
"Aku sudah mengatakannya." Kata asisten itu sakit kepala.
Kenzie mengangguk.
"Maka jangan pedulikan lagi." Jawabkan Kenzie acuh tak acuh.
Namun tiba-tiba gerakan tangan Kenzie membalik kertas dokumen terhenti. Dia mengangkat kepalanya menatap langsung ke arah asisten yang tengah berdiri di samping tempat kerjanya.
"Apakah kamu sudah menemukan ponselku?" Kenzie bertanya.
Diingatkan tentang ponsel, asisten itu langsung sakit kepala. Dari kemarin malam Kenzie memintanya untuk mencari ponsel ke rumah sakit. Dari mulai ruang operasi yang pernah dilewati oleh Kenzie hingga kantin yang belum pernah Kenzie datangi, asisten itu telah menelusuri dan bahkan menjelajahi semuanya. Namun sampai dengan hari ini dia tidak pernah menemukan ponsel Kenzie.
Tidak hanya tidak bisa menemukan namun saat dihubungi pun ponsel Kenzie tidak merespon. Terkadang operator merespon kalau nomor Kenzie berada di luar jangkauan. Sehingga mempersulit untuk mencari keberadaannya.
"Maaf Pak, aku masih belum menemukannya. Menurutku seseorang mungkin telah menemukan ponsel Anda, dok." Kata asisten itu menyimpulkan.
Kenzie sudah menebaknya. Kehilangan ponselnya sangat aneh. Ponselnya menghilang tepat hari di mana Amara dilarikan ke rumah sakit. Dan yang paling disesali dari semua itu adalah dia tidak bisa menghubungi Azira malam itu. Dia sangat menyesal telah membentak Azira dan bahkan menyuruhnya pulang sendirian. Saat dia menyadari apa kesalahannya malam itu, dia ingin menghubungi Azira tapi ponselnya hilang. Hilang entah ke mana. Dan betapa bodohnya dia tidak menghafal nomor istrinya. Setidaknya kalau ponselnya hilang dia bisa menghubungi istrinya dari ponsel orang lain. Tapi dia tidak ingat nomor istrinya.
Cemas dan panik, dia ingin segera menyusul Azira ke villa, tapi ada tugas darurat di rumah sakit yang mencegahnya. Mulanya Kenzie tidak mau mengambil tugas, tapi Nabil telah meyakinkannya bahwa Azira sudah dikirim pulang oleh supirnya. Mendengar itu Kenzie akhirnya tenang dan bisa bekerja dengan nyaman. Selama malam itu Amara beberapa kali memanggilnya, tapi Kenzie tidak pernah menggubris karena semua pikirannya tertuju pada ekspresi shock Azira. Azira pasti ketakutan saat dia membentaknya.
"Dok, dokter Kenzie?" Panggil asisten itu menarik Kenzie dari lamunannya.
Kenzie tersadar.
"Aku juga memiliki kesimpulan yang sama. Mungkin seseorang telah mengambil ponsel ku." Kata Kenzie setelah sekian lama berpikir.
"Bukankah dokter sudah membeli ponsel baru yang persis sama dengan milik dokter kemarin?" Kalau sudah membeli baru dan memindahkan semua dokumen, untuk apa Kenzie terus memikirkan ponsel itu?
"Kamu tidak mengerti. Di dalam ponsel itu ada banyak foto-foto istriku." Kata Kenzie menyesali.
Sejujurnya semua dokumen dan foto-foto itu bisa didownload lagi, tapi Kenzie masih tidak rela melihat foto istrinya dilihat oleh orang yang menemukan ponselnya. Masih bagus jika orang itu tidak berniat jahat, bagaimana jika orang itu mulai mendambakan kecantikan istrinya?
Kenzie tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Ah...jadi begitu." Asisten itu sekarang paham mengapa Kenzie sangat cemas.
Di matanya Kenzie adalah suami yang lengket. Tetapi yang tidak dia mengerti adalah para wanita yang mencoba mengejar Kenzie. Bukan tidak mungkin kalau para wanita itu mengetahui hubungan Azira dan Kenzie, kalau tidak pernah melihat pasti telah mendengar betapa baik hubungan pasangan suami istri ini. Dan di sinilah letak di mana asisten tidak mengerti dengan sirkuit kepala para wanita itu. Jelas-jelas Kenzie sangat lengket sama istrinya tapi mereka masih saja datang mengejar Kenzie seolah-olah mereka tidak memiliki rasa malu di hati.
