
Yana mengangguk semangat. Meskipun agak pahit dan bau, Yana tetap akan meminumnya karena itu adalah buatan mamanya.
"Siap, ma."
Kemudian dia menghampiri ayah dan mengecup punggung tangan ayah sayang.
"Pagi, ayah." Sapanya dengan senyuman manis di wajahnya.
Ayah tersenyum. Tangan besarnya bergerak mengelus puncak kepala Yana penuh kasih.
"Selamat pagi. Ayo sarapan, hari ini mama sengaja buatin kamu bubur biar perut kamu lebih nyaman." Kata ayah sambil menarik kursi di sebelahnya.
Yana menolak duduk di sana dan malah menarik mama agar duduk di sana. Sementara dia duduk di samping Mona.
"Masya Allah, makasih ya, ma. Sebenarnya mama nggak usah repot-repot buatin aku bubur karena perut aku udah nggak sakit lagi. Cukup minum air kunyit buatan mama, sakitnya langsung hilang!"
Mama tertawa mendengarnya. Dia senang sekali dipuji oleh Yana. Memangnya Ibu mana yang tidak senang masakannya dipuji oleh anak sendiri?
"Tuh, Yana aja tahu kalau air kunyit buat mama ampuh. Kakak kamu nih si Mona nggak pernah mau minum air kunyit buatan mama meskipun mama udah masakin loh. Alasannya kunyitnya bau dan rasanya pahit. Padahal kan semua obat sama aja, sama-sama pahit, mama belum pernah tuh nemuin obat manis." Senang dipuji oleh Yana, Mama sempat-sempatnya mengalah ke Mona karena minuman air kunyit yang dia buat tidak pernah mau disentuh oleh Mona.
Mama sempat kesal karena dia sengaja membuat air kunyit demi kebaikan Mona sendiri. Tapi Mona tidak mau menghargainya sekuat apapun mama memaksanya.
"Mona nggak pernah suka sama kunyit." Kata Mona singkat sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Jangan tanya sejak kapan dia makan. Melihat drama keluarga ini dia tidak tahan mendengarnya jadi dia langsung makan sarapan sendiri tanpa menunggu mereka menyelesaikan drama.
"Terserah deh, kalau kamu nggak mau makan sakit perut kamu nggak akan sembuh-sembuh. Mama angkat tangan." Kata mama tak senang.
Mona diam tidak menggubris kata mama. Jauh di dalam hatinya dia mau bilang kalau dia nggak suka dibandingin sama Yana. Mungkin Yana tahan dengan bau kunyit, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Dia tidak suka kunyit dan lebih lagi tidak suka bau kunyit.
"Hari ini kamu ada beberapa mata kuliah?" Tanya ayah kepada Mona.
Mona mengambil ponselnya dan langsung mengirimkan ayah jadwal kuliahnya.
"Hari ini cuma ada satu mata kuliah. Selesai kuliah Mona mau ke toko buku untuk membeli buku dosen Mona karena tidak ada di perpustakaan. Habis beli buku di toko buku, Mona mau ke rumah Abah. Udah beberapa hari Mona nggak ke sana, kak Azira pasti mencari Mona." Kata Mona menjabarkan satu demi satu jadwal kegiatannya hari ini.
Meskipun kesal dengan sikap ayah yang protektif, Mona juga menyadari ayah seperti ini gara-gara kesalahannya sendiri. Kalau Mona nggak bolos kuliah kemarin, ayah pasti tidak akan meragukannya.
"Hum." Ayah langsung mengecek jadwal kuliah Mona di ponselnya.
Setelah melihat hanya ada satu mata kuliah hari ini, ayah puas.
"Berapa harga bukunya? Biar ayah tambahin." Ayah mengeluarkan dompetnya.
Sebenarnya Mona masih memiliki cukup uang. Karena beberapa waktu yang lalu Kenzie dan Ayana mengirimnya uang saku, belum lagi tabungannya yang tak tersentuh, Mona sama sekali tidak kekurangan uang.
