
Adiknya memang tampil dengan pesona yang memikat hari ini. Sedangkan dirinya, yang benar saja? Orang waras mana yang akan berkata bahwa dia memiliki penampilan yang cantik hari ini. Daripada menganggapnya cantik, dia lebih yakin bilang orang-orang ini hanya memandangnya biasa-biasa saja. Dengan kata lain dia tidak terlalu percaya diri. Pasalnya dia sudah sering melihat dirinya di depan cermin. Dia bukan lagi dia dari 7 bulan yang lalu, dia tidak memiliki pinggang yang tipis dan nyaman disentuh, dia tidak memiliki bentuk badan yang ramping, bahkan wajahnya tidak setirus dulu. Jadi bagian mana dari tubuhnya yang menarik?
Pinggangnya tebal dengan daging yang susah dipegang, perutnya membesar, lengannya menebal, dan wajahnya memiliki sentuhan lemak di dalam. Dia sama sekali tidak yakin dengan penampilan ini.
"Ya Allah, kak Azira. Jangan ngomong gitu, ah. Lihat tuh muka kak Kenzie, Dia kelihatan sembelit dengerin ucapan kak Azira. Lagian faktanya Kak Azira di mana-mana terlihat cantik, um, selalu tampil cantik malah. Memang ya aura wanita hamil itu sangat sulit untuk ditolak." Hati Mona langsung mengejang melihat ekspresi sembelit kakaknya.
Di dalam hati dia bertanya-tanya, mungkinkah dia terlihat sejelek itu sampai-sampai kakaknya sangat tidak rela mendengar pujian dari Azira? Yang benar saja!
Azira melirik suaminya yang Mona bilang sedang menampilkan ekspresi sembelit. Saat matanya bertemu dengan wajah tampan itu, sebuah senyuman hangat dan manis lah yang dia dapati.
"Kakak kamu memang agak pesimis sejak hamil besar. Padahal faktanya dia berlipat-lipat lebih mempesona setelah perutnya membesar. Dia sangat menggoda tapi dia tidak menyadarinya, sayang sekali." Kenzie menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya.
Bagaimana mengatakannya, sebagai seorang laki-laki dia sendiri merasakan secara langsung betapa besar perubahan pesona istrinya di dalam hati. Tidak, dia tidak bermaksud mengatakan bahwa istrinya tidak menarik ketika belum hamil, tidak, itu sama sekali tidak benar. Kalau tidak, lalu kenapa dia begitu menggila setiap kali berduaan bersama istrinya?
Yah, itu karena Azira memang memiliki daya tarik yang sangat kuat. Dan bagaimana dengan sekarang setelah dia hamil besar?
Um, sebagai seorang laki-laki pesona Azira sama sekali tidak berkurang, malah... Pesona Azira sekarang memiliki sentuhan tantangan yang cukup liar, Kenzie langsung ngiler memikirkannya.
"Ugh...mas Kenzie!" Dia menarik pandangannya tidak berani menatap suaminya lagi.
Mana mungkin dia tidak tahu apa isi pikiran suaminya! Ini sungguh sangat memalukan.
"Jangan banyak omong. Ayo turun, Umi, Abah dan yang lainnya sudah menunggu kita di bawah." Kata Azira mengalihkan topik pembicaraan.
Kenzie terkekeh.
"Oke, ayo turun sekarang."
Ketika Mona berjalan di samping Azira dan berniat memegang lengannya, tangan besar Kenzie tiba-tiba menipisnya.
"Kakak bisa sendiri." Lalu melirik tempat duduk empuk istrinya yang belum sempat diambil di belakang," kamu bawa aja yang itu." Perintahnya membuat Mona sama sekali tidak senang.
Apa salahnya sih memegang tangan kakaknya sendiri?
Doh, dasar kulkas dua pintu! Batin Mona dumel di dalam hati.
"Kak Kenzie pelit banget." Gumamnya kesel sembari masuk ke dalam kamar untuk mengambil tempat duduk empuk Azira, lalu keluar lagi dan dengan patuh berjalan di belakang mereka.
