
Dia menuntut sebuah penjelasan. Karena hatinya tidak mau berdamai bila mereka tidak menjelaskan alasan kenapa mereka mempertahankan Azira, si wanita jahat yang tega-teganya menghancurkan kebahagiaan adiknya sendiri demi memuaskan keserakahan hati. Menurut Amara pribadi Azira jauh lebih jahat daripada dirinya. Jadi yang seharusnya pergi bukanlah Amara melainkan Azira, monster bertopeng wajah cantik, si wanita jahat.
Semua keluhan Amara tepat mengenai titik terlemah Azira di dalam hatinya. Saat dia memikirkannya sendiri, Dia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya selama Kenzie mau menerima dirinya apa adanya. Namun saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Amara, tiba-tiba ada rasa malu yang belum pernah dirasakan selama ini. Dia menyadari bahwa dirinya penuh akan celah dan kekurangan. Itu persis seperti yang Amara katakan, latar belakang keluarganya, pekerjaan ibunya yang tidak biasa, dan pendidikan yang tidak terlalu tinggi, sekilas bila disandingkan dengan Kenzie, mereka berdua tidak cocok satu sama lain.
Sebab yang satu bersinar tapi yang lainnya tampak sangat redup.
"Bila kamu membutuhkan jawabanku, maka aku akan memuaskan rasa kecemburuan di dalam hatimu. Alasan kenapa aku membiarkan Azira tetap tinggal dan menjadi menantu keluargaku adalah pertama karena itu sejak awal memang kehendak dari Kenzie sendiri. Aku pernah mengatakan ketidaksukaan ku terhadap Azira kepada Kenzie dengan harapan putraku mau melepaskan Azira karena biasanya dia selalu penurut dan patuh. Tapi apapun yang aku katakan Kenzie tidak tergerak. Dia selalu menjawab ku dengan nada lembut, tapi tak pernah keluar sepatah katapun dari mulutnya bahwa dia ingin meninggalkan Azira. Saat itu aku tidak puas tapi juga tidak berdaya Karena itu adalah keinginan putraku sendiri. Kedua, ini adalah salah satu alasan aku mulai mencintai dan menerima Azira sebagai menantu di dalam keluargaku bahkan di hatiku posisinya sama dengan putriku yang lain. Azira bukanlah seorang pengganti, sekalipun caranya salah untuk mendapatkan Kenzie, tapi pernikahan di antara dia dan Kenzie adalah sebuah kebenaran. Mengapa? Karena Azira adalah tunangan Kenzie yang sesungguhnya dan bukan saudara Azira, yaitu Humairah. Skenario pernikahan mereka berdua yang tidak berjalan dengan baik bagi keluarga kami merupakan salah satu jalan yang Allah gariskan untuk mempertemukan pasangan yang sesungguhnya. Jika Azira tidak nekat melakukan itu, maka mungkin kami tidak akan pernah tahu bahwa pasangan Kenzie yang seharusnya adalah Azira. Qodarullah, Allah selalu memiliki cara untuk mengungkapkan kebenaran kepada hamba-hamba-Nya. Dan yang terakhir, menurutku ini adalah faktor yang paling kuat kenapa aku tidak mau memisahkan mereka berdua. Apakah kamu faktor apa yang aku maksud? Tidak, mungkin kamu tidak tahu karena kamu tidak berhasil melakukannya. Benar, kamu mengaku telah mengejar Kenzie selama bertahun-tahun lamanya namun selalu berakhir dengan penolakan. Dalam hal ini kamu tidak bisa menyalahkan siapapun karena hati Kenzie lah yang tidak bersedia menerima kamu. Kamu mengejarnya dengan menghabiskan banyak waktu dan telah mengorbankan banyak hal tapi kamu tidak mampu menggerakkan hati putraku ataupun membuat kehidupan putraku lebih hidup dan berwarna. Berbeda dengan Azira. Dia datang dalam waktu yang sangat singkat,l tapi dalam waktu yang singkat itu juga dia berhasil menggerakkan hati putraku. Tanpa perjuangan keras seperti yang kamu lalui Azira berhasil masuk ke dalam kehidupan putraku dan membuat hidupnya jauh lebih berwarna. Dia tampak hidup dan bahagia pada saat yang sama, sesuatu yang tidak pernah wanita manapun berhasil lakukan kepada putraku. Hanya Azira... Hanya dialah yang berhasil melakukannya. Jadi menurutmu dengan semua faktor-faktor ini apakah aku masih rela melepaskan Azira atau memisahkan hubungan mereka? Tidak, aku sama sekali tidak bersedia. Daripada membiarkan Azira pergi aku lebih sudi menendang Kenzie keluar dari rumah!"
