Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 21.2


__ADS_3

Nah, dengan semua keanehan ini, bisa jadi Azira hamil.


"Kalau dipikir-pikir bulan ini Azira tidak pernah datang bulan. Mungkinkah... Dia sekarang sedang mengandung?" Jantung Kenzie berdebar kencang hanya memikirkannya saja.


Bila Azira benar-benar hamil, dia tidak bisa membayangkannya. Dulu Kenzie tidak terlalu menyukai anak-anak, berisik pikirnya. Tapi setelah menikah dengan Azira, dia memiliki harapan ingin memiliki seorang anak, darah dagingnya sendiri yang dilahirkan oleh istrinya, Azira Humaira. Dan dia juga sering membayangkan akan seperti apa wajah anaknya dan Azira. Mungkinkah lebih condong mirip dengannya atau mungkin lebih mirip Azira.


"Alangkah lebih baik kalau dia lebih mirip dengan Azira. Penampilan anakku pasti cantik dan manis seperti penampilan Ibunya. Ya Allah, apakah aku dan istriku memiliki kesempatan untuk mendapatkan amanah ini?"


Kenzie mulai membayangkan penampilan anaknya di masa depan. Dia mulai menantikan akan seperti apa wajah-wajah anaknya dengan Azira. Tiba-tiba dia merasa sedikit konyol, orang yang dulu anti terhadap anak-anak ternyata memiliki hari di mana dia sangat menantikan kedatangan anak itu.


Namun bagaimana jika Allah tidak memberikan amanah kepadanya dan Azira?


Tidak apa-apa pikir Kenzie. Itu berarti takdir ini adalah yang terbaik dari Allah untuk mereka. Kenzie tidak terlalu menuntut Azira memiliki seorang anak, karena lagi-lagi itu kembali ke ridho Allah. Jika Allah tidak ridho, maka sekeras apapun Kenzie menuntut, anak itu tidak akan pernah muncul di dunia ini. Namun berbeda jika Allah meridhoi. Tanpa Kenzie menuntut Allah pasti sudah mengirimkan anak itu ke dalam kehidupan mereka. Bohong bila Kenzie tidak berharap. Tentu saja dia berharap memiliki darah daging sendiri bersama istrinya. Tapi semuanya adalah kehendak Allah, sebagai seorang hamba yang terus mencoba memperbaiki diri, Kenzie berharap Allah senantiasa melindungi rumah tangganya dengan Azira, menjaga hati mereka untuk satu sama lain.


Untuk sekarang, dia hanya meminta ini kepada Allah. Berharap keluarga dan rumah tangganya tetap harmonis, berjalan dalam kedamaian.


Terd


Suara ponselnya bergetar. Kenzie menarik tangannya dari wajah sang istri dan berlari mengambil ponsel di atas nakas samping tempat tidur. Ketika melihat Id penelpon, dia segera mengangkatnya.


"Halo assalamualaikum, Arian?" Ternyata yang menelpon adalah Arian.


"Tuanku, waalaikumsalam. Misi hari ini sudah selesai dan aku juga sudah mengirim rekaman percakapanku dengan wanita itu ke alamat email kamu, tuan. Silakan diperiksa." Suara dingin dan sopan Arian berbicara dari seberang telepon.


Kenzie melihat wajah tertidur istrinya. Takut membangunkan istrinya, dia lantas pergi berjalan menjauh dari kasur. Berdiri di depan balkon, matanya yang gelap terus mengawasi Azira dari tempatnya.


"Kerja bagus. Kamu bisa mengambil bonus bulan ini di asisten pribadiku. Tadi siang aku telah menginstruksikannya untuk menyiapkan bonus tambahan kepadamu." Ujar Kenzie murah hati.


Wajahnya yang dingin tanpa emosi berkedip samar mengingat wajah orang-orang yang telah berani bermain dengannya. Kenzi memang selalu suka bermain tapi dengan syarat permainan ada di tangannya. Dia tidak suka dan bahkan membenci bila permainan itu di luar kendalinya, misal seperti kejadian ini.


"Terima kasih, tuanku. Ngomong-ngomong aku punya dua kabar yang ingin dilaporkan kepadamu. Satu adalah kabar baik dan satu lagi adalah kabar buruk. Yang mana tuanku ingin dengarkanlah lebih dulu?"


Kenzie mengernyit,"kabar baik dulu." Perintahnya.


