Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 7.5


__ADS_3

Diingatkan tentang kesalahannya, Umi menundukkan kepalanya sedih. Dia terlalu impulsif. Karena marah dan kecewa kepada Azira, dia menerima begitu saja permintaan Mama Humairah. Pikirannya mengatakan bahwa memang Humairah adalah wanita yang pantas untuk putranya dan bukan Azira. Jadi dia menerima begitu saja kedatangan mereka tanpa memberi kabar kepada Abah dulu.


"Maafkan Umi, Abah. Umi sudah kelewatan batas karena terjebak emosi. Jika Umi tahu yang sebenarnya maka Umi tidak akan membiarkan mereka datang." Umi berbicara dengan nada malu kepada Abah.


Abah menyesap teh hangat di cangkirnya. Meneguk, dia tidak terlalu marah kepada Umi saat memikirkan penderitaan Umi selama beberapa waktu ini gara-gara pernikahan Kenzie. Wanita manapun mungkin akan memiliki reaksi yang sama dengan Umi. Harusnya Abah bersyukur karena Umi masih mau menerima Azira setelah mendengarkan rahasia tadi. Jika itu wanita lain, rasanya agak sulit menerima sekalipun Azira adalah anak dari orang yang telah menyelamatkan hidup suaminya.


"Ini bukan masalah besar, aku sudah melupakannya."


Umi menghela nafas lega.


Gelisah,"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Abah? Aku telah meninggalkan kesan buruk kepada Azira dan dia mungkin membenciku."


Abah tersenyum lebar, merasa geli dengan kegelisahan istrinya. Dia menepuk pundak Umi ringan untuk menghibur kegelisahan di hati.


"Jangan terlalu banyak berpikir, Azira tidak mungkin membenci kamu. Mulai dari sekarang perlakukanlah dia dengan baik sama seperti kamu memperlakukan Sasa. Lalu malam ini buatkanlah dia sesuatu yang lezat sebagai bentuk permintaan maaf. Kasihan, dia hidup terlunta-lunta di kota ini dan banyak mendapatkan penderitaan. Karena ditelantarkan oleh Ayahnya, dia belum pernah merasakan kasih sayang keluarga yang sesungguhnya. Jadi ini sudah menjadi tugas kita untuk menyediakan rumah kepadanya. Memberikan dia kehangatan keluarga yang tidak dia dapatkan dari Ayahnya. Apakah Umi bersedia?"


Umi mengangguk tanpa ragu. Dia bersedia. Bila Azira buruk, maka dia bisa membantunya untuk memperbaiki diri. Dan Umi bersedia menjadi Ibu kedua untuk Azira, dia sungguh bersedia.

__ADS_1


...*****...


Sore hari menjelang malam, mereka bertiga akhirnya kembali ke rumah. Hari ini sangat berkesan untuk Azira, karena dia bisa membeli apapun yang dia inginkan dan Sasa pun mau berbicara dengan baik kepadanya. Hanya dalam waktu yang sangat singkat mereka menjadi akrab- yah, walaupun tidak terlalu tapi ini adalah kabar baik untuk Azira.


Melihat rumah Kenzie di depan, Azira kembali gugup karena dia harus bertemu dengan Umi, orang yang paling tidak menyukainya di rumah ini.


Cklak


Pintu depan dibuka oleh seseorang. Azira terkejut melihat orang yang membuka pintu tiada lain dan tiada bukan adalah Umi. Anehnya Umi tersenyum sangat lebar dan berjalan menuju Azira.


Kenzie tidak tahu apa yang dia inginkan Umi menghampiri Azira. Tanpa sadar dia menghentikan tangannya mengambil barang-barang dari bagasi mobil. Berdiri diam di belakang mobil dia memperhatikan Umi menyapa istrinya.


"Umi tidak bisa mengatakan itu kepada Azira. Aku bukannya malas masuk ke toko-toko, tapi aku malas menunggu kalian para wanita yang sangat sulit dilayani di dalam toko. Selain itu aku juga masih memiliki kegunaan, lihat," Kenzie menunjukkan barang-barang di kedua tangan,"Selama berbelanja barang-barang ini dibawa olehku." Sambungnya dengan senyum tak berdaya.


Umi dan Sasa sontak tertawa mendengar keluhan Kenzie. Memang setiap kali pergi berbelanja dengan Kenzie, dia hanya memiliki satu kegunaan, yaitu tukang pembawa barang gratis. Selain daripada itu mereka berdua angkat tangan.


"Azira, lain kali kamu pergi bawa saja Abah dan Sasa. Mereka berdua jauh lebih berguna daripada Kenzie." Ucap Umi bercanda kepada Azira.

__ADS_1


Azira tersenyum malu, lebih tepatnya dia merasa canggung dengan perubahan tiba-tiba sikap Umi kepadanya.


"Umi, mas Kenzie... sangat membantu kami di mall tadi. Dia tidak mengeluh membawa barang-barang kami dan tidak marah melihat kami menghabiskan uangnya." Azira dengan polosnya membela Kenzie.


Sasa merasa tidak berdaya,"Kak Azira, Umi sedang bercanda. Dia menggoda kakak."


Wajah Azira terasa panas. Dia juga tahu bahwa mereka sedang bercanda tapi dia tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak membela Kenzie.


"Nak, itu memang sudah tugasnya sebagai suami kamu. Kamu berhak membelanjakan uangnya dan kamu juga berhak diperhatikan olehnya."


Umi sekarang memperhatikannya. Azira memiliki kulit yang agak buruk dan kurus seolah kekurangan makanan. Sekilas dia tahu bahwa Azira telah melewati kehidupan yang sulit. Ditelantarkan oleh Ayah sendiri?


Umi geram memikirkannya. Dia tidak menyangka bila orang yang dihormati dan selama ini selalu bersikap sopan memiliki hati yang hitam. Bahkan seekor harimau tidak akan memakan anaknya, lantas mengapa dia yang seorang Ayah tega menelantarkan anaknya ke tepi kehancuran?


"Kalian pasti lelah. Ayo masuk, Umi sudah memasak banyak makanan untuk kalian bertiga. Semua makanan yang ada di atas meja harus kalian habiskan, kalau tidak, Umi tidak akan berbicara lagi dengan kalian." Umi terus berbicara sembari menarik Azira dan Sasa masuk ke dalam rumah.


Sementara Kenzie di belakang kewalahan membawa banyak barang.

__ADS_1


"Apa yang terjadi selama aku pergi?" Gumam Kenzie bingung.


Pasalnya perubahan sikap Umi terlalu besar, dia merasa telah terjadi sesuatu kepada Umi.


__ADS_2