
"Siapa yang SMS? Dari tadi kamu terus ngeliat ponsel dan senyum-senyum nggak jelas." Suara keruh Kenzie menarik Azira dari layar ponselnya.
Azira menoleh menatap suaminya tanpa kehilangan senyum di wajah cantiknya yang merona.
"Ini dari Sasa, mas. Dia bilang mau ngajakin aku ke butik nanti malam sama Mona. Ada baju baru yang datang hari ini. Kalau enggak kuliah dia mungkin udah ngajak aku pergi." Jawab Azira sembari membalas SMS dari adik iparnya.
Kebetulan dia punya banyak uang dari uang mingguan yang diberikan oleh Kenzie. Berhubung tidak tahu harus menggunakan uang ini untuk apa, dia berencana memanfaatkannya untuk membeli baju gamis saja. Apalagi dia sangat menyukai gamis-gamis yang diberikan oleh Sasa kepadanya beberapa waktu yang lalu. Kainnya lembut dan nyaman, modelnya juga tidak ketinggalan zaman.
Kening Kenzie tanpa sadar berkerut.
"Kamu mau pergi?"
Azira menganggukkan kepalanya secara alami.
"Iya, aku mau pergi. Besok kan kita pergi liburan bersama jadi aku juga harus menyiapkan pakaian baru biar enggak kalah sama mereka berdua." Jawabnya bercanda.
Kenzie menghela nafas panjang. Dia duduk di sebelah Azira, kemudian memeluk pinggang rampingnya itu. Nafas hangat dan sentuhan lembut segera mengelilingi Azira. Dada Azira langsung berdebar kencang. Pikirannya segera melayang pada malam indah yang mereka berdua lalui.
__ADS_1
"Kenapa, mas?" Tanya Azira tidak bisa menahan senyum di bibirnya.
Kenzie sedang ingin bermanja-manja kepadanya.
"Kemarin aku baru saja mengingatkan kamu agar jangan keluar rumah sembarangan." Pengingat Kenzie muram.
Mana mungkin Azira bisa melupakan kemarahan suaminya ini?
Kejadian ini malah sangat berkenang bagi Azira. Ingatannya masih sangat segar dan sangat sulit diabaikan. Karena ini pertama kalinya Azira melihat Kenzie sangat marah. Di malam pernikahan Kenzie tidak marah apalagi semarah ini, jadi Azira telah menjadikan masalah ini sebagai pelajaran yang sangat penting.
"Sembarangan gimana, mas? Aku kan lagi ngomong ini sama mas Kenzie, aku memberitahu mas Kenzie rencana kami keluar nanti malam ke butik." Azira melembutkan suaranya ketika menjelaskan kepada suaminya.
"Benar, tapi kamu tidak membawaku pergi." Katanya muram.
Azira merasa lucu. Dia langsung berkata,"kalau mas Kenzie tidak pergi, aku tidak mungkin pergi. Jadi nanti malam kita akan pergi bersama. Namun jika mas Kenzie tidak mau, ya, tidak apa-apa. Lain kali kalau ada waktu kita bisa pergi."
Azira tidak mau ambil pusing. Kenzie pergi maka dia akan pergi, tapi kalau tidak mau ya sudah, dia tidak akan memaksa.
__ADS_1
Azira merasakan pipinya panas saat mata Kenzie terus menerus menatap ke arahnya. Mau tidak mau dia merasa gugup ditatap seintens ini oleh suaminya.
"Kenapa... kenapa, mas?"
Kenzie tersenyum,"Kamu adalah istri yang cerdas." Pujinya tulus tanpa menyembunyikan senyum puas di wajahnya.
Pipi Azira semakin panas dipuji oleh suaminya.
"Terima kasih, mas. Aku sedang berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu." Akui Azira malu-malu.
Dia sungguh sangat bersungguh-sungguh, berharap pernikahan ini bertahan hingga selamanya. Dia tidak menginginkan apa-apa lagi di dalam hidup ini. Selama Kenzie ada dan keluarga ini selalu bersamanya, maka itu sudah lebih dari cukup untuknya.
"Tidak hanya kamu, Azira, tapi aku pun juga sedang berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk kamu. Okay, ayo pergi. Aku sudah janjian mengirim dokumen ini saat jam makan siang kepada asisten ku. Kalau terlambat, dia pasti akan marah." Kenzie mendesak Azira untuk segera pergi ke rumah sakit.
Marah?
Azira menatap suaminya ragu. Bukankah justru sebaliknya?
__ADS_1
Orang lain rasanya sulit marah kepada suaminya. Lihat saja tampang suaminya yang beku, Azira ragu...