"Tuanku, kabar baik ini datang dari pelayan butik yang kamu minta aku selidiki. Namanya Eka, berasal dari kampung x, tepatnya kampung tempat nyonya dilahirkan. Setelah aku menyelidikinya ke sana ternyata Eka adalah putri dari bibi nyonya. Dia baru-baru ini datang ke kota untuk mencari pekerjaan sambil mencari tahu tentang keberadaan nyonya serta Ibunya. Dan ternyata setelah kami telusuri lebih jauh, keluarga nyonya tidak berhenti mencari keberadaan nyonya serta Ibunya. Mereka sudah mencari selama beberapa tahun lamanya tanpa menyerah karena mereka percaya bahwa nyonya dan Ibunya pasti masih hidup. Alamat dan foto keluarga nyonya telah ku kirimkan ke email mu, tuan." Beberapa waktu yang lalu Kenzie memintanya untuk menyelidiki identitas seorang pelayan di sebuah butik yang baru dibuka.


Kenzie merasa curiga dengan Eka karena dia terus saja memperhatikan Azira diam-diam. Awalnya Kenzie berpikir kalau Eka memiliki tujuan yang tidak baik kepada istrinya. Tapi ternyata setelah ditelusuri, dia menemukan kabar baik. Kenzie tahu kalau istrinya sangat merindukan keluarga di kampung. Namun karena sudah lupa alamat keluarganya, dia tidak pernah bisa bertemu dengan mereka. Sekarang Allah telah memberikan jalan untuk istrinya, Kenzie akan segera memberitahu kabar baik ini. Mudah-mudahan dengan kabar baik ini, Azira akan semakin bersemangat sehingga tubuhnya kembali fit.


"Ini adalah kabar yang sangat bagus. Istriku pasti sangat senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan kabar buruk." Apakah Amara memiliki rencana lain lagi?


Atau mungkinkah Amara berkomplot dengan teman-temannya yang lain untuk membuat rencana yang lebih buruk lagi?


Suasana di hati Kenzie langsung turun.


"Tuan, aku sudah mengecek rekaman CCTV di sekitar villa. Anehnya di villa tempat kalian membuat acara, aku tidak menemukan satupun CCTV. Sedangkan di villa-villa lain yang bersebelahan dengan villa itu memiliki CCTV yang lengkap. Dan tuan, tahukah kamu apa yang telah aku lihat setelah mengecek rekaman CCTV di villa villa itu?" Samar, Kenzie mendengar keluhan di dalam nada suara Arian.


Arian sepertinya tidak puas kepadanya.


"Apa yang kamu lihat?" Jantung Kenzie berdebar kencang.


Arian mengambil nafas di seberang sana sebelum akhirnya berbicara.


"Pertama-tama izinkan aku mengatakan ini kepadamu, tuan." Suara Arian muram, Kenzie diam menyimak apa yang akan dikatakan oleh Arian.


"Brengsek!" Teriak Arian emosi dari seberang sana.

__ADS_1


Kenzie terkejut dengan perubahan emosi pihak lain.


"Kenzie, kamu adalah laki-laki brengsek. Kenapa kamu kejam sekali kepada Azira? Teganya kamu meninggalkan Azira sendirian di villa itu! Apakah kamu tahu setelah menelpon kamu berulang kali tanpa mendapatkan kabar apapun, dia pulang sendirian berjalan kaki dari villa hingga keluar dari area pantai! Tidakkah kamu memikirkan apa yang akan Azira gunakan pulang sebelum meninggalkannya? Apakah kamu tidak berpikir betapa lelah dan letih nya dia berjalan sendirian malam-malam mencari tumpangan! Kenzie, sekarang aku berbicara bukan sebagai kuasa hukum kamu, melainkan sebagai temanmu! Aku benar-benar marah setelah melihat rekaman CCTV di vila-vila itu...kamu... Kamu harus melihatnya agar kamu tahu bagaimana perjuangan Azira pulang ke rumah setelah kamu abaikan!"


Tud!


Tanpa menunggu reaksi dari Kenzie, dia langsung mematikan telepon. Dia sangat marah, sungguh sangat marah. Bila Kenzie tidak mau menjemput Azira karena kewajibannya sebagai dokter, maka kenapa tidak menghubunginya ataupun asisten pribadinya agar Azira bisa pulang dengan selamat!


Bodoh sangat bodoh. Kenzie malah diam saja membiarkan Azira pulang sendirian dan bahkan berjalan kaki hingga keluar dari kawasan pantai!


