Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 24.5


__ADS_3

Umi dan Abah selesai berbicara tapi keadaan tidak membaik. Maksudku, rumah berjalan sebagaimana mestinya. Sasa pergi kuliah dan belum pulang ke rumah, dan Umi maupun Abah juga ada di rumah. Selain mereka berdua aku sangat senang karena mas Kenzie memiliki waktu bersamaku di rumah seharian. Mungkin karena dalam keadaan mood yang baik setelah mengetahui hasil kehamilan ku, rasa kantuk dan lelah yang aku rasakan hari ini tidak ada atau masih belum datang. Entahlah, tapi yang pasti aku sangat bersemangat beraktivitas di rumah.


Karena aku masih hamil muda dan ini juga kehamilan pertama, Umi melarang ku bekerja. Demi membuatku agar tetap diam dan tidak menyentuh pekerjaan, Umi tadi siang memanggil Bi Imah untuk menetap dan bekerja di rumah. Dengan bi Imah pekerjaan rumah jauh lebih ringan. Seenggaknya ada orang yang membantu Umi di rumah. Selain melakukan pekerjaan di rumah, bi Imah juga memiliki tugas untuk mengawasi ku. Menyediakan kebutuhan ku dan membantuku melakukan apapun. Aku merasa terharu dengan perhatian Umi, namun di saat yang sama aku juga agak malu karena diperlakukan sedemikian rupa oleh Umi. Pasalnya aku bukanlah wanita yang rapuh. Meskipun aku hamil, aku masih bisa melakukan berbagai macam pekerjaan. Tentu saja aku akan mawas diri. Tidak akan membiarkan diri ini kelelahan atau sampai-sampai menyakiti bayiku sendiri. Aku pasti akan lebih bijaksana.


"Bosan?" Aku menoleh ke belakang.


Mas Kenzie datang sambil membawa segelas susu coklat di atas nampan. Selain susu coklat, di nampan juga ada beberapa kue dan buah-buahan yang sudah dibersihkan kemudian dipotong rapi.


Mas Kenzie awalnya orang yang sangat perhatian, dan setelah kehamilan ini aku yakin dia pasti akan lebih perhatian lagi.


"Hum. Umi tidak mengizinkan aku memegang apapun. Aku bosan hanya duduk diam tak bergerak di sini." Kataku mengeluh.


Mas Kenzie meletakkan nampan di atas meja tepat di depan ku. Saat ini kami berdua berada di taman belakang. Duduk bersantai memandangi pohon buah-buahan yang mas Kenzie tanam. Setelah menikah urusan taman belakang diambil alih oleh diriku. Biasanya aku bertugas membersihkan, menyiram tanaman-tanaman di pagi dan sore hari, lalu sesekali memotong rumput-rumput nakal yang mengambil nutrisi tanah untuk beberapa tanaman. Aku sudah biasa melakukan. Dan sekarang tiba-tiba aku tidak diizinkan untuk menyentuhnya lagi, rasanya agak lain.


"Turuti saja apa yang Umi katakan kepada kamu karena ini demi kebaikan kamu sendiri. Dia melarang kamu melakukan pekerjaan ini dan itu karena Umi berpengalaman, dia pernah berada di posisi kamu. Di dalam medis sendiri juga dikatakan seperti itu. Bahwa seorang wanita yang sedang hamil muda tak diizinkan untuk melakukan pekerjaan ringan ataupun berat. Mungkin kamu merasa mampu menanggungnya karena sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu, tapi tidak dengan bayi kita. Dia masih kecil, sungguh sangat kecil yang mana sangat rentan terhadap gangguan. Jadi demi kebaikan kamu dan bayi kita sebaiknya kamu menahan diri. Sebenarnya tidak apa-apa melakukan beberapa pekerjaan misalnya seperti mencabut rumput, tapi demi keamanan kamu jangan dulu menyentuh pekerjaan. Mungkin setelah usia kandungan kamu cukup tua baru bisa stabil melakukan aktivitas berat." Mas Kenzie berbicara sangat pelan kepadaku.