Jika tidak memiliki urat malu maka setidaknya cobalah berpikir dan membayangkan posisi Azira. Bukankah wanita adalah makhluk Tuhan yang paling mudah bersimpati?
Maka seharusnya sesama wanita tidak saling menyakiti.
"Panggil Arian ke sini." Perintah Kenzie kepada asistennya.
"Baik, dok." Asisten itu langsung menelepon menghubungi Arian.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, pintu ruangan Kenzie diketuk oleh seseorang. Saat asisten itu memastikan kalau orang yang mengetuk pintu bukanlah wanita itu lagi, dia langsung membukanya dan mempersilakan tamu itu masuk.
Pemuda tampan pemilik kaki jenjang itu masuk ke dalam ruangan dengan langkah besar. Ketika bertemu dengan nyonya Bara, pemuda tampan ini selalu memasang wajah tersenyum yang sopan dan ramah. Namun di depan Kenzie, wajahnya berubah menjadi datar dengan ekspresi keseriusan. Dia memperbaiki letak kacamata kerja di pangkal hidung sebelum merendahkan tubuhnya berbicara dengan Kenzie.
"Istri Anda tidak bersalah, Pak."
Kenzie tersenyum lebar,"Aku selalu tahu kalau istriku tidak bersalah tapi aku membutuhkan bukti untuk membuktikannya."
Arian mengangguk serius,"Pak, saya sudah mendapatkan buktinya. Istri Anda dijebak."
...*****...
"Siapa yang menelpon kamu?" Laki-laki itu bertanya kepada istrinya.
Wanita itu tersenyum,"Ini Kenzie, mas. Kemarin aku memintanya untuk meresepkan obat yang cocok untuk Amara. Dan dia tadi menghubungiku untuk mengkonfirmasi kalau resepnya sudah selesai. Jadi aku bisa mengambilnya sekarang."
Laki-laki itu sangat senang mendengarnya. Kemajuan rencana mereka sungguh di luar kendali yang merupakan kabar gembira. Dia yakin setelah Nabil tahu kabar ini, Nabil akan membantunya meminjam beberapa dana kecil untuk menutupi pengeluaran usaha kecilnya.
"Tapi kenapa dia memanggil kamu dan tidak langsung memberikan resep itu kepada Amara?"
Wanita itu memutar bola matanya malas.
"Kamu gimana sih, mas. Yang minta resep itukan aku jadi Kenzie ngasihnya langsung ke aku, lah. Kalau aku suruh dia ngasih Amara, nanti Kenzie jadi curiga dan semua usaha kita akan sia-sia." Kata wanita itu masuk akal.
Laki-laki itu langsung mengerti. Di sini Amara berperan sebagai wanita polos yang tidak tahu apa-apa. Sementara wanita ini bertugas sebagai perantara untuk Amara dan Kenzie. Setiap kali bertemu Kenzie ada misi yang harus segera diselesaikan. Misalnya seperti sesekali menyebut nama Amara di depan Kenzie ataupun terkadang mengerti tentang masa lalu saat Kenzie dan Amara masih berpacaran.
Ini misi yang sangat mudah menurut wanita itu. Hanya bermodalkan mulut dan kenangan dia bisa melakukannya.
"Ah... kamu benar juga. Kalau begitu aku akan menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada kamu. Ayo bekerja keras istriku, bisnis kita masih menunggu." Laki-laki itu menyemangati istrinya.
Wanita itu tersenyum malu-malu. Tidak sering suaminya memuji. Sesekali dirinya dipuji perasaannya akan dibuat melambung tinggi dan dia akan lebih bersemangat lagi. Oleh karena itu tanpa menunggu waktu lebih lama dia mengambil tas bermerek nya yang baru-baru ini Amara berikan.
Dengan mentalitas percaya diri, dia membawa langkah kakinya keluar dari rumah dan menuju rumah sakit.
...******...
Sesampainya di rumah sakit dia langsung pergi menuju ruangan yang Kenzie instruksikan. Dia kira ada Kenzie di dalam ruangan tersebut yang telah menunggunya. Tapi sayang sekali itu hanyalah harapannya. Karena begitu membuka pintu masuk, orang yang dia lihat di dalam ruangan adalah seorang laki-laki berkacamata berjas hitam khas orang kantoran.
