
"Baiklah, ayo masuk."
Kenzie mengambil tangan Azira dan membawanya masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda Azira sekali lagi dibuat melongo kaget. Karena setahunnya yang dia lihat di tv-tv tenda tidak seperti ini. Tidak ada TV di dalam, tidak ada AC maupun kamar mandi pribadi, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah tempat tidur. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pergi berkemah juga bisa semewah dan senyaman di rumah. Di tempat ini hanya satu yang kurang, yaitu dapur.
"Mas Kenzie, tempat ini sangat luar biasa. Aku belum pernah melihat orang yang pergi berkemah akan memiliki fasilitas nyaman seperti ini. Harga sewanya pasti mahal?" Heran Azira.
Dia berdiri kosong memandangi tempat tidur di dalam. Di luar sangat dingin tapi ketika masuk ke dalam, suhunya sangat hangat.
"Tidak mahal, harganya sesuai dengan apa yang kita dapatkan. Ngomong-ngomong hampir semua tenda seperti ini dan sengaja dirancang begini agar kita nyaman pergi berkemah. Entah itu kumpul keluarga ataupun berbulan muda, tempat ini sangat cocok." Terang Kenzie tak berniat mengutip harganya.
Azira orangnya masih hemat. Padahal dia pernah mendengar seseorang berkata seperti ini bahwa sangat mudah membuat orang yang hemat menjadi boros tapi sangat sulit membuat orang yang boros menjadi hemat. Namun entah mengapa Azira tidak seperti itu.
Uang mingguan yang selalu dia kasih dibelanjakan dengan baik dan sisanya ditabung. Azira tidak pernah berbelanja untuk dirinya sendiri. Kecuali tadi malam dia berani membeli pakaian.
Dia mengagumi istrinya yang pintar mengatur keuangan rumah, tapi di saat yang sama dia juga kasihan. Karena dia berharap Azira bisa bebas menggunakan uang, bukan berarti menjadi orang yang boros.
"Apa yang mas Kenzie bilang benar. Sini mas barang-barangnya, biar aku rapiin." Azira meletakkan barang-barang yang dia bawa di atas karpet.
Saat akan duduk di atas karpet, Kenzie tiba-tiba memegang lengan Azira dan menariknya duduk di atas kasur. Azira bingung tapi diam saja ditarik oleh suaminya.
"Kamu nggak usah kerja dulu. Ayo istirahat. Aku perhatiin selama di bus, kamu sering terbangun." Ucap Kenzie mencegah istrinya bekerja dulu.
Jalan yang mereka lewati tidak sepenuhnya mulus. Ada yang bergelombang dan ada pula yang berlubang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana tidak nyamannya orang-orang yang sakit.
"Aku nggak papa kok, mas. Lagian kerjanya juga nggak berat, cuma rapiin doang." Setelah diingatkan oleh suaminya, barulah dia merasa tidak nyaman lagi.
Kepalanya masih pusing dan perutnya pun masih bergelombang. Untungnya dia sempat minum obat di dalam bus sehingga kondisinya tidak terlalu parah.
"Aku tahu. Tapi istirahat dulu, ya. Ini juga baru jam 3. Rapihin nya kan bisa ditunda. Okay?" Tekan Kenzie kepada istrinya.
Jangankan Azira yang sedang mabuk perjalanan, dia aja yang tidak mabuk merasa pegal-pegal karena kebanyakan duduk. Apalagi setengah perjalanan dilalui dengan posisi kurang nyaman, karena dia harus memeluk Azira yang sedang sakit.
"Sebentar lagi shalat asar, mas." Pengingat Azira.
Kenzie tersenyum. Dia mengusap puncak kepala Azira sayang. Sungguh sangat manis. Tanpa dia sadari istrinya tidak lagi cuek soal agama.
"Aku akan membangunkan kamu saat waktu shalat ashar tiba. Bukan cuma kamu yang tidur, tapi ke aku juga, sayang. Kita sama-sama capek, jadi tidur sebentar aja, yah?"
Melihat wajah lelah suaminya, Azira tidak lagi menolak. Untuk beberapa saat dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak peka dengan situasi suaminya. Dengan perjalanan sejauh itu mana mungkin suaminya tidak lelah.