Dari nada suara dan cara bicaranya yang lembut, dia berusaha membuatku mengerti keputusan Umi. Setelah dipikir-pikir memang ini demi kebaikan aku sendiri. Namun bukankah berlebihan kalau Umi sampai melarangku mengurus halaman belakang tempat suamiku bercocok tanam?


Ya, kurasa. Tapi aku bisa mengerti kekhawatiran Umi. Dan selain itu keluargaku berbeda dengan mereka. Orang biasa ataupun miskin tidak akan seketat ini karena mereka sudah terbiasa melakukan pekerjaan. Terlepas berat atau ringan. Tapi mungkin kebiasaan keluarga kaya berbeda. Seperti sekarang, Umi sangat ketat kepadaku.


"Aku tahu, mas. Aku mengerti kalau Umi melakukan ini karena kebaikan aku dengan anak kita. Tapi jujur aku tidak terbiasa duduk bersantai seperti sekarang." Kataku malu.


Dia terkekeh. Mengambil piring buah dan menyerahkan garpu kepadaku. Saat mencium potongan buah di garpu, ludahku langsung berdecak mendambakannya. Ini buah apel. Buahnya renyah dan sangat harum, lebih harum dari buah apel yang dijual pinggir jalan.


"Terima kasih." Aku mengambil garpu itu dan setelah membaca bismillah, aku memasukkan potongan apel ke dalam mulutku.


Dan hum, rasanya sangat manis dan segar. Karena ketagihan aku mengambil lagi di bawah senyuman lebar dari suamiku.


"Manis?" Tanyanya kepadaku.


Aku mengangguk cepat. Rasanya sangat manis.


"Manis. Mas mau?" Aku menawarkan.


Dia menggelengkan kepalanya. Mas Kenzie memang tidak terlalu suka makan buah. Bukannya enggak suka, tapi lebih ke pemilih. Buah yang mas Kenzie gemari cukup umum seperti pir hijau, anggur hijau, jeruk, semangka dan sesekali makan buah tin atau kurma. Setahuku inilah yang mas Kenzie sukai.


"Enggak, lihat kamu makan aja udah cukup."


Ah, mas Kenzie sangat imut. Apa yang mas Kenzie katakan membuatku merasa malu.


"Mas Kenzie kan enggak doyan makan buah." Kataku bercanda.


Dia balik bercanda, tapi candaannya langsung membuatku merinding disko,"Enggak, sebenarnya aku doyan kok. Tapi buah kamu." Katanya sambil mengarahkan mata menatap dadaku.


Bug


Jantungku berpacu cepat. Aku merasakan desir yang sering kali kurasakan setiap bersentuhan dengan mas Kenzie.


Panik, buru-buru aku melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar perkataan masih Kenzie. Soalnya apa yang mas Kenzie katakan terlalu vulgar.


"Mas, ih!" Aku protes.


Dia tertawa,"kenapa sayang? Aku jujur loh."

__ADS_1


Tapi sungguh sangat disayang aku tidak membutuhkan kejujuran mas sekarang, apalagi kalau soal menyangkut...ah... Aku nggak bisa ngomong apa-apa.


"Mas, hati-hati." Kataku cemberut.


Mas Kenzie terbatuk. Dia mengangkat tangannya ingin mencubit pipiku, tapi segera aku tepis karena jengkel. Habisnya mas Kenzie menyebalkan.


"Okay, aku enggak akan ngomong sembarangan lagi."


Aku tidak percaya dengan janjinya. Palingan beberapa menit lagi, mas Kenzie akan membuat ulah. Berdoa saja tidak ada yang melihat ataupun mendengar pembicaraan kami sekarang.


"Ekhem, tadi kamu bilang nggak biasa duduk santai seperti sekarang?" Mas Kenzie mungkin kembali topik pembicaraan.


Aku lega. Jantungku akhirnya memiliki kesempatan untuk sedikit bersantai.


Mendengar pertanyaan dari suamiku, secara alami aku menganggukkan kepalaku. Karena aku memang tidak terbiasa.


"Jadi kamu mau bergerak?" Tanyanya dengan alis terangkat.


Aku menyipitkan mataku menatap mas Kenzie pasalnya apa yang dia katakan memiliki warna-warna ambiguitas. Aku curiga 'bergerak' yang dimaksud mengarah ke 'itu'.


