
"Umi jangan terlalu khawatir. Hari ini Azira aku yang jaga. Mumpung aku belum aktif bekerja di kantor, aku akan membawa Azira jalan-jalan di perusahaan kita. Tidak hanya jalan-jalan saja di perusahaan, tapi aku juga berencana membawa Azira melihat beberapa toko pakaian. Bila Umi menginginkan sesuatu bilang saja ke aku, nanti aku sama Azira beliin." Kenzie dengan sigap mengatakan kepada Umi bahwa hari ini dia akan berada di luar seharian full. Jadi Umi tidak memiliki peluang membawa mereka ke tempat arisan.
Hehe...
Tempat arisan adalah salah satu tempat yang selalu dihindari oleh Kenzie. Entah dulu ataupun sekarang dia tidak pernah mau pergi ke sana setelah dibawa sekali oleh Umi beberapa tahun yang lalu. Pasalnya tempat itu adalah tempat berkumpulnya ibu-ibu yang suka ghibah. Mereka seperti orang-orang yang kurang kerjaan. Dan anehnya lagi Umi sangat senang berkumpul bersama mereka.
"Jangan kamu ajak jalan-jalan terus. Banyakin istirahat. Kamu kan pernah jadi dokter, pasti ngertilah kalau awal-awal Azira nggak boleh terlalu banyak gerak. Udah, habis dari perusahaan kalian berdua langsung pulang ke rumah. Umi nggak mau kalian keluyuran ke mana-mana. Kasian Azira nya nanti kecapean." Ujar Umi melarang.
Umi tidak butuh yang lain selama menantunya pulang dengan selamat di rumah, baginya itu sudah menjadi hadiah yang baik. Bayangkan saja ini adalah cucu pertamanya, setelah sekian lama merindukan cucu orang lain, akhirnya Allah memberikannya kesempatan untuk memiliki cucu, karena itu dia ingin menjaganya baik-baik hingga anak itu lahir suatu hari nanti. Makanya Umi selalu jaga-jaga kalau Azira mau pergi ke mana atau ada kegiatan lain.
"Iya, mas. Hari ini kita jangan terlalu banyak kegiatan soalnya aku juga mau ngajak Mona sama Sasa buat rujak di rumah. Jadi habis dari kantor kita langsung ke rumah ya?" Azira ingin sekali bertemu dengan Mona.
Tentu saja Kenzie dapat melihat apa yang dipikirkan istrinya saat ini. Gara-gara pembicaraan semalam istrinya sering memikirkan Mona. Dia mengerti.
"Baiklah, jika kamu maunya pulang ke rumah langsung, nanti di jalan kita sempetin turun untuk beli buah. Tadi aku lihat buah-buahan yang ada di dalam kulkas kayaknya sudah menipis."
Semua buah-buahan itu lebih banyak dikonsumsi oleh Azira. Setelah hamil Azira memang penggila buah. Mau pagi, siang, sore dan malam dia harus makan buah. Dan setiap kali makan biasanya dia makan paling sedikit tiga buah. Dan kalau nafsu makan lagi bagus dia pasti bisa makan sampai 5 buah sekali waktu.
Semua orang khawatir melihatnya makan seperti ini dan membujuknya untuk mengurangi makan buah-buahan. Sebab kalau terlalu banyak makan buah-buahan, tidak ada tempat untuk makanan yang lain misalnya seperti nasi. Azira juga tahu. Tapi dia tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk tidak meratapi buah.
Mungkin anak yang ada di dalam perutnya tahu bahwa dulu Ibunya jarang makan buah-buahan. Kalaupun makan, buah yang dimakan sebatas buah murah yang dijual di pinggir jalan. Belum tentu segar dan tidak terlalu manis.
"Beli saja stok untuk 2 hari. Nanti kalau buahnya sudah habis, kita tinggal beli lagi." Kata Umi sambil lalu balik ke dalam meninggalkan Kenzie dan Azira di taman berdua.
