Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 29.9


__ADS_3

"Pelan-pelan.." Kenzie memegang punggung Azira membantunya duduk di tengah-tengah sofa.


Azira mengangguk sambil tersenyum. Dia memegang erat lengan suaminya sebagai penopang. Setelah akhirnya menyentuh permukaan sofa, dia langsung rileks dan bersandar di sofa. Rasanya lebih nyaman daripada berdiri. Kalau terlalu lama berdiri, kakinya akan pegal-pegal. Itu karena perutnya sangat berat sehingga membuatnya tidak kuat berdiri ataupun terlalu lama berjalan-jalan. Ini baru usia 7 bulan, bagaimana jika usia kandungannya nanti masuk 9 bulan?


Akan sebesar apa perutnya?


"Terima kasih, mas." Ucap Azira berterima kasih.


Kenzie tersenyum. Tangan besarnya mengusap pinggang Azira nyaman.


"Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugasku.." balas Kenzie berbisik.


Mereka berdua saling berbisik, pemandangan ini ditangkap langsung oleh Mama yang semakin menyebalkan.


"Ekhem," tak tahan lagi Mama akhirnya membuka suara.


"Di sini masih ada orang tua, tidak sopan kalau kalian terus berbisik." Peringkat Mama dengan nada sok tuanya.


Azira meliriknya ringan, sebelum menarik matanya menjauh. Dia tidak mengatakan apapun atau meminta maaf. Bukannya meminta maaf dia malah asik bersandar di pundak suaminya. Diam-diam mendengarkan suara detak jantung yang bertalu indah di dalam dada suaminya. Lama kelamaan dia merasa mengantuk. Tapi dia masih bisa menahan diri. Dia juga tahu kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk tidur.


Sayang sekali.


"Aku minta maaf, ma. Istriku malu berbicara dengan nada suara biasa di depan kalian karena ini menyangkut masalah pribadi kami, makanya kami berdua berbisik." Kenzie dengan mudahnya membuat alasan.


Mama cemberut. Dia menyilangkan salah satu kakinya masih belum puas dengan pembelaan Kenzie.


"Terserah apapun alasan kamu. Istri kamu ini memang agak lain. Coba lihat Humairah, adiknya. Sejak kecil akhlaknya sudah sangat baik. Bila dia ada di posisi istri mu sekarang, maka dia pasti tidak akan melakukan kesalahan ini." Mama berbicara sok benar, dengan sengaja membanding-bandingkan Azira dengan Humairah.


Apa yang dia katakan membuat Ayah merasa malu. Apalagi ketika melihat wajah datar Umi. Omongan mama pasti membuat Umi tidak senang. Merasa malu dia menyenggol tangan istrinya, memberikannya sinyal agar berhenti berbicara.


Mama menarik lengannya menjauh dari jangkauan suaminya. Dia sudah menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Mengharapkan sesuatu terjadi, Mama menatap Kenzie untuk melihat bagaimana reaksinya. Tapi sayang sekali. Bukannya mendengarkan apa yang dia katakan barusan, Kenzie malah sibuk membangunkan istrinya yang telah jatuh tertidur entah sejak kapan.


Mama yang bersemangat langsung layu,"..." Apa-apaan ini!


Ayah tertegun di tempat. Sementara Umi kini kembali memiliki senyuman di wajahnya. Umi bersikap seakan tidak melihat sesuatu yang aneh dari reaksi mama. Seakan-akan dia tidak pernah mendengarkan kata-kata menyebalkan yang terlontar dari mulut mama.


"Apakah Azira tertidur lagi?" Tanya Umi perhatian.


Kenzie mengangguk pelan. Tangan besarnya mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.


Lagi? Batin Mama semakin tidak puas.


Bukankah itu artinya Azira sering tidur? Di depan banyak orang? Sungguh kurang ajar!


"Iya, Umi. Dia mungkin kelelahan." Jawab Kenzie merasa prihatin dengan istrinya.


Salahkan si kecil yang berkembang pesat sampai-sampai membuat Azira kewalahan berkali-kali. Untunglah masih di dalam perut, kalau tidak, Kenzie pasti telah melemparnya keluar rumah sebagai hukuman.


"Apakah dia selalu seperti ini?" Tanya ayah tanpa sadar menggunakan nada lembut.


Untuk sesaat, Ayah prihatin dengan kondisi putrinya yang tengah hamil. Dengan perut sebesar itu putrinya pasti melalui hari-hari yang tidak mudah. Berpikir sejenak, dulu... Mungkinkah istri pertamanya juga mengalami kesulitan yang sama ketika sedang mengandung Azira?


Mungkinkah para istri pertamanya sebesar ini ketika mengandung Azira?