Tapi karena ayah mau memberikannya, dia juga tidak menolak. Lagi pula siapa yang tidak cinta uang?
"Mungkin 150-an." Kata Mona tidak tahu kisarannya.
Harga buku yang biasa dia beli tidak jauh dari angka ini dan mungkin lebih murah lagi.
"Nih, jangan lupa makan di kampus. Kalau Mona butuh uang lagi, telepon aja, ayah." Kata ayah sambil memberikan Mona uang 5 lembar merah, cukup banyak.
"Terima kasih, ayah."
Mama melirik uang di tangan Mona, kemudian beralih menatap Yana yang tidak memiliki uang di tangannya.
"Ayah kasih juga bagian Yana." Kata mama kepada ayah.
"Ayah sudah kasih Yana kemarin. Jangan terlalu boros." Tolak ayah.
Kemarin dia tidak memberikan Mona uang dan hanya memberikan Yana saja. Dan hari ini ayah memberikan Mona uang tapi tidak untuk Yana.
Mama tidak setuju.
"Uang yang ayah kasih ke Yana kemarin udah habis dipakai untuk membeli pakaian. Ayah juga tahu sendiri kan kalau Yana nggak punya baju di sini."
Ayah mengerutkan keningnya,"3 juta habis begitu saja?"
3 juta!
Mona menatap Yana kesal. Jatah Yana jauh lebih besar dari miliknya, Mona tidak terima.
"Masih ada sisa kok, Yah." Kata Yana tidak menolak juga tidak menerima.
Mona sakit gigi melihatnya.
"Bilang sama ayah kalau udah habis nanti." Artinya ayah tidak memberikan sekarang.
Mama menggelengkan kepalanya. Saat mengambil telur, mama tidak sengaja melihat tatapan tidak senang Mona kepada Yana.
__ADS_1
"Mona, pulang nanti apa bisa kamu nggak usah main ke rumah Abah? Kasihan adik kamu sendirian di rumah." Niat mama baik.
Dia ingin mendekatkan hubungan mereka berdua. Mama sangat berharap kalau Mona mau menerima Yana seperti yang dilakukan oleh Ayana. Ketika Yana masuk ke dalam rumah dulu, Ayana tidak bereaksi sekeras Mona. Tidak butuh waktu lama bagi Ayana menerima kenyataan kalau dia memiliki adik baru.
Mona tersenyum dangkal,"Nggak bisa, ma." Tolak Mona mentah-mentah.
Mama tidak senang.
"Mona, semalam mama bilang apa?"
Mana tidak mengatakan apa-apa. Coba saja Yana tidak mengungkapkan rahasianya semalam, Mona mungkin bisa berkompromi dan menemani Yana di rumah. Karena biar bagaimanapun Yana juga sepupunya. Tapi yang tidak dia terima adalah Yana mengungkapkan rahasianya di depan kedua orang tuanya. Apa coba maksud Yana kalau tidak ingin mempermalukannya.
"Nggak apa-apa kok, ma. Semalam kak Azira bilang aku boleh kok ke rumah Abah untuk main sama dia. Nanti aku bisa jalan sendiri ke rumah Abah, tempatnya juga deket, kok." Kata Yana menghalau mama agar jangan marah.
Mona sudah habis kesabaran.
"Sebentar lagi aku masuk, aku pergi dulu, assalamualaikum." Dia mengecup tangan mama dan ayah, lalu buru-buru pergi.
Sasa tidak datang ke rumah karena hari ini dia dapat kelas sore sementara Mona sendiri dapat kelas pagi. Mereka tidak berada di kelas yang sama tapi sesekali akan bertemu di mata kuliah yang sama karena mereka berdua satu jurusan.
"Drama keluarga oh drama keluarga, lama-lama aku mau jadi TKW ke Arab Saudi biar bisa terbebas dari drama ini." Kata Mona kesal.
Saat ini dia tengah menunggu taksi online nya datang. Butuh dua atau tiga menit taksi online nya tiba. Makanya dia terpaksa menunggu di depan rumah.