Mungkin karena suasananya mendukung dan langit sangat cerah hari ini membuat nafsu makan Azira melambung. Dia menghabiskan nasi goreng dan bubur sendirian sementara Kenzie hanya makan roti tawar tanpa apa-apa dan segelas air putih tentunya. Sepanjang sarapan matanya sesekali akan memperhatikan Azira. Jika Azira terlihat risih atau malu, Dia buru-buru memalingkan wajahnya berpura-pura serius makan sarapannya sendiri. Hal ini berulang kali terjadi sampai akhirnya Azira berhasil menyelesaikan sarapannya.
"Kamu sudah kenyang?" Kenzie tersenyum melihat piring yang bersih dan mangkok yang lengket bekas bubur.
Azira mengikuti ke mana mata suaminya memandang. Sontak dia merasa malu karena menghabiskan hampir semua sarapan sendirian.
"Aku sudah kenyang, mas. Mas Kenzie mau di ambilin makanan nggak?"
Azira kira suaminya belum penuh. Memangnya siapa yang bisa kenyang dengan sepotong roti?
Apalagi untuk ukuran seorang laki-laki. Menurut pemahaman Azira laki-laki makannya banyak, dan makan sepotong roti sungguh jauh dari kenyang. Dia sendiri saja yang wanita tidak merasa kenyang bila makan roti saja apalagi seorang laki-laki yang membutuhkan tenaga besar untuk beraktivitas.
"Enggak, aku cukup. Siap-siap sekarang?" Kenzie melihat waktu di ponselnya.
Sebentar lagi jam 08.00. cukup siang untuk pergi ke kantor. Tapi berhubung dia adalah bosnya, maka sah-sah saja dia datang sedikit terlambat.
"Okay."
Azira bangun untuk membereskan bekas sarapan mereka. Tapi bi Imah buru-buru datang dari luar. Dia langsung mengambil alih pekerjaan dan membiarkan pasangan suami istri itu masuk ke dalam rumah.
Sebelum berangkat ke kantor mereka berdua menyempatkan diri untuk salat Dhuha. Di rumah ini beberapa ibadah sunnah memang rajin dilakukan. Tapi khususnya untuk salat Dhuha, semua orang di rumah ini menjalankan tiga kali seminggu karena sholat Dhuha haram dilakukan setiap hari.
Shalat dhuha merupakan satu dari sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
__ADS_1
Sebagaimana amalan sunah lainnya, shalat dhuha baik apabila diamalkan namun tidak berdosa apabila ditinggalkan. Dalam artiannya shalat duha tidak wajib dilaksanakan sebagaimana dengan amalan sunah-sunah lainnya. Di sisi lain, ada pandangan bahwa salat dhuha sebaiknya tidak dilakukan setiap hari. Pandangan mengenai salat dhuha tidak boleh dilakukan setiap hari berdasar pada hadis riwayat Muslim, yaitu:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَتْ: لَا إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ
Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu melaksanakan shalat dhuha?”, ‘Aisyah menjawab, “Tidak, kecuali beliau baru tiba dari perjalanannya.” [HR. Muslim]
Berdasarkan hadis tersebut, Nabi Muhammad dan para sahabat memang melakukan salat dhuha, namun tidak secara rutin. Pengamalan salat dhuha yang dilakukan jarang-jarang, juga diriwayatkan dalam hadis al-Hakim, bahwa, "Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu shalat dhuha sehingga kami mengatakan beliau tidak akan meninggalkannya, dan beliau itu meninggalkannya sehingga kami mengatakan beliau tidak akan melakukannya.”
Namun ada beberapa pendapat ulama yang mengatakan bahwa shalat Dhuha bisa di rutinkan setiap hari atau diperbolehkan. Kan saya tidak bisa menyebutkan beberapa pendapat ulama tersebut karena dia lebih condong kepada keyakinan bahwa salat dhuha tidak boleh dikerjakan setiap hari karena itu bukan amalan wajib. Makanya keluarga mereka hanya melaksanakan shalat duha 3 kali seminggu. Terserah hari apapun itu yang penting dalam seminggu mereka bisa mengerjakannya 3 atau 4 kali tapi paling sering 3 kali. Dan itupun rutin mereka lakukan setiap minggu sehingga amalan ini tidak terputus.
