
Tapi semua kata-kata yang diucapkan adalah kebenaran dari situasi saat ini yang membuat Azira semakin cemas dan lelah. Konsekuensi dari rencana jahat yang telah dia lakukan adalah hal ini, sakit tapi dia tidak menyesalinya karena melihat Humairah menangis terluka hari itu adalah kepuasan yang hanya bisa didapatkan sekali seumur hidup.
"Aku... Tidak marah. Inilah konsekuensi yang harusnya aku dapatkan dan aku tidak bisa mengeluh. Aku juga mengerti perasaan semua orang di rumah ini, Abah serta yang lainnya pasti kecewa karena aku menghancurkan pernikahan Humairah dan mas Kenzie. Aku tahu betapa kecewanya kalian dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan kekecewaan kalian terhadap pernikahan ini. Aku minta maaf kepada Abah dan lainnya karena aku telah melibatkan mas Kenzie ke dalam pernikahan ini. Dan aku juga meminta maaf sebesar-besarnya kepada kalian semua karena kecuranganku telah melukai martabat keluarga ini di hadapan banyak orang. Aku minta maaf. Selain ini, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi." Azira mengerti betul bahwa kesalahannya sangatlah besar dan melibatkan banyak orang.
Dia mengerti dan hanya bisa meminta maaf untuk itu.
"Jangan meminta maaf kepada kami, tapi meminta maaflah kepada putraku. Sebab putraku lah yang paling tersakiti di pernikahan ini. Dengan segala kebesaran hatinya Dia memutuskan untuk menerima pernikahan meskipun dia tahu bahwa Humairah juga tersakiti olehnya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Jika dia membatalkan pernikahan ini maka kamu juga akan tersakiti. Hatinya bimbang pada saat itu tapi akhirnya dia memilih untuk mempertahankan kecurangan mu. Azira Humaira, jika kamu benar-benar ingin meminta maaf kepada putraku maka dedikasikan hidupmu untuk putraku. Bayarlah harga yang telah putra ku korbankan kepadamu dengan bersungguh-sungguh di dalam pernikahan ini. Entah akan bertahan lama atau tidak, entah kamu akan diperlakukan baik atau tidak, dan entah kamu hidup bahagia atau tidak kamu harus mengikuti apapun yang dia inginkan. Terdengar kejam memang, tapi jika kamu benar-benar menyadarinya, kecuranganmu mungkin lebih kejam untuk hidupnya." Abah menyuarakan permintaannya kepada Azira.
Mempertahankan pernikahan ini dan mengikuti apapun yang diinginkan oleh Kenzie, terlepas sakit atau tidak, bahagia atau tidak, suka atau tidak, Azira harus menjalaninya dengan keseriusan. Lagi pula dia lah yang memulai, dan harganya begitu besar, jadi hutang yang dibayarkan pun sama besarnya.
"Aku mengerti Abah. Aku tidak akan melarikan diri dari pernikahan ini." Ujar Azira seraya memejamkan matanya menyembunyikan ketidakberdayaan di dalam hati.
Ini adalah sebuah permainan. Bila dia terlena dan jatuh cinta kepada bos, maka hidupnya akan game over. Karena untuk pernikahan ini, Kenzie tidak ingin bersungguh-sungguh melainkan hanya melampiaskan dendam saja.
"Baiklah, aku senang mendengar jaminan darimu." Abah menoleh melihat tangan Azira yang sudah lama tidak bergerak mengambil buah kelengkeng lagi. Sekilas dia tahu bahwa menantunya ini sangat menyukai buah kelengkeng.
"Makanlah buahnya. Kalau kamu tidak mau memakannya, buah ini akan sia-sia." Suruh Abah agar Azira segera memakannya.
Tertunduk lemah, dia menganggukkan kepalanya pelan di depan Abah.
"Iya Abah." Jawabnya tapi masih tidak bergerak menyentuh buah di sampingnya.
__ADS_1
"Abah.." Abah dan Azira sontak menoleh ke belakang.
