubah menjadi orang yang tidak bisa dikenali semenjak bersama Amara dan bahkan lebih buruk lagi setelah berpisah. Berbagai macam tembakan muncul tentang hubungan mereka berdua, dan yang paling banyak dibicarakan adalah Kenzie masih belum bisa melupakan Amara, cinta pertamanya.


"Terima kasih atas pengingatmu yang murah hati." Ucap Kenzie terkekeh.


Benarkah dia harus berhati-hati?


Kenzie suka bermain, tapi dengan syarat permainan berjalan sesuai dengan aturan mainnya. Dan dalam hidupnya ini, dia selalu mampu mengendalikan setiap permainan, tidak pernah ada yang gagal. Benar, antara harus memenangkan permainan atau menyingkir dari permainan, Kenzie tidak pernah merasa dirinya kalah.


*****


Mereka semua berangkat tepat jam 10.00 pagi menggunakan bus pariwisata sehingga keluarga besar dapat disatukan dalam satu bus dan tidak terpisah-pisah. Perjalanan cukup jauh dan memakan banyak waktu, tetapi tidak seburuk itu. Di dalam bus mereka bernyanyi bersama, memainkan beberapa game populer sehingga perjalanan tidak terasa membosankan.


Awalnya Azira sangat menikmati perjalanannya. Dia aktif berpartisipasi di setiap game meskipun awalnya malu-malu. Bersama Kenzie, dia merasa lebih berani.


Namun semangat dirinya tidak bertahan lama karena beberapa jam kemudian dia merasa pusing dan mual, mabuk perjalanan.


Mau bagaimana lagi, ini pengalaman pertamanya pergi jauh menggunakan mobil. Dia masih belum terbiasa dan mudah mabuk perjalanan.


"Masih pusing?" Kenzie membantu Azira mengoles minyak kayu putih di perutnya.


Sementara Azira bersandar lemas di pundaknya.


"Masih..." Jawab Azira pusing dan mual.


Perutnya sangat tidak nyaman. Dia menyesal makan banyak makanan di dalam bus jika dia tahu akan mabuk perjalanan.


"Kepala ku pusing..." Keluh Azira merengek.


Kenzie sangat tidak nyaman. Dia tidak tega melihat istrinya menderita. Dia sangat ceroboh karena tidak bertanya dulu kepada istrinya apakah nyaman melakukan perjalanan jauh dengan mobil?


Kalau tidak nyaman, Kenzie bersedia menggunakan motor agar Azira tidak sakit.


"Okay, sayang tahan...aku akan memijat kepala kamu sekarang." Bisik Kenzie lemah lembut kepada istrinya.


Pijitan tangannya sangat lembut, menyentuh kepala Azira dengan hati-hati seolah-olah sedang memegang porselen rapuh. Setiap jari jemari tangannya telah dibaluri oleh minyak kayu putih sehingga Azira merasa agak rileks mencium wangi menenangkan dari minyak kayu putih bercampur dengan pijatan suaminya.


"Aku perut aku mual, mas..." Rengek Azira tidak nyaman.

__ADS_1


Kenzie semakin pusing mendengar keluhan istrinya dan dia juga tahu betapa tidak nyaman yang dirasakan oleh istrinya sementara perjalanan masih jauh. Tapi dia sungguh tidak berdaya. Sejujurnya Kenzie mau-mau saja berhenti di tengah jalan untuk beristirahat sampai keadaan Azira agak pulih dan baru melanjutkan perjalanan. Tapi dia juga tidak enak dengan keluarga yang lain sebab mereka semua sangat menantikan perjalanan ini.


"Tahan ya, sayang.. sebentar lagi kita akan sampai di puncak. Mana lagi yang enggak nyaman selain perut, kamu?" Kenzie menurunkan tangan kanannya untuk mengusap perut datar istrinya yang tidak nyaman sementara tangan kirinya masih memijat kepala.


__ADS_2