Wanita ini bingung. Pasalnya Kenzie memintanya datang ke sini. Melihat ke pintu luar, apakah dia salah memasuki ruangan?
"Nyonya, Anda memang tidak salah memasuki ruangan. Tuan Kenzie yang meminta Anda datang ke sini." Ucap harian menarik keraguan wanita itu.
Mendengar nama Kenzie disebutkan, wanita itu akhirnya mengerti kalau laki-laki berkacamata ini pasti suruhan Kenzie. Tapi dia sedikit bingung kenapa Kenzie meminta orang lain untuk bertemu dengannya?
Kenapa Kenzie tidak bertemu langsung dengannya?
__ADS_1
Jika begini, lalu bagaimana caranya dia menyelesaikan misi?
"Oh, jadi begitu. Terus di mana Kenzie? Dia meminta aku datang ke sini." Wanita itu tersenyum lebar.
Masuk dengan langkah ringan dan duduk dengan anggun tepat di seberang Arian. Sikap dan perilakunya yang anggun menunjukkan bila dia adalah wanita yang berasal dari keluarga terpandang. Jelas setelah menerima pendidikan tata krama sebelum nya.
"Tuanku sedang memiliki urusan di rumahnya. Jadi dia segera pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit." Jawab Arian tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Sama seperti saat berhadapan dengan nyonya Bara, di wajahnya Arian masih memiliki senyum yang sopan dan ramah, orang-orang akan lebih nyaman berbicara dengannya karena senyuman ini. Mereka merasa dihargai oleh Arian.
"Ah... Dia pulang ke rumah." Wanita ini kesal.
"Jika dia pulang ke rumah maka aku akan datang ke sini besok saja ketika dia datang bekerja." Lanjut wanita itu memutuskan untuk bertemu Kenzie besok.
Dia dengan santai mengambil tas bermerek nya berniat segera pergi karena dia tidak punya urusan dengan Arian.
Akan tetapi sebelum dirinya bangun dari duduk, Arian tiba-tiba mendorong sebuah surat putih dengan label nama perusahaan ke depan wanita itu.
"Ini resep?" Tanya wanita itu ragu-ragu.
Apakah resep harus memiliki penampilan formal seperti ini?
Bukankah kertas biasa saja sudah cukup?
"Nyonya, silakan buka dan lihat sendiri apa pesan tuanku kepadamu."
Wanita itu memandangi wajah Arian untuk melihat bagaimana ekspresinya. Tapi ke sisi manapun dirinya memandang, dia tidak dapat menemukan kebocoran. Arian masih memasang wajah tersenyum yang sangat sopan dan ramah. Menghela nafas lembut, dia mengira kalau ini pertanda baik untuknya. Jadi dengan santai dia membuka surat itu. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian, senyum di wajahnya langsung berubah menjadi kaku. Dia tidak mengatakan apapun. Namun Arian sudah membuat kesimpulan bahwa wanita ini telah membaca surat tersebut dan memahaminya dengan baik.
"Nyonya, tuanku khusus mengundangmu ke sini untuk memberikan kamu sebuah peringatan bahwa apa yang telah nyonya lakukan kepada istri tuanku telah berada di luar batas. Berani-beraninya memfitnah istri tuanku dengan tuduhan tidak masuk akal dan keji, padahal faktanya istri tuanku tidak mengetahui apa-apa. Kami menyimpulkan bahwa fitnah ini nyonya lakukan untuk menjebak istri tuanku. Nyonya, dengan bukti yang ada di tangan kami, kasus ini bisa diajukan ke meja hijau untuk diproses. Kemenangan telak berada di tangan kami. Sedangkan nyonya, mungkin 5 atau 7 tahun terkurung di jeruji besi cukup membuat Anda menyadari apa yang telah Anda perbuat kepada istri tuanku. Bagaimana, apakah nyonya dapat menangkap maksudku?" Arian berbicara dengan intonasi suara yang lembut dan pelan.
Seolah-olah apa yang sedang dia bicarakan tadi bukanlah sesuatu yang kejam ataupun sebuah ancaman, melainkan cerita biasa yang tidak menarik. Ditambah lagi ekspresi lembut di wajahnya tidak pernah berubah selama dia berbicara. Dia terlihat tenang dan sangat alami, tanpa nada terburu-buru di depan wanita itu.
