
"Aku enggak, aku tidak punya selera makan." Dia sama sekali tidak memikirkan makanan.
Untuk saat ini setiap kali membayangkan makanan, dia pasti langsung mual dan ingin muntah. Um, itu karena operasinya lumayan parah malam ini yang membuatnya enggan makan.
"Okay, aku ngerti. Nanti kalau mas Kenzie mau makan, tinggal bilang sama aku aja, ya?" Azira tidak memaksa suaminya untuk makan karena dia tahu bahwa suaminya pasti tidak akan mau makan karena pekerjaannya semalam.
Kenzie tersenyum. Memang benar pulang ke rumah adalah solusi terbaik untuk semua kejenuhannya. Apalagi diperlakukan baik oleh istri, entah kenapa rasanya badan jadi lebih ringan. Ternyata ini yang dimaksud oleh orang-orang dulu. Selelah apapun seorang suami kamu sudah bertemu dengan senyuman manis istrinya pasti akan semangat kembali.
"Mas Kenzie enggak mau mandi dulu biar nanti langsung shalat subuh saat adzan subuh berkumandang." Azira beberapa kali menatap puncak kepala suaminya. Dia sangat ingin menyentuhnya. Tapi dia tidak berani. Um, belum sejauh itu. Dia masih belum berani melangkah sejauh itu.
Azira sebenarnya sengaja meminta Kenzie mandi. Dia ingin menenangkan pikirannya. Walaupun dirinya sudah mulai berani tapi ada sedikit keraguan. Dia tidak mau Kenzie melihat apa yang dirasakan saat ini. Takut terlalu agresif.
"Jangan mandi dulu. Ingat ini baik-baik Azira. Kamu tidak diizinkan mandi setelah begadang semalaman karena resikonya sangat fatal buat tubuh kamu. Kamu bisa lumpuh, stroke dan yang paling menakutkan adalah imbasnya akan langsung ke jantung yang bisa berakibat pada kematian. Jadi jangan coba-coba mandi kalau kamu pernah begadang. Kalau kamu tidur sebelumnya, kamu bisa mandi kapanpun kamu mau. Asal dengan syarat kamu pernah tidur. Paham?" Kenzie berbicara dengan serius karena perkara begadang itu bukan hal sepele.
Lalu bagaimana dengan orang yang mandi tengah malam saat akan shalat malam? Jawabannya tentu tidak apa-apa. Toh, syarat dilakukannya shalat malam adalah orang itu harus tidur entah 1 jam, kurang dari 1 jam, atau lebih, yang penting tidur. Kalau dapat tidur dan kemudian bangun untuk beraktivitas entah mengerjakan shalat malam atau tidak, begadangnya tidak masalah. Malah terkesan sehat karena sebelum begadang tubuh sudah beristirahat.
"Seserius itu ya, mas?" Jujur Azira kaget mendengarnya. Dia tidak tahu kalau begadang berbahaya.
Sebenarnya semua orang mengatakan kalau begadang itu berbahaya. Tapi Azira tidak pernah mendengar orang menyebutkan masalah ini. Maka ketika Kenzie menyebutkannya, tentu saja dia sangat terkejut.
Selain itu dia juga merasa bersalah kepada suaminya. Untung saja suaminya menolak untuk pergi mandi, kalau tidak, Azira takut terjadi sesuatu kepada suaminya.
"Ini sangat serius. Jadi kamu harus mengingatnya dengan baik-baik." Tekan Kenzie serius.
Azira berulang kali menganggukkan kepalanya seperti ayam mematuk nasi. Dengan sungguh-sungguh dia mendengarkan nasehat suaminya dan berjanji akan selalu mengingat nasehat ini dengan baik-baik.
"Aku akan selalu mengingat kata-kata, mas Kenzie. Kalau begitu bolehkah aku mandi?" Karena Kenzie tidak bisa mandi, maka dia sendiri yang akan pergi mandi.
Selain itu dia perlu mengatur dirinya sendiri. Berduaan berlama-lama dengan suaminya jelas membuat dirinya sangat gugup.
Kenzie memandang wajah Azira. Entah apa yang dia pikirkan, tapi tangan yang sedang memijat tangan Azira tiba-tiba meremas tangan Azira kuat hingga membuat Azira meringis kesakitan.