Kenzie baru saja datang dengan nafas ngos-ngosan. Dia sepertinya baru saja berlari karena selain ngos-ngosan, ada keringat tipis di keningnya.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Mengatur nafasnya setenang mungkin, Kenzie lalu berjalan menghampiri mereka berdua dan tanpa canggung duduk di sebelah Azira. Karena sisi itu sempit, mereka berdua terpaksa berhimpitan. Azira sebenarnya tidak nyaman tapi tidak berani menggeser duduknya lebih dekat dengan Abah. Dia baru saja melihatnya tadi. Abah memiliki wajah yang lembut terlihat tidak menakutkan sama sekali. Tapi nyatanya dia adalah orang yang sangat kejam. Yah, seorang Ayah akan melakukan ini untuk anak-anaknya yang yang tersakiti. Dan dia bertanya-tanya langkah apa yang akan Ayah lakukan kepadanya setelah masalah ini.
"Abah sedang mengobrol dengan Azira sambil menikmati buah kelengkeng yang sudah susah payah kamu tanam. Abah perhatikan istrimu sangat menyukainya, jadi simpanlah beberapa buah untuk istrimu sebelum mengirimkannya ke keluarga yang lain." Kata Abah tanpa menunjukkan apa-apa diekspresinya.
Kenzie langsung tersenyum mendengarnya, kepalanya merendah menatap Azira, rasanya sangat tidak nyaman dengan jarak yang sedekat ini,"Apakah yang dibilang Abah itu benar?"
Azira tersenyum kaku dan menjawab tanpa berani menoleh ke samping untuk membalas tatapan Kenzie.
"Hahaha... Aku senang kamu menyukainya. Jika suka, ambillah lebih banyak dan bawa ke kamar kita. Tapi jangan makan terlalu banyak sekaligus karena ada efek samping." Suara tawanya menggelitiki telinga Azira. Pada saat yang sama dia merasa jika reaksi tubuhnya sedikit tidak benar. Tidak hanya telinganya yang terasa panas, tapi juga pipinya pun mulai menghangat dan terasa membengkak.
Reaksi ini menakutkan. Padahal Kenzie cuma tertawa biasa tapi tubuhnya merespon terlalu berlebihan.
"Yah... Kalau begitu aku akan membuat kopi di dapur dulu." Akhirnya Azira punya alasan untuk pergi dari sini. Dia tidak tahan duduk di tempat yang sama dengan Kenzie.
Tidak, dia tidak jijik tapi lebih ke arah Canggu karena mereka duduk berhimpitan.
Saat akan bangun, lengan Azira tiba-tiba dipegang oleh Kenzie.
__ADS_1
"Tidak usah pergi. Aku tidak suka minum kopi dan kesehatan Abah tidak baik jadi dia tidak boleh minum kopi." Kata Kenzie menghentikan Azira.
Tertegun, mata Azira perlahan beralih melihat cangkir kopi yang sudah tersisa setengah karena diminum terus-menerus oleh Abah saat mereka mengobrol tadi. Dia bertanya-tanya, apakah Kenzie berpura-pura bodoh atau memang benar tidak melihat cangkir kopi Abah di atas meja?
Kemungkinan besar.... Kenzie sebenarnya melihat cangkir kopi itu tapi berpura-pura tidak melihat.
"Ekhem!" Tangan Abah terulur mengambil cangkir kopinya dari atas meja dan memegangnya dengan kedua tangan seolah mengatakan dia tidak akan melepaskan kopi ini.
Lucunya, Abah terlihat malu karena ketahuan minum kopi.
"Ini adalah kecelakaan, Abah. Lain kali Abah tidak boleh minum kopi lagi atau aku akan memusnahkan semua kopi yang Abah sembunyikan." Kata Kenzie dengan nada serius.
Perihal kesehatan keluarganya, dia tidak pernah bermain-main. Bahkan Abah saja dibuat takut olehnya karena ini pernah kejadian sebelumnya. Karena terlalu sering minum kopi, Kenzie membuang semua kopi milik Abah dan tidak pernah mengizinkannya minum kopi lagi. Itu adalah sebuah siksaan. Setelah kejadian itu Abah lalu berjanji dengan Kenzie untuk menahan diri minum kopi agar semua kopi simpanannya terselamatkan.
"Abah cuma minum satu cangkir." Abah menjelaskan dengan serius.
Kenzie menggelengkan kepalanya,"Abah juga minum kopi kemarin. Harusnya Abah minum kopi tiga kali seminggu, tapi kenapa Abah minum dua hari berturut-turut?"
Abah merasa tidak nyaman digurui oleh putranya di depan menantunya sendiri.
"Baiklah ini yang terakhir. Kalian berbicaralah, aku akan pergi mencari Umimu di rumah Paman Jafar." Setelah itu Abah langsung pergi dengan cangkir kopi di tangannya.
__ADS_1