Dan sepanjang Arian berbicara, wanita itu perlahan kehilangan senyum kaku di wajahnya. Tidak ada lagi senyum arogan yang dia miliki ketika masuk ke dalam ruangan. Jangankan tersenyum arogan, tersenyum palsu saja rasanya sangat sulit. Memangnya siapa yang masih bisa tersenyum saat mendengar dakwaan yang orang besar layangkan kepadanya?
"Tuduhan... Maaf, aku tidak mengerti tuduhan apa yang kamu maksud. Aku tidak pernah merasa telah menuduh seseorang tanpa kejelasan dan aku juga tidak memiliki keberanian untuk memfitnah seseorang. Kejadian yang terjadi saat itu memang begitulah faktanya. Aku tidak berbohong kalau Azira mencoba membunuh Amara." Sambil berkeringat dingin dia mengatakan sepatah demi patah kata-kata ini.
Sebelum beraksi di villa, mereka semua sudah memastikan kalau tidak ada CCTV di sana. Apalagi di kawasan dapur, jadi darimana datangnya bukti yang yang Arian bicarakan?
Setelah memikirkannya dengan hati-hati, untuk sesaat wanita itu mengembalikan ketenangannya yang sempat tergoyahkan oleh kata-kata Arian. Apa yang telah terjadi di dapur tidak seorangpun yang mengetahuinya kecuali dia, Azira dan Amara.
Arian masih tersenyum,"Apakah nyonya tidak mau bekerja sama dengan kami?"
Perlahan senyummu itu menghilang digantikan dengan ekspresi datar tanpa kepedulian di wajah Arian. Di dalam benak Arian saat ini, dia tengah berhadapan dengan wanita ular. Wanita yang mencoba memisahkan tuan dengan istri tuannya. Sungguh istri tuannya teraniaya. Jika istri tuannya memiliki sikap yang sangat buruk, pasti tuannya sudah lama diberi hadiah tendangan untuk melampiaskan amarahnya. Namun sayang sekali istri tuannya memiliki hati yang lembut. Dia tidak mudah marah, kalaupun marah hanya melampiaskan dengan kata-kata tanpa menggunakan kata-kata kasar, cek, Arian juga ingin memiliki istri seperti itu. Ini namanya istri yang berbudi luhur.
"Aku tidak salah, kenapa aku harus bekerja sama dengan kalian? Oh, mungkinkah kamu ingin memaksaku dengan kekuasaan di tanganmu? Ck...ck, Aku tidak menyangka moral Kenzie jatuh sampai ke titik ini gara-gara wanita licik seperti itu. Dia hanyalah wanita biasa dan berhati licik, mengapa Kenzie mempertahankan wanita seperti itu? Jika dia berani merusak pernikahan adiknya dan merebut Kenzie dari adiknya, maka tidak menutup kemungkinan dia juga berani membahayakan nyawa seseorang. Wanita seperti ini cocoknya dibuang, dia tidak pantas dijadikan sebagai seorang istri. Apalagi istri untuk Kenzie, hah... Aku dan teman-teman yang lain lebih mendukung jika Kenzie bersama Amara. Kamu pasti tahu siapa Amara? Dia adalah seorang model muslimah. Um, dulu sewaktu tinggal di luar negeri dia menjadi model terkenal tapi sewaktu pulang ke Indonesia kemarin dia memutuskan untuk melepaskan karirnya sebagai model di luar negeri, memutuskan untuk berhijrah. Sekarang dia menggunakan jilbab dan pakaian tertutup, di sini dia masih menjadi model tapi model muslimah. Suatu hari nanti kamu bisa melihat wajahnya bertebaran di majalah-majalah dalam negeri." Wanita itu membanggakan Amara dengan terus terang tanpa mengurangi sanjungan sedikitpun di depan Arian.
__ADS_1
Secara tidak langsung dia menunjukkan posisinya sebagai orang yang ada di pihak Amara.
Nada bicaranya seolah-olah orang yang dia banggakan adalah anaknya sendiri, dan bukan orang lain. Tanpa lelah ataupun memberi jeda mulutnya terus membicarakan kelebihan Amara, kebaikan Amara, dan betapa tinggi moral yang dimiliki oleh Amara. Berbanding terbalik dengan Azira. Di dalam mulut wanita itu, nama Azira sangat kotor. Dari nada bicaranya Azira seperti berhutang banyak uang kepadanya, penuh akan kesalahan dan dosa, tidak berlebihan jika wanita ini menganggap bahwa Azira adalah wanita ular, hatinya kejam dan penuh kelicikan.