"Okay, mas. Ayo tidur." Azira naik ke atas kasur bersama suaminya.
Kasurnya empuk dan bersih. Tidak ada wangi aneh. Malahan berbau deterjen. Mungkin baru-baru diganti.
Azira berbaring di samping kanan sementara Kenzie di samping kiri. Saat mereka berdua berbaring, Kenzie mengulurkan tangannya menarik Azira ke dalam pelukan dan mulai memejamkan mata. Sebenarnya dia memang sangat lelah. Kalau tidak, dia tidak mungkin begitu mudahnya tertidur. Azira juga menyadarinya. Tidak sampai 5 menit menjatuhkan kepala di bantal, suara teratur nafas suaminya memenuhi gendang pendengarannya. Mengisolasi suara-suara berisik anak kecil yang tengah bermain di luar sekaligus menjadi lagu Nina Bobo pengantar tidur untuk Azira.
Beberapa menit kemudian, di bawah kenyamanan yang diberikan oleh suaminya, Azira segera memejamkan mata dan menyusul suaminya pergi ke dunia mimpi.
Hari ini dilalui dengan beberapa tantangan, cukup sulit dan menyiksa, tapi dilapisi oleh rasa manis yang tidak akan pernah Azira lupakan dalam hidupnya.
Manisnya melebihi air madu di luar sana.
Mereka berdua tidur sampai jam 5 sore. Kenzie melihat waktu hampir saja magrib jadi dia buru-buru membangunkan istrinya untuk segera melaksanakan shalat ashar. Tadinya untuk menghemat waktu Kenzie ingin mandi bersama dengan istrinya. Tapi Azira menolak dengan keras karena dia tahu hasil akhirnya akan buruk.
Jadi di bawah ekspresi tertekan suaminya, dia pergi mandi duluan. Selesai melaksanakan salat asar, mereka berdua duduk dulu untuk mengistirahatkan pikiran. Kenzie sendiri sudah merasa bertenaga lagi dan jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Mau keluar sekarang?" Kenzie menawarkan.
"Kalau mas sendiri bagaimana? Mau keluar atau tidak?" Tanya balik Azira.
Kenzie terkekeh.
"Kalau begitu nanti aja setelah salat magrib. Sayang kalau kita pergi sekarang karena sebentar lagi masuk waktu shalat magrib."
__ADS_1
Karena suaminya tidak ingin pergi sekarang maka Azira menurut saja.
"Aku ngikut mas Kenzie. Sambil nunggu waktu maghrib, Aku mau rapihin barang-barang kita dulu."
Kenzie datang membantu.
"Bersama-sama biar cepat selesai."
Akhirnya mereka berdua bekerja sama untuk merapikan barang-barang mereka. Tidak banyak dan tidak membutuhkan banyak waktu. Mereka hanya perlu memindahkan pakaian-pakaian mereka ke dalam laci dan setelah itu menonton acara kajian sore sampai waktu maghrib datang.
Malam pertama di puncak dilalui tanpa hal-hal menarik. Semua orang lelah jadi lebih banyak menghabiskan waktu di dalam tenda daripada keluar. Makan pun hanya makan bubur karena perut masih tidak nyaman dan rata-rata orang kehilangan nafsu makan.
Malam membosankan juga dilalui oleh Kenzie dan Azira. Mereka tidak melakukan hubungan intim dan lebih banyak menghabiskan waktu duduk bersama memandangi danau yang indah dari dalam tenda mereka. Mereka membicarakan beberapa hal. Tapi Azira lebih banyak bercerita tentang kehidupannya sebelum menikah sementara Kenzie sesekali merespon sebab dia bukanlah orang yang banyak bicara.
Mereka baru berhenti mengobrol saat kantuk kembali mendatangi Azira. Masih jam 9 malam, agak pagi dari waktu tidur mereka biasanya. Tapi karena tidak ada kegiatan lain jadi Kenzie dan Azira memutuskan untuk langsung tidur. Berbagi satu selimut di bawah pelukan yang sama. Azira tertidur dalam hati yang manis dan hangat.
...******...
