Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 13.2


__ADS_3

Azira mengatur suasana hatinya agar kembali tenang. Lalu pergi mencuci wajahnya untuk menghilangkan mata merahnya karena banyak menangis. Setelah dirasa oke, barulah dia turun ke bawah.


Di bawah dia melihat suaminya dan Abah tengah mengobrol. Azira menatapnya dalam, menunggu suaminya berpaling ke arahnya. Tapi setelah sekian lama menunggu, Kenzie seolah tidak menyadari keberadaannya. Azira merasa sedih. Baru kali ini dia menangis karena seorang laki-laki. Dan dia juga menyadari bahwa semua ini memang kesalahannya.


"Kenapa diam di sana, Nak? Ayo bantu Umi di dapur." Panggilan Umi langsung membangunkan Azira dari lamunannya.


"Iya, Umi." Dia melihat suaminya sekali lagi, tapi masih nihil, suaminya tidak pernah melihat balik ke arahnya.


Merasa kecewa, dia kemudian pergi ke dapur untuk membantu Umi menyiapkan makanan.


Setelah Azira pergi, barulah Kenzie melihat ke arahnya. Mata jernih dan tajam itu memandangi punggung ramping Azira perlahan menjauh dari pandangannya.


"Masih belum selesai juga masalahnya?" Tanya Abah di samping.


Kenzie menarik pandangannya dan beralih menatap Abah.


"Pasti akan selesai. Tergantung bagaimana maunya dia." Jawab dengan senyum tipis di wajahnya.


Abah menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Soalnya dia dulu tidak seperti ini. Namun mengapa putranya seperti ini?


Dari mana putranya belajar?


"Jangan terlalu keras kepadanya. Dia tidak tahu apa-apa. Setelah kamu memberikannya pelajaran sekali, dia tidak akan mengulangi lagi." Kata Abah menasehati putranya.


Abah khawatir kalau Azira lama-lama tak betah bersama dengan Kenzie.


Kenzie membolak-balik lembaran buku di atas meja.


"Kalau tidak di kerasi, dia akan meremehkan masalah ini dan tidak menutup kemungkinan akan mengulanginya lagi." Kenzie menjawab acuh tak acuh dengan nada yang membosankan.


"Hati-hati, Abah tahu apa yang kamu maksud. Tapi jika kamu terlalu keras kepadanya, apakah kamu tidak takut dia akan meninggalkan kamu?"


Kenzie mengalihkan pandangannya dari buku di atas meja dan beralih menatap wajah Abah,"Dia tidak akan melakukannya. Bahkan jika dia ingin pergi, dia tidak akan bisa."


Abah lagi-lagi menggelengkan kepalanya tak berdaya. Dia tidak tahu rencana putranya tapi dia tahu bahwa putranya tidak pernah melakukan hal-hal yang negatif. Mungkin ini adalah salah satu pelajaran untuk Azira agar lebih patuh di masa depan.


"Terserah kamu saja. Pemuda zaman sekarang memang sangat sulit diatur." Gumam Abah sambil mengenang masa lalu.


Kenzie tersenyum geli,"Bukankah aku mempelajarinya dari Abah?"


...*****...


"Mas, cobain deh ini. Udangnya manis banget, masih segar. Mas Kenzie pasti suka." Azira dengan hati-hati menaruh udang saus tomat ke atas piring suaminya.


Kenzie hanya mengangguk ringan. Dia tidak menolak kebaikan Azira. Dan langsung membawa udang itu masuk ke dalam mulutnya.


Hati Azira langsung tenang. Karena setiap makanan yang dia kirimkan ke atas piring suaminya, langsung di lahap oleh suaminya tanpa ditolak.


Artinya walaupun Kenzie marah kepadanya, hatinya masih lembut. Sejak awal menikah Kenzie selalu seperti ini. Berpura-pura memasang wajah datar dan serius di depannya, padahal nyatanya dia berhati lembut.


"Mas Kenzie mau makan apa lagi?" Kali ini Azira mencoba metode yang lain.


Setelah melayani Kenzie, dia akan bertanya menu apa yang ingin dia makan. Dia melakukan ini agar Kenzie mau berbicara dengannya.