"Aduh.." Sakitnya bukan main.
Kenzie sontak melepaskan tangannya.
"Apakah kamu baik-baik saja? Maaf, ini salah kamu."
Hah?
Azira langsung tercengang mendengarnya. Di mana-mana orang meminta maaf karena kesalahan sendiri bukan karena menyalahkan orang lain. Tapi mungkin suaminya ini agak lain.
"Lah kok salah aku?" Selain nggak terima disalahkan, dia juga bingung dimana salahnya.
Perasaan dia tidak melakukan apa-apa selain duduk patuh berbicara di depan suaminya.
Kenzie menyentuh wajah Azira lembut, beberapa detik kemudian Azira kembali meringis sakit karena suaminya mencubit pipinya. Kelakuan suaminya agak aneh.
__ADS_1
"Iya, salah kamu. Lain kali jangan ngomong gitu di depan aku. Kamu juga tahu aku ini laki-laki, bagaimana kalau aku lepas kendali, hum?" Suaranya terdengar jauh lebih berat dan serak.
Azira kebingungan. Omongan yang mana maksud suaminya.
"Ngomong apa- mandi?!" Apakah karena dia bilang mandi di depan suaminya?
Apakah kata-kata ini terdengar berbahaya?
Mengapa Azira merasa bahwa kata-kata ini tidak berbahaya dan sopan-sopan saja?
"Ya, kamu mengatakannya di depanku. Tahu nggak pikiran pertama aku apa?"
Azira dengan polos bertanya,"Apa?"
Kenzie dengan buas menjawab,"Di bawah gemercik air kamu tanpa busana-"
Wajah Azira langsung memerah mendengarnya. Tanpa menunggu suaminya menyelesaikan kalimat dia juga tahu apa yang ingin dibicarakan oleh suaminya. Jadi dia langsung membungkam mulut suaminya agar berhenti bicara. Pasalnya apa yang ingin dikatakan suaminya memang sangat berbahaya dan cukup frontal?
"Berhenti, berhenti! Aku... Aku nggak mau mendengar apa yang mas Kenzie katakan. Aku akan pergi mandi sekarang." Tanpa menunggu respon Kenzie, dia langsung berlari ke dalam kamar mandi.
Melarikan diri dari perasaan yang semakin membuncah di hati. Berulang kali dia merasakan perasaan ini, bukannya melemah tanpa semakin menguat, dan berulang kali pula dia berpikir- oh, begini rasanya jatuh cinta, ternyata begini rasanya sedang dimabuk kasih. Sangat menyenangkan dan memiliki banyak kejutan. Terkesan monoton memang. Tapi reaksi keras di hati tidak bisa. Perasaan bahagia itu tidak bisa dibohongi. Perasaan yang sudah lama dinantikan.
...*****...
Selesai shalat subuh dan membaca Al-Qur'an sebentar, Kenzie akhirnya beristirahat. Sebelum keluar dari kamar Azira memastikan bahwa gorden tertutup rapat, lampu tidur dimatikan karena sudah pagi, dan tidak lupa menaruh segelas air putih di atas nakas samping tempat tidur untuk memudahkan suaminya jika ingin minum. Setelah memastikan semuanya, dia menutup pintu dengan hati-hati lalu turun ke bawah menyusul Umi dan Sasa.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu, Kenzie tidak masuk bekerja setelah operasi semalam dan Sasa libur kuliah. Seperti biasa Sasa pagi-pagi sudah bersama Umi. Mereka berdua ada di dalam dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak hari ini.
Baik Sasa dan Umi balas tersenyum.
"Pagi. Kenzie semalam sudah pulang, ya?" Tanya Umi tanpa mengalihkan wajahnya dari bahan-bahan di atas meja.
Azira berjalan menghampirinya dan membantu Umi memotong-motong sayuran yang diperlukan. Sementara Sasa di samping menaruh semua sayuran yang tidak diperlukan kembali ke dalam kulkas. Sayuran ini baru datang subuh tadi. Setiap subuh akan ada petani yang mengirim sayuran baru ke rumah ini. Tidak hanya ke rumah ini tapi ke beberapa rumah di komplek ini juga. Jadi mereka sebenarnya tidak perlu repot-repot pergi ke pasar. Namun bila mereka tidak memiliki sayuran yang lengkap dan ingin membeli kebutuhan dapur seperti bumbu ataupun daging, maka mau tak mau mereka harus turun ke pasar.
