Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 2.4


__ADS_3

"Azira, kau harus memikirkan tawaran ku dengan baik-baik karena aku bisa menjamin kata menyesal tidak akan pernah terlontar dari bibirmu suatu hari nanti jika kau bergabung." Meski sempat ditarik kasar Azira, nyonya berwajah tebal dan tua bangka itu tidak terganggu sama sekali dengan tindakannya yang kasar.


Azira adalah kualitas bagus dan pasti mahal dikalangan pengusaha, oleh karena itu ia akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan Azira ke tangannya.


"Apa kau tuli? Apa kau bodoh?"


Tanya Azira sambil menghempas kasar tangan wanita serakah tua bangka itu.


"Nyonya Bara yang terhormat, pemilik club' malam tempat Ibuku bekerja dan teraniaya. Aku, Azira Humaira menegaskan sekali lagi bahwa aku tidak akan pernah sudi bergabung dengan bisnismu. Apalagi dengan alasan mengikuti jejak Ibuku di sana? Bukankah kita sudah sama-sama tahu jika selama ini Ibuku tidak pernah mengizinkan mu bertemu dengan ku. Dan yah, alasan jelasnya kau sudah sangat paham, bukan." Ucapnya teguh tanpa ragu.


Baik, melihat betapa keras kepalanya wanita ini Azira tidak punya pilihan lagi selain mengatakan ini. Wanita itu juga seharusnya tahu bahwa ia tidak bisa terus memaksanya ikut bergabung dengan bisnisnya yang diluar jalur norma masyarakat.


"Azira, jangan seperti ini. Tolong pikirkan baik-"


"Aku bilang tidak sudi, sialan!" Marah Azira tidak bisa menahannya lagi.


"Kenapa kau sulit sekali mengerti apa yang aku katakan padahal otakmu tidak bermasalah dan tampak baik-baik saja?" Tanya Azira heran bercampur kesal dengan nadanya yang kasar.


Dia menatap jengah nyonya Bara, wanita tua bangka serakah yang kini mulai merah wajahnya menahan emosi.


"Kau lihat rumah ini," Tunjuk Azira pada rumah mewah Ayahnya dengan ekspresi bangga dan mencemooh.


Mengikuti arah telunjuk Azira, nyonya Bara tidak bisa tidak berdecak iri melihat rumah yang ada di depannya kini. Itu tidak hanya besar dan luas, namun juga mewah dan berkelas. Jelas, orang-orang bawah seperti mereka pasti akan iri ketika melihatnya.


"Lihat baik-baik, ini adalah rumah Ayah kandungku! Maka pikirkanlah sekarang! kau pikir aku akan gila masuk ke dalam bisnis menjijikkan mu di saat aku sudah punya kehidupan yang jauh lebih baik dan tidak menderita lagi seperti dulu?" Ejek Azira senang.


"Bahkan semua harta yang kau punya tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan ini, maka seharusnya setelah hari ini kau tahu diri jika kekayaan mu tidak ada apa-apanya dengan kekayaan keluargaku." Azira harap wanita ini akan tahu diri pada posisinya yang arogan dan tidak akan pernah mengganggunya lagi.

__ADS_1


"Sadarlah, sekarang kita sudah tidak berada di level yang sama lagi, okay?" Katanya dengan nada merendahkan.


Gemetar menahan marah, "O, jadi kau sudah kembali bersama Ayah yang membua-"


"Jika, iya memangnya kenapa? Kau tidak suka? Hahah..kembali kepadanya jauh lebih baik daripada harus bergabung bersama mu yang miskin. Pikirkan saja keuntungan apa yang akan aku dapatkan di rumah ini jauh lebih baik bila dilihat dari manapun, daripada aku bergabung dengan bisnis mu yang tidak menghasilkan banyak uang!"


Nyonya Bara mengatupkan mulutnya tidak bisa menjawab, dia  hanya menatap Azira dengan pandangan penuh benci dan amarah yang meluap-luap. Memang benar apa yang Azira katakan bahwa di rumah ini dia bisa mendapatkan apapun dibandingkan bekerja dengannya. Nyonya Bara tidak bisa menampik kebenaran ini.


