Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.4


__ADS_3

Satu hari berlalu dalam suasana rumah yang masih tidak hidup. Azira menghabiskan waktu untuk beristirahat di kamar, sedangkan Kenzie hanya menatap dokumen di meja kerja tanpa bosan. Sementara Abah duduk bersantai di halaman belakang, menonton langit perlahan berubah warna dari biru cerah menjadi jingga berawan seiring berlalunya waktu. Adapun Umi dan Sasa, mereka berdua pergi ke ruang rumah seorang bibi yang tinggal di komplek yang sama dengan mereka berdua.


Rumah menjadi sepi. Seolah tak ada kehidupan di dalamnya.


Azira melihat langit di luar yang perlahan berubah warna. Lalu melihat ke arah suaminya yang masih duduk menatap dokumen di meja kerja. Sudah beberapa jam berlalu, suaminya hanya bangkit dari duduknya saat waktu sholat masuk. Selain daripada itu, dia fokus menatap dokumen tanpa lelah dan diam membisu.


Terdiam, Azira harus mengakui bahwa karisma Kenzie sebagai seorang laki-laki memang luar biasa. Wanita manapun, termasuk dirinya akan memiliki ilusi yang sangat hangat jika bisa hidup bersamanya. Dan sekarang Azira merasakannya.


Suaminya memang tidak bersikap lembut kepadanya karena ia hanyalah pengganti di sini. Cinta dan kasih sayang suaminya hanya ada pada Humairah seorang. Namun, Azira bersyukur karena walaupun tidak bisa bersikap lembut, suaminya tidak memperlakukannya dengan kasar.


Ia menggelengkan kepalanya, mengusap wajahnya agar tidak terlalu banyak berpikir sembari mengatur suasana hatinya. Beberapa detik kemudian ia menyingkirkan selimut yang telah menghangatkan badannya, lalu turun dari kasur dan berjalan perlahan menuju pintu. Langkahnya sangat ringan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu konsentrasi Kenzie bekerja.


Dengan hati-hati pula tangannya menarik gagang pintu kamar.


"Mau kemana?" Suara acuh tak acuh Kenzie bertanya.


Azira spontan menegakkan punggungnya dan menoleh dengan kaku ke arah Kenzie.


"Aku...mau mengambil air minum, mas." Kata Azira menjawab.

__ADS_1


Wajah datar Kenzie melirik gelas kosong di atas nakas.


"Cepatlah."


"Ya." Azira menghela nafas lega.


Ia membuka pintu dan menutupnya dengan hati-hati setelah berhasil keluar.


Ragu, kakinya melangkah ragu ke depan. Mata hitamnya mengawasi rumah ini dengan canggung. Ada takut dan rasa penasaran yang bercampur aduk di dalam dadanya. Ia lahir dari orang miskin, tidak berpunya, dan terbiasa kekurangan banyak hal. Sama seperti reaksi orang-orang miskin lainnya, ia juga akan terlena serta takjub melihat segala hal yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam hidup ini.


Bahkan matanya tidak pernah berhenti bersinar ketika menuruni anak tangga saat menuju ke lantai satu. Sebab ia belum pernah melihat tangga sepanjang ini dalam hidupnya. Rumah ini memang tidak semegah milik Ayahnya, dan bisa dibilang cukup sederhana. Tapi untuk beberapa alasan yang tidak bisa Azira jelaskan, ia merasa bahwa rumah ini jauh lebih hangat. Tempatnya sangat luas, tapi didekorasi sederhana seperti rumah biasa pada umumnya. Tidak ada guci mahal, pusaka keluarga, ataupun barang antik yang tidak boleh disentuh. Rumah ini jauh lebih bersih dari yang pernah Azira lihat.


"Non Azira sudah baikan?"


"Iya, pak. Aku sudah baikan." Jawab Azira canggung.


Ia belum terbiasa dengan sikap ramah orang lain.


"Syukurlah. Saya senang mendengarnya. Kalau begitu saya permisi ke depan dulu, non." Dia kemudian pamit dengan sopan.

__ADS_1


Azira mengangguk canggung sambil memperhatikan punggung tuanya pergi. Setelah orang itu pergi, ia kemudian melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil air minum.


"Azira?"


Azira terkejut dan hampir saja menjatuhi gelas di tangannya. Tapi untungnya ia bisa menganggapnya kembali, jika tidak, maka ia akan menambahkan masalah lagi kepada dirinya sendiri.


"A... Abah." Azira menunduk canggung.


Abah adalah orang yang paling diam dan acuh tak acuh di rumah ini. Semenjak ia masuk ke dalam rumah ini, Abah tidak pernah mengucapkan sepatah katapun kepada dirinya. Jadi, Azira tidak tahu sikap Abah kepadanya seperti apa karena ia belum pernah berinteraksi secara langsung.


"Jangan minum sambil berdiri. Biasakan diri untuk minum sambil duduk, ini lebih baik untuk kesehatan." Kata Abah menasehatinya.


Azira tertegun. Setelah diingatkan oleh Abah, ia buru-buru duduk di kursi sambil memegang erat gelasnya. Bola matanya yang tajam bergerak gesit mengikuti kemanapun Abah bergerak.


"Iya, Abah. Terima kasih sudah mengingatkan aku."


Abah masuk ke dalam dapur mengambil gelas dari rak dan menumpahkan kopi panas dari ketel listrik. Uapnya yang hangat menari-nari di depan wajah tua Abah.


"Ayo ikut Abah ke taman belakang." Kata Abah seraya membawa kopinya keluar dari dapur.

__ADS_1


Azira tercengang dengan ajakan tiba-tiba Abah. Untuk beberapa detik, otak Azira lambat memproses kata-kata Abah hingga punggung tuanya perlahan menghilang dari pandangan. Azira spontan berdiri dan menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja sebelum membawa langkah kakinya mengejar Abah.


"Abah, tunggu." Teriaknya sambil mempercepat langkahnya.


__ADS_2