"Huh... Adakah pangeran surga yang berkenan melirikku sebentar saja? Tolong... selamat- uhuk!" Mona terbatuk melihat seseorang yang dia coba hindari baru-baru ini lewat tepat di depan matanya.
Dia sampai sekali tidak menyangka akan bertemu orang ini di sini- tapi, orang itu berjalan lurus tanpa meliriknya sama sekali. Seolah-olah orang itu tidak menyadari ada seonggok manusia berdiri di pinggir jalan.
"Selamat pagi, Pak Al?" Orang-orang di jalan menyapanya.
Al sangat ramah. Dia menyempatkan diri membalas sapaan orang-orang yang menyapanya.
Sesak di hati Mona kembali terasa. Al jelas menyapa orang-orang itu, tapi tidak mau berhenti menyapanya- ah, jangankan menyapa melirik saja tidak. Ironisnya, mereka saling mengenal tapi Al selalu bersikap bahwa mereka hanyalah orang asing.
Hah...
Bukan Mona yang ingin menghindari Al, tapi justru sebaliknya, Al adalah orang yang ingin menghindari Mona. Alasan kenapa Mona selalu menjaga jarak dari Al setiap kali mereka bertemu adalah karena Mona tidak mau terlalu sakit hati. Dia tahu ceritanya akan seperti ini. Al akan mengabaikannya sekalipun dia berdiri tepat di depan matanya.
"Aku ini kenapa, sih?" Mona menundukkan kepalanya sambil menahan nafas.
Entahlah, setiap kali dia bernafas, hatinya akan semakin perih.
Wajahnya yang cemberut kini berubah menjadi sendu, tampak sayu dan menyedihkan.
Bodohnya dia selalu mengatakan bahwa dia tidak bisa memiliki laki-laki ini, tapi selalu saja matanya tidak bisa beralih dari sosok tampan itu. Entah sudah berapa kali dirinya dikecewakan, tapi hatinya selalu tidak mau mendengarkan dan terus menerus melayangkan harapan... Sebuah harapan semu.
"Mona!" Sasa berteriak memanggil.
Mona tanpa sadar mengangkat kepalanya melihat ke arah asal suara.
Jauh di sana, Sasa melambaikan tangan ke arahnya. Dia memberikan gesture seolah mengatakan bila Mona harus datang. Tangannya melambai, dan matanya berkedip nakal melirik Al yang kini juga sedang menatap ke arahnya.
Mona tidak sengaja melihat Al,
Deg
Mata itu menatapnya tanpa berkedip. Tidak ada senyum di wajahnya kecuali tatapan datar tanpa emosi.
Acuh tak acuh, sama seperti hari itu. Al tidak pernah menunjukkan senyuman kepadanya. Mungkin semenjak Mona mengungkapkan perasaannya kepada Al, senyuman hangat itu langsung menguap entah ke mana digantikan oleh tatapan muram tak bersahabat.
Ekspresi itu tidak pernah berubah bahkan hari ini pun sama.
"Hah..." Mona menahan nafas, merasakan nyeri di hati yang kembali berdenyut sakit.
Dia menundukkan kepalanya karena tak sanggup lagi melihat wajah tanpa ekspresi itu menatap ke arahnya.
"Mona, sini! Salam sama Pak Al." Sasa lagi-lagi berteriak memanggilnya.
Bahkan dia kini mendesaknya untuk segera datang. Mona sebenarnya ingin sekali datang, rasanya rindu yang terpendam di dalam hati sangat ingin segera diluapkan.
Yah, dia sangat merindukannya. Mungkin hanya Allah yang tahu betapa besar kerinduannya terhadap laki-laki ini.
"Aku ingin sekali.." Namun saat melihat tatapan menyipit Al kepadanya, dia tahu bahwa tak seharusnya dia ke sana.
Al mungkin tidak mau bertemu dengannya.
"Aku ada kuliah." Katanya sambil menunjukkan layar ponselnya.
Tepat setelah dia mengatakan itu taksi yang dia pesan akhirnya datang. Dia langsung menghela nafas lagi. Tersenyum tipis kepada Sasa, dia tidak berani melihat Al lagi.