__ADS_1
Kenzie membantu Azira turun tangga dengan langkah hati-hati karena untuk ukuran Azira sekarang tangga ini cukup curam. Sejak usia kandungan Azira masuk usia 6 bulan, Kenzie selalu berusaha tidak membiarkan Azira naik turun tangga sendirian karena dia sangat takut Azira mengambil langkah yang salah hingga berakibat fatal. Dan sekarang setelah melihat perut Azira semakin membesar, dia langsung membuat sebuah rencana. Untuk sementara kamar mereka akan dipindahkan ke bawah agar mempermudah pergerakan Azira. Meskipun susah, mau tidak mau Azira harus banyak bergerak. Ini demi Azira dan bayinya sendiri sehingga saat melahirkan nanti, dia tidak terlalu merasa sulit.
"Mas, ada banyak sekali orang di bawah." Bisik Azira kepada suaminya.
Perlahan menuruni tangga keramaian di bawah terungkap sepenuhnya di depan mata. Ada banyak sekali orang-orang. Tua maupun muda, dan bahkan anak-anak berlarian di sana-sini. Di bawah sangat ramai dan sangat ribut, tapi tidak mengganggu sama sekali.
"Iya, mereka adalah orang-orang yang kita undang. Ada keluarga dari pihak Abah dan Umi, teman-teman mereka, teman-teman kita dan para tamu yang tidak bisa ku sebutkan. Apakah kamu senang?"
Azira mengangguk senang. Dia sangat senang sekali hari ini meskipun sedikit gugup. Untung saja Kenzie tidak pernah melepaskan tangannya. Kalau tidak, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi orang sebanyak ini.
Melihat Azira dan Kenzie turun, perhatian sebagian besar orang langsung tertuju kepada mereka berdua. Mereka menatap lekat-lekat, memindai Azira dengan tatapan penilaian. Sebagian besar orang yang pernah menghadiri pernikahan dulu mau tidak mau merasa sangat heran karena Azira bisa bertahan di rumah ini. Lihat saja penampilannya sekarang, dia pasti telah dimanjakan dengan baik oleh orang-orang ini.
"Ah... Apakah itu dia?" Beberapa wanita saling berbisik.
"Iya, itu istrinya pak Kenzie. Kita semua sudah tahu." Sahut wanita lain.
"Iya kita tahu dia istrinya, tapi aku heran aja ngelihat dia bisa bertahan. Kita semua tahu kan kalau dia merebut pernikahan adiknya." Balas wanita itu lagi.
Kata-kata wanita ini sontak membuat beberapa orang yang tidak mengetahui cerita lama terkejut.
"Iya, awalnya yang nikah sama pak Kenzie itu Humairah, adik istri pak Kenzie sekarang." Kata wanita itu menyebarkan gosip dengan nada menggebu-gebu.
Beberapa wanita langsung merasa tidak puas. Kenzie adalah orang yang diidam-idamkan banyak wanita di luar sana. Tidak dapat dipungkiri Kenzie memiliki pesona yang luar biasa, fitur wajahnya yang tampan, mata yang dalam dan ekspresif, serta sikap percaya diri dan tenang khas dari satu-satunya putra Abah dan Umi yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun. Dia juga memegang kekuatan bisnis keluarga yang termasuk jajaran perusahaan bergengsi negeri. Mewarisi dan memegang kendali penuh perusahaan. Dia bertanggung jawab atas alokasi sumber daya seluruh keluarga. Rumor mengatakan bahwa dia kejam dan dingin. Dia memang kejam dan berdarah besi dalam menangani masalah, dengan tegas mengendalikan semua kekuatan yang dimilikinya. Sayang sekali ketika belum menikah, selain terkenal kejam dan dingin, dia juga dikenal sebagai orang yang sangat anti terhadap wanita. Banyak orang yang memimpikannya, jadi mereka seringkali bertanya-tanya sosok seperti apa wanita yang telah berhasil merebut hati Kenzie. Dan sekarang setelah mengetahui identitas wanita itu, mereka merasa sangat marah. Bisa-bisanya laki-laki yang mereka impikan direbut dengan cara yang sangat curang.