Tetapi sayang sekali Kenzie tidak menggubris pertanyaannya dan malah mengambilkan dirinya makanan sendiri.


Azira langsung jadi sedih. Namun dia tetap berusaha menjaga senyum di wajahnya.


"Jadi mas lebih suka makan tempe sambal, ya?" Azira mengambil sesendok besar tempe sambal dan menaruhnya di atas piring suaminya.


Kenzie dengan patuh makan makanannya tanpa mengeluarkan suara sejak awal duduk di kursi makan.


"Azira, kamu makan juga. Tidak perlu terus memperdulikan suami kamu. Dia sudah besar dan bisa mengambil makanan untuk dirinya sendiri." Kata Umi tidak tahan lagi.


Dia kasihan dengan menantunya. Dari tadi Azira telah berusaha untuk memenangkan hati Kenzie, tapi selalu diacuhkan sebanyak apapun dia berbicara.

__ADS_1


Gara-gara terlalu sibuk melayani Kenzie, makanan di atas piringnya tidak pernah disentuh.


"Tidak apa-apa, Umi. Aku senang melakukannya." Kata Azira malu.


Kemudian dia merasakan tatapan Kenzie. Menoleh,"Kenapa, mas?"


Kenzie menurunkan matanya menatap makanan yang ada di piring Azira. Nasi dan lauknya agak acak-acakan, tapi tidak berkurang karena Azira belum makan.


"Perhatikan dirimu sendiri." Kata Kenzie acuh tak acuh.


Pipi Azira langsung memanas. Seperti yang dia duga, Kenzie akan selalu memperhatikannya sekalipun mereka sedang tidak dalam hubungan yang baik.


Setelah suaminya mengingatkan, barulah Azira mau memakan makanannya.


"Iya, mas."


Sasa dan Mona saling memandang. Mereka kasihan melihat Azira dari tadi diabaikan Kenzie. Tapi mereka tidak berani berbicara. Takutnya Kenzie tersinggung. Mereka masih kapok saat disuruh mencuci piring di kantin dan membersihkan ruangan Kenzie. Jadi untuk keamanan, mereka berdua memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan Azira dulu.


Padahal sih mereka ingin sekali mengajak Azira nongkrong seperti terakhir kali.


Beberapa menit kemudian makan malam akhirnya berakhir. Abah dan Umi pergi ke halaman depan untuk mengobrol sementara Kenzie langsung naik ke lantai atas.


Melihat punggung suaminya pergi, Azira ingin sekali mengejar. Tapi dia masih ingat dengan pekerjaannya di bawah.


"Kakak naik aja ke kamar. Biar kami berdua yang membersihkan meja." Kata Sasa pengertian.


"Benar kak, di rumah aku sudah biasa menjadi babu jadi pekerjaan sepele ini serahkan saja kepadaku dan Sasa." Mona ikut-ikutan membujuk Azira agar segera naik ke lantai atas.


Awalnya Azira menolak. Tapi mereka berdua terus memaksa. Jadi lama-lama pertahanannya goyah dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul suaminya.


"Terima kasih. Kapan-kapan aku akan membuatkan kalian kue buatanku. Insya Allah rasanya enak." Azira berjanji.


Mona dan Sasa langsung bersemangat mendengarnya. Mereka berdua sudah tahu kalau masakan Azira itu enak dan tidak pernah mengecewakan lidah mereka.


Mengucapkan selamat tinggal kepada mereka berdua, dia naik ke lantai atas dengan jantung berdegup kencang. Dia sandal gugup tapi langkah kakinya tidak pernah melambat malah terkesan tergesa-gesa.


Dia ingin segera berbicara dengan suaminya dan meminta maaf untuk pertengkaran mereka beberapa saat yang lalu.


"Mas?" Azira masuk ke dalam kamar.


Suaminya tidak ada di sini. Tidak ada siapapun juga di meja kerjanya. Tersenyum pahit, dia tahu ke mana suaminya pergi. Pasti sekarang di sedang berada di perpustakaan untuk menghindarinya.


Wajah Azira cemberut. Dia menggigit bibirnya tertekan lagi-lagi menyalahkan diri sendiri.