Kenzie yang tengah mengharu biru di samping istrinya,"..." Apa salahku?
"Hehe..." Azira baru saja tenggelam dalam pikirannya dan merasa tertekan, namun semuanya seakan menguap setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Umi.
Matanya memerah, perlahan basah seiring perasaan hangat yang mulai menjalar di dalam hati. Dia tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya sekarang. Dia bahagia dan sangat bahagia, hanya itu yang bisa dia katakan sekarang. Dia tidak tahu kalau kesan Umi kepadanya sangat dalam.
Wajahnya basah karena menangis, menangis karena bahagia. Di rumah ini entah sudah berapa kali dia menangis tapi semua tangisan itu adalah tangisan kebahagiaan. Dia sungguh sangat bahagia karena Allah menganugerahkannya seorang suami yang luar biasa baik dan bertanggung jawab, kemudian bertemu dengan keluarga yang luar biasa hangat dan menerima dirinya apa adanya. Mungkin hanya Allah yang tahu betapa bahagia yang dirasakan oleh hatinya sekarang.
"Jangan menangis..." Bisik Kenzie lemah seraya menghapus air mata di wajah lembut istrinya.
Azira tersenyum malu. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya untuk bersembunyi. Dia malu dilihat menangis oleh suaminya. Dan dia lebih malu lagi ditonton oleh Umi dan Amara. Mungkin Amara akan berpikir jika dirinya lebay?
"Okay," Kenzie terkekeh geli,"istriku pasti sedang malu sekarang." Sembari memeluk Azira sayang.
Pokoknya dia sangat bergantung kepada Azira dan tidak mampu kehilangannya. Jika Azira pergi maka sebagian dari dirinya juga akan pergi. Entahlah, setidaknya itulah yang Kenzie rasakan setiap kali membayangkan Azira pergi meninggalkannya.
"Bohong.." Amara meragukan apa yang baru saja dia dengar.
Ternyata Kenzie dan Azira sudah bertunangan?
Dan seharusnya pengantin Kenzie adalah Azira, bukan saudaranya Azira?
Dia tidak bisa mencerna informasi sebesar ini dengan mudah. Dan dia tidak bisa memastikan apakah yang dikatakan oleh Umi benar atau tidak, karena di sini dia adalah orang luar. Namun satu hal yang pasti bila apa yang dikatakan oleh Umi benar bahwa Azira memang bertunangan dengan Kenzie sebelumnya maka Amara merasa itu bukanlah sesuatu yang luar biasa selama Kenzie menolak menerima Azira. Sayang sekali Umi mengatakan bahwa orang pertama yang berkehendak mempertahankan Azira di rumah ini adalah Kenzie sendiri. Kenzie yang memutuskan untuk mempertahankan Azira terlepas dari penolakan Umi, ini adalah tamparan di wajah Amara langsung.
Lantas apa alasan Kenzie mempertahankan Azira?
Faktor ketiga, karena Azira berhasil menggerakkan hati Kenzie dan membuatnya menjadi lebih hidup, adalah hal yang tidak pernah bisa dilakukan oleh wanita lain kecuali Azira.
Sungguh tidak adil, dia di kalahkan oleh seorang pendatang baru.
"Dan bila kamu tidak puas dengan penjelasanku, kamu bisa menanyakannya langsung ke Kenzie sendiri. Mungkin jawabannya bisa lebih kamu terima daripada jawabanku." Kata Umi tidak mau ambil pusing.
Setelah puas mengatakan apa yang dia mau kepada wanita yang hampir saja merusak rumah tangga putranya, dia tidak mau lagi memperhatikan wanita itu. Dan menyerahkan urusan selanjutnya kepada putranya.
Kenzie mendengar kata Umi, tapi tidak segera mengatakan apa-apa. Dia menepuk pundak Azira beberapa kali untuk menghibur suasana hati istrinya. Kenzie pikir hati istrinya masih tertekan gara-gara apa yang dikatakan oleh Amara.