Walaupun keluarga mereka tidak berasal dari keluarga yang taat beragama dan memiliki latar belakang orang yang paham agama, namun mereka sebagai hamba Allah tetap berusaha keras untuk memperbaiki diri. Berusaha menjalankan amalan-amalan yang dapat menyenangkan Allah sehingga mereka tidak terputus dari pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala.
Setelah selesai shalat Dhuha, mereka berdua berkembang dan langsung pergi menuju perusahaan. Karena tempat tinggal Kenzie tepat di pusat kota, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke perusahaan. Kebetulan perusahaan keluarga mereka berada di tengah-tengah pusat kota. Berdiri bahu membahu dengan perusahaan tinggi lainnya.
Perusahaan keluarga mereka tidak bisa dikatakan luar biasa, atau menduduki peringkat satu di negeri ini. Tidak, perusahaan mereka masih muda tapi memiliki prestasi gemilang daripada perusahaan-perusahaan lainnya. Walaupun tidak menduduki peringkat pertama namun masuk dalam kategori salah satu perusahaan hebat di dalam negeri. Perusahaan mereka berorientasi pada bisnis pembangunan, pertanahan, dan properti yang tersebar luas di mana-mana.
Ketiga bisnis ini sangat menjanjikan karena mengikuti arah perkembangan zaman. Semakin maju zaman maka semakin berkembang pula bisnis perusahaan mereka. Karena itu para pesaing bisnis memandang Abah dengan kagum karena berpandangan jauh ke depan.
"Ini perusahaan kita, mas?" Azira meregangkan lehernya menatap bangunan perusahaan yang menjulang tinggi tepat di depan matanya.
Dulu hal luar biasa ini hanya bisa dia lihat di tv-tv saja. Dia jarang menyaksikannya langsung di depan mata karena jarang keluar rumah.
"Iya, ini adalah perusahaan kita. Abah luar biasa kan bisa menumbuhkan perusahaan sebesar ini dengan ribuan karyawan di dalamnya?" Nada Kenzie penuh kebanggaan di depan istrinya.
Kenzie pribadi sangat mengagumi Abah sendiri. Keluarganya dulu sering bilang kalau Abah adalah orang yang pemberani. Dia mampu berdiri di luar dan mencoba untuk bangun, melakukan sebuah bisnis padahal di keluarga mereka jarang ada yang keluar untuk berbisnis. Mereka lebih condong belajar ilmu kedokteran. Karena itulah di keluarga manapun akan selalu ditemukan beberapa anggota menjadi ahli medis.
Tentu saja Kenzie melakukan itu demi mempersiapkan dirinya bila keluar dari rumah sakit suatu hari nanti. Artinya dia sudah lama berencana untuk bergabung dengan Abah. Dia tidak memiliki niat sedikitpun bertahan di dunia medis.
Tapi tidak apa-apa pikirnya. Belajar medis juga ada gunanya. Jika dia tidak bisa memanfaatkannya di rumah sakit, maka dia bisa menggunakannya untuk keluarganya di rumah. Sehingga keluarganya tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit untuk mencari dokter.
"Masya Allah, Abah sangat luar biasa, hebat! Sekarang aku paham kenapa Umi selama ini maksa-maksa mas Kenzie untuk bekerja di perusahaan. Hasil kerja keras Abah memang sangat mengagumkan, dan orang yang harus mengambil alih selanjutnya setelah Abah adalah mas Kenzie ataupun Sasa. Selain kalian berdua, kerja keras Abah akan sia-sia jika jatuh ke tangan orang lain." Gumam Azira menyimpulkan.
Ini adalah harta karun!
Orang akan mudah tergoda dengan harta karun ini. Makanya Umi selalu was-was dengan masa depan perusahaan ini. Umi bukanlah orang yang penuh materi, dia tidak terlalu memikirkan harta. Yang Umi khawatirkan adalah kerja keras Abah.
Sebab Umi melihat sendiri melihat dengan kedua matanya langsung bagaimana Abah bekerja keras membangun perusahaan ini langkah demi langkah dengan peluh yang tak berhenti mengalir.