Pagi-pagi keesokan harinya semua orang telah pulih dan kembali bersemangat. Abah, Umi, Paman, bibi, dan tetua yang lain kumpul bersama setelah shalat subuh untuk berolahraga. Sehabis olahraga mereka pergi ke depan mimbar yang dibangun di samping danau untuk senam bersama. Setiap hari puncak akan mengadakan senam bersama di pagi hari. Baik tua dan muda bercampur menjadi satu, kenalan atau tidak, tidak ada yang peduli. Pagi hari dilalui dengan menyenangkan.
Sementara para orang tua pergi senam, mereka yang masih muda berkumpul di samping tenda. Kebetulan tenda semua orang berdekatan. Jadi mereka memutuskan untuk memasak di tengah-tengah kelompok tenda mereka. Tempatnya luas dan teduh. Karena dinaungi oleh sebuah pohon besar entah namanya, Azira tidak mengetahuinya.
Pagi ini dia, Ayana, Sasa dan Mona akan membuat sarapan bersama-sama. Sarapan yang mereka buat cukup sederhana. Cukup nasi goreng dan telur mata sapi, masakan ini jauh lebih simple daripada membuat bubur atau menu lainnya.
Hampir pukul 8 pagi, mereka semua sarapan bersama dan setelah itu kembali bersantai-santai di depan tenda. Ada yang pergi berkeliling seperti Sasa dan Mona, dan ada pula yang kembali menyambung tidur paginya karena masih belum puas beristirahat.
"Azira, minum."
Azira mengambil gelas di tangan suaminya. Saat melihat isi gelas itu, dia sontak melirik wajah suaminya. Kenzie tidak menunjukkan reaksi apapun. Datar.
Jantung dan paru-paru Azira seolah digaruk-garuk melihat sikap 'lempeng' suaminya.
"Minum ini lagi. Aku boleh tau engga, mas, ini minuman apa?" Tanya Azira sambil mengalihkan pandangannya menatap kembali air minum di dalam gelas.
Di samping itu cuma dia satu-satunya yang minum ini di atas meja. Memang Sasa pernah minum tapi jarang. Tidak segiat yang Azira lakukan.
Kenzie menjawab kalem,"Intinya bagus untuk kamu." Masih jawaban yang sama.
Dari dulu jawabannya selalu itu. Bahkan bertanya kepada Sasa pun jawabannya masih sama. Mereka kompak menyembunyikannya. Azira kesal tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang mau menjelaskan. Dan walaupun merasa kesal dia tetap meminum minuman ini. Karena dia tahu mungkin minuman ini baik untuknya.
"Oh," Azira ber'oh ria.
Setelah membaca bismillah, dia mulai menyesap minumannya. Pipinya agak panas gara-gara Kenzie memandangnya terus. Niatnya mau marah tapi nggak jadi gara-gara Kenzie terus melihat ke arahnya.
"Mau minum, mas?" Akhirnya Azira tidak tahan.
Kenzie mengangguk polos. Mengambil gelas itu dari Azira dan meminumnya tepat di bekas bibir Azira.
Azira sudah terbiasa dengan ini. Tapi seterbiasa apapun dirinya dia tetap merasa malu.
"Enak." Puji Kenzie.
Mengembalikan kembali gelas itu ke Azira.
Azira heran,"ini siapa yang buat, mas? Umi?"
Kenzie tersenyum tipis.
"Ini buatanku, rasanya enak' kan? Aku percaya kalau buatanku nggak jauh beda sama Umi. Dan menurutku lebih enak karena ini buatanku, benar, kan?"
Tuh kan, tuh kan, tuh kan! Kenzie narsis lagi. Azira mau tertawa tapi ini suaminya.
"Enak, tapi sama-sama enak dengan buatan Umi. Oh ya, kapan mas Kenzie membuatnya? Kenapa aku tidak tahu?"
__ADS_1
Seingatnya Kenzie dan Fathir sedang mengobrol. Harusnya dia tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal kecil seperti ini. Dan Azira juga tidak ingat suaminya membuat ini di dapur darurat.
"Saat kamu sedang menyajikan makanan. Aku kebetulan membuat ini di dapur." Jawab Kenzie dengan nada main-main.
