Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 27.6


__ADS_3

"Maafkan aku, mas." Bisik Azira merasa menyesal.


Suaminya mungkin terlihat sempurna di luar, tapi jauh di dalam hati Azira tahu bahwa suaminya tidak sesempurna itu. Dia memiliki sebuah obsesi dan rasa kepemilikan yang kuat terhadap hal-hal yang telah dia miliki. Contohnya seperti Azira.


Bagi Kenzie, Azira adalah separuh hidupnya. Jika Azira pergi maka hidupnya tidak akan lengkap bahkan mungkin kacau.


"Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kejadian hari itu memberikan sebuah pelajaran kepada ku agar jangan memberikan kesempatan atau peluang untuk kamu bertindak cemburu. Sebab aku takut...takut kamu menyerah." Bisik Kenzie sedih.


Hatinya suram memikirkannya. Gara-gara ini dia memiliki pendapat yang sangat buruk terhadap orang-orang yang memiliki niat untuk mendekatinya. Karena baginya orang-orang itu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan membuat Azira membuat keputusan impulsif.


"Maaf, mas...aku bukanlah wanita yang sabar. Kehidupan rumit Ibu telah menganggarkan ku agar jangan mengulangi kesalahan yang telah Ibu lakukan karena aku tidak ingin berakhir seperti Ibu." Katanya meminta maaf.


Kenzie mengerti trauma yang telah dialami oleh istrinya.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi aku mohon tolong bicarakan apa yang mengganggumu dan apa yang membuat kamu tidak nyaman agar kita tidak salah paham lagi seperti tempo hari." Kenzie berbicara dengan suara yang begitu lembut.


Azira mengangguk malu.


"Makanya aku bertanya sama mas Kenzie tadi, siapa wanita itu?" Azira melirik ke belakang.


Wanita itu masih berdiri di sana dengan ekspresi tak bersahabat. Cek, semakin bertingkah wanita itu maka semakin menjadi-jadi Azira.


Azira memeluk erat punggung suaminya untuk mendapatkan kehangatan sekaligus memprovokasi wanita itu.


Sebenarnya yang Kenzie tidak terlalu tahu adalah wanita-wanita di sini karena memang Kenzie dulu memiliki sikap yang cukup 'menolak' terhadap para wanita.


Azira semakin senang.

__ADS_1


"Oh, mas Kenzie enggak tahu, toh. Tapi kok aku liat tadi dia kayak ngomong sesuatu sama mas Kenzie?" Dia penasaran.


Kenzie mendengus,"Dia mau minta bantuan ku untuk tugas kuliahnya. Kebetulan dia sekolah kedokteran di tempat aku kuliah dulu." Nadanya tidak puas.


Azira tersenyum tipis,"Ah...jadi kalian satu sekolah. Kenapa enggak bantu aja, mas?"


Kenzie gatal ingin menggigit pipi istrinya tapi tidak bisa melakukannya. Alhasil dia melampiaskannya dengan *******-***** pinggang berdaging Azira.


"Aku tidak mau. Sebaiknya mengindari fitnah. Lagipula yang sekolah di sana bukan cuma aku jadi dia lebih baik mencari bantuan ke orang lain. Tapi di samping itu semua yang paling penting adalah aku enggak mau melihat kamu sakit hati bahkan memiliki prasangka kepadaku. Memang suka melihat kamu cemburu tapi juga takut karena kamu bisa saja membuat keputusan impulsif. Aku enggak mau." Berusaha menjaga hati istrinya dan menjaga hati serta pikirannya untuk sang istri, Kenzie mencoba memuliakan istrinya sepenuh hati.


Memberikan yang terbaik kepada istrinya. Kenzie percaya Allah akan membalasnya dengan menjaga keutuhan rumah tangganya dengan Azira hingga ke Jannah kelak.


"Mas Kenzie..." Azira terharu.

__ADS_1


"Kenapa-"


__ADS_2