Tak tahu harus berbuat apa, dia duduk di sofa menunggu suaminya kembali. Azira bukannya tidak ingin mencari suaminya ke perpustakaan, dia malah sangat ingin. Tapi Kenzie pernah mengatakan kepadanya agar jangan pernah datang ke perpustakaan. Soalnya itu adalah tempat yang sangat penting bagi Kenzie sebab berisi dokumen-dokumen para pasien. Itulah yang Kenzie katakan kepadanya. Benar atau tidaknya, dia tidak tahu.


Menunggu sendirian di kamar tak terasa sudah 1 jam berlalu. Azira melihat waktu di jam dinding. Hampir pukul 10.00 malam. Dia mendesah cemas. Mungkinkah malam ini Kenzie tidak datang tidur di kamar ini?


"Tidak, tidak, tidak, tidak! Mas Kenzie pasti akan kembali ke kamar." Azira menampik jauh-jauh pikiran tadi.


Dia yakin seyakin-yakinnya kalau Kenzie akan kembali.


"Sementara menunggu mas Kenzie kembali, aku akan mandi dulu." Mengambil baju tidur dari dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, orang yang dia tunggu-tunggu akhirnya masuk ke dalam kamar dengan tampilan wajah segar habis baru mandi. Dia melihat kamar kosong, lalu menangkap suara gemericik air dari arah kamar mandi.


Entah apa yang dia pikirkan, karena ketika dia melihat ke arah kamar mandi, matanya menunjukkan sesuatu...yang dalam.


Menghilangkan kepalanya, Kenzie lalu merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi menyamping membelakangi orang yang akan tidur di sampingnya nanti.


10 menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Azira keluar dengan tampilan baru. Lampu kamar telah dimatikan dan dia tahu suaminya sudah kembali. Wajah yang tadinya diliputi kecemasan akhirnya menunjukkan senyuman lagi. Dia mengambil langkah cepat ingin segera menemui Kenzie. Namun ketika dia benar-benar sampai di samping tempat tidur, dia hanya bisa berdiri terpaku memandangi punggung tegak Kenzie yang membelakanginya.


Hati Azira kembali cemas. Dia bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus begini terus?


Tapi Azira sama sekali tidak tahan dengan sikap diamnya Kenzie. Dia tidak mau diabaikan oleh suaminya.

__ADS_1


Memejamkan matanya, beberapa detik kemudian dia kembali membuka matanya dan membuat langkah besar. Dengan gugup dia naik ke atas kasur mendekati Kenzie.


"Mas Kenzie..." Panggil Azira kepada suaminya.


Kenzie diam tidak membalas.


Namun Azira tidak putus asa.


"Mas Kenzie jangan seperti ini, aku tidak suka diabaikan oleh mas Kenzie. Mas..."


Namun Kenzie masih tetap tidak meresponnya. Putus asa, dia langsung melemparkan dirinya ke atas tubuh Kenzie. Memeluk Kenzie dengan gaya gurita. Demi melakukan ini dia sampai rela menghilangkan rasa malu di dalam hatinya. Mau bagaimana lagi. Dia menyukai orang ini, dan dia tidak sadar sudah sampai ke titik ini. Titik di mana rasanya sangat tidak nyaman hanya gara-gara tidak diajak berbicara oleh Kenzie.


"Mas Kenzie...aku minta maaf, aku tahu bawa apa yang aku lakukan salah. Tolong maafkan aku, mas. Demi Allah, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku tidak akan keluar rumah lagi jika mas Kenzie tidak mengizinkan aku pergi. Aku tidak akan keluar komplek lagi jika mas Kenzie tidak bersamaku. Dan aku janji tidak akan meninggalkan mas Kenzie seperti waktu itu. Aku berjanji, mas. Demi Allah. Jadi aku mohon.. jangan abaikan aku lagi. Aku tidak suka mas Kenzie mengabaikan ku seperti beberapa hari ini. Aku sedih. Mas Kenzie...mas..." Azira memohon, meminta maaf dengan bersungguh-sungguh kepada suaminya.


Dia sangat menyesalinya dan mengakui semua kesalahannya kepada suaminya. Azira juga berjanji tidak akan mengulanginya lagi, berjanji akan selalu mempertimbangkan semua pendapat suaminya untuk beberapa situasi seperti yang dia jelaskan tadi.


