
Bibi Safa telah memperhatikan suaminya beberapa waktu ini. Gelagat suaminya seperti tak biasanya. Karena suaminya sering sekali melihat layar ponsel sambil tertawa tidak jelas. Jika dilihat-lihat, apa bedanya perilaku tidak jelas suaminya ini dengan orang yang tengah kasmaran?
Namun bibi Safa sangat mengenal baik orang seperti apa suaminya itu. Dia tahu betapa dalam cinta suaminya kepadanya, bisa dibilang cinta mati karena suaminya selalu mengejar-ngejarnya dulu kemanapun dia pergi. Meskipun itu terjadi ketika mereka di masa muda, namun bibi Safa sangat percaya diri kalau suaminya tidak mungkin berubah. Selamanya di hati hanya dirinya seorang.
Jika benar begitu lalu bagaimana caranya menjelaskan perilaku aneh suaminya hari ini?
"Suamiku enggak mungkin selingkuh." Gumam bibi Safa meremehkan masalah ini.
Bukannya dia tidak perduli tapi seperti yang telah dijelaskan tadi kalau dia benar-benar percaya diri dan yakin kalau suaminya tidak akan berpaling melihat wanita lain. Maka dari itu karena terlalu penasaran, dia akhirnya datang menghampiri suaminya.
Seolah merasakan seseorang mulai mendekatinya, paman perlahan menurunkan ponselnya dan menggeser layar untuk membuka laman tertentu. Kebetulan yang dia buka adalah email dari salah satu kliennya. Sebenarnya email ini sudah satu minggu yang jika diperhatikan tanggal terkirimnya.
__ADS_1
"Kamu dari tadi ngetawain apa, mas?" Bibi Safa melingkari leher suaminya ingin bermanja-manja.
Biasanya Paman akan melayani sikap manja-manja istrinya. Tapi hari ini dia menolak dan melepaskan tangan istrinya yang ada di leher.
Ekspresi bibi Safa langsung cemberut. Dia melihat suaminya dengan ekspresi tak puas. Karena pendidikan yang didapatkan sejak kecil, bibi Safa sangat tidak suka ditolak. Dia adalah wanita yang dominan. Daripada mengalah, dia lebih suka orang-orang menuruti keinginannya. Begitu pula untuk suaminya.
"Jangan pegang-pegang dulu, aku lagi sibuk meeting sama salah satu klien. Kamu nggak lihat, apa?" Kata paman sekali lagi mencoba melepaskan tangan bibi Safa dari lehernya.
Dan ketika dia melihat pesan email di layar ponsel suaminya, kekhawatiran bibi Safa langsung menguap. Dia menjadi lega.
"Mas lagi meeting sama klien, tapi kok ketawa enggak jelas kayak gitu?" Bibi Safa berpura-pura tidak mempercayainya.
__ADS_1
"Tentu saja. Itu karena aku mendapatkan kabar baik dari klien ku. Ini adalah proyek besar, proyek ini akhirnya menemui titik terang dan kita sudah menandatangani kontak kesepakatan, makanya aku sangat senang sampai tertawa. Memangnya kamu nggak senang apa melihat suami kamu mendapatkan proyek besar? Kalau aku punya proyek besar otomatis kemasukan kita menjadi tambah besar dan kamu bisa berbelanja sesuka hati kamu. Karena ada tambahan bonus juga dari perusahaan kakak, aku tidak keberatan kamu membeli beberapa tas lagi. Tapi ingat sayang, jangan sampai berlebihan. Beli secukupnya, utamakan yang kamu butuhkan, okay?" Paman berbicara dalam suasana hati yang baik.
Apa yang dikatakan Paman tidak sepenuhnya bohong. Memang dia telah menandatangani sebuah proyek besar. Tapi itu beberapa waktu yang lalu.
Bibi Safa dalam suasana hati yang sangat baik. Dia ikut tertawa mendengar tawa renyah dari suaminya. Apalagi ketika mendengar kabar baik mengenai bonus dari perusahaan, pikirannya langsung tertuju memikirkan beberapa tas branded di mall.
"Okay, jangan ganggu aku lagi meeting. Soalnya nanti sore aku sudah harus bertemu dengan klien untuk membicarakan masalah proyek lanjutan."
Bibi Safa tidak keberatan.
"Okay, mas. Aku mengerti."
__ADS_1