Hati Umi akan hancur bila hasil jerih payah suaminya jatuh ke tangan orang lain, dia tidak ridho. Dia tidak ridho, suaminya bekerja keras untuk membangun perusahaan demi anak-anaknya di masa depan, tapi orang lain yang berakhir mengambilnya?
Jika itu terjadi, mungkin Umi akan pingsan sangking marahnya.
"Benar, sebagai seorang anak aku mengerti betapa keras Abah bekerja untuk membangun perusahaan ini. Makanya aku bercita-cita ingin sekolah bisnis untuk melanjutkan perjuangan Abah. Selain itu Sasa tidak mungkin terjun ke dunia ini. Bukan karena aku tidak mengizinkan atau karena Sasa tidak mau, tapi karena Abah yang tidak meridhoi. Bagi Abah Sasa adalah permatanya, dan sebuah permata selayaknya disembunyikan dan tidak dipamerkan. Oleh karena itu Abah selalu bilang kepada Sasa untuk jangan bermimpi menjadi seorang wanita karir sebab dia adalah harta untuk Abah dan harta pula untuk suaminya kelak. Kalau mau bekerja, Iya belajar saja mengurus rumah. Entah belajar memasak, mencuci, menyapu, Sasa harus mempelajarinya. Pekerjaan ini lebih mulia daripada harus keluar rumah dan bertemu dengan banyak lawan jenis. Um, yang Abah ingin jaga itu hati Sasa. Abah tahu bahwa dunia luar cukup menyeramkan untuk seorang wanita, apalagi wanita yang sudah menikah. Abah tidak ingin bila suatu hari Sasa menikah, lalu dia menjadi wanita karir, kecil kemungkinan pernikahan Sasa dan suaminya akan baik-baik saja karena setan akan selalu punya cara untuk menghancurkan bahtera rumah tangga mereka. Contohnya Sasa tergoda dengan laki-laki yang dia temui di luar, naudzubillah... Kami semua tidak ingin ini terjadi. Dan alhamdulillah nya, Sasa mengerti kekhawatiran Abah dan tidak mau ambil pusing. Karena dia tidak bisa bekerja, maka dia tidak akan bekerja."
Kenzie menjelaskan secara singkat bahwa perusahaan ini mau tidak mau akan diwariskan kepadanya dan Sasa tidak diperbolehkan untuk bekerja di sini ataupun di tempat lain. Ini murni kekhawatiran Abah terhadap permata hatinya.
"Abah selalu berpikir jauh ke depan. Tapi kenapa Ayana dan yang lainnya diizinkan bekerja?" Tanya Azira ingin tahu.
__ADS_1
Kenzie terkekeh. Tangan besarnya mengusap puncak kepala istrinya sayang.
"Sayang, Ayana dan yang lainnya tidak termasuk dalam lingkup keluarga kita. Maksudku, dia bukan tanggungan Abah jadi itu terserah mereka jika ingin bekerja di luar rumah. Lagi pula setiap rumah memiliki aturannya sendiri. Jika di rumah Abah tidak mengizinkan seorang wanita menjadi wanita karir, maka di luar rumah kita kepala keluarganya mungkin mengizinkan putri-putrinya memilih masa depan masing-masing. Seperti Ayana yang kita tahu menjadi dokter anak. Tapi kayaknya si Mona maunya ngikutin di jejak Sasa. Dia sama Sasa memang rada mirip, maksudnya sama-sama malas jadi enggak heran kalau suatu hari nanti mereka berdua jadi Ibu rumah tangga sedangkan teman-teman mereka sudah menjadi wanita karir." Ucap Kenzie sambil terkekeh.
Azira juga ikut tertawa membayangkan kedua adik-adiknya sibuk berkutat di dapur dan sesekali membereskan rumah. Padahal mereka berdua orangnya...ya rada-rada enggan bekerja, bukan malas ya tapi 'enggan' bekerja.
"Nah, coba lihat deh gedung yang ada di sebelah timur." Suaminya lalu menunjuk sebuah gedung kecil yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
Gedungnya cukup kecil dibandingkan dengan perusahaan mereka. Dan karena posisinya agak ke timur, gedung ini sedikit tidak mencolok. Apalagi di bayangi oleh gedung tinggi-tinggi di depan mereka, gedung kecil itu sepertinya lebih tidak mencolok lagi.