"Iya, Umi. Dia pulang pukul 04.00 subuh tadi dan baru bisa tidur sekarang." Kata Azira perihatin.
Umi juga dulu seperti ini melihat putranya suka pulang tengah malam. Karena tidak tahan, terkadang Umi membujuknya untuk berhenti dan beralih profesi menjalankan bisnis Abah. Tapi berkali-kali pula Kenzie menolak tawaran ini. Katanya dia sangat menyukai pekerjaan ini.
"Kamu harus terbiasa sekarang. Dulu Umi sering bilang sama dia agar berhenti saja dari pekerjaannya dan mulai menjalankan bisnis Abah. Soalnya pekerjaan Kenzie terlalu membutuhkan banyak waktu sampai-sampai dia jarang bisa kumpul sama kita semua. Selain itu Umi juga kasihan melihatnya pulang tengah malam, Umi takut tubuhnya kenapa-napa dan jadi drop. Tapi dia selalu menolak. Alasannya karena suka pekerjaan inilah, karena memang sudah takdir lah, atau karena impiannya dari kecil. Padahal dia kerja jadi dokter bedah karena Amara dan bukan karena alasan lain. Umi juga enggak-"
"Umi, hari ini mau masak apa?" Suara cerewet Sasa menginstruksi ucapan Umi.
Umi tidak menyadarinya. Gara-gara pertanyaan Sasa, pikirannya teralihkan. Tapi tidak untuk Azira. Sejak pertama kali mendengar nama Amara, hatinya bertanya-tanya siapa wanita itu?
Mengapa pengaruhnya kepada Kenzie sangat besar?
"Apa yang sedang kakak pikirkan?" Sasa berjalan menghampiri Azira, berpura-pura membantu Azira memotong sayuran di atas meja.
__ADS_1
Padahal matanya beberapa kali menatap Azira gugup. Dia sangat menyayangkan apa yang dikatakan oleh Umi barusan. Nyatanya nama wanita itu sangat tabu di rumah ini. Karena itu berhubungan langsung dengan Kenzie.
Azira menggelengkan kepalanya malu.
"Itu... Aku tadi mendengar Umi menyebut nama wanita bernama Amara. Umi bilang mas Kenzie menjadi dokter bedah karena Amara, lalu siapa wanita itu? Hubungannya dengan mas Kenzie sepertinya baik." Bukan hanya baik, tapi juga sangat baik pikirnya.
Dia sedikit cemburu. Jika wanita ini bisa mempengaruhi keinginan Kenzie di masa depan, maka wanita ini pasti sangat baik dan memiliki hubungan yang sangat baik pula dengan Kenzie. Salah memang kalau Azira merasa cemburu. Toh, dia datang di waktu yang berbeda. Tapi tetap saja dia merasa cemburu.
"Oh.. Amara. Itu teman sekolah kak Kenzie. Tapi karena suatu alasan, dia pergi ke luar negeri. Kak Azira tahu sendiri kan kalau kakakku orangnya gimana. Dengan karakter seperti itu, dia sulit menemukan teman. Sekalinya bertemu teman, dia menghargainya dengan sangat tulus." Jadi secara tidak langsung Sasa mengkonfirmasi apa yang Umi katakan.
Azira merasa masam. Tapi dia sangat bersyukur karena hubungan mereka hanya teman. Namun dia bingung, dengan karakter seperti itu, memang sulit mendapatkan teman dan lebih sulit lagi berteman dengan seorang wanita. Inilah yang Azira pahami. Tapi ya sudahlah, semuanya ada di masa lalu. Amara juga tidak ada di sini sekarang. Menurut apa yang Sasa katakan, dia sudah lama pergi ke luar negeri dan tak pernah kembali lagi ke sini.
Azira merasa sangat tenang. Dan dia berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh lagi tentang masa lalu.
"Oh... Kamu tahu banyak ya, dek?" Azira tidak bermaksud apa-apa berkata seperti ini.
Tapi reaksi Sasa agak aneh.
"Hehe... Kak Kenzie nggak lapar, kak?" Sasa mengalihkan topik pembicaraan.
