
Dengan tangan gemetaran dia mengambil ponsel dan mengklik pesan yang dikirim oleh seorang kenalan. Mengapa kenalan? Karena dia bertemu orang ini saat masih bersama Kenzie. Mereka hanya berbicara sebentar dan tidak sempat bertukar nomor kontak. Tidak memiliki kesan yang mencolok dia secara alami melupakan orang ini. Tapi siapa sangka orang ini suatu hari akan menghubunginya. Lupakan pertanyaan darimana orang ini mendapatkan nomor kontaknya, sebab yang paling penting di sini adalah berita yang orang itu bawakan untuknya. Membaca pesan orang itu membuat Humairah merasa sedikit geram, tapi saat mengingat wajah tersenyum angkuh Azira yang sangat menyebalkan, dia secara alami menyampingkan kemarahan di hati dan fokus memikirkan kesialan yang akan dialami oleh kakaknya.
"Hallo...hallo, kak Nabil?" Ucap Humairah saat panggilannya diangkat.
"Iya, hallo. Kenapa Humairah?" Suara Nabil tenang di seberang sana, padahal aslinya dia sangat gugup sekarang karena umpan yang dia lemparkan berhasil ditangkap oleh Humairah.
"Oh...itu, kak. Tentang pesan yang kakak kirimkan kepada ku tadi, apakah itu benar?" Humairah meremas ponselnya.
"Benar. Aku tidak berbohong." Tegas Nabil.
Humairah memejamkan matanya menahan nafas.
__ADS_1
"Jadi Azira memang pengganti dan suatu saat akan dibuang oleh mas Kenzie jika Amara pulang ke sini? Maka...sejak awal mas Kenzie memang tidak pernah menyukai Azira tapi hanya menjadikannya sebagai seorang pengganti saja?"
Nabil tertawa di seberang sana,"Valid 100%! Aku akan mengirimkan foto Amara kepada mu sehingga kamu bisa menilai sendiri apakah wajah mereka benar-benar mirip atau tidak. Dan jika kamu masih tidak percaya, tunggu kabar beberapa hari lagi mengenai kabar kakakmu yang malang. Maafkan aku harus mengatakan ini kepadamu, tapi kabar ini pasti membuatmu bahagia karena kakakmu telah menghancurkan hidup kamu. Mungkinkah kamu keberatan?"
Meskipun Nabil tidak melihatnya, Humairah dengan tegas menggelengkan kepalanya membantah.
"Tidak, tidak sama sekali! Aku malah berharap kalau dia merasakan apa yang aku rasakan, bahkan lebih... Hancur sehancur-hancurnya, apapun rencana kak Nabil, selama itu bisa membalaskan dendam dan rasa sakit ku, tentu saja aku akan mendukung kakak. Ku harap Amara bisa mempermalukan dia." Ucap Amara bertekad.
Penghinaan yang Azira berikan kepadanya di hari pernikahan itu masih membekas dalam di dalam ingatannya.
"Bagus, kamu bisa duduk dengan nyaman dan menunggu kabar baik dariku. Oh, kalau bisa kamu juga menyebarkan berita ini kepada orang lain, tidak apa-apa." Nabil bermaksud ingin memojokkan posisi Azira melewati serangan lidah orang-orang.
__ADS_1
Humairah langsung mengerti.
"Tentu saja, aku bisa melakukannya."
Setelah berbasa-basi, sambungan telepon ditutup. Humairah melemparkan ponsel di atas kasur dan langsung melemparkan dirinya ke sana. Berbaring sambil menatap langit-langit kamar, kepalanya melewati beberapa potong kenangan masa lalu.
Dia sebenarnya bukan orang yang pendendam. Dia baik hati dan ramah. Namun balasan air tuba yang Azira berikan kepadanya telah membuat dirinya terlalu kecewa hingga jatuh ke titik ini.
"Ya Allah, aku enggak tahu dimana salahku hingga Kau datangkan Azira ke dalam hidupku yang damai. Kau biarkan dia menghancurkan kebaikan yang kuberikan kepadanya, lantas apakah aku masih berdosa ingin membalas rasa sakitku kepadanya? Dia...dia menghancurkan ku, mempermalukan ku berkali-kali dan membuatku menjadi bahan tertawaan. Untuk semua yang telah dia lakukan kepadaku, lantas apakah aku masih berdosa menuntut semua yang dia lakukan kepadaku?" Perlahan satu demi satu cairan hangat meluap dari sudut kedua matanya.
Rasanya sungguh sakit sekali dijatuhkan sampai di posisi ini.
__ADS_1