Kemudian dia masuk ke dalam taksi dan meminta taksi untuk segera pulang.
__ADS_1
"Ayo Pak, bentar lagi aku masuk." Katanya mendesak.
"Siap, mbak."
Setelah taksi jalan, barulah dia merasa nyaman. Dia menegakkan duduknya melihat ke arah jendela luar. Saat taksi yang dia tumpangi melewati Al dan Sasa, dia buru-buru mengecilkan dirinya sambil mengintip ke arah jendela.
Untung saja Al tidak memperhatikan taksi ini dan malah berbalik ngobrol dengan Sasa. Sikap acuh tak acuhnya di depan Sasa perlahan melembut digantikan oleh sikap yang hangat.
Rasanya sangat menyedihkan. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari apa yang dia lihat sekarang. Laki-laki yang dia cintai setulus hati dekat dengan sepupu sekaligus sahabatnya, untuk sejenak dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Tubuhnya lemas bersandar di atas kursi. Menatap ke arah luar dengan tatapan kosong. Kepalanya berputar-putar memikirkan percakapannya dengan Sasa tempo hari.
"Tapi tahu enggak, Mona, kemarin pak Al tiba-tiba ngomong sama aku biar masuk kelasnya tepat waktu. Jujur, aku kaget lho. Kok pak Al tahu ya hari ini dia bakal ngajar di kelas kita? Atau gini deh yang membuat aku heran banget, dari mana Pak Al tahu kalau aku salah satu mahasiswi yang hadir di kelasnya?"
Pagi itu sebenarnya dia sangat terkejut, tidak menyangka saja bila suatu hari Sasa akan terhubung dengan Al.
Matanya hanya menatap Sasa tanpa berkedip, sementara bibirnya kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun,"Kamu enggak mikir gitu kalau pak Al udah mengenal aku? Kalau enggak, kenapa dia memintaku untuk datang tepat waktu di kelasnya hari ini?"
Kemudian Mona memikirkan betapa dekatnya Sasa dan Al pagi ini. Semuanya tampak berjalan mulus dan Mona tidak bodoh. Dia tidak bodoh untuk tidak mengetahui bahwa mungkin saja pelabuhan hati selanjutnya Al jatuh kepada Sasa.
"Ya Allah, apakah Engkau juga menganggap jika aku adalah wanita yang menyebalkan? Benar juga, aku sendiri pun merasa kalau aku ini wanita menyebalkan. Dia sekarang sudah memiliki cinta baru, bukankah seharusnya aku.... Berhenti memikirkannya?" Gumamnya berbicara pada dirinya sendiri.
Dia tersenyum kecut, menghapus air mata di sudut matanya, dia mengambil nafas panjang untuk mengatur emosi yang sempat kacau.
"Hari ini tidak berjalan baik. Akhir-akhir ini semuanya kacau. Pertama Yana akhirnya kembali ke rumah, kedua mas Al tiba-tiba pindah rumah ke komplek sini dan terakhir sahabat sekaligus sepupuku menyukai mas Al. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku sekarang. Mungkin saat ini yang terbaik bagiku adalah meluangkan waktu untuk menenangkan diri. Mengurung diri di dalam kamar tidak akan menenangkan hatiku. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?" Dia sendiri bingung harus ke mana. Dia tidak memiliki tempat tujuan untuk berteduh sebentar saja.
Rasanya sangat sulit.
"Mbak," sopir taksi memanggil.
"Ya?" Mona meliriknya asal.
Saat melihat tissue di tangan sopir itu, Mona terdiam. Menyentuh sisi wajahnya yang entah sejak kapan basah karena air mata.
"Terima kasih." Ucapnya berterima kasih sambil mengambil tissue itu dari tangan sopir taksi.
Perjalanan selanjutnya dilalui dengan kesunyian hingga akhirnya dia sampai di depan kampus. Saat membayar ongkos taksi, dia sengaja memberikan lebih dan langsung melarikan diri sebelum sopir taksi itu menolak.
