Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 7.1


__ADS_3

Sementara itu rumah kedatangan tamu. Orang-orang yang datang adalah orang-orang yang tidak asing bagi semua penghuni rumah. Mereka datang ke sini terutama untuk bertemu dengan Kenzie dan Azira. Namun pasangan suami istri baru itu sedang tidak ada di rumah jadi mereka hanya bisa berbicara dengan Abah dan Umi.


"Di mana Kenzie dan Azira? Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan mereka." Begitu duduk di sofa, orang pertama yang membuka suara adalah Ayah.


Benar, tamu yang datang adalah keluarga Humairah. Ayah, Bunda, dan Bibi Safa hadir secara langsung untuk berbicara 'intim' dengan Azira. Tujuannya sudah jelas, tanpa dikatakan pun Abah sudah mengerti.


Abah duduk tenang di salah satu sofa single. Mata tuanya yang jernih melirik Umi. Wajah Umi terlihat jauh lebih cerah dari beberapa saat yang lalu. Tanpa sepengetahuan Abah, dia mengizinkan keluarga Humairah datang ke rumah. Namun hal yang paling disesali Kenzie tidak ada di rumah sehingga mereka hanya bisa berbicara dengan Abah dan Umi.

__ADS_1


"Kenzie dan Azira sedang pergi untuk berbelanja. Apa kalian punya sesuatu untuk dibicarakan? Beritahu saja aku. Bila mereka pulang nanti aku akan memberitahunya." Suara Abah sangat tenang di hadapan semua orang.


Dia berbicara seakan tidak mengerti tujuan orang-orang ini datang ke rumahnya.


"Abah, telepon saja Kenzie untuk segera pulang ke rumah. Urusan ini jauh lebih penting daripada berbelanja." Umi berbicara kepada Abah sambil mengeluarkan ponselnya.


"Jangan coba-coba. Putraku dan istrinya terlalu sibuk mengurus urusan rumah sehingga mereka lupa meluangkan waktu untuk bersama. Hari ini mereka akhirnya bisa menghabiskan waktu setelah melalui masa yang sulit, jadi jangan ganggu mereka dan diamkan saja. Tunggu mereka pulang." Abah menghentikan Umi agar tidak menelpon Kenzie.

__ADS_1


Ayah, Bunda dan bibi Safa tercengang. Mereka sock mendengar Abah. Dengan kata lain Azira telah diterima di rumah ini terlepas kejahatan apa yang telah dilakukan.


"Kak, apa-apaan semua ini? Pernikahan Kenzie dan Humairah adalah pernikahan yang kita restui. Kakak harusnya menasehati Kenzie agar membatalkan pernikahan ini. Sampai kapanpun pernikahan ini tidak akan berbuah bahagia. Selain rasa sakit dan keputus asaan, Kenzie tidak akan mendapatkan apa-apa di dalam pernikahan ini. Jadi sebelum pernikahan ini berjalan jauh dan lebih menyakiti lagi, lebih baik pernikahan ini di sudahi saja. Selain itu anak-anak yang kita restui menikah adalah Kenzie dan Humairah, sebagai orang tua tentu kita merasa sakit hati melihat mereka hancur. Yang satu terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia dan yang satunya lagi terjebak dalam lara dari pernikahan yang dihancurkan. Mereka sama-sama disakiti dan tersakiti, kita tidak boleh membiarkan ini terus berlarut. Mereka harus berada di tempat yang seharusnya, menikah lalu memulai hidup bahagia yang selama ini mereka berdua impikan. Tidakkah kakak ingin melihat Kenzie bahagia?" Ayah langsung berbicara di bawah desakan Bunda.


Sejak awal pernikahan yang disepakati adalah Kenzie dan Humairah. Pernikahan ini sudah dibicarakan lama namun baru diungkit beberapa bulan yang lalu oleh pihak Humairah. Katanya sih jatuh cinta dalam pandangan pertama ketika melihat Kenzie di sebuah acara. Dan kebetulan karena Ayah telah mengikat janji dengan Abah beberapa tahun yang lalu untuk pernikahan anak-anak, Humairah akhirnya memiliki kesempatan untuk dekat dengan Kenzie. Semuanya berjalan dengan lancar pada awalnya. Rencana sudah dibuat dan pernikahan pun dibuat sebaik mungkin, namun Azira adalah bom waktu yang telah diam-diam menyusup ke dalam mimpi Humairah. Mimpi yang harusnya berakhir indah menjadi angan-angan belaka dan membuat banyak orang tertawa, karena sesama saudara yang terlahir dari Ibu yang berbeda ternyata memiliki dendam di hati masing-masing.


"Rama, bolehkah aku tahu dari mana kamu menyimpulkan bahwa pernikahan yang terjadi di antara Kenzie dan Humairah akan berakhir bahagia, sedangkan pernikahan yang terjadi di antara Kenzie dan Azira akan berakhir saling menyakiti? Bahkan diriku yang mengaku sebagai seorang Ayah tidak bisa menebak hasil akhir dari pernikahan ini karena semuanya berjalan sesuai dengan takdir yang telah ditentukan oleh Allah. Mungkin saja awalnya pahit tapi hasil akhirnya manis, dan mungkin saja awalnya manis tapi hasil akhirnya pahit. Kita tidak benar-benar tahu ke mana takdir membawa pernikahan ini. Namun satu hal yang aku tahu adalah janji pernikahan untuk anak-anak yang kita buat dulu bukan ditujukan kepada Humairah, tapi kepada Azira. Apakah kamu melupakannya?"

__ADS_1


__ADS_2