Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 24.10


__ADS_3

Malam harinya semua orang kumpul di halaman belakang untuk duduk bersama setelah selesai makan malam. Ada juga beberapa tamu dari rumah sebelah, yaitu orang tua Mona yang datang bersama seorang gadis cantik. Namanya Yana, dia adalah adik Mona dan Ayana. Akan tetapi Azira merasa bingung karena Mona tidak pernah menyebutkan saudara ini sebelumnya. Padahal Mona orang yang sangat lengket kepada Azira. Kemanapun Azira pergi dia pasti berusaha untuk mengikuti. Karena Mona adalah tipe orang yang sangat ceria, Azira jadi mudah bergaul dengannya. Setiap kali mereka bersama, mana pasti akan banyak bicara. Untuk membicarakan masalah kuliahnya yang bertele-tele, mengeluh tentang kakaknya yang jutek, ataupun sering mengadu tentang orang tuanya yang lebih condong menyayangi kakaknya daripada dirinya. Tapi tak pernah satupun, tak pernah satu kali pun Mona menyebut tentang adiknya yang bernama Yana.


Ini sangat mengherankan.


"Kak Azira cantik banget. Aku nggak tahu apakah ini cuma pendapatku atau enggak, tapi setiap kali aku bertemu dengan wanita yang bernama Azira, mereka pasti memiliki paras yang cantik dan penampilan yang menarik." Kagum Yana sulit memalingkan matanya dari paras cantik Azira.


Apa yang dia katakan sontak mengundang gelak tawa orang-orang disekelilingnya. Mereka tertawa dan ada pula yang berani mencubit wajah Yana saking gemasnya.


Azira tersenyum lembut.


"Aku rasa mungkin ini karena makna dalam nama 'Azira' sendiri, anggap saja begitu."


Mama bercanda,"Oh bisa jadi. Kalau aku tahu nama ini dulu, aku pasti akan mengganti nama Yana menjadi Azira. Tapi sayang sekali aku terlambat mengetahuinya." Mama berpura-pura menyayangkannya.


Umi menyahut dari samping.


"Nama Yana juga bagus. Lihatlah dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pemalu, tidak seperti putriku yang pemberontak dan tidak memiliki kelembutan." Cela Umi tidak memberikan wajah sedikitpun kepada putrinya.


Lihatlah Yana, dari tadi dia duduk dengan anggun selayaknya seorang wanita yang duduk secara sopan. Lalu lihatlah Sasa yang hanya duduk sembarangan di lantai dengan sepiring makanan di atas paha. Sungguh, perbedaan ini mempunyai sakit gigi.


"Umi, jangan terlalu jauh-jauh. Lihat saja putriku Mona, dia lebih bobok daripada Sasa. Aku semakin bingung bagaimana cara menghadapinya di rumah. Semakin dewasa dia maka semakin kekanak-kanakan emosinya. Hari ini saja dia bolos semua mata kuliah dan asik tidur di kamar gara-gara kepulangan Yana. Ya Allah, aku hampir angkat tangan menghadapinya. Padahal berulang kali aku menasehatinya agar jangan bersikap kekanak-kanakan lagi karena dia sudah besar, sudah kuliah dan bukan anak-anak. Namun dia tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku katakan. Selalu saja bersikap seperti ini. Aih... Lagi-lagi aku menyebut tentang Yana. Anak ini 2 tahun lebih muda daripada kakaknya dan telah sekolah jauh bertahun-tahun lamanya di luar kota, dia lebih muda daripada Mona tapi sikapnya lebih dewasa, aku nggak tahu harus bilang apa lagi." Mama terlihat lelah menghadapi Mona.


Itu terlihat dari raut ekspresinya.


Mendengar keluhannya Azira semakin heran. Dari cara Mama berbicara dia menebak kalau hubungan Yana dan Mona sepertinya tidak baik-baik saja. Mungkinkah ini alasan kenapa Mona tidak pernah membicarakan tentang adiknya?


Azira tidak tahu. Mungkin ketika mereka bertemu nanti dia akan menanyakan masalah ini langsung kepada Mona. Hanya saja, mengapa Mona tidak pernah datang ke rumah beberapa hari ini?


