Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.11


__ADS_3

"Aku nggak mau pergi! Kalau kak Kenzie mau pergi, ya pergi aja sama dia. Nggak usah ajak-ajak aku." Sasa menolak sambil mencak-mencak di depan kakaknya.


Baru saja dia duduk bersama Umi setelah menyelesaikan sarapan. Biasanya jam segini dia akan berbincang dulu dengan Umi sebentar sebelum bersiap-siap pergi ke kampus. Sebenarnya hari ini dia jadwal kuliahnya tidak terlalu padat dan masuk setelah shalat zhuhur. Akan tetapi suasana rumah sangat membosankan sehingga dia memilih kampus sebagai tempat pelariannya. Di kampus toh, dia punya banyak teman yang bisa diajak bicara. Daripada di rumah, semua orang dalam keadaan tegang.


"Kamu harus pergi. Ini perintah dari kakak." Penolakan adiknya sama sekali tidak mempan dan mempengaruhi keputusannya.


"Aku lagi nggak mood belanja, kak!"


"Siapa yang bawa kamu ke sana belanja? Aku cuma mau kamu nemenin Azira belanja." Ralat Kenzie membuat Sasa langsung tersedak air liurnya sendiri.

__ADS_1


Apa-apaan pikirnya, apakah Kenzie tega membiarkannya ke sana hanya untuk menonton Azira membeli pakaian sedangkan dirinya tidak melakukan apa-apa selain mengikuti kemanapun mereka pergi.


Tiba-tiba Umi datang dari arah dapur dengan segelas air putih. Putrinya tadi bilang kalau dia haus jadi Umi pergi ke dapur untuk mengambil air putih.


"Kenzie, mau pergi ke mana kamu pagi-pagi begini?" Umi menatap putranya curiga.


Kenzie tersenyum lembut kepada Umi.


Ketika nama Azira disebutkan Umi langsung memalingkan wajahnya tak senang. Hatinya masih marah dan kecewa dengan gadis itu.

__ADS_1


"Jangan pergi. Umi dengar kamu sudah mengambil banyak baju adikmu untuk wanita itu. Buat apa pergi belanja? Dia kan sudah punya banyak pakaian dari adikmu." Kata Umi judes.


Umi duduk di sofa sambil berpura-pura memasang wajah jutek kepada putranya. Dia tidak percaya jika putranya tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan. Memang benar Kenzie itu orangnya minim ekspresi dan terkesan acuh tak acuh, tapi kalau sudah menyangkut orang tua, Kenzie pasti akan menuruti apapun itu.


"Kami hanya meminjam pakaian Sasa, dan aku akan mengembalikannya setelah membeli yang baru. Lagi pula ini adalah tugasku sebagai seorang suami. Aku harus memenuhi semua kebutuhannya di rumah ini termasuk pakaian dan barang-barang wanita lainnya. Mana mungkin aku melalaikan kewajibanku sebagai seorang suami kepadanya, Umi? Bukankah Abah dan Umi selalu menekankan aku sebagai seorang laki-laki harus memiliki sikap tanggung jawab. Sekarang aku bertanggung jawab untuknya karena semenjak menyentak tangan Ayahnya, maka sejak itu pula aku bertanggung jawab atas hidupnya selama pernikahan ini." Suaranya begitu lembut dan manis ketika berbicara dengan ini, tak ada satupun kata-kata yang menyinggung perasaan Umi.


Apa yang Kenzie katakan sejak awal tidak pernah berubah bawa pernikahan ini, dia menerimanya dengan rela dan ridho terlepas penolakan dari seluruh keluarganya. Rata-rata orang di keluarga ini menyalahkan Azira, wanita asing yang tiba-tiba menjadi istri Kenzie, mereka sangat berharap wanita yang segera menghilang. Namun satu hal yang mereka lupa bahwa terjadinya pernikahan ini karena kehendak Kenzie juga.


Sebelum ijab kabul, Azira sudah menunjukkan siapa dirinya dengan kata lain bahwa orang yang duduk di samping Kenzie bukanlah Humairah. Dan Kenzie tahu itu tapi tidak menghentikan pernikahan. Dia tetap melanjutkan pernikahan seolah-olah tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


"Tanggung jawab! tanggung jawab! tanggung jawab! Kamu berbicara tentang tanggung jawab, lalu bagaimana dengan Humairah? Dimana tanggung jawab mu kepadanya!"


__ADS_2