Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 27.7


__ADS_3

Memberikan yang terbaik kepada istrinya. Kenzie percaya Allah akan membalasnya dengan menjaga keutuhan rumah tangganya dengan Azira hingga ke Jannah kelak.


"Mas Kenzie..." Azira terharu.


"Kenapa-" Ucapan Kenzie terpotong oleh teriakan tidak sabar Umi.


"Mau sampai kapan kalian begini terus?" Teriak Umi jengkel melihat perilaku pasangan suami istri itu.


Umi merasa heran melihat pasangan suami istri itu karena bisa-bisanya bermesraan di tempat umum. Sudah begitu, mereka berdua seolah lupa tempat karena tidak menghiraukan kata-kata orang di sekeliling. Padahal perilaku mereka berdua telah menjadi bahan tontonan sejak tadi. Berisik karena mereka berdua menjadi bahan perhatian-hati tapi orang yang digosipkan sama sekali tidak peka. Karena kesal akhirnya Umi terpaksa meneriaki mereka berdua agar segera menyudahi acara pagi manis mereka berdua.


"Mas.." Azira spontan menekan wajah suaminya menjauh.


Tindakan ini segera mengundang tawa dari orang-orang yang sedari tadi menonton mereka.


Azira malu. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.


"Okay, tidak apa-apa. Mereka melihat kita karena mereka sebenarnya cemburu kepada kita berdua." Kata Kenzie acuh tak acuh tidak terlalu memperhatikan orang-orang itu.


Azira memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Berhenti bicara, ayo pergi sebelum Umi lebih marah sama kita." Azira menarik tangan Kenzie menghampiri Umi.


Kenzie nurut saja ditarik pergi oleh istrinya. Mata hitamnya yang gelap melirik tangan mereka berdua, tersenyum, mengeratkan genggaman tangan mereka berdua agar jangan pernah terlepas.


...*****...


Pada akhirnya Kenzie tetap membutuhkan bimbingan Abah dan Umi saat memasak rendang. Dia tak mengizinkan mereka berdua untuk bekerja melainkan meminta instruksi dari mereka berdua. Demi memuaskan ngidam istrinya hari ini Kenzie bekerja keras sampai-sampai melupakan waktu bekerja di dapur.


Awalnya Azira tertawa melihat kelucuan suaminya saat bekerja di dapur. Tapi lama-lama dia merasa kasihan karena suaminya sangat bekerja keras. Keras kepala, suaminya ingin mengerjakan semuanya sendirian.


Azira telah memintanya untuk berhenti bekerja karena dia tidak ingin makan rendang lagi. Tapi Kenzie tidak mau mendengarkan karena dia tahu bila Azira sedang berbohong.


Dengan gugup, Kenzie menyajikan rendang hangat dan nasi putih untuk istrinya di meja makan. Tak ada siapapun selain mereka berdua di ruang makan karena Abah dan Umi sedang nongkrong di halaman depan sambil memberi ikan makan.


"Hum.." Azira menghirup wangi masakan suaminya, rasa rasanya enak dan tidak ada bau yang mencurigakan.


"Bagaimana?" Kenzie bertanya gugup.


Azira mengangguk kecil.

__ADS_1


"Wangi, tidak ada bedanya dengan rendang yang Umi buat." Kata Azira memuji.


Kenzie tersenyum bangga.


"Iya dong, aku kan satu turunan sama Umi."


Azira menggelengkan kepalanya. Mengambil garpu dan membawa potongan daging empuk ke dalam mulutnya.


"Bagaimana? Enak?" Kenzie mengantisipasi.


Azira masih mengunyah. Awalnya baik-baik saja tapi lama-lama dikunyah Azira menyadari bahwa rasanya berbeda dengan rendang yang pernah dia makan. Bukannya tidak enak, masih bisa dimakan malah, tapi agak jauh dari rasa rendang.


"Enak, tapi rasanya sedikit berbeda dari yang aku tahu." Azira menilai.


Hati Kenzie tidak tenang.


"Benarkah?" Dia mengambil garpu Azira dan memasukkan sepotong daging empuk ke dalam mulutnya.


Setelah memakannya barulah dia tahu apa yang dimaksud oleh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2