"Wah kok ada ya wanita sejahat itu!"
"Bisa-bisanya dia merebut calon suami adiknya sendiri? Apakah hatinya terbuat dari batu!"
"Serius, aku kaget banget mendengarnya. Tapi kalau apa yang kamu katakan itu benar, lalu kenapa pak Kenzie masih mempertahankan istrinya ini dan tidak langsung menceraikannya saat itu juga? Coba deh kalian lihat, wajah pak Kenzie sangat berseri ketika menemani istrinya. Dan aku merasa kalau dia melayani istrinya dengan sopan dan penuh kehati-hatian, sangat sulit untuk tidak melihat warna cinta di dalam matanya. Apakah apa yang kamu katakan itu bohong?" Seorang wanita yang tidak langsung memakan mentah-mentah informasi itu bertanya ragu.
Gara-gara apa yang dia katakan ini, para wanita kembali lagi memandangi Kenzie dan melihat apa yang dijelaskan oleh wanita itu. Sangat sulit untuk tidak melihat warna cinta di dalam mata Kenzie, kebenaran ini tak terbantahkan dan membuat beberapa wanita itu merasa cemburu.
"Aku tidak berbohong. Jika kamu tidak percaya maka tanya saja orang-orang yang pernah menghadiri pernikahan Kenzie beberapa bulan yang lalu. Mereka pasti tahu cerita di hari pernikahan itu. Dan kalau kamu bingung kenapa pak Kenzie memperlakukan wanita ini dengan baik, maka aku tidak tahu jawabannya. Mungkin saja dia melakukan beberapa trik sehingga hati pak Kenzie luluh, dan mungkin saja trik itu tidak bertahan lama. Setelah bayi itu lahir ke dunia ini, tidak menutup kemungkinan bila wanita ini akan ditendang oleh keluarga pak Kenzie." Kata-kata wanita ini sangat keterlaluan.
Dia tidak bisa menyembunyikan nada cemburunya. Jelas bahwa dia sangat cemburu dengan kehidupan Azira. Niat terselubung dari kata-katanya begitu mudah dibaca. Tentu saja wanita ini sangat berharap bila Azira dan Kenzie secepatnya berpisah, untuk apa?
Semua orang tahu jawabannya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan bukanlah sebuah kebohongan tapi sedikit keliru." Suara sinis seorang wanita tiba-tiba menginterupsi pembicaraan para wanita.
Ketika mereka semua menoleh ke arah sumber suara, beberapa wanita yang mengenal pembicara itu, langsung merasa tidak nyaman karena pembicara itu tidak lain dan tiada bukan adalah Sasa, adik dari laki-laki yang mereka impikan.
"Oh, Sasa. Kamu di sini." Ekspresi wajah wanita yang paling banyak bicara tampak jelek, sepertinya dia sama sekali tidak menyangka Sasa akan hadir di antara mereka.
"Tentu saja, ini adalah rumahku. Mana mungkin aku tidak ada di sini. Memangnya kemana aku bisa pergi? Acara sepenting tak akan pernah bisa dilewatkan." Kata Sasa sinis sambil menatap wanita itu dengan ekspresi aneh. Menatapnya tak bersahabat,"jika kamu tidak membicarakan hal-hal yang buruk tentang keluargaku, aku pasti akan berpura-pura tuli dengan gosip diantara kalian. Tapi sangat berbahaya, orang yang kalian bicarakan adalah kedua kakakku." Sambung Sasa tak berniat memberikan wajah sedikitpun kepada para wanita ini.
