
Wajah pucat itu termenung, tampak sedang berpikir serius. Tak berselang lama, bibir pucat tanpa sentuhan warna itu perlahan menarik garis senyuman. Dengan senyuman itu, dia semakin terlihat menyedihkan. Tubuh yang rapuh kini mengundang banyak simpati yang mengiris jiwa. Mereka yang mencintainya bak perhiasan berharga tidak bisa menahan diri untuk mengulurkan cakar-cakar mereka, berharap bila cakar-cakar mereka dapat menjangkau Azira jauh di sana untuk membalaskan rasa sakit yang diderita oleh Humairah.
"Ma... Aku sangat senang mendengarnya. Kalau begitu maukah Mama memanggil Kenzie ke sini? Aku.... Aku sangat merindukannya. Aku ingin berbicara banyak hal kepadanya... Membicarakan tentang pernikahan kami selanjutnya... Aku kangen dia, Ma. Aku merasa bila... Hidupku tidak berarti apa-apa tanpanya. Jadi untuk apa aku hidup lagi, Ma?"
"Humairah!" Mama sangat ketakutan.
Dia menarik tubuh ringkih Humairah ke dalam pelukan. Memeluk Humairah seerat mungkin seolah dia akan menghilang jika dia tidak memegangnya dengan benar.
__ADS_1
"Jangan katakan itu, Nak. Kamu harus hidup! Kamu harus hidup dan terus bertahan. Demi Mama, demi Ayah kamu yang telah berjuang, dan demi semua orang di keluarga kita mencintai kamu. Kamu harus hidup demi keluarga kita. Dan ada Kenzie juga. Jika kamu pergi, makasih apa yang akan bersama Kenzie di dunia ini? Dia pasti sangat sedih kehilangan kamu. Maka dari itu bertahan lah dan sembuh secepat mungkin agar kamu bisa memberikan Azira pelajaran untuk semua yang dia lakukan kepada kamu dan keluarga kita. Tidakkah kamu ingin bertemu Kenzie? Mama akan segera menelponnya Mama minta dia untuk datang ke rumah agar kamu tidak kesepian." Di baris terakhir Mama berjanji dengan percaya diri bahwa dia mungkin bisa mengundang Kenzie ke rumah.
Nyatanya, sejak kejadian itu kan saya tak pernah menghubungi mereka ataupun sekedar menanyakan kabar Humaira yang sedang sakit saja tidak. Dalam waktu 1 hari, Kenzie menguap entah ke mana dan tidak pernah menampakan diri di rumah ini lagi. Membuat semua orang kecewa dan marah pada saat yang sama, mereka lupa bahwa Kenzie sendirilah yang menghilang dan menolak untuk datang. Mereka lupa dan menyalahkan semuanya kepada Azira.
"Aku akan terus hidup selama mas Kenzie tidak meninggalkan aku." Janji Humairah di dalam pelukan Mama.
"Dan Azira... Aku sangat membencinya, Ma. Dia telah menghancurkan kehidupan ku, menghancurkan pernikahanku dengan mas Kenzie, dan merampas posisiku sebagai istri mas Kenzie. Aku benar-benar marah kepadanya, Aku sangat membencinya..."
__ADS_1
...*****...
"Humaira masih sangat sedih. Dia tadi nggak mau makan tapi untungnya masih bisa dibujuk. Aku.... Sangat lelah dan sakit melihat putriku seperti ini. Dan ini semua terjadi karena anak haram itu!" Mama datang ke ruang makan dengan marah-marah sambil membanting nampan di tangannya ke lantai.
Melihat kemarahan Mama, Ayah tidak berani bersuara dan memilih memalingkan wajah menatap ke arah lain.
"Mbak berpikirlah yang jernih. Azira bukanlah anak haram terlepas apapun salahnya. Dia adalah putri sah kakakku juga." Bibi Sifa menunduk mengambil nampan di lantai dan memerintahkan salah satu pelayan segera membersihkan lantai yang kotor.
__ADS_1