Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 16.2


__ADS_3

Mendengar alasan adik iparnya, Azira diam-diam memperhatikan ekspresi di wajah suaminya. Masih saja datar tanpa perubahan emosi sedikitpun. Seolah-olah itu hanya angin lalu saja untuk Kenzie. Entah ini kabar baik ataupun kabar buruk, Azira tidak tahu. Hanya saja dia merasa kecewa karena Kenzie tidak memberikan reaksi penolakan. Normalnya kan seperti itu. Ah, kenapa dia jadi berlebihan seperti ini?


"Kamu sangat pandai membuat alasan. Ngomong-ngomong judulnya bukan Little Mermaid, tapi The Little Mermaid. Filmnya biasa aja. Ayo Azira. Pulang untuk mengurus suamimu jauh lebih berkah daripada menonton film yang aneh." Kenzie mengulurkan tangannya kepada Azira.


Azira merasa lucu sekaligus tersanjung. Dengan malu-malu dia bergegas mengambil tangan suaminya dan melangkah pergi tanpa ragu sedikitpun. Mulut Sasa dan Mona berkedut tertahan. Untuk sesaat mereka tidak tahu harus berkata apa kepada Azira.


"Sasa, Mona, aku tidak akan pergi menonton. Kalian bisa menonton tanpaku malam ini." Kata Azira sembari memposisikan dirinya di samping Kenzie.


Um, wangi khas suaminya segera memasuki indera penciumannya. Sangat nyaman dan menyegarkan, tidak menyengat seperti wangi parfum yang pernah dia cium.


Kenzie tersenyum miring,"Nah, istriku masih tahu yang terbaik. Kalian harus lebih banyak belajar dari istriku. Azira, ayo pergi." Ajak Kenzie kepada istrinya.


Azira tersenyum geli.


"Yah, selamat malam semuanya." Kemudian dia melangkah pergi bersama suaminya.


Tangan yang terpaut tidak terlepas, jangankan terlepas, melonggar sedikit saja tidak. Azira melirik tangan mereka berdua tapi tidak berniat melepaskannya. Dia menundukkan kepalanya menyembunyikan senyum cerah di wajah merahnya yang memanas. Jatuh cinta setelah pernikahan sungguh sangat manis dan tak tertahankan.


"Akhir-akhir ini kak Kenzie nyebelin, yah?" Mona berbisik sambil melihat kepergian pasangan suami istri itu.


Sasa mengeluh,"Dia memang selalu seperti ini, tapi semakin menjadi-jadi setelah menikah. Biarin aja, ini enggak bagus untuk kita tapi sangat bagus untuk kak Azira. Aku berharap masa lalu akan menjadi masa lalu, jangan menjadi hambatan masa depan."


Mona meliriknya dengan pandangan bermakna. Masa lalu, tak perlu disebutkan lagi. Mereka ataupun semua orang di rumah ini. Mungkin dulu mereka berharap bahwa orang itu kembali sebab dia adalah obat untuk Kenzie, namun sekarang ceritanya berbeda, hanya dengan satu Azira, Kenzie seolah dihidupkan kembali.


"Inilah yang aku khawatirkan Sasa, bagaimana jika suatu hari wanita itu kembali? Apa yang harus kita lakukan kepada kak Azira?" Tanya Mona cemas.


Jangankan Mona, dia sendiri pun merasa sangat cemas dan sempat memikirkan masalah ini. Bagaimana jika wanita itu kembali?


"Tidak, lebih tepatnya adalah apa yang harus kita lakukan kepada wanita itu?" Ralat Sasa sambil mendesah tak berdaya.


Benar, jika wanita itu benar-benar kembali ke sini dan ikut mencampuri kehidupan Kenzie, maka apa yang harus mereka lakukan kepada wanita itu?


Dan... Bagaimana jika, Kenzie berbalik menyukainya?

__ADS_1


...****...


Azira sama sekali tidak tahu kekhawatiran adik-adik iparnya. Setelah masuk ke dalam kamar dia membersihkan diri di kamar mandi dan memakai baju tidur yang sedikit terbuka- um, baju tidur ini dia beli dan Sasa ketika mereka pergi ke mall dulu. Azira sempat menolak membeli baju ini karena yang benar saja, baju tidur ini seperti kekurangan kain. Dan selain itu juga dia tidak pernah berpikir bahwa hubungannya dengan Kenzie akan sampai ke titik ini. Jadi, dia enggan membelinya.


Tapi,


Azira melihat ke sekeliling kamarnya, tapi tidak menemukan suaminya. Lalu dimana, dia?


Padahal beberapa saat yang lalu Kenzie memintanya untuk segera kembali ke kamar. Azira kira mereka akan melanjutkan langkah semalam, soalnya kalau tidak, Kenzie tidak akan mendesaknya masuk ke dalam kamar.