Ayah tidak tahu karena tidak pernah menyaksikan semua itu. Mulai dari mengandung hingga melahirkan dan membesarkan Azira, dia tidak pernah melalui semua itu. Dia bingung, apakah ini penyesalannya?


"Tidak semua wanita hamil seperti ini. Azira pasti telah dimanjakan di rumah ini makanya dia bisa bertindak seenaknya." Kata Mama emosi.


Dia merasa cemburu mendengar pertanyaan lembut ayah kepada Azira. Dirinya tidak terima jika ayah memperlakukan Azira sebagai putrinya. Dulu sewaktu Azira dibawa ke rumah itu mungkin dia bisa menerimanya, tapi sekarang setelah apa yang dilakukan Azira kepada putrinya dia tidak bisa menerima penghinaan ini. Sudah cukup mengambil Kenzie dari putrinya, dia tidak mau ayah juga yang akan diambil oleh Azira dari putrinya. Bagi mama ayah hanya memiliki satu putri, yaitu Humairah seorang.


"Ma." Tegur ayah tidak senang.

__ADS_1


Mama semakin cemberut. Dia mendengus dingin, memalingkan wajahnya dari ayah.


"Tolong... Maafkan mama. Dia tidak bermaksud apa-apa." Ayah meminta maaf kepada Kenzie dan Umi.


Umi tersenyum tipis.


Senyuman Kenzie menguap, dia menatap mertuanya dengan tatapan sopan.


"Ya, ayah tidak apa-apa. Azira memang sering seperti ini setelah mengandung bayi kami. Dia jadi mudah mengantuk bila kelelahan sedikit. Dan aku mungkin perlu menerangkan beberapa hal kepada Mama," mengalihkan mata hitamnya menatap mama,"Ma, tidak semua wanita hamil memiliki keluhan yang sama dengan Azira, tapi beberapa wanita juga akan memilikinya. Dan aku rasa Mama pasti tahu salah satu tantangan wanita hamil adalah mudah mengantuk? Ya, aku yakin kalau mama juga pernah merasakan fase ini. Maka dari itu tak berlebihan bila istriku mudah tertidur. Dia memang kesulitan di fase ini tapi aku sangat bersyukur karena dia tidak pernah mengeluh. Justru aku merasa bila istriku cukup menikmati kehamilannya sekarang." Jelas Kenzie masih dengan senyum yang sama, tapi entah kenapa Mama justru merasa bahwa senyuman ini tidak seramah yang terlihat?


Mungkinkah ini hanya perasaannya saja?


"Iya...iya, aku sudah lupa...kamu tahu sendiri kan kalau aku hanya memiliki Humairah dan tidak pernah mengandung lagi setelah itu." Mama dengan gugup membalas.


Kenzie tersenyum. Dia kembali menatap istrinya, menggoyangkan lengan Azira agar segera bangun. Selain mudah tertidur Azira juga mudah terbangun. Dia adalah penidur yang ringan.


"Mas?" Azira menatap suaminya linglung.


"Apakah kamu ingin tidur di kamar?" Tanya Kenzie perhatian.


Azira akhirnya tersadar. Padahal dia sudah mewanti-wanti wanti dirinya agar jangan tertidur. Tapi pada akhirnya dia tertidur juga.


Azira panik, dia menggelengkan kepalanya cepat-cepat tidak mau pergi. Hatinya merasa bersalah. Bagaimana mungkin dia pergi begitu saja disaat acaranya masih berjalan?


Duh, harus menahan diri lebih kuat!


"Aku enggak mau, mas. Lihat, aku udah enggak ngantuk lagi?" Azira mengusap wajahnya, mengusir jauh-jauh virus kantuk agar dia tidak tertidur lagi.


Melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, Kenzie tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Soalnya Azira tampak lucu, apalagi saat melihat kedua tangan gembil itu berebutan mengusap wajahnya, Kenzie seperti melihat seorang anak kecil yang tengah bertingkah lucu untuk menarik perhatian.


Ya Allah bagaimana pulsa istriku semanis ini? Batin Kenzie manis juga merasa geli.


Dia tertawa puas sembari menarik Azira ke dalam pelukannya. Suara tawanya langsung menarik perhatian para tamu. Dengan mata penasaran mereka melihat ke arah mereka, mengamati apa yang lucu sehingga Kenzie tertawa sepuas ini.


Azira kewalahan dibuatnya. Dia tak bisa bergerak selain memeluk punggung suaminya.


"Okay, nak. Berhenti membuat masalah. Azira tidak bisa bergerak." Umi menepuk lengan kiat putranya agar segera berhenti memeluk Azira.


