Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 3.9


__ADS_3

Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang luas. Pemilik rumah ini mungkin suka menanam bunga karena halaman rumah ini ditanami banyak bunga dan masih ada beberapa peralatan kebun yang terdampar di beberapa tempat.


"Ayo." Mas Kenzie langsung berjalan mendahului ku.


Aku terkejut dan buru-buru mengejarnya. Langkah mas Kenzie sangat cepat. Dia mungkin sengaja melakukannya untuk menghindari ku. Lagipula dia tidak perlu bersandiwara di sini, berpura-pura menerima dan memegang tanganku, semuanya sudah berakhir.


"Agh..." Aku tidak sengaja menginjak gaun pengantin ini dan hampir saja terjatuh.


Gaun pengantin ini sangat ribet dan berat. Agak sulit berjalan dengan beban seberat ini. Jika aku masih menggunakan bajuku, gaun ini pasti sudah lama ku lepaskan.


"Kenapa diam saja?" Mas Kenzie menghentikan langkahnya.


Mas Kenzie menoleh ke belakang untuk melihatku. Wajahnya datar tanpa ekspresi yang berarti. Aku merasa tidak enak dengan tatapannya.


"Maaf." Kataku canggung.


Aku mengangkat gaunku dan berjalan menghampirinya.


Dia melihatku dengan mata menyipit. Aku tidak yakin dengan apa yang dipikirkan olehnya saat ini.


"Berikan." Perintahnya tiba-tiba.


Mas Kenzie mengulurkan kedua tangannya ke depan ku.


Aku bingung. Apa yang dia inginkan dariku dan apa yang harus ku berikan kepadanya. Kepalaku sangat lambat berpikir.


"Apa?"


Kening mas Kenzie mengkerut. Dia menghela nafas panjang dan tanpa aba-aba langsung mengambil kain gaun di tanganku. Tanganku tiba-tiba kehilangan beban, jauh lebih ringan dan nyaman. Aku seketika menjadi bodoh. Otakku lambat mencerna tindakan mas Kenzie yang datang tanpa peringatan.


"Kenapa diam saja? Ayo jalan."


Aku tersadar.


"Oh, maaf." Dan buru-buru meminta maaf.


Aku sangat ceroboh melamun di depan mas Kenzie dan di waktu yang tidak tepat pula. Dia pasti kesal dengan ku. Wajahnya keliatan tidak sabar menghadapi ku.

__ADS_1


Kami lalu berjalan lebih jauh lagi ke depan dan melewati beberapa mobil terparkir di halaman. Pasti rumah mas Kenzie hari ini kedatangan banyak tamu dari keluarganya.


Mengepalkan tangan, aku harus bersiap untuk hari-hari selanjutnya di sini. Terus terang aku tidak pernah mengira rencana ku akan berjalan sampai sejauh ini dan aku juga tidak mengira jika mas Kenzie mau menerima ku sebagai istrinya, bahkan sampai membawaku pulang ke rumahnya. Aku... merasa ini tidak nyata.


Cklak


Pintu depan tiba-tiba dibuka dari dalam oleh seorang wanita cantik, itu mungkin adik mas Kenzie karena mereka berdua memiliki sedikit kemiripan. Wanita itu masih menggunakan baju kondangan dengan riasan yang cantik namun cemberut.


Wanita itu mengembung kan pipinya sebal sambil menatapku.


"Mas Kenzie kenapa bawa perempuan ini pulang ke rumah?"


"Jangan membuat masalah. Dia adalah kakakmu sekarang." Kata mas Kenzie acuh tak acuh.


Jadi dia memang adik mas Kenzie.


Adiknya menatapku marah. Menghentakkan kakinya dan pergi masuk ke dalam rumah.


Aku merasa ini bukan keputusan yang baik.


"Masuk." Dia memotong ucapan ku.


Aku memejamkan mataku gugup bercampur gelisah. Dari awal sampai ke sini aku selalu menekankan di dalam kepalaku bila ini adalah rumah keluarga mas Kenzie, rumah orang asing dan belum tentu menerimaku. Jadi aku harus extra bersabar jika keluarga Kenzie nanti membuat masalah kepadaku.


"Assalamualaikum." Salam mas Kenzie ketika kami masuk ke dalam rumah.