Sementara Arian diliputi kemarahan, Kenzie di sini menatap kosong pada layar gelap ponselnya. Pikirannya membeku membayangkan kata-kata kemarahan Arian kepadanya.


Azira... Azira pulang sendirian?


Dia... Dia juga sempat berjalan kaki untuk mencari kendaraan tapi tidak menemukannya sampai akhirnya dia keluar dari kawasan pantai. Kawasan pantai.... Betapa jauhnya itu.


Menggunakan mobil saja mereka butuh hampir 15 menit perjalanan, lalu berapa lama yang dibutuhkan oleh istrinya sampai ke sana dengan berjalan kaki?


Dan itu pun sudah malam?


"Azira... Azira... Aku minta maaf, ini salahku... ini adalah kebodohan ku." Bibirnya gemetar tak mampu mengucapkan kata-kata lagi.


Hatinya sakit, pikirannya pusing tak bisa berpikir jernih. Untuk sesaat dia tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana atau terus berdiri di tempat dan-


Ting


Sebuah email dari Arian masuk.


Kenzie buru-buru membukanya. Itu adalah rekaman video. Tepatnya rekaman video CCTV yang telah diedit oleh Arian.


Durasinya tidak banyak setelah diedit. Hanya tiga menit saja tapi itu sudah cukup menguras darah Kenzie. Sepanjang video berjalan, Kenzie merasakan hatinya dihantam pisau tajam secara bertubi-tubi tanpa istirahat. Ini sangat... Sungguh sangat menyakitkan.


Memandangi tubuh kurus istrinya berjalan kesepian di malam hari tanpa cahaya apapun dan tanpa perlindungan siapapun. Rasa penyesalan Kenzie kian menumpuk di dalam dadanya


Rasanya begitu sesak. Hingga bernapas saja rasanya menyakitkan.


Berkali-kali ketika dia melihat punggung kurus itu menunduk karena kelelahan, Kenzie ingin sekali masuk ke dalam video dan meraih punggung kurus itu. Memeluknya kuat sembari mengucapkan maaf...maaf, dan maaf untuk apa yang telah dilakukan. Tapi dia tidak bisa, itu hanya angan-angan saja.


"Mas Kenzie..." Suara mengantuk Azira memanggil dari dalam kamar.


Namun Kenzie tidak merespon. Mata dan pikirannya masih terpaku menatap video di layar ponselnya. Dia tidak tahu kalau pujaan hatinya sudah bangun dan sedang mencarinya.


"Mas Kenzie...dimana?" Panggil Azira merasa tidak aman.


"Mas Kenzie!"


"Ah," Kenzie tersadar. Dia melihat pemilik punggung kurus itu sudah bangun dan kini sedang mencarinya.


"Azira." Tanpa penundaan sedetik pun dia berlari masuk ke dalam kamar dan langsung melemparkan dirinya ke tas kasur untuk mendapatkan pelukan dari istrinya.


Azira terkejut. Rasa kantuknya langsung menghilang melihat suaminya tiba-tiba datang meminta pelukan. Azira merasa lucu. Suaminya sedang ingin dimanja pikirnya. Lihat saja penampilan suaminya. Dia menenggelamkan wajah tampannya di perut Azira, sementara kedua lengannya telah melingkari pinggang ramping Azira.


"Mas?" Azira memanggil lembut.


Tapi ada yang salah. Baju depannya tiba-tiba basah-tidak, apakah suaminya menangis?

__ADS_1


"Mas Kenzie...mas, ada apa? Kenapa mas Kenzie tiba-tiba menangis?" Azira mencoba mengangkat kepala suaminya tapi tidak bisa karena suaminya malah semakin menenggelamkan wajahnya.


Azira merasa lucu sekaligus marah!


Kenapa suaminya keras kepala sekali?!


Tapi apa yang telah membuat suaminya menangis?


Selama dia menikah dengan suaminya, dia belum pernah melihat suaminya bersedih apalagi sampai menangis. Azira tidak pernah dan dia pun tidak pernah membayangkannya. Orang-orang banyak mengatakan kalau seorang laki-laki sulit menangis. Tapi bila mereka satu saat menangis, maka itu artinya mereka menanggung beban yang sangat berat atau mungkin menahan rasa sakit yang tidak bisa mereka tanggung lagi. Dan faktanya, tangisan seorang laki-laki merupakan ungkapan hati mereka yang paling tulus. Azira banyak mendengar orang-orang mengatakan ini dan diapun mempercayainya.


