
"Nah, sudah selesai." Dia tersenyum puas melihat halaman yang tadinya berdebu kini sudah bersih dan basah setelah disiram air.
Mulai dari menyapu, menanam daun-daun mati, hingga menyiram tanaman semuanya sudah dikerjakan oleh Azira sore ini. Suaminya bilang tak perlu terlalu sering menyiram halaman ini karena tidak semua tumbuhan mampu menerima banyak asupan air. Maka dari itu suaminya mengatur jadwal agar dia menyiram tanaman dua hari sekali dan kebetulan hari ini adalah jadwalnya.
Azira mengecek pohon buah-buahan suaminya. Pohon kelengkeng sudah dipetik semua buahnya dan kaya Kenzie sebentar lagi akan berbunga kembali. Lalu dia mengecek pohon pir di sebelah kanan, masih belum ada perubahan. Kemudian berpindah melihat pohon anggur yang mulai berbunga, dia tidak tahu anggur apa ini tapi Sasa bilang ini anggur manis, pasti rasanya enak. Selanjutnya dia berjalan mengitari pohon delima yang sudah memiliki banyak buah tapi masih kecil-kecil. Sasa bilang ini delima merah, memiliki rasa manis dan menyegarkan. Kenzie suka makan delima.
"Astaghfirullah, aku kenapa aku tidak melihat rumput di sini tumbuh besar? Jika dibiarkan terus nutrisi tanaman mas Kenzie akan terganggu. Harus segera dipotong." Azira mengambil gunting rumput dan mulai bekerja memotong rumput.
Dia tak menyadari bila semua gerak geriknya dipantau oleh seseorang. Sampai akhirnya seseorang itu datang lalu menepuk pundak Azira, barulah Azira menyadari bahwa ada seseorang di sini.
"Frida, apakah kamu butuh bantuan?" Tanya Azira berusaha tersenyum seramah mungkin.
Frida tersenyum manis. Menyeret kursi plastik entah dari mana dan duduk di atasnya. Dia menatap Azira di bawah dengan ekspresi tersamarkan.
Masalahnya Azira sama sekali tidak mempermasalahkan sikap acuh Frida yang lebih memilih duduk di atas daripada bergabung dengannya berjongkok di tanah.
"Boleh aku bergabung?"
"Boleh." Kemudian Azira melanjutkan pekerjaannya memotong rumput.
"Kenapa kamu masih tinggal di rumah ini? Maksudku...apa yang telah kamu lakukan kepada kak Kenzie, semua orang sudah mengetahuinya. Dengan kata lain keberadaan kamu di rumah ini tidak dibutuhkan, jadi kenapa kamu masih tinggal di sini?"
Tangan Azira yang memotong rumput berhenti. Sejak awal dia bertanya-tanya kenapa Frida selalu menatapnya aneh, meskipun tersenyum, tapi Azira tahu senyumnya tidak tulus. Dia sempat berpikir bahwa itu mungkin karena Frida masih belum menerima hubungannya dengan Kenzie karena 90 persen keluarga Kenzie memiliki reaksi penolakan ini. Tapi sepertinya itu tidak sesederhana yang dia pikirkan karena reaksi 'penolakan" semua orang berbeda dengan 'penolakan' Frida. Apa bedanya?
"Ini adalah urusan rumah tanggaku bersama mas Kenzie. Bukan hal mu untuk ikut campur." Azira menjawab acuh tak acuh dan tidak perlu berpura-pura ramah lagi.
"Kamu bilang apa?" Frida tak terima,"Heh, asal kamu tahu, yah, hubungan ku dengan kak Kenzie jauh lebih dalam daripada hubungan kamu dengannya. Memangnya kamu ini siapa untuknya, kamu bukan orang penting. Kamu adalah wanita liar yang merebut pernikahan adik kamu sendiri. Oh, aku juga mendengar kalau kamu berasal dari tempat kotor dan dibesarkan dengan cara kotor pula. Jadi enggak heran melihat kamu bisa bertindak kasar merebut pernikahan adik kamu sendiri. Hanya saja, dengan tubuh kotor dan asal muasal dirimu yang kotor, ku rasa kamu enggak pantas dekat dengan kak Kenzie apalagi tinggal di rumah ini-"
"Frida!" Teriak Umi marah dari belakang.
Mendengar teriakkan Umi, Azira sebenarnya sangat terkejut. Dia tak menyangka Umi ada di sini dan bahkan mendengar percakapan mereka. Tapi jujur dia sangat senang karena Umi mendengar komentar jahat Frida kepadanya. Dia ingin tahu apa reaksi Umi, mungkinkah marah atau justru sebaliknya, mendukung perkataan Frida.
__ADS_1
"U... Umi?" Frida berdiri kaget melihat Umi datang bersama bibi Indring.
Wajah bibi Indring sangat suram. Dia jelas marah dengan perkataan impulsif anaknya. Padahal dia sudah berkali-kali mengingatkan anaknya agar jangan bertindak impulsif apalagi sampai terbawa emosi di rumah ini. Sekarang Umi sudah mendengar apa yang anaknya katakan, bibi Indring harus memutar kepala untuk mengembalikan citra anaknya.
"Azira, kemari, Nak."
"Iya, Umi." Azira melepaskan pekerjaannya dan berjalan dengan patuh di samping Umi.
"Umi, Frida tak bermaksud jahat kepada Azira. Dia terbawa emosi." Bibi Indring berbicara lembut kepada Umi.