Azira mulai mencemaskannya.


"Mona bolos kuliah?" Umi kaget mendengarnya.


Tidak hanya Umi, tapi para bibi yang lain juga sama kagetnya.


"Iya, dia bolos tiga mata kuliah sekaligus. Hah... Saat kami bertanya baik-baik kenapa dia bolos kuliah hari ini, dia malah balik memarahi kami. Ya Allah, emosinya mulai memburuk lagi." Kata Mama tidak berdaya.


"Pasti ada alasan kenapa dia memilih untuk bolos kuliah. Sasa, apakah sepupu kamu pernah mengatakan sesuatu hari ini ke kamu?" Mengalihkan perhatiannya kepada putrinya yang asik mencomot makanan dari tadi.


"Ada, saat aku chat tadi pagi kenapa dia tidak masuk pelajaran Pak Al, dia bilang sedang tidak mood dan nongkrong sama Tio di taman." Sasa terlampau jujur.


"Mungkin itu karena dia masih belum menerima Yana." Seorang bibi celetuk.


Belum bisa sepenuhnya menerima Yana?

__ADS_1


Azira bingung dan masih diam menyimak pembicaraan mereka.


"Yah alasan apalagi selain ini. Sudah bertahun-tahun tapi anak ini masih belum berubah. Bibi, kamu harus lebih bersabar dan memberikan lebih banyak pengertian agar dia bisa berpikir lebih dewasa lagi. Dan Yana, kamu jangan pernah menyerah sama kakak kamu. Suatu saat nanti hatinya akan berubah dan dia pasti mau menerima kamu. Bersabar saja lebih banyak."


Yana menganggukkan kepalanya rendah. Beberapa hari setelah pulang dari pondok pesantren memang rumah tidak terlalu damai karena Mona sering membuat masalah. Dia juga mengerti bahwa emosi Mona datang pasti karena kepulangannya. Dulu, dia akan selalu bersabar menghadapi kakaknya yang seperti ini. Tapi setelah bertahun-tahun hidup bersamanya dan terpaksa mengalah ke pondok pesantren, Yana menumbuhkan pemahaman baru terhadap kakaknya itu.


Yana juga kesal diperlakukan seperti ini. Bila bukan karena kasih sayang mama dan ayah, dia tidak akan pernah memberikan wajah sedikitpun kepada Mona.


"Tentu saja, bibi. Aku tahu bila kakak ku membutuhkan banyak waktu untuk mau menerima aku. Tapi tidak masalah, Yana akan selalu mencoba melembutkan hati kakak." Kata Yana rendah hati penuh akan kelembutan.


Azira tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya,"Bibi, lalu di mana Mona sekarang? Beberapa hari ini dia tidak pernah berkunjung ke rumah jadi aku penasaran apa yang dia lakukan di rumah baru-baru ini."


"Mona masih di dalam kamarnya. Setelah berdebat dengan kami tadi dia menolak keluar dari kamar. Tidak apa-apa, besok juga mood-nya pasti baikan. Mona enggak bisa datang ke sini karena sibuk membantu di rumah. Kamu tahu sendiri kan kalau Yana baru pulang dari pondok pesantren jadi kami melakukan beberapa pekerjaan untuk menyambut kepulangannya. Tidak usah dicemaskan, besok bibi akan memintanya datang ke sini." Jawab Mama santai.


Yana berbicara malu,"Apakah aku juga boleh ke sini?"


Azira mengangguk ringan.


"Boleh, datang saja ke sini. Aku malah senang melihat kalian datang ke rumah untuk bermain. Nanti kita bisa membuat acara, misalnya makan rujak bersama?"


Yana sangat senang mendengarnya.


"Terima kasih, kak. Akhirnya aku punya kegiatan juga. Tinggal di rumah tidak terlalu menyenangkan, aku bosan bila tidak melakukan sesuatu."


Azira mengangguk mengerti.


Dua jam kemudian semua orang akhirnya kembali ke masing-masing rumah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, dari tadi aku memperhatikan kalau kening kamu selalu berkerut." Sesampai mereka berdua di dalam kamar, Kenzie memijat kepala Azira untuk membuatnya jadi rileks.


