
"Pagi, dok."
"Pagi, dokter Kenzie."
"Pagi." Sapa Kenzie datar dengan senyum ringan di wajah.
Dia segera masuk ke dalam kantornya tanpa perlu membuang waktu bertegur sapa dengan para staf medis di rumah sakit.
Melihat punggung Kenzie menghilang ke dalam ruangan. Mereka yang tadinya menyapa dengan senyuman manis segera berkumpul membahas topik yang baru-baru ini menjadi bahan pembicaraan mereka di rumah sakit. Tentu saja topiknya tiada lain tentang pernikahan Kenzie dan Humairah yang hancur. Pembicarakan topik ini tiada habis-habisnya untuk mereka. Sempat meredup kemarin tapi hari ini dipastikan akan ramai lagi. Malah semakin ramai kalau Humairah sampai masuk kerja. Sayang sekali harapan ini tidak dapat menghidupkan mulut penuh gosip mereka karena Humairah sudah berhenti magang.
__ADS_1
"Pak Kenzie kok mau yah nikah sama cewek enggak dikenal? Selain enggak dikenal, cewek itu juga menjadi biang kerok kehancuran pernikahannya dengan Humairah. Aku enggak bisa bayangin gimana hancurnya hati Humairah melihat calon suaminya direbut oleh cewek liar!" Salah satu staf medis wanita berbicara dengan nada buruk.
Jelas saja dia pro terhadap Humairah. Sebagai sesama wanita, dia tidak tega melihat penderitaan yang dihadapi oleh Humairah. Apalagi setelah mengenal Humairah, dia tahu betul jika hati Humairah sangat lembut dan rapuh. Jadi inilah alasan kenapa wanita itu sangat tidak setuju dengan pilihan Kenzie yang lebih memilih menerima wanita liar itu dibandingkan memberikan keadilan kepada Humairah.
"Awasi mulut kamu. Hati-hati, cewek itu bukan gadis liar, melainkan anak pertama yang telah disia-siakan oleh orang tua Humairah. Karena kejahatan masa lalu, cewek itu membalas dendam dengan menghancurkan pernikahan Humairah dan dokter Kenzie. Memang aku tidak mendukung tindakan cewek itu tapi aku sebenarnya mengerti bagaimana perasaannya setelah ditelantarkan. Wajar saja jika dia nekat merebut pernikahan Humairah. Hanya saja aku tidak habis pikir dengan keputusan dokter Kenzie menerima cewek itu sebagai istrinya, karena dilihat dari segi manapun Humairah jauh lebih baik dan secara hukum pernikahan ini sebenarnya bisa dibatalkan." Wanita lain ikut berbicara dan mengutarakan kebingungannya kepada rekan kerja yang lain.
"Hah, jangan katakan itu. Liar tetap saja liar. Dia adalah anak yang tidak tahu malu. Sudah syukur dibawa pulang dan diberikan tempat tinggal yang bagus, bukannya berterima kasih, eh malah ngelunjak dan membalas kebaikan semua orang dengan kejahatan. Anak seperti ini memang sepantasnya ditelantarkan-"
"Siapa yang pantas di telantarkan?"
__ADS_1
Wanita yang berbicara tadi langsung tersedak air liurnya sendiri. Dia dan rekan kerja yang lain menoleh dengan kaku ke arah sumber suara.
"Dok... dokter Ayana. Selamat pagi, dok."
Ternyata yang datang adalah dokter Ayana, sahabat sekaligus sepupu Kenzie. Dokter Ayana adalah dokter anak di rumah sakit ini. Ditugaskan untuk merawat anak-anak di gedung C yang berjarak dua gedung dari gedung tempat Kenzie bekerja. Dia dan Kenzie memiliki hubungan yang sangat baik. Semua orang di rumah sakit mengetahui hal ini dengan baik. Jadi ketika para staf medis melihat Ayana, wajah mereka langsung memucat dan merasakan hawa dingin mulai menjalari punggung masing-masing.
"Kenapa tidak menjawab? Tadi aku bertanya, siapa yang pantas ditelantarkan?" Tanya Ayana dengan senyuman manis di wajah cantiknya.
Meskipun senyumannya lebar dan manis, namun mereka semua tahu bahwa Ayana sebenarnya tidak benar-benar tersenyum.
__ADS_1