"Mas, jangan aneh, deh. Ingat apa yang Umi bilang! Jangan macam-macam sama aku. Kalau enggak, nanti aku laporin Umi, lho." Ancam ku serius kepadanya.


Mendengar ancaman dariku dia lantas tertawa terbahak-bahak. Apa?


Apakah ada sesuatu yang lucu?


Apa yang aku bilang serius, lho. Tapi kenapa mas Kenzie justru tertawa mendengarnya, mungkinkah... Mungkinkah ada sesuatu yang aneh di wajahku?


Aku memegang pipiku ragu.


Aku jadi malu. Wajahku rasanya panas sekali. Jika bisa aku ingin sekali menggali tanah untuk menyembunyikan wajahku dari mas Kenzie. Ugh, jelas-jelas yang menggunakan nada ambigu mas Kenzie sendiri, tapi kenapa dia berbalik menuduhku?


"Nggak, gini lho sayang... Kalau kamu nggak suka duduk aja, kamu bisa bergerak juga. Jalan-jalan di sini dan menghirup udara segar, insya Allah kamu pasti enggak akan bosan. Misalnya kalau kamu bosan melihat pemandangan taman ini, tinggal bilang saja sama aku. Kalau ada waktu aku pasti akan berusaha meluangkan waktu untuk menemani kamu jalan-jalan. Dan misalnya aku bekerja di kantor, kamu bisa meminta Umi ataupun Sasa dan Mona untuk menemani kamu jalan-jalan. Tidak dengan mereka saja, tapi ada juga sepupu-sepupu dan bibi yang lain di sini, aku yakin mereka mau loh nemenin kamu. Selama kamu jalan-jalannya di sekitar sini, aku izinin kok. Paham sekarang?"


Aku menundukkan kepalaku sambil berpura-pura fokus memasukkan buah ke dalam mulutku. Padahal fokusku sekarang terbelah dua. Antara malu memikirkan tadi dan mendengarkan apa yang mas Kenzie jelaskan. Ah, ini sangat memalukan.


"Ah...jadi begitu." Aku berusaha terlihat normal di depan mas Kenzie.


Meskipun begitu aku tidak berani melihat ke arahnya. Takut kalau aku melihat, dia akan tertawa lagi yang sangat menyebalkan. Um, mas Kenzie menyebalkan.


"Ngantuk?"


Aku menggelengkan kepala.


"Belum, mas." Tiba-tiba aku melihat Umi lewat sambil membawa beberapa barang.


"Umi sama Abah udah baikan?" Pasalnya Abah masih terlihat lesu terakhir kali aku melihatnya.


Mas Kenzie mengangkat bahu.


"Sepertinya belum. Soalnya beberapa kali Umi mengabaikan Abah tadi. Jangan terlalu dipikirin. Abah sama Umi kalau lagi berantem emang seperti ini. Nanti malam juga mereka baikan lagi seperti biasanya." Kata mas Kenzie santai.


Setelah mas Kenzie mengatakannya, aku merasa jauh lebih ringan.

__ADS_1


"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Um, mas Kenzie bilang tadi pagi mau ngajakin aku ke rumah sakit." Aku tiba-tiba teringat dengan apa yang mas Kenzie katakan tadi pagi.


Alhamdulillah, mas Kenzie sudah mengundurkan diri dari rumah sakit dan sekarang beralih mengambil alih pekerjaan Abah di kantor. Aku turut senang karena mas Kenzie dapat meringankan beban Abah dan menyenangkan hati Umi. Memang dari awal aku juga mendukung Umi. Aku lebih suka mas Kenzie bekerja di kantin karena waktunya tidak akan boros seperti di rumah sakit.


Di rumah sakit meskipun sudah ada jadwal, mas Kenzie sering pulang subuh dan kekurangan tidur gara-gara operasi pasien. Aku merasa perihatin dan berharap dia bisa melepaskan diri dari belenggu pekerjaannya di rumah sakit. Dan sekarang harapan ku terkabul. Insya Allah di masa depan mas Kenzie memiliki waktu lebih banyak untuk menemaniku.


"Iya, kita akan ke rumah sakit tapi setelah kamu selesai makan."