__ADS_1
"Semua yang dikatakan oleh Umi benar. Dari awal melihat Azira aku memang sudah tergerak. Lalu ketika aku mendapati bahwa orang yang aku nikahi adalah Azira, aku pun memutuskan untuk mempertahankannya agar tetap di sisiku. Jawabannya mudah, itu karena aku tidak mau kehilangan dia. Saat itu aku belum benar-benar mencintai dia tapi aku sudah memiliki perasaan ini kepadanya, bayangkan bagaimana bila aku tinggal bersamanya lebih lama? Aku pasti akan lebih jatuh lagi karenanya. Ya, semua yang dikatakan oleh Umi memang itulah yang aku rasakan. Sejak Azira hadir di dalam kehidupanku, aku tidak merasa kesepian lagi dan setiap kali aku pergi bekerja, aku selalu memiliki keinginan untuk segera pulang ke rumah. Bertanya-tanya apakah Azira sedang memikirkan ku atau apakah Azira memasak makanan kesukaanku nanti? Aku memikirkan beberapa pertanyaan-pertanyaan konyol yang belum pernah aku pikirkan sebelum menikah dengannya. Dan semua yang kurasakan dan kekonyolan yang aku lakukan bisa disimpulkan dengan satu makna, ya itu aku mencintainya. Aku sangat mencintainya sampai titik di mana aku ingin dia selalu ada bersamaku kemanapun aku pergi. Dan satu-satunya wanita yang pernah membuat aku merasakan ini hanyalah Azira seorang, untuk yang pertama dan terakhir kalinya, insya Allah." Saat dia berbicara matanya tidak pernah berpaling dari wajah lembut istrinya.
Dia memang hanya melihat sisi wajahnya karena Azira tidak mau memperlihatkan wajahnya dan bersikukuh bersembunyi di dalam bidangnya, tapi itu tidak menghentikan Kenzie untuk melihat dan menyadari bahwa istrinya saat ini tersipu malu. Lihat saja rona merah yang mulai mengembang di sisi wajah istrinya, tampak seperti buah persik matang, ranum dan sangat menggoda nafsu makan.
"Ana urid, wa anta turid wallahu yaf'alu ma yurid". ( aku punya keinginan, dan kamu juga punya keinginan, tapi yang berlaku adalah keinginan Allah ).
Kata Kenzie tiba-tiba. Baik Azira maupun Amara tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kenzie. Tapi Umi tahu betul apa makna kalimat tersebut.
Dia sontak tertawa terbahak-bahak di bawah mata kebingungan Amara dan Azira.
"Apa yang Umi tertawakan?" Tanya Azira bingung. Tapi karena Umi sedang bahagia maka Azira pun ikut bahagia walaupun dia tidak tahu apa yang membuat Umi tertawa.
Umi tertawa,"ternyata suami kulkas dua pintu kamu bisa juga romantis...hahaha.."
Jawaban Umi langsung membuat Amara salah paham. Dia kira bahasa Arab yang Kenzie sebutkan tadi memiliki arti yang romantis untuk Azira. Terdiam, Amara pikir untuk apa dia di sini bila semua rencananya gagal. Dia ingin segera pergi tapi hatinya menolak untuk berdamai. Dia masih menolak mempercayai semua yang dia dengar-
"Oh ya, aku belum bertanya kepada istriku langkah apa yang kami ambil untuk kejahatan yang telah kamu lakukan," menepuk lembut punggung istrinya,"apakah kamu mau memaafkannya?"
Azira termenung. Dia memikirkan semua penghinaan yang dilontarkan Amara kepadanya dan tidak lupa juga mengingat rencana licik Amara bersama teman-teman Kenzie yang lain untuk menjebaknya sehingga berimbas pada kesalahpahaman antara dia dan Kenzie. Gara-gara masalah ini dia hampir saja.. hampir saja menyerah pada suaminya dan ingin segera mengakhiri pernikahan mereka. Untungnya Kenzie segera menemukan kebenaran dan memperjelas kesalahpahaman di antara mereka sejelas-jelasnya, alhasil hubungan mereka bertambah baik dan intim daripada sebelumnya.
Satu sisi masalah yang wanita itu ciptakan membuat Azira terluka, tapi sisi baiknya setelah masalah ini terlewati hubungannya dengan Kenzie malah semakin membaik.