Azira merasa santai diberikan pijatan oleh suaminya. Dia tanpa sadar menjatuhkan dirinya untuk bersandar di pundak kuat suaminya.


Hem... Hidungnya bergerak sensitif mencium bau keringat suaminya yang membuat candu. Merasa nyaman, Azira menggerakkan kepalanya lebih dekat lagi dengan leher suaminya agar bisa mencium bau keringat suaminya lebih banyak.


Janji sama sekali tidak menyadari kelakuan istrinya. Dia mengira kalau istrinya mencari posisi yang nyaman untuk tidur jadi dia membiarkannya bergerak.


"Mas..." Bisik Azira memanggil.


"Hum?"


Azira masih memikirkan tentang Mona.


"Tadi Umi dan yang lainnya berbicara tentang Mona, aku penasaran. Selama Mona bermain denganku dia tidak pernah menceritakan tentang adiknya yang bernama Yana, aku malah tahu kalau dia berdua hanya dua bersaudara. Yaitu Ayana dan Mona, aku tidak tahu tentang Yana. Jika Bibi tidak membawa Yana ke sini, aku mungkin tidak akan tahu kalau Mona masih memiliki seorang adik. Tapi aku bingung mas, entah kenapa orang-orang itu berbicara seolah menyiratkan bila Mona tidak terlalu menyukai Yana, kenapa dia tidak menyukai adiknya sendiri?" Tanya Azira bingung.

__ADS_1


Hubungan persaudaraan tidak sedangkal ini bukan?


Memang banyak antar saudara yang bertengkar, tapi pertengkaran mereka hanya sebentar saja dan ujung-ujungnya pasti akan baikan lagi. Tapi tidak logis bila sesama saudara saling membenci, seperti Mona dan Yana. Menurut Azira ini mustahil.


"Oh, tentang masalah ini. Aku pikir sampai kapanpun Mona tidak akan mengambil inisiatif untuk menceritakan tentang Yana kepadamu. Karena bagi Mona, Yana adalah sumber rasa sakitnya. Mereka bukan saudara kandung. Lebih tepatnya orang tuanya mengangkat Yana sebagai anak angkat mereka. Aku rasa permasalahan ini banyak dirasakan oleh orang-orang yang mengangkat seorang anak masuk ke dalam keluarga. Aku mengerti apa yang dirasakan oleh Mona. Sebagai anak terakhir, tentu saja dia berharap bahwa orang tuanya lebih peduli kepadanya. Tapi karena kehadiran Yana dalam keluarga, posisi Mona sebagai anak terakhir sudah pasti tergantikan. Dan kamu pasti memperhatikannya tadi kalau Bibi mungkin lebih condong ke arah Yana dari pada Mona? Itu karena Yana adalah putri dari adik bibi sehingga dia sangat mencintai anak itu. Yah memang tidak ada yang salah dengan kasih sayang bibi kepada Yana. Tapi sesungguhnya aku kurang setuju dengan cara mereka mengambil sikap terhadap dua anak berbeda. Aku tidak setuju karena bibi terkesan lebih mengutamakan Yana daripada Mona. Anak manapun pasti akan memiliki tekanan batin bila sikap orang tuanya seperti itu. Jadi jangan heran bila kamu mendengar tentang Mona yang suka membuat keributan. Sebenarnya dia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian orang tuanya, tapi sayang sekali paman dan bibi tidak terlalu peka." Bisik Kenzie lembut menjelaskan latar belakang hubungan antara Mona dan Yana yang sebenarnya.


Sungguh, Azira tadi sempat memikirkan ini tapi setelah mendengarnya langsung dari mulut suaminya dia sangat terkejut. Setelah dipikir-pikir pantas saja Mona tidak mau menyebutkan tentang adik angkat ini kepadanya.


Apalagi setelah melihat bagaimana Mama memperlakukan Yana tadi, Azira mengerti mengapa hubungan Mona tidak kunjung baik dengan Yana. Mungkin bisa dikatakan kalau Azira menganggap orang tua Mona tidak adil. Sungguh sangat tidak adil.