Cklak


Tepat ketika dia memikirkan di mana suaminya, Kenzie masuk ke dalam kamar dengan wajah basah dan menyegarkan. Dia baru saja mandi di kamar mandi perpustakaan.


"Mas?" Azira memanggil suaminya gugup.


Hanya Allah yang tahu betapa gugup dan gelisah dirinya sekarang. Kedua tangannya terpaut saling meremas memikirkan kenangan semalam. Sementara wajahnya mulai memerah menahan malu.


Saat Kenzie melihat penampilan istrinya saat ini, tangan yang baru saja mendorong pintu membeku. Mata gelapnya menatap dalam betapa malu Azira di hadapannya. Di mata pemangsa, dia tidak ada bedanya dengan buah persik yang matang, tampak ranum dan wangi, menggoda untuk segera disentuh.


"Oh," Kenzie tersadar dari lamunannya,"ah, ya?" Dia menutup pintu dan berjalan perlahan mendekati ranjang mereka.


Sorot matanya yang gelap dan dalam tak pernah berpaling dari Azira yang kini tengah duduk di pinggir kasur.


"Mas Kenzie mandi di perpustakaan?" Azira berusaha menahan rasa gugup dihatinya.


Mata aprikot nya dengan berani dan tenang menatap wajah suaminya. Tapi dia sama sekali tidak tahu kalau penampilannya ini semakin membuat seseorang tergoda. Oh, lihatlah mata basah istrinya yang keras kepala, Kenzie kesulitan untuk berkedip sebentar saja.


Duduk menyamping di samping Azira, Kenzie tanpa sadar mengangkat tangan kanannya untuk menyingkirkan rambut hitam yang menghalangi wajah menawan istrinya.


"Hum," ujar Kenzie menjawab.


Azira malu. Dia sontak menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mau melanjutkan yang semalam?" Kenzie tiba-tiba melontarkan pertanyaan ini kepada Azira.


Jantung Azira berdebar cepat. Sulit mengatakan apa yang sedang hatinya rasakan sekarang.


"Ah..." Azira sejenak tidak tahu harus mengatakan apa.


Mungkinkah tidak?


"Sejujurnya aku.." Kenzie menatap wajah merah istrinya yang malu-malu, lalu menelan kembali apa yang akan dia katakan tadi.


"Kenapa, mas?"


Kenzie menggelengkan kepalanya. Hidangan sudah tersaji di depan. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan ini. Selain itu hidangan ini adalah makanan kesukaannya, hanya ada satu dan mungkin d


ia adalah manusia terbodoh di dunia ini jika sampai melewatkan kesempatan ini.


"Besok," Kenzie menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan Azira.


Azira meremas kuat tangannya gugup. Kepalanya langsung pusing saat mencium wangi khas suaminya yang telah membuat dirinya merasakan candu. Ya Allah, rasanya dia akan pingsan.


"Ayo ikut aku ke rumah sakit untuk mengurus sesuatu. Bukankah kamu ingin pergi liburan? Besok ayo pergi ke puncak bersama keluarga besar kita. Anggap saja liburan ini kita pergi berbulan madu, yah walaupun ditemani oleh anggota keluarga yang lain, tapi menurutku rasanya lebih seru daripada pergi berduaan saja. Bagaimana?" Suara Kenzie tepat di samping telinga kanannya.


Telinga Azira langsung terasa panas saat merasakan nafas hangat Kenzie menerpa cuping telinga kanannya.


"Ba-bagus juga, mas. Um...aku pikir ini keputusan yang bagus. Semua orang merasa tegang beberapa waktu ini gara-gara pernikahan kita dan mengajak mereka pergi liburan adalah salah satu alternatif untuk merilekskan ketegangan mereka. Selain itu...aku juga ingin lebih dekat lagi dengan yang lain. Jadi aku tidak keberatan pergi berbulan madu bersama keluarga." Jawab Azira awalnya tergagap.


Siapa yang tidak gagap ketika berbicara saat suaminya berada sedekat ini dengannya.


Kenzie tertawa puas mendengar jawaban bijak istrinya.


Entah disengaja atau tidak, kepalanya bergerak pelan mendekati leher jenjang istrinya yang putih dan mulus. Tubuh Azira langsung membeku ketika merasakan puncak hidung Kenzie menyapu kulit lehernya.


"Harum." Ucap Kenzie seolah mabuk.

__ADS_1


Menyentuh punggung terbuka istrinya di belakang, Kenzie meraba kulit punggung istrinya dengan gerakan yang disengaja.


"Lalu sekarang?"


__ADS_2