Pantesan saja Azira tidak melihat suaminya saat memasak tadi. Dan dia mengerti alasan kenapa suaminya membuat minuman ini tanpa sepengetahuannya. Tentu saja itu karena resep minuman ini. Umi bilang ini adalah resep turun temurun di dalam keluarga. Satu hari nanti bila dia memiliki seorang putri, secara alami resep ini akan berpindah tangan kepadanya.
"Oh. Mas Kenzie mau minum lagi?" Mata suaminya seperti obor, sangat sulit untuk diabaikan.
Kenzie mengulurkan tangannya meminta. Azira merasa heran dengan sikap suaminya. Dia memberikan gelas itu. Minuman di dalamnya hanya tersisa sedikit dan langsung dihabiskan oleh Kenzie.
Azira kembali tersipu ketika melihat suaminya minum di bekas bibirnya lagi. Ini sangat memalukan tapi Azira suka.
"Alhamdulillah..."
Azira sangat penasaran.
"Kenapa mas Kenzie tidak membuat dua gelas saja kalau mas suka minum ini?"
Kenzie memiringkan kepalanya seolah tidak mengerti.
"Kenapa? Kamu nggak suka ya minum satu gelas bersama dengan ku?" Nada suaranya tidak senang.
Azira langsung menggelengkan kepalanya membantah.
"Nggak gitu, mas. Aku senang kok. Tapi aku perhatiin mas Kenzie kayaknya suka banget minum ini jadi mau nggak mau aku heran kenapa mas Kenzie nggak buat 2 gelas aja biar mas Kenzie minumnya puas." Azira buru-buru menjelaskan.
Kenzie mendengus.
"Aku suka karena minum dari gelas kamu." Jawab Kenzie dengan suara kecil.
Sayang sekali Azira tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Soalnya di luar sangat ribut. Suara anak-anak yang sedang bermain dan orang-orang yang berkumpul di luar sangat jelas di sini. Azira merasa kewalahan dengan suasana ramai di sini.
"Mas Kenzie tadi bilang apa sama aku?"
Kenzie tersenyum samar.
"Tidak, aku tidak bilang apa-apa."
Azira yakin suaminya mengatakan sesuatu tadi kepadanya.
"Mas Kenzie ngomong apa sih sama aku!" Desak Azira.
Kenzie lantas tertawa.
"Kalau begitu lain kali saja jika kamu ingin tahu. Apakah kamu ingin keluar jalan-jalan?" Kenzie mengalihkan topik pembicaraan.
Setelah sarapan tadi Sasa dan Mona mengajak Azira jalan-jalan di luar. Tapi Kenzie melarang karena dia masih ingin berduaan dengan istrinya.
Yang benar saja. Tujuannya datang ke sini untuk berbulan madu bersama istrinya. Otomatis istrinya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.
Dan untuk beberapa alasan, tiba-tiba dia menyesal membawa kedua curut itu datang ke sini. Karena Sasa dan Mona cukup berambisi ingin menculik istrinya pergi.
"Mau, aku penasaran banget sama pemandangan di sini."
Azira menjawab cepat. Dari tadi mau pergi tapi karena Kenzie melarang jadi dia nurut saja.
"Nah, ganti jilbab kamu. Ayo jalan-jalan. Di sini juga banyak makanan ringan, kalau kamu suka, ambil saja apapun yang kamu inginkan."
Azira mengangguk patuh. Dia mengambil jilbab lain dari dalam laci dan langsung menggantinya di depan cermin. Setelah dirasa cukup pas, dia mengambil tas kecilnya di atas meja dan keluar dari tenda sambil bergandengan tangan sama Kenzie.
Di luar keluarga sedang berkumpul. Khususnya para orang tua yang lebih suka menghabiskan waktu berkumpul daripada berkelana. Sementara Sasa dan Mona, entah ke mana mereka berdua pergi, baik Azira maupun Kenzie tidak tahu. Begitu pula untuk pasangan Ayana dan Fathir. Mereka menghilang setelah menyelesaikan sarapan. Setahu Azira saat terakhir kali berbicara dengan Ayana tadi, dia bilang mau pergi ke pemandian air hangat bersama suaminya. Jadi mereka langsung berangkat setelah menyelesaikan sarapan.
"Kalian berdua mau ke pemandian air hangat juga?" Suara tumpul paman langsung mengundang gelak tawa banyak orang.
__ADS_1