
"Pilih apa yang kamu suka. Jangan sungkan untuk mengambilnya." Ujar Kenzie seraya mendudukan dirinya di atas sofa.
Mereka saat ini sedang berada di dalam sebuah butik pakaian muslimah. Dari atasan hingga bawahan dan dari luaran hingga dalaman, semuanya lengkap untuk kebutuhan para wanita. Dilihat dari kisaran harga barang-barang yang ada di dalam toko ini, Azira tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya ke tempat ini bila menggunakan uangnya sendiri. Namun Kenzie lah yang meminta maka dia tidak perlu sungkan.
"Aku... Aku akan membantu. Jika ka-... Maksudku jika ada yang kak Azira suka, bilang saja padaku." Sasa memberanikan dirinya untuk berbicara kepada Azira.
Nada suaranya sopan dan tatapan matanya pun teduh. Dia sangat berbeda ketika pertama kali bertemu. Azira terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba.
"Ya... Ini adalah pertama kali aku datang ke sini jadi tolong bantu aku. Mas Kenzie..." Azira memanggil Kenzie.
Kenzie mengalihkan perhatiannya dari ponsel di depan, salah satu alisnya terangkat sebagai tanda bertanya.
__ADS_1
"Aku dan Sasa akan membeli baju bersama-sama. Begini... Bajunya yang ku pinjam sepertinya tidak bisa dikembalikan jadi bolehkah aku menggantinya dengan baju yang baru?" Dia ragu-ragu bertanya.
Pasalnya ini adalah uang Kenzie dan bukan miliknya.
Ada kejutan melintas di dalam mata Kenzie. Tersenyum samar, dengan murah hati dia menganggukan kepalanya sebagai persetujuan. Melihat itu Sasa sangat senang. Awalnya dia ingin menolak gagasan itu karena dia merasa bersalah dengan pakaian yang dia pinjamkan kepada Azira. Semua pakaian itu jelek dan rencananya akan dibuang. Namun karena kemarahannya kepada Azira, dia memutuskan untuk meminjamkan pakaian-pakaian jelek itu kepada Azira. Tidak disangka perbuatan jahatnya dibalas dengan air susu oleh Azira. Wanita yang selama ini dia pandang rendah.
Hatinya malu.
"Terima kasih. Aku senang mendapatkan hadiah pertama dari kakak iparku." Bisiknya canggung di hadapan Azira dan Kenzie.
Sasa menggelengkan kepalanya membantah.
__ADS_1
"Ini adalah hadiah. Apapun yang kak Azira katakan aku tetap menganggapnya sebagai hadiah." Malu dengan tatapan kakaknya, dia lalu mengambil tangan Azira dan menariknya masuk ke dalam untuk mulai berbelanja.
Kenzie ditinggalkan sendirian di luar. Dia merasa bosan dan memutuskan untuk melihat-lihat email. Mengambil cuti bukan berarti dia bebas dari pekerjaan. Malah ketidakhadirannya membuat pekerjaan menumpuk. Tapi untunglah dia mengerjakan beberapa tugas yang bisa dikerjakan di rumah sehingga beban pekerjaan di rumah sakit tidak terlalu berat.
"Halo assalamualaikum, Abah." Kenzie tiba-tiba dihubungi oleh Abah.
"Hari ini jangan pulang terlalu cepat. Kalau bisa pulang lah nanti malam." Permintaan Abah aneh. Normalnya Abah akan meminta dia untuk segera pulang ke rumah tapi mengapa kali ini justru sebaliknya?
"Ini tergantung mereka berdua Abah. Jika Azira dan Sasa dapat menyelesaikan semua belanjaan mereka siang ini, maka kami akan segera pulang ke rumah. Memangnya ada apa di rumah?" Mungkinkah ada sesuatu yang Abah sembunyikan?
"Jangan pulang terlalu cepat. Kasihan adikmu dan istrimu. Sasa beberapa hari ini memiliki mood yang buruk. Dia membutuhkan hiburan untuk meringankan suasana hatinya. Sedangkan istrimu juga membutuhkan hiburan untuk merefleksikan diri. Kamu tahu kan kalau di rumah dia memiliki banyak tekanan dari Umi. Jadi Abah minta kamu menghibur mereka berdua hingga suasana di hati mereka membaik." Alasan Abah masuk namun entah mengapa Kenzie meragukannya.
__ADS_1
Jika Abah tidak mau memberitahunya maka biarkan saja. Dia tidak akan bertanya. Lagi pula apa yang Abah katakan cukup benar bahwa Sasa dan Azira membutuhkan waktu untuk menenangkan hati yang sempat terombang-ambing beberapa hari ini.
Terutama untuk Azira.... Yang masih kelabu. Kenzie berniat menyelidiki siapa Azira dan bagaimana dia bisa masuk ke dalam keluarga Humairah. Pasalnya dia memiliki intuisi bahwa Azira bukanlah orang asing untuknya. Mereka sepertinya pernah bertemu beberapa tahun yang lalu. Namun ini samar dan belum jelas kebenarannya.