Azira sangat senang dan merasa di atas angin ketika melihat wajah gelap nyonya Bara, dia menaikkan salah satu alisnya bersikap angkuh, "Tentu saja aku lebih senang ikut dengannya karena di sini aku bisa membuat keuntungan yang jauh lebih besar."


"Jadi," Dia mundur beberapa langkah.


"Aku harap mulai sekarang kamu jangan datang menggangguku lagi karena kita sudah tidak berada di level yang sama lagi. Tidakkah kamu mengerti ini? aku si kaya dan kamu si miskin? sungguh sangat menyedihkan." Setelah mengatakan ini tanpa ragu ia berjalan kembali masuk ke dalam halaman rumah tersebut, berniat menyusul mbok Yem yang terlihat khawatir di sana.


"Azira, kamu-"


Membalikkan badannya menghadap nyonya Bara yang masih di tempatnya.


"Kau, berpikirlah jika suatu hari nanti ingin mengganggu ku karena aku tidak akan pernah sungkan-sungkan melaporkan mu ke polisi, paham?" Senyumnya manis namun tidak bisa sampai ke dalam mata nyonya Bara.


Bahkan punggungnya pun mulai dirayapi perasaan dingin, membuatnya menggigil seketika. Ini adalah pembicaraan mereka yang kesekian kali namun walaupun begitu nyonya Bara masih belum terbiasa menghadapi sifat keras kepala Azira yang begitu akut. Bahkan sering kali ia dibuat terkejut dengan sikap Azira yang bertolak belakang dengan Ibunya yang lebih penurut dan patuh. Ibunya lebih mudah dihadapi daripada Azira.


Padahal mereka berdua punya ikatan darah yang kental, bukan?


Dan bukankah mereka berasal dari darah yang sama?


Namun mengapa Azira begitu berbeda dengan Ibunya yang polos?

__ADS_1


Mengapa karakter Azira jauh lebih pembangkang daripada Ibunya?


"Sial, gadis ini memang keras kepala." Membawa tatapannya menatap rumah mewah yang menggiurkan.


"Apalagi sekarang ia sudah menjadi orang kaya, sikapnya pasti bertambah congkak dan sulit dihadapi." Gumam nyonya Bara iri dan cemburu melihat betapa kayanya sekarang Azira.


Ia bahkan lebih kaya dari dirinya yang sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk menaikkan status derajatnya. Tapi Azira?


Ia hanya butuh Ibunya mati lalu Ayah kandungnya akan datang membawanya pergi. Menjadikannya salah satu anggota keluarga orang kaya yang elite.


Mengapa keberuntungan gadis ini begitu bagus disaat dirinya sedang bersusah payah mengejarnya?


"Azira..Azira, kau pikir aku akan percaya dengan ancaman mu?" Tertawa sinis.


"Kau tunggu saja kedatangan ku nanti, karena tidak mempan menggunakan cara baik-baik maka aku akan menggunakan cara licik saja. Azira, kau berhati-hatilah." Gumam nyonya Bara berambisi.


Kecantikan ini begitu sayang dilewatkan oleh karena itu nyonya Bara akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Meskipun harus menggunakan cara licik atau jahat ia tidak akan perduli karena ini adalah Azira, gadis cantik keras kepala yang selalu menyulut api kemarahannya.


"Nyonya, klien besar itu menghubungi kita lagi." Lapor pria berkacamata tiba-tiba muncul dihadapan nyonya Bara.


Menghela nafas kasar, "Katakan agar ia bersabar sebentar lagi karena mangsa kita ini sangat liar dan mudah berontak."


Perintahnya tidak berdaya seraya berjalan menjauh dari rumah keluarga Azira, tidak, lebih tepatnya dari keluarga Humairah.


"Non Azira teh gak apa-apa?" Khawatir mbok Yem melihat majikan barunya ini terlihat tidak baik-baik saja.


Tersenyum kecil, "Aku gak apa-apa kok, mbok, cuman pusing aja." Elak Azira tidak ingin memperpanjang percakapan.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2