Umi mendengus tidak percaya. Bukan rahasia lagi jika Frida memiliki perasaan kepada Kenzie, tapi itu 1 tahun yang lalu, dia kira Frida sudah melupakan Kenzie. Tapi apa yang dia dengar barusan?
Menantunya di hina dan direndahkan tepat di depannya sendiri, bagaimana mungkin Umi tidak murka kepada Frida?
"Indring, aku tahu bahwa dia memang mungkin terbawa emosi tapi aku tidak percaya jika dia tidak bermaksud jahat kepada Azira. Merendahkan dan menghina menantuku di dalam rumah ku sendiri, apakah kamu percaya jika dia tidak memiliki maksud apa-apa? Indring, jelaskan kepada putrimu baik-baik bahwa meskipun Azira datang ke rumah ini dengan cara yang buruk tapi dia telah mendapatkan restu kami semua yang ada di rumah ini. Selain dari anggota rumah ini meskipun mereka mengatakan tidak setuju, bukan hak mereka untuk mengusir menantuku apalagi sampai menghinanya! Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun untuk menghina menantuku karena semenjak dia diterima oleh Kenzie maka sejak itu pula dia menjadi putriku. Indring, jangan bilang bahwa aku adalah wanita yang kasar dan tidak memiliki hati karena mengusir kalian. Sebelum Frida meminta maaf dan mendapatkan maaf dari putriku, maka aku harap kalian tidak perlu lagi datang ke rumah ini. Aku tidak membutuhkan orang-orang yang tidak menghargai anggota keluargaku apalagi sampai menghinanya." Ucap Umi tegas dengan suara bergetar.
Sulit baginya untuk menggambarkan bagaimana perasaan dirinya sekarang. Bukan dirinya yang dihina memang, tapi menantu yang mulai dia anggap sebagai putri sendiri. Jika dirinya saja yang mendengar merasa marah dan sakit hati mendengar hinaan itu, laku bagaimana dengan perasaan Azira?
Melawan?
Sayang sekali, Azira tak selemah itu. Sebenarnya dia sangat mampu tapi memiliki banyak cara untuk melakukannya.
Dia tidak sebodoh Frida.
Melirik Frida, dia tersenyum kecil.
Frida sangat terguncang dengan kemarahan Umi dan menangis keras sambil memeluk bibi Indring. Dia sangat menyesali apa yang dia katakan hingga membuat Umi marah. Gara-gara ini kepercayaan Umi kepadanya mungkin tidak seperti dulu lagi.
"Aku minta maaf..Umi. Aku sungguh tidak bermaksud menghina Azira...aku hanya mengatakan apa yang dirasakan oleh keluarga yang lain dan menanyakannya kepada Azira. Aku...akui bahwa aku agak emosi karena aku kasihan sama kak Kenzie. Aku tidak mau kak Kenzie hidup dalam rumah tangga yang tidak sehat...apa yang aku katakan ini benar, Umi..." Frida berkilah membuat alasan sendiri.
Alasannya memang masuk akal tapi Umi sama sekali tidak mau mendengarnya apalagi mempercayainya. Dia tak percaya jika kata-kata kasar tadi bukan sengaja dilakukan untuk merendahkan Azira.
__ADS_1
"Azira, masuk ke dalam, Nak. Siapkan makan malam untuk suami kamu. Sebentar lagi dia akan pulang dari rumah sakit."
Karena Frida tak mau meminta maaf kepada Azira, maka tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Dia menyeret Azira masuk ke dalam rumah dan meninggalkan pasangan Ibu dan anak itu di halaman.
"Ma.." Frida terus menangis sakit hati diabaikan oleh Umi.
"Ini salah kamu sendiri yang ceroboh. Mama kan udah bilang jangan buat masalah di sini! Tapi kamu malah enggak dengerin nasehat Mama. Sekarang lihat apa yang telah kamu lakukan? Umi sangat marah dan berniat mengusir kita dari rumah!" Keluh bibi Indring kepada putrinya.
Frida menggeleng-gelengkan kepalanya menolak keras tak mau pergi. Dia tak mau pergi dari rumah ini sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Aku enggak mau..hiks...bantu aku, Ma. Aku enggak mau pergi.." Mohon Frida.
Bibi Indring menggelengkan kepalanya sakit kepala.
"Kalau kamu enggak mau pergi segera minta maaf sama Azira. Kata Umi selama kamu minta maaf dan dimaafkan oleh Azira, maka kamu masih bisa tinggal di rumah ini." Ini adalah jalan satu-satunya.
Sekalipun dia tidak mau melihat putrinya memohon kepada wanita yang entah berantah asal muasalnya, bibi Indring tidak punya solusi lain. Dia harus membujuk Frida melakukan ini, atau kalau tidak? Maka semuanya berakhir.
"Aku... enggak mau.." Mana sudi meminta maaf kepada Azira.
Bibi Indring semakin pusing gara-gara tangisan dan penolakan keras kepala Frida.
"Maka segera kemasi barang-barang kamu dan pergi dari rumah ini. Kamu pikir kita masih punya wajah untuk tinggal di sini setelah apa yang kamu katakan kepada Azira?" Bibi Indring tertawa muram melihat anaknya yang tidak becus dan bodoh.
Dia bertanya-tanya darimana putrinya mendapatkan karakter pengecut ini?
Karena baik dirinya dan suami tidak sebodoh Frida. Oh, apakah ini disebabkan karena efek cinta?
"Ma..aku.."
"Terserah." Bibi Indring tidak mau meladeni putrinya lagi dan langsung pergi.
__ADS_1