"Mas, bolehkah aku mengatakan kalau paman dan bibi terlalu bias kepada Mona? Aku tahu kalau mereka melimpahkan kasih sayang ke Yana tulus karena ingin menutupi rasa kehilangan Yana terhadap orang tuanya yang sudah meninggal. Tapi bukan begini caranya. Bukan dengan menomor satukan yang lain lalu mengesampingkan yang lain. Mana pasti sakit hati karena orang tuanya terkesan lebih condong kepada adik angkatnya. Jika aku yang ada di posisi Mona, aku juga akan merasakan sakit dan mungkin tidak sungkan untuk membuat masalah bagi orang-orang rumah. Ah...tidak, aku mungkin tidak akan sekedar membuat masalah tapi akan memporak-porandakan rumah sehingga mereka sadar kalau aku juga membutuhkan perhatian mereka." Kata Azira mulai membayangkan dirinya berada di posisi Mona.


Dari obrolan singkatnya dengan Yana, dia tidak menemukan sebuah celah atau kesalahan. Malah sempat merasakan kalau Yana adalah anak yang sopan dan rendah hati. Tapi setelah memikirkannya sekarang, Azira menyadari kalau Yana mungkin memiliki karakter suka mencari muka untuk menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Maafkan saja dia mengatakan ini, sebagai teman Mona, tentu saja dia lebih mendukung Mona daripada Yana. Namun lebih dari itu semua alangkah baiknya hubungan persaudaraan mereka bisa diperbaiki sehingga tidak ada kebencian di hati masing-masing.


"Hahahah.... Itulah pilihan paman dan bibi. Karena mereka lebih memilih memperhatikan Yana, maka mereka harus menerima resiko jika Mona akan memiliki sedikit pendapat di hatinya tentang mereka. Sejujurnya Mona sangat kesepian di rumah. Hubungannya dengan Ayana agak kaku karena kamu tahu sendiri Ayana orangnya bagaimana. Lalu hubungannya dengan Yana sudah berada di level beku, makin sulit untuk berdamai. Kamu bisa memikirkan sendiri kalau dia sangat kesepian. Makanya saat dia sering datang ke sini dan mengajak kamu bermain, walaupun sedikit enggan aku tetap memberikan kamu izin bermain dengannya. Sebab aku tahu di dalam dirimu dia melihat seorang kakak sekaligus teman yang tidak bisa dia miliki di rumah."


"Sedikit enggan?" Azira tertawa cekikikan.


Kenzie geli,"Yah, aku enggak membiarkan kamu bermain dengan orang lain. Namun karena pekerjaanku, sebisa mungkin aku menoleransi kedua curut itu." Aku Kenzie spontan membuat Azira tertawa.


Karena nafas hangat Azira menerpa kulit lehernya membuat Kenzie langsung menegang dan jantung mulai berdebar kencang. Menggertakkan giginya menahan diri, dia menahan kepala Azira agar tidak bergerak lagi.


"Jangan main-main." Peringat Kenzie serius.


Azira belum menyadari hal ini dan mengabaikan peringatan dari suaminya.


"Sayang, kalau kamu tidak mau mendengarkan ku maka malam ini kamu habis."


Tawa Azira langsung berhenti. Dengan kaku dia menjauh dari leher Kenzie dan menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak sejauh mungkin.


Tidak mungkin, dia masih merindukan anaknya.


"Takut banget." Cela Kenzie datar.


Azira cengengesan.


"Mas Kenzie lebih tahu kenapa aku takut." Kata Azira menyimpan makna.


"Huh, dasar penakut. Padahal kalau udah-"


"Okay, jangan ngomong yang aneh-aneh." Potong Azira tidak mau mendengar lagi.


Melihat wajah cemberut istrinya, Kenzie langsung angkat tangan berjanji tidak akan bercanda lagi.

__ADS_1


"Batuk," pura-pura batuk.


"Ayo balik lagi ke topik. Kalau mas tahu kehidupan Mona tidak mudah di rumah, lalu kenapa mas Kenzie suka sekali galak kepadanya? Apa mas Kenzie tidak kasihan?"


__ADS_2