"Yang warna hitam putih, mas?" Azira mengikuti ke mana arah suaminya menunjuk.
Kenzie mengangguk.
"Kamu bisa melihatnya dengan jelas, kan?"
"Iya, gedung itu lebih kecil dibandingkan punya kita, memangnya kenapa, mas?" Tanya Azira penasaran.
"Nah, gedung yang kamu lihat itu adalah perusahaan Ayah kamu yang berbisnis di bidang properti. Sejujurnya bisnis Ayah kamu lebih dulu didirikan oleh kakek dan nenek kamu, tapi karena sering mengalami kendala, bisnis mereka tidak tumbuh sepesat Abah." Jelas Kenzie menerangkan sambil menatap wajah istrinya hati-hati.
Mendengar bahwa itu adalah perusahaan Ayah, dia tampak sangat terkejut. Menurutnya Ayah sangat kaya raya. Kesannya semakin dalam ketika tinggal di rumah Ayah dulu. Rumah Ayah jauh lebih besar dan glamor daripada rumah Kenzie. Pembantunya lebih dari 4 orang dan makanan yang mereka makan cukup berkelas. Dibandingkan dengan rumah suaminya yang sederhana dan makan apa adanya, dia selalu berpikir bahwa Ayah adalah orang yang sangat kaya. Tapi melihat gedung yang tidak jauh darinya ini, pikirannya tiba-tiba tersesat.
"Mungkinkah kekayaan yang Ayah maksud ini?" Gumamnya kosong.
Kenzie bingung,"Hah?"
Azira masih tenggelam di dalam pikirannya.
"Ayah dulu selalu takut melihat aku dan Ibu datang. Mereka menjuluki kami sebagai penghisap darah, siap menguras harta mereka kapan saja. Bahkan keluarga Ayah menuduh Ibu sengaja memanjat ranjang Ayah agar bisa mendapatkan tempat di rumah mereka. Memalukan. Aku kira kekayaan yang mereka takut kami ambil sangat besar, tapi ternyata tidak sebanyak yang aku pikirkan." Lanjut Azira bergumam, mirisnya.
Kenzie merasakan hatinya ngilu, ada kemarahan dan kesedihan yang bercampur di dalam hati. Entah apakah karena di naif atau apa, tapi saat ini di dalam hati muncul sebuah pertanyaan apakah Ayah masih manusia?
Bila dia adalah manusia, lalu ke mana hati nuraninya tersimpan?
Bahkan hewan buas pun tidak akan memakan anaknya, tapi mengapa Ayah berlaku sejahat itu kepada Ibu dan Azira?
Tidak adakah setitik rasa belas kasihan di dalam hati?
"Apakah kamu merasakan kebencian terhadap keluarga itu?" Tanya Kenzie dengan suara rendah.
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Azira langsung tersadar. Dia menatap gedung kecil itu, lalu beberapa detik kemudian menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak membenci mereka hanya saja dia tidak bisa melupakan bagaimana cara mereka memperlakukannya dengan Ibu. Mungkin kebenciannya sudah terbayarkan pada hari di mana dia menghancurkan kebahagiaan Humairah, tapi dia sungguh tidak berbohong bahwa hatinya masih sakit mengingat masa lalu.
"Tidak, mungkin kebencian yang kurasakan dulu sudah terbayarkan pada hari dimana aku menghancurkan pernikahan mas Kenzie dengan Humairah." Jawab Azira bercanda.
Kenzie mendengus tidak senang mendengarnya.
"Istriku, perbaiki apa yang kamu katakan. Kamu tidak pernah menghancurkan pernikahanku dengan dia, tapi kamu malah menyelamatkanku dari dia. Jika bukan karena sebuah perjodohan, aku tidak mungkin berniat menikahinya. Tapi syukurlah Allah menyelamatkanku melewati kamu, tunanganku yang sebenarnya dan kini menjadi istriku terkasih. Lalu kabar baiknya beberapa bulan lagi kamu akan memiliki gelar seorang Ibu, bukankah ini anugerah dari Allah subhanahu wa ta'ala untuk kita berdua?"
__ADS_1