
Azira naik ke atas kamar setelah bersihkan dapur dan mencuci piring bersama Sasa. Masuk ke dalam kamar tidak ada siapapun. Kenzie masih berbicara dengan Abah dibawah. Dia tidak berani menggangu pembicaraan mereka berdua sehingga dia memutuskan untuk naik sendiri. Di dalam kamar Azira tidak menganggur. Pertama-tama dia membersihkan diri di kamar mandi dengan air hangat, kemudian membersihkan kamar dan menyusun barang-barang belanjaan ke dalam lemari. Sementara beberapa make up yang dia beli dirapikan di atas meja rias.
"Besok mas Kenzie kembali bekerja ke rumah sakit. Aku akan menyetrika pakaian yang mas gunakan besok. Tapi..." Dia ragu mengambil pakaian yang mana.
Takut jika Kenzie tidak suka dengan pilihan yang dia pilih, Azira tidak berani mengambil pakaian dalam lemari. Di samping itu Azira tidak tahu referensi pakaian yang Kenzie suka kenakan ketika bekerja. Makanya lebih baik dia menunggu Kenzie kembali untuk pilihan sendiri.
Cklak
Pintu kamar dibuka. Bersamaan dengan itu Kenzie masuk ke dalam kamar. Azira spontan mengangkat kepala sampai mata mereka berdua bertemu,
Deg
Azira memalingkan kepalanya panik berpura-pura menatap lantai kamar. Langkah Kenzie tersendat, sudut bibirnya bergerak sedikit membentuk garis senyuman samar, sedetik kemudian dia kembali ke penampilan sebelumnya. Tangannya mendorong pintu agar tertutup lalu berjalan menghampiri Azira.
"Ada apa?" Kenzie merasa ada sesuatu yang ingin Azira katakan kepadanya.
Bulu mata Azira bergetar, ragu, kepalanya perlahan-lahan naik ke atas memandangi laki-laki tampan dan tinggi yang kini sedang berdiri tepat di depan dirinya.
Hati Azira bergetar. Memegang erat kain gamisnya, Azira mencoba setenang mungkin di depan Kenzie. Jangan sampai Kenzie menyadari kalau ada sesuatu yang aneh di dalam diri Azira. Entahlah, beberapa waktu ini reaksi tubuh Azira agak abnormal ketika berdekatan atau bertatapan dengan Kenzie. Em, dulu saat Kenzie menyelamatkannya dari wanita tua bangka itu, perasaan ini terlalu jelas. Dulu bukan masalah karena mereka tidak saling mengenal. Tapi sekarang menjadi masalah sebab Azira takut dirinya jatuh cinta kepada Kenzie. Sejujurnya dia tidak inginkan Kenzie merasa muak.
"Besok mas Kenzie masuk kerja. Aku mau bertanya sama mas, mas Kenzie besok mau pakai baju apa biar aku setrika malam ini." Jawab Azira setelah bangun dari duduknya.
Dia sengaja berdiri menyamping menunggu Kenzie mengambil pakaian di dalam lemari.
__ADS_1
Melihat kegugupan Azira, dia tersenyum samar. Dia membuka lemari pakaian dan mengambil baju tidur di dalam. Azira mengerutkan kening heran. Mana bisa Kenzie pergi bekerja dengan baju tidur. Tidakkah itu akan terlihat aneh di mata orang lain?
"Mas Kenzie mau pakai baju tidur waktu kerja besok?" Tanya Azira polos.
Sudut bibir Kenzie berkedut tertahan, dia mengusap puncak hidungnya malu dan berkata,"Siapa bilang aku mau pakai baju tidur saat kerja besok. Baju ini yang akan aku pakai untuk tidur malam ini." Kenzie menjelaskan.
"Oh..." Pipi Azira memerah.
Azira memiliki sikap yang aneh menurut Kenzie. Terkadang dia berduri seperti landak, tampak tidak mudah didekati. Tapi terkadang pula dia seperti anak kucing, jinak dan mudah didekati. Misalnya saat ini. Kepolosan Azira mengingatkan dia pada anak kucing di jalan. Anak kucing itu terlantar dan belum mengerti bagaimana dunia bekerja. Sama seperti Azira, untuk sejenak dia memperhatikan bila Azira sebenarnya tidak terlalu mengenal dunia.