Karena dimarahi Umi, dia akhirnya melepaskan Azira dengan enggan. Sejujurnya dia masih belum puas bermanja-manja dengan istrinya. Dia ingin memeluk Azira lebih lama tapi Umi tidak bisa diajak bekerja sama- ah, tidak seperti itu. Dia masih sadar situasi dan rasanya tak pantas melakukan tindakan seperti ini di tempat umum.


"Sayang, minumlah air." Kenzie mengambil air putih di atas meja.


Azira tidak menolaknya. Dia meminum tiga teguk air putih sebelum mengembalikan gelasnya kepada Kenzie.


"Terima kasih, mas." Kata Azira berterima kasih.


Kenzie mengangguk ringan.


Melihat interaksi mereka berdua yang manis, ayah dan mama tidak merasa nyaman. Mereka berdua memikirkan Humairah. Jika Humairah ada di sini dan melihat kemesraan mereka berdua, tak bisa dibayangkan betapa hancur hati Humairah nanti. Namun untungnya tidak ada Humairah di sani, benar, lalu di mana putri mereka pergi?


Bukankah Humairah tadi ada bersama bibi Safa, lalu dimana mereka sekarang?


"Apakah Humairah datang juga?" Umi bertanya, faktanya dia melihat Humairah datang.


"Dia juga datang. Ini adalah acara syukuran kakaknya, mustahil bila dia tidak datang." Kata mama menyindir.


Putrinya memang datang, tujuannya tidak lain ingin memastikan bagaimana keadaan Azira setelah menikah dengan Kenzie dan tinggal di rumah ini.


Umi tersenyum, tangan keriputnya memegang punggung tangan Azira.


"Ya, memang sewajarnya begitu. Dia mungkin khawatir dengan kehidupan kakaknya di sini. Lalu dimana dia?" Kata-kata Umi seolah menusuk titik lemah mama.

__ADS_1


Putrinya memang sangat 'khawatir' dengan kehidupan Azira di rumah ini. Hanya saja harapannya tidak tercapai, rumah ini telah mengecewakan putrinya.


Tapi tunggu dulu, mungkinkah Umi tahu apa yang dia pikirkan?


Seharusnya tidak, kan?


Mana mungkin Umi tahu.


"Dia dan bibinya pergi ke toilet. Mungkin sebentar lagi mereka akan segera datang ke sini." Jawab mama berbohong.


Dia tak tahu kemana putrinya dibawa pergi oleh bibi Safa. Karena sebelum pergi mereka berdua tidak mengatakan apa-apa. Sudah selama ini, Mama berharap tidak terjadi sesuatu kepada mereka di sini.


"Oh, dia pergi ke toilet."


Mama sangat kesal sekarang. Dia memarahi putrinya di dalam hati karena main pergi begitu saja. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk menunjukkan kepada Umi bawa pilihannya mempertahankan Azira adalah salah. Daripada mempertahankan Azira, lebih baik membawa Humairah masuk ke dalam rumah ini.


Putriku memiliki akhlak yang baik, dia juga bersekolah tinggi dan memiliki pekerjaan. Putriku jauh lebih baik daripada Azira. Umi pasti menyesal jika melihat perbandingan mereka berdua nanti. Tapi... Ke mana anak ini pergi? Dia menghilang begitu saja di momen yang paling penting! Umi mengeluh di dalam hati.


Sementara Mama masih mengeluh di dalam hati, fokus Ayah kembali memperhatikan Azira. Ayah merasa lucu melihat kelopak mata Azira yang berkedip berkali-kali seolah mempertahankan kesadarannya. Padahal dia baru saja bangun dan mengantuk lagi?


"Nak, jika kamu masih mengantuk. Kenapa tidak pergi beristirahat di dalam kamar saja?" Kata ayah kasihan melihat Azira yang mau tidur.


Mendengar ucapan ayah, mata Azira berkedip pelan. Perlahan rasa kantuk yang tadi sempat ingin menguasainya segera menguap entah ke mana. Azira mengangkat kelopak matanya menatap ke arah Ayah, tidak ada riak sedikitpun di dalam mata itu.


Acuh, Azira menarik pandangannya dari ayah.


Sikap diam Azira menunjukkan bahwa dia tidak peduli dengan apa yang ayah katakan. Azira diam tak mau menjawab, yang paling membuat Mama kesal adalah baik Kenzie ataupun Umi tidak menegur perilaku kurang ajar Azira. Ini sangat tidak memuaskan!


"Aku selalu memperhatikan bahwa kamu sejak awal sudah bertingkah di depan kami. Setiap kali Ayah berbicaralah denganmu, kamu selalu mengabaikannya dan tidak pernah membalas! Apakah begini caramu bersikap di depan orang tuamu sendiri? Dari tadi diajak berbicara kamu diam terus. Saat orang tua berbicara, kamu tidak hanya tidak menjawab tapi kamu juga tertidur! Kamu pasti sengaja melakukan ini karena tidak mau menghormati kami sebagai orang tuamu!" Berbagai macam tuduhan dilayangkan Mama kepada Azira.