Sekarang melihat suaminya menangis, mungkinkah suaminya sedang menghadapi rasa sakit yang tidak terkatakan atau mungkin ini menyangkut masalah pekerjaan di rumah sakit yang sangat melelahkan?


Azira tidak tahu.


"Mas Kenzie, jangan seperti ini. Jika mas Kenzie memiliki keluhan dan tekanan, maka berbagilah denganku juga mas. Pendidikan ku tidak tinggi, dan mungkin aku tidak akan bisa memberikan solusi apapun terhadap pekerjaan mas Kenzie, yah... Aku tidak terlalu tahu banyak soal dunia. Tapi meskipun begitu, mas, aku tetap bersedia mendengarkan semua keluhan yang mas Kenzie pikirkan. Walaupun tidak bisa memberikan solusi tapi setidaknya, hati mas Kenzie akan lega setelah membagikannya." Azira membujuk suaminya dengan suara yang ringan dan lembut.


Sementara tangan kanannya kini telah beralih menyentuh puncak kepala Kenzie, mengelus kepala suaminya pelan untuk menenangkannya.


"Azira... Azira..." Beberapa menit kemudian, Kenzie mengangkat kepalanya menatap langsung wajah cantik Azira yang sedang menatapnya dengan mata bersimpati.


"Kenapa, mas?" Azira lega akhirnya Kenzie mau berbicara.


Kenzie perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Azira dan memperbaiki posisinya. Dia duduk di samping Azira.


"Mas Kenzie mau ngomong apa?" Tangan Azira dipegang erat oleh Kenzie.


Azira malu. Tatapan suaminya agak berbeda malam ini. Semacam sentuhan kelengketan yang membingungkan.


"Mas Kenzie-" sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Kenzie memegang kepala Azira dan mencium bibir Azira pelan.


Bibir Kenzie menyentuh daging ranum itu dengan gerakan hati-hati, membelai dan sesekali menggigitnya tanpa campur tangan hasrat. Ini adalah ciuman murni untuk menyampaikan perasaan di dalam hati.


"Mas...mas Kenzie?" Setelah bibir mereka berpisah, Azira menatap suaminya dengan ekspresi wajah tersipu malu.


Ugh, ada apa dengan suaminya?


Suaminya lebih lengket dari biasanya.


Kenzie tidak menjawab. Melepaskan Azira yang kesulitan bernafas, dia kini beralih menghujani puncak kepala Azira dengan kecupan bertubi-tubi. Azira sampai kewalahan menghadapinya. Dia merasa pusing dengan perhatian suaminya yang sangat antusias.


"Mas Kenzie kenapa, sih? Ditanya-tanya kok nggak jawab." Azira gatal ingin mencubit pinggang suaminya.


Habisnya dia udah bertanya berkali-kali tapi suaminya tidak mau menjawab. Bukannya menjawab pertanyaannya, Kenzie malah menyiksanya dengan yang manis-manis. Ugh, suaminya dalam mood lengket agak berbahaya.


"Tunggu aku sebentar di sini.." Kenzie berjalan tergesa-gesa ke dalam kamar mandi, beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi.


"Ada sesuatu yang harus aku ambil di bawah. Tunggu di sini dan jangan kemana-mana, oh, usahakan untuk jangan tertidur dulu sebelum aku kembali." Pesan Kenzie sebelum keluar dari kamar.


Azira belum sempat menjawab apa-apa, suaminya sudah berjalan keluar dari kamar. Azira bingung. Dia ingin menyusul suaminya pergi, tapi teringat dengan pesan sang suami. Jangan kemana-mana dan tunggu Kenzie kembali.


"Sebenarnya apa sih yang mau dilakuin sama mas Kenzie? Kok dia aneh banget. Tiba-tiba nangis, habis itu...um... cium aku dan setelah itu pergi entah ke mana. Ya Allah, apakah suamiku terlalu capek melihat darah di rumah sakit sampai-sampai mempengaruhi otaknya?" Gumam Azira antara geli dan tertekan.


Tadinya dia sempat khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya. Tapi setelah melihat keadaan suaminya yang baik-baik saja, Azira langsung berubah pikiran. Untuk saat ini dia merasa agak bingung dan tidak berdaya pada saat yang sama. Habisnya Kenzie tidak mau mengatakan apapun, bahkan sepatah kata pun!


Ini sangat menjengkelkan.

__ADS_1


__ADS_2