Aku tersenyum,"Aku kira enggak jadi."


"Pasti jadi. Aku udah penasaran dari tadi pagi mau tahu usia kandungan kamu. Mana mungkin kita nggak jadi pergi?"


Syukurlah. Aku juga penasaran berapa usia kandungan ku sekarang dan sempat khawatir kalau mas Kenzie tidak jadi pergi soalnya setelah tadi pagi mas Kenzie tidak pernah mengungkit soal ke rumah sakit.


"Um, aku juga sudah nggak sabar, mas."


Mas Kenzie lalu mengusap puncak kepalaku pelan.


"Kalau begitu segera habiskan makanan kamu agar kita segera pergi ke rumah sakit."


"Iya, mas." Aku memasukkan banyak potongan buah sekaligus ke dalam mulutku.


"Pelan..pelan, jangan sampai tersedak."


Aku mengangguk tapi tidak berhenti memasukkan buah. Setiap kali selesai menelan, aku akan memasukkan buah lagi. Kalau tenggorokan ku agak seret, aku membasahinya dengan susu coklat yang mas Kenzie buat. Hal ini berulang kali aku lakukan sampai makanan di atas nampan berkurang cepat.


...******...


Pagi-pagi Sasa berangkat ke rumah Mona dengan sarapan bubur dan kue lupis di tangan. Beberapa hari ini Mona tidak menginap di rumah karena memiliki urusan lain. Mona enggan, maunya tinggal di rumah Sasa tapi Mamanya memanggil pulang karena ada urusan yang mendesak. Bahasa kasarnya sih dia dipanggil pulang untuk menjadi babu gratis. Dan inilah yang membuat Mona sangat enggan pulang ke rumah.


"Apa yang kamu bawa?" Mana melirik kantong plastik yang Sasa bawa.


Tanpa menunggu jawaban dari sepupunya dia sudah tahu apa yang ada di dalam kantong plastik. Dia langsung mengambilnya dan mengeluarkan makanan ke atas meja.


"Sarapan, gih." Kata Sasa sambil mendudukkan diri di kasur.


Mona menatapnya,"Kamu udah?"


Sasa menggelengkan kepalanya acuh. Dia tidak lapar dan tidak memiliki nafsu makan. Kalau enggak, bagaimana bisa dia menyerahkan jatah makanannya ke Mona sementara dia sendiri masih lapar.


"Diet." Jawab Sasa asal-asalan.


"Tumben kamu diet. Biasanya kamu ceramahin aku kalau lagi diet. Nggak sehat lah, nggak baik lah, kamu selalu bilang begitu. Eh kok tiba-tiba sekarang diet?" Olok Mona sambil menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.


Masih hangat dan harum, dia tidak bisa menahan diri memasukkan satu sendok lagi ke dalam mulut.


Sasa memutar bola matanya malas.


"Lagi mood aja. Jangan banyak omong, cepat habiskan sarapan kamu biar kita bisa langsung berangkat ke kampus. Hari ini aku nggak mau telat karena ada kelas Pak Al. Kamu tahu sendiri kan dia itu tipe dosen gimana, kalau sampai telat bisa berabe nilaiku sama dia." Desak Sasa makanya sering melihat waktu di ponsel.


Sebenarnya tinggal setengah jam lagi masuk, masih cukup lama apa lagi kampus tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Tapi Sasa buru-buru mau datang ke kampus gara-gara pesan Al kemarin. Dan selain itu, ini pertama kalinya Al mengajar di kelasnya yang sangat penting. Biasanya Al hanya mengajar di kelas atas dan jarang masuk ke tingkatan di bawah. Jika bukan karena dosen pengajarnya absen, Sasa mungkin tidak memiliki kesempatan mendapatkan kelas Al.


"Taulah, tapi inikan masih pagi banget, Sas. Masih setengah jam lagi, enggak usah terburu-buru." Kata Mona enteng.

__ADS_1


Lagian Al enggak mungkin datang tepat waktu karena biasanya dosen-dosen yang mereka temui rata-rata datang lambat. Ya meskipun enggak terlalu lambat, tapi yang penting mahasiswa punya waktu untuk mengejar waktu.


__ADS_2