"Sayang? Sudahkah kamu memikirkannya?" Suara berat Kenzie menarik Azira dari pikirannya.
"Aku akan memaafkan kamu. Masalah ini cukup sampai di sini saja. Tapi lain kali kamu mengulanginya, maka aku akan mengikuti pengaturan mas Kenzie. Entah kamu akan dilaporkan atau tidak, itu tergantung kinerjamu sendiri. Jadi berhati-hatilah di masa depan." Kata Azira setelah berpikir sekian lama.
Ternyata setelah mengatakan itu hatinya jauh lebih ringan. Dia tidak merasa dendam ataupun membenci Amara. Mungkin karena ada orang-orang baik yang mengelilinginya sehingga dia tidak terlalu terpengaruh dengan orang yang berniat jahat kepadanya. Azira merasa bersyukur karenanya.
Sebenarnya memaafkan tidak seberat yang kita pikirkan. Memaafkan jauh lebih melegalkan daripada melupakan, Azira merasakan secara nyata betapa ringan hatinya sekarang.
"Nah, kamu juga sudah mendengarnya sendiri apa yang dikatakan oleh istriku. Dia memaafkan maka aku juga akan memaafkan mu. Tapi ingatlah untuk jangan mencari masalah lagi di masa depan, aku tidak ingin kehamilan istriku terganggu olehmu."
"Hamil?" Dia mengangkat kepalanya kaget.
Kenzie dan Azira tersenyum,"kemarin sewaktu kita bertemu di rumah sakit, kami baru selesai mengecek kandungan Azira. Dia hamil, usia kandungannya lebih dari 5 minggu." Jelas Kenzie murah hati.
Amara menatap kosong wajah malu-malu Azira yang ada di dalam pelukan Kenzie.
Kenapa?
Kenapa Azira mendapatkan semua yang dia inginkan dengan mudahnya?
Kenapa dia tidak bisa memiliki apa yang Azira dapatkan?
__ADS_1
Kenapa bukan dia?!
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Tolong, pintunya ada di depan." Usir Kenzie dengan senyum yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Amara bergidik melihatnya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, dia buru-buru bangun dan pergi melarikan diri tanpa menoleh ke belakang. Ekspresinya yang ketakutan membuat Umi dan Azira tertawa.
"Apakah dia akan kembali dengan ide yang buruk lagi?" Azira bertanya khawatir di sela-sela tawanya.
Umi melambaikan tangannya percaya diri.
"Dia tidak akan berani lagi datang. Apalagi kita memiliki bukti kejahatannya." Jawab Umi meremehkan.
Kenzie juga memberikan jawaban positif.
"Yakinlah, dia tidak akan memiliki nyali datang ke sini lagi."
Azira menghela nafas lega. Dia tidak mau menghadapi masalah yang sama dengan orang yang sama pula. Rasanya melelahkan meladeni Amara, jadi cukup hanya sekali Amara datang dan cukup hanya Amara ini saja, jangan sampai ada Amara yang lain datang berkunjung.
"Syukurlah."
Tiba-tiba bi Imah datang dengan nampan air minum dan makanan.
"Lha, kok telat bi?" Tanya Umi heran.
Tumben bi Imah kerjanya lambat. Biasanya kalau ada tamu bi Imah langsung membuatkan minuman dan membawakan makanan untuk para tamu.
Bi Imah cengengesan.
"Ini buat nyonya Azira, Umi. Nyonya suka makan, jadi bi Imah sengaja memotong buah dan menyiapkan makanan untuknya."
Semua orang saling memandang.
"Terus buat tamu yang tadi mana?"
Bi Imah terlihat kebingungan.
"Memangnya tadi di sini ada tamu ya?" Tanya yang berpura-pura tidak tahu.
Umi dan Azira kompak menggelengkan kepala. Bi Imah pasti sengaja tidak menyediakan minuman untuk Amara karena dia pasti tahu siapa Amara. Yah, salahkan Amara yang terlalu banyak tingkah.
"Baiklah, terima kasih ya bi atas makanan dan buahnya. Aku akan menghabiskan semuanya." Azira buru-buru memecahkan keheningan.
Dia meminta bi Imah meletakkan nampan di atas meja dan mulai memakannya.
__ADS_1