Terutama kepada wanita-wanita yang memiliki niat buruk terhadap pernikahan kakaknya. Mereka sama sekali tidak penting, dan dia yakin pengaruh mereka tidak terlalu menarik perhatian kakaknya. Karena semua orang tahu kakaknya adalah tipe orang yang tidak terlalu memperdulikan kata-kata orang luar. Tapi... Sebagai seorang adik dia sangat terganggu dengan kata-kata mereka. Mulutnya gatal ingin menyemprot habis wajah-wajah wanita tak tahu malu ini.
"Maafkan kami, dek. Kami sama sekali tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan keluarga kamu. Ini hanyalah sebuah pembicaraan biasa murni karena rasa ingin tahu." Setelah mendengar Sasa berbicara, mereka akhirnya tahu identitas Sasa dan buru-buru berbicara untuk membela diri.
Sekalian ingin menjalin persahabatan dengan Sasa, ugh... Memangnya siapa yang tidak mau memiliki teman dari kalangan orang kaya raya?
Sasa memutar bola matanya malas.
"Aku bukan adikmu. Aku hanya memiliki beberapa kakak, dan kamu bukan salah satunya. Kemudian, kamu bilang tidak bermaksud menjelek-jelekkan keluargaku tapi hanya pembicaraan murni karena rasa ingin tahu? Apakah kamu pikir aku ini bodoh? Beberapa di antara kalian bahkan menuduh Kak Azira bermain trik curang? Jika bukan berniat menjelekkan, lalu apa namanya ini?" Balas Sasa sinis membuat wanita yang paling banyak bicara merasa sangat malu.
"Dan kamu," Sasa langsung mengarahkan jari-jarinya ke arah wanita yang paling banyak bicara itu.
"Kita adalah tetangga, berasal dari kompleks yang sama. Bukan tidak mungkin kamu mengetahui tentang kebenaran yang sebenarnya di dalam keluarga kami. Tapi di sini kamu malah menaburkan sebuah kata-kata buruk untuk kakakku, apa niatmu sebenarnya? Apa niatmu membuat orang-orang percaya bahwa kakakku menggunakan hal-hal yang curang sehingga bisa menikah dengan kak Kenzie?"
Wanita itu mengepalkan tangannya gelisah. Ada rasa malu, marah, dan takut yang sedang dirasakan sekarang. Mereka memang bertetangga dan kebetulan dia mengambil jurusan kedokteran untuk mengikuti jejak Kenzie dulu. Sempat beberapa bulan yang lalu dia sempat menghentikan Kenzie di depan masjid untuk meminta bantuan, namun Kenzie langsung menolaknya mentah-mentah tanpa mendengarkan perkataannya hanya gara-gara hari itu Azira sedang berdiri di depan masjid. Gara-gara Azira, rencananya tidak berhasil dan Kenzie malah menjaga jarak darinya. Ini sangat memalukan. Dan dia semakin tidak menyukai Azira sejak hari itu.
"Aku... tidak bermaksud, namun bukankah apa yang aku katakan itu benar, Sa? Orang yang seharusnya menikah dengan mas Kenzie adalah Humairah dan bukannya Azira."
Sasa semakin marah dibuatnya.
"Terbalik, orang yang seharusnya menikah dengan kak Kenzie adalah kak Azira! Mereka sudah bertunangan sejak kecil! Menurutmu kenapa kakakku masih mempertahankan kak Azira?" Ucap Sasa tajam.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sasa para mata wanita itu membola kaget karena terkejut.
"Masya Allah, pantas saja aku melihat pak Kenzie memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Sikap pak Kenzie kepada istrinya mengingatkan ku pada pasangan yang sedang jatuh cinta. Mereka sangat manis." Wanita yang sempat meragukan gosip tadi menyahuti perkataan Sasa.
Sasa tersenyum lebar dan mengangguk puas.
"Mereka memang sedang jatuh cinta, dan kamu bisa lihat sendiri betapa lengketnya kakakku kepada kak Azira. Umi sampai bingung apakah kak Kenzie masih putranya yang suka memasang ekspresi cemberut saat melihat seorang wanita!" Katanya mencela tapi nada bangga di dalam suaranya tidak bisa disembunyikan.
__ADS_1