Azira menggelengkan kepalanya pelan.
"Mas Kenzie lagi nggak nafsu, dek. Makanya kakak mau buatin dia bubur biar dia bisa makan." Azira mengesampingkan dulu masalah pekerjaan suaminya. Dia memang memiliki ide, tapi dia tidak berani terlalu berharap.
Takutnya ditolak.
"Bubur?" Setahu Sasa, bukannya nambah nafsu makan, tapi Kenzie malah semakin enggan menyentuh makanan. Dia paling tahu kalau kakaknya itu sangat membenci bubur.
Bilangnya sih makanan anak kecil dan orang dewasa nggak cocok makan bubur. Sasa ingin sekali tertawa setiap kali mendengar kakaknya berbicara seperti ini, karena dari bicaranya saja semua orang tahu kalau pikiran kakaknya masih kekanak-kanakan.
"Iya bubur, dek. Kamu juga mau?" Azira menawarkan dengan senyuman lembut di wajahnya.
Sasa dengan bijaksana menggelengkan kepalanya. Sama seperti Kenzie, dia juga tidak terlalu menyukai makanan lembut dan lembek itu. Daripada makan bubur, dia lebih suka makan makanan yang keras seperti nasi, cemilan ataupun kue. Intinya bubur tidak ada di dalam list makanan kesukaannya. Saat sedang sakit pun, Umi akan memberikannya nasi putih bercampur air hangat karena baik Sasa ataupun Kenzie tidak akan memakan bubur.
"Saranku jangan deh, kak. Soalnya di rumah Ini nggak ada yang suka makan bubur. Daripada nanti terbuang sia-sia, lebih baik kakak nggak usah masak aja." Sasa menyarankan.
Takutnya nanti Azira kecewa karena tidak ada orang yang mau menyentuh makanan buburnya.
"Benarkah? Tapi coba sekali saja. Kalau memang tidak ada yang suka, nanti buburnya kakak bungkus dan kasih ke tukang kebun atau pak Maman. Makannya nggak akan sia-sia, dek." Kata Azira tidak menyerah begitu saja.
Soalnya dia sangat yakin dengan resep makanan ibunya. Um, dia belajar membuat bubur dari ibunya. Dan ibunya mempelajari resep bubur ini dari kakek dan nenek di kampung dulu. Ibu bilang hampir semua orang di keluarga menggunakan resep ini karena ini adalah resep keluarga dan dijamin rasanya sangat enak. Meskipun sekilas sama seperti bubur umumnya, tapi untuk beberapa bahan, bubur dari keluarga Azira memiliki sedikit perbedaan dan tentunya rasa yang berbeda pula.
Untuk Azira pribadi dia sangat menyukai bubur ini. Percaya atau tidak, di luar kalau lebaran pasti makan ketupat bercampur dengan opor ataupun rendang, intinya kaya dengan makan makanan tinggi protein. Hampir semua rumah menyediakan makanan ini. Tapi sebagian kecil mungkin tidak. Dan rumah Azira adalah salah satunya.
Dia dan ibu tidak memiliki uang untuk membeli bahan-bahan makanan sebanyak itu. Maka dari itu setiap lebaran ibu pasti membuat bubur ini. Meskipun tidak semewah dan sekaya makanan lebaran di luar sana, tapi rasanya tidak kalah dan sama-sama mengandung protein juga, soalnya ada telur dan suwir ayam.
Meskipun nggak mahal, tapi gizinya sama, kan?
__ADS_1
"Terserah kakak, deh. Insya Allah nanti aku pasti cobain." Kata Sasa sambil tersenyum.
Saat tidak ada pekerjaan lain di dalam dapur, Azira menggunakan kesempatan ini untuk membuat bubur. Untungnya bahan-bahan di dapur sangat lengkap jadi hasilnya tidak bersusah payah mencarinya karena semua sudah tersedia. Azira sangat percaya diri membuat bubur ini. Karena berkali-kali dia membuat, ibu pasti selalu mengatakan bahwa makanannya sangat enak. Bahkan tetangga di rumahnya dulu sampai datang mengetuk pintu ingin membeli semangkuk bubur buatannya. Kata mereka wanginya sangat enak. Mereka tidak tahan dan ingin mencicipi juga.