Perhatian kecil dari sopir taksi itu membuatnya menghangat, sayang sekali dia bukan keluarganya, pikir Mona kosong.
Tepat beberapa menit sebelum masuk kelas, Mona langsung berlari cepat masuk ke dalam kelas sebelum terlambat.
...*****...
Pulang dari kampus Mona tidak langsung pulang ke rumah. Sesuai dengan rencananya dia mampir dulu ke toko buku di pinggir jalan. Toko buku ini langganan Mona. Jangan salah, walaupun Mona biasanya suka membuat masalah dan manja, tapi dia memiliki hobi yang sangat mulia. Yaitu dia gemar membaca buku. Dia suka buku-buku tentang agama dan terkadang akan membaca novel, tapi tidak sembarang novel. Novel yang biasa dia suka baca adalah novel religi. Biasanya sih tentang cinta-cintaan di dalam pondok pesantren.
Dan terkadang Mona juga akan membaca novel Cina tapi lewat situs web. Tidak seperti genre spiritual, novel Cina yang dia baca seringkali bertema tentang perjalanan waktu atau kelahiran kembali yang sering dikaitkan dengan balas dendam. UM, dia sangat suka dengan novel yang berkaitan balas dendam.
"Mbak Mona kok tumben ke sini?" Salah satu staf wanita yang sudah mengenal Mona datang menyapa.
Memang sudah hampir dua minggu dia tidak datang berkunjung ke sini.
"Iya, aku lagi sibuk kuliah. Dosen-dosenku pada kehilangan hati nurani semua, masa ngasih tugasnya nggak kira-kira makanya aku nggak pernah ke sini." Kata Mona sambil curhat.
"Duh, kasian banget, mbak. Udah mbak, kuliah kan sulit dan mbak juga makan hati, daripada mempersulit diri dengan tugas-tugas kuliah lebih baik mbak nikah aja." Ujar staf itu bercanda.
Mona langsung tertawa.
"Eh, aku mau banget. Tapi sayang jodoh aku dimana, hilalnya masih belum kelihatan. Kalau kamu lihat, langsung kasih tahu aku, ya?" Balasnya bercanda.
Brak
Pintu masuk toko buku berbunyi. Mona dan staf itu kompak melihat ke arah sana. Begitu dia melihat siapa yang masuk, tubuhnya langsung mematung kaget.
"Ah, ada pelanggan. Aku permisi dulu ya, mbak." Staf itu berseru senang melihat pelanggan baru datang ke toko buku.
Toko buku ini memiliki banyak staf, tapi berhubung yang datang laki-laki dan tampan, staf wanita ini tidak mau ketinggalan dan memutuskan untuk melayani langsung laki-laki itu.
Mona tersadar, dia langsung menarik pandangannya dari laki-laki itu.
"Iya...iya, kalau begitu aku lihat-lihat buku dulu." Kata Mona sambil berjalan cepat masuk ke dalam lautan rak buku.
"Ya Allah, kenapa mas Al bisa ada di sini? Eh, aku ngomong apa sih, dia ke sini pasti buat nyari buku! Tapi... masalahnya aku apes banget ketemu sama dia di sini!" Gumam Mona merutuki kesialannya yang bertemu dua kali berturut-turut hari ini.
Dia mengecap bahwa pertemuan hari ini adalah kesialannya, tapi tangan yang tengah meraba dadanya telah mengkhianati mulutnya sendiri.
Jantungnya berdebar kencang. Dia senang, ah...dia mungkin bahagia bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan. Sekalipun hanya bertatap muka, tapi begitu saja Mona sudah sangat puas. Dia puas.
"Nggak nggak nggak nggak! Ya Allah, Mona berhenti mikir yang tidak-tidak." Mona menepuk wajahnya agar dia segera menyingkirkan pikiran gila ini.
"Okay, fokus! Aku harus mencari buku yang kucari dan setelah itu pergi ke rumah Abah!" Dia memperingati dirinya sendiri tujuan kenapa dia ada di sini.
__ADS_1