"Aku minta maaf mas..." Air mata Azira mulai keluar.


Ini bukan air mata buaya. Tapi ini adalah air mata penyesalan.


Tiba-tiba sebuah usapan lembut Azira rasakan di atas kepalanya. Dia tertegun, sontak mengangkat kepalanya menatap langsung ke arah suaminya.


"Mas Kenzie..." Azira kembali terisak.


"Sekarang kamu menyadari kesalahan kamu?" Kenzie tidak langsung membalas permohonan maaf istrinya, melainkan memastikan terlebih dahulu apakah istrinya benar-benar menyesali semuanya.


Azira mengangguk dengan sungguh-sungguh.


"Aku menyadarinya dan aku sangat menyesalinya." Kata Azira menekankan.


"Apakah kamu tidak akan mengulanginya lagi?" Tanya Kenzie lagi kepada Azira.


Azira untuk yang kedua kalinya menganggukkan kepala dengan bersungguh-sungguh.


"Aku bersumpah atas nama Allah, aku tidak akan pernah mengulanginya, mas. Aku tidak berani." Kata Azira sangat yakin dan dengan nada yang serius.


"Bagaimana jika kamu mengulanginya?" Tanya Kenzie berpura-pura tidak yakin.


Azira merasa heran.


"Tidak mungkin, mas. Aku sudah bersumpah atas nama Allah, bagaimana mungkin aku mengulangi kesalahan itu?" Karena menyebut nama Allah, otomatis sumpah ini sangat serius dan Azira takut mengulangi kesalahan ini lagi.


Kenzie menggelengkan kepalanya tidak optimis.


"Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, mungkin malam ini kamu mengatakan tidak, tapi bagaimana jika kamu khilaf, atau bagaimana jika kamu terdesak dalam suatu situasi yang harus memaksa kamu melanggar sumpah itu sendiri?"


Azira tidak memikirkannya sampai sejauh ini. Dan tiba-tiba dia merasa malu karena suaminya telah berpikir jauh ke depan ketimbang dirinya. Inilah yang membedakan antara orang yang tinggi ilmunya dengan orang yang dangkal ilmunya.


Azira diam-diam mengagumi suaminya.


"Aku... Jika aku mengulanginya, lalu apakah mas Kenzie akan marah lagi?" Tanya Azira ragu-ragu.


Kenzie tersenyum simpul. Tangan besarnya bergerak turun dari atas puncak kepala Azira, perlahan menyusuri wajah cantik Azira yang mulai menumbuhkan daging, jari-jari panjangnya bergerak menyentuh mata, hidung, dan terakhir bibir merah dan ranum milik Azira.


Badan Azira langsung memanas. Dia merasa tubuhnya bereaksi aneh ketika merasakan sentuhan-sentuhan tangan suaminya di wajah. Terutama ketika jari-jari panjang suaminya mengelus sudut belahan bibirnya, tubuhnya langsung menjadi lemas.


"Azira, untuk situasi tertentu seperti yang aku jelaskan tadi mungkin aku tidak akan marah, tapi kamu tetap mendapatkan hukuman. Dan bila kamu mengulangi kesalahan ini tanpa situasi di atas, maka kamu akan mendapatkan dua hal dariku. Pertama, diam ku adalah amarahku. Dan kedua, hukuman khusus dariku." Tangannya lalu semakin turun, bergerak perlahan menyentuhkan kain jilbab Azira.


Terakhir kali Kenzie melihatnya membuka jilbab adalah di malam pernikahan mereka. Pada saat itu dia tidak sempat menikmati keindahan wajah Azira sebab situasi mereka benar-benar tidak cocok.


Tapi sekarang...


"Mas?" Jilbabnya tiba-tiba dibuka oleh Kenzie dan dilemparkan begitu saja entah ke mana.


Akhirnya keindahan yang selama ini tersembunyi kini terpampang jelas tepat di hadapan Kenzie. Rambut hitam dan panjang Azira tergerai dengan bebas jatuh dari bahu Azira, menampilkan sisi cantik Azira yang belum pernah Kenzie lihat sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2