Seperti yang aku duga, rumah mas Kenzie dipenuhi banyak orang. Ada yang masih menggunakan baju kondangan dan ada juga yang menggunakan baju rumahan. Wajah mereka sebagian besar menatapku suram dan sebagiannya lagi penasaran. Mereka menatapku seolah-olah aku adalah hewan nasional yang langka.


"Waalaikumussalam, Kenzie, kemari lah."


Wajah mas Kenzie sangat datar menghadapai emosi mata-mata keluarganya.


"Ya, Paman. Tapi aku akan mengirim Azira ke kamar kami dulu."


Paman mas Kenzie melihatku,"Bawa juga dia ke sini." Perintahnya.


Untungnya mas Kenzie tetap kukuh mempertahankan aku.

__ADS_1


"Maaf, Paman. Azira butuh waktu untuk istirahat jadi aku akan mengirimnya masuk ke dalam kamar kami." Kata mas Kenzie seolah tak melihat ekspresi terdistorsi Pamannya.


"Ayo." Lalu dia membawaku pergi ke lantai atas, berjalan dengan hati-hati menaiki satu demi satu anak tangga yang telah dihias indah dengan berbagai macam bunga.


Warnanya sangat indah.


Andai Humairah yang ada di sini, berjalan melewati tangga-tangga ini, dia pasti sangat senang dan malu-malu karena disoraki banyak godaan dari keluarga mas Kenzie.


Betapa bahagianya Humairah saat itu. Namun itu hanya seandainya saja karena sekarang akulah yang ada di sini tanpa malu-malu dan tanpa suara-suara godaan pula.


...****...


"Bagaimana keadaan Humairah sekarang?"


Bibi Sifa baru saja keluar dari kamar Humairah dan langsung dicegat oleh Ayah. Wajah Ayah sangat kuyu, dalam waktu sekejap wajahnya menua beberapa tahun jauhnya. Terakhir kali bibi Sifa melihat kakaknya seperti ini adalah 20 tahun yang lalu saat kakaknya bertengkar dengan orang tua mereka.


Bibi Sifa menghela nafas berat,"Humairah sudah tidur, mas. Tapi demamnya masih belum turun banyak." Jawab bibi Sifa sedih.


Kejadian hari ini telah membuat keluarga mereka ditertawakan oleh banyak orang. Keluarga besar sangat malu dan telah memperingatkan Ayah dengan serius.


Ayah menggelengkan kepalanya lelah. Dia mengusap wajah tuanya yang kuyu, diam-diam menyesali keputusannya membawa Azira pulang ke rumah ini.


"Ini semua salahku, Sifa. Jika aku tidak membawa anak itu pulang ke rumah ini maka Humairah tidak akan sesedih ini dan keluarga kita juga tidak akan ditertawakan banyak orang."


Ayah tidak tahu harus berkata apa tentang Azira. Dia tidak mengira jika Azira akan bermain sampai sejauh ini untuk membalas dendam. Jika dia tahu Azira adalah gadis yang sangat licik, maka dia tidak akan pernah membawa Azira ke rumah ini.


Namun semuanya sudah terlambat dan tidak gunanya menyesali semua yang terjadi. Daripada menyesali masa lalu, Ayah harus mencari cara untuk mengembalikan pernikahan putrinya yang hancur.


Soalnya Humairah sangat mencintai Kenzie dan Ayah tahu kejadian ini telah memukul putrinya sangat dalam.


"Mas...masa lalu, aku tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Humairah dan Azira sama-sama putri, mas. Posisi mereka sangat canggung sebelumnya, lalu setelah kejadian ini aku ragu mereka akan berhubungan baik kembali. Mas, kejadian ini telah memukul hati Humairah. Ini adalah dendam Azira, mas, terhadap keluarga kita. Ibunya..." Menggelengkan kepalanya lemah, wajah bibi Sifa mulai murung memikirkan masa lalu.


"Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi..." Bibi Sifa lalu pergi turun ke lantai satu, meninggalkan Ayah yang masih diam mematung mencerna apa yang dikatakan adiknya barusan.


Dendam,


Putrinya yang telah lama dia abaikan dan tinggalkan memiliki dendam sedalam ini kepadanya. Lalu bagaimana dengan Ibunya dulu?

__ADS_1


__ADS_2