Jika kamu belum mengenal bagaimana dunia ini bekerja, lantas dari mana dirimu mendapatkan keberanian untuk duduk di sampingku pada hari pernikahan itu? Batin Kenzie penasaran.
Dia mengira kalau Azira merupakan orang yang bengis dan tidak rendah hati ketika melihat kejahatan besar apa yang telah dilakukan.
"Pilih saja di lemari. Aku tidak masalah menggunakan yang manapun. Ini juga berlaku untuk hari-hari selanjutnya. Jika kamu ingin menyetrika pakaianku, setrika saja baju yang kamu pilih karena aku bukan orang yang tidak pilih-pilih. Selain itu semua pakaian yang ada di dalam lemari adalah pakaian yang ku beli sendiri. Artinya tidak ada yang tidak ku suka. Maka kamu bebas menyesuaikannya." Setelah memberikan Azira kebebasan untuk memilih memilih dan mengambil pakaian, dia segera berbalik menuju kamar mandi.
Azira menatap punggung Kenzie yang perlahan menjauh dan menghilang dari balik pintu kamar mandi. Mengambil nafas panjang, hatinya yang sempat tegang akhirnya rileks. Entah kenapa Kenzie memberikannya rasa ancaman. Padahal Kenzie adalah orang yang sangat baik, ya, dia sangat baik. Dan akan semakin baik kalau dia sering tersenyum. Sayangnya Kenzie selalu memasang muka tembok ketika bersama dengan Azira. Apakah dia tidak tahu kalau itu membuat Azira tegang?
"Okay, ayo bekerja." Azira meluangkan waktu untuk memilih kemeja yang akan Kenzie akan gunakan besok, kemudian mengambil bawahan berwarna hitam sebelum pergi untuk menyetrika.
Enaknya di kamar Kenzie semuanya lengkap. Dari mesin cuci sampai setrika, semuanya sudah ada di bilik samping kamar mandi.
Tidak sulit menyetrika pakaian karena terkadang Azira dulu mengambil pekerjaan ini. Lumayan, 50.000 dalam waktu satu minggu, uang sebanyak ini didapatkan hanya dengan menggerakkan tangan. Azira sangat puas.
__ADS_1
Kurang lebih 20 menit kemudian dia meletakkan pakaian Kenzie yang sudah disetrika di atas gantungan samping kamar mandi.
"Sudah selesai?"
Kenzie duduk di atas kasur dengan penampilannya yang lebih menyegarkan dan tampan. Rambut basahnya disisir ke belakang, sehingga menunjukkan sepenuhnya wajah tampan Kenzie. Biasanya keningnya akan ditutupi oleh rambut tipis.
Untuk sesaat Azira tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kenzie. Penampilan Kenzie terlalu menyihir mata. Dan lagi-lagi reaksi tubuhnya membuat hati resah. Dia panik namun tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
"Kenapa diam saja? Kemarilah." Desak Kenzie berpura-pura tidak melihat ada sesuatu yang aneh dengan Azira.
Azira tersadar. Wajahnya langsung memerah. Menundukkan kepala, dia berjalan ke sana dan naik ke atas kasur.
"Di mana dompetmu?"
"Dompet? Oh," Hari ini dia membeli model dompet yang sama dengan Sasa.
Sasa mengambil warna hitam, sedangkan dirinya mengambil warna hijau muda. Cantik sekali. Sejujurnya Azira tidak berani membeli dompet ini karena harganya mahal.
Karena terlalu mahal dia memutuskan untuk menyimpan dompet ini di nakas dan berencana untuk tidak menggunakannya.
"Dompet digunakan untuk menyimpan uang bukan untuk disimpan. Karena kamu sudah membelinya, maka jangan disimpan dan gunakan sesuai dengan fungsinya. Bila kamu takut dompet ini rusak, kita bisa membelinya. Dompet ini tidak mahal." Seolah bisa membaca kekhawatiran Azira, dia menasehati Azira agar jangan menyimpan dompet ini. Lagian ini cuma dompet biasa, bukan terbuat dari emas atau berlian, jadi untuk apa dibeli kalau cuma disimpan?
Azira ingin protes. Tapi ketika dia mendengar kalimat terakhir suaminya, kata-kata yang hampir mencuat dari dalam mulut akhirnya dengan paksa ditelan kembali. Memang susah berbicara dengan orang kaya. Karena pikiran mereka tidak sinkron.
__ADS_1