Untungnya volume suaranya tidak terlalu besar sehingga tidak perlu menarik perhatian banyak orang.


Mama merasa bahwa kesabarannya sudah habis di depan Azira. Dia tidak sanggup menoleransi Azira lebih jauh lagi karena sikapnya keterlaluan. Mama sangat percaya kalau Azira sengaja melakukan ini untuk mempermalukan mereka berdua. Lagi pula hubungan mereka berdua memang tidak terlalu baik. Mereka punya banyak permasalahan yang membuat hubungan semakin tegang. Ya, Azira bisa saja mempermalukan mereka berdua karena masalah ini. Mempermalukan mereka di depan banyak tamu, Mama sudah tidak kuasa lagi menahannya.


Maka dia menuding Azira dengan beberapa spekulasinya sendiri.


"Siapa-" Kenzie mengangkat suara tapi Azira menghentikannya.


"Orang tua, huh?" Tanya Azira sinis.


Matanya menatap mama dan ayah bolak-balik, mencari tahu bagian mana yang masih berlaku untuknya yang pantas disebutkan sebagai orang tua.


"Aku tidak perlu mengungkit masa lalu karena kalian berdua lebih jelas dengan apa yang terjadi di masa itu. Tapi yang ingin ku bicarakan adalah seseorang pernah bersumpah kepadaku bahwa dia tidak akan pernah mengakui ku sebagai putrinya. Tidak hanya tidak mengakui ku sebagai putri sahnya, dia pun enggan untuk mengakui ku sebagai putri haramnya. Aku masih mengingat dengan jelas apa yang orang itu dan istrinya katakan hingga hari ini. Sekarang, tiba-tiba istri orang itu menuduhku tidak mau menghormatinya sebagai orang tua? Tidakkah ini terdengar lucu? Aku tidak diakui oleh mereka tapi tiba-tiba mereka menuntut ku untuk menghormati mereka selayaknya orang tua. Mungkinkah mereka sudah lupa dengan apa yang mereka katakan? Atau mungkin saja mereka berpura-pura lupa? Aku tidak tahu. Yang pasti aku merasa bingung dan bertanya-tanya, mungkinkah mereka berdua masih manusia?" Ucap Azira dengan suara yang pelan namun jelas.


Setiap patah kata yang dia ucapkan telah mewakili isi hatinya. Mengungkapkan setiap patahan yang terbentuk bertahun-tahun yang lalu. Anak mana yang tidak sedih ketika mendengar perkataan orang tuanya bahwa dia tidak hanya tidak diakui sebagai anak sah, tapi dia juga enggan diakui sebagai anak haram. Seolah-olah hidupnya begitu hina dan tak berharga hingga ayah pun tidak mau mengakuinya.


Ucapan Azira langsung mengejutkan mereka. Bahkan Ayah pun tak menyangka Azira akan mengungkit kata-kata yang pernah terlontar dari mulutnya dulu. Sungguh, jauh di dalam hatinya dia merasakan sebuah perasaan yang sangat tidak nyaman. Dialah yang melontarkan kata-kata kejam itu tapi dia jugalah yang merasa terluka dengan penolakan Azira sekarang.


"Kamu.!" Mama tidak tahu harus berkata apa, dia tersedak air liurnya sendiri mendengarkan apa yang dikatakan oleh Azira.


Mama menggoyangkan lengan Ayah.


"Cepat katakan sesuatu kepadanya!" Katanya marah.


Ayah menghela nafas panjang,"Biar bagaimanapun juga aku adalah ayahmu-"


"Sama. Aku juga sama. Biar bagaimanapun juga aku adalah putrimu. Darahmu mengalir deras di dalam tubuhku. Tapi alasan ini sama sekali tidak berarti apa-apa untukmu, kamu tetap saja membuang ku pergi. Membiarkan ku hidup terlantar di jalanan bersama ibuku. Maaf, aku tidak bisa melupakan apa yang telah kau lakukan kepada kami." Potong Azira santai.


Entahlah, membicarakan masa lalu dengan Ayah ternyata tidak semenakutkan yang dipikirkan. Mungkin karena ada suami yang senantiasa selalu di sisinya dan mungkin juga karena ada Umi yang terus memberikan support kepadanya.


Pokoknya bersama mereka, dia tidak terlalu takut.

__ADS_1


"Nak?" Ayah sangat shock mendengar ucapan Azira.


Dia tak menyangka bila Azira akan mengatakan semua ini dengan jelas dihadapan orang lain. Ayah merasa malu, tapi dibandingkan perasaan malu ini dia merasa sedih.


__ADS_2