
Azira membantunya membeli banyak gamis cantik-cantik dan indah. Dengan semua pilihan Azira, kakaknya tidak bergeming dan membiarkan Azira begitu saja menghabiskan banyak uang. Masalahnya uang itu dihabiskan membeli banyak pakaian untuknya sendiri dan bukan untuk Azira. Karena Azira sendiri agaknya sulit berbelanja. Setelah diperhatikan oleh Sasa, dia menyimpulkan bahwa Azira mungkin terbiasa hidup hemat dan belum pernah membeli pakaian sebebas ini. Sasa merasa bila tebakannya terlalu berlebihan namun pada saat yang sama juga dia memiliki kepercayaan bahwa apa yang dia pikirkan kemungkinan besar memang benar adanya. Bukankah Bibi Safa pernah mengatakan bahwa Azira hidup di lingkungan yang kotor karena pekerjaan Ibunya sebagai wanita malam?
Hidup seperti ini pasti sulit baginya.
"Kak, lihat ini deh. Warna bibir kakak cocok banget dengan lipstik ini. Nah warna yang ini juga... Dan ini... Ini juga.." Mata Sasa langsung berbinar terang ketika mereka pindah ke toko perawatan wajah untuk wanita.
Bagi para wanita yang mendambakan kecantikan, ini adalah surga dunia yang tak bisa dilewatkan selama memiliki uang!
Azira pusing melihat warna-warna lipstik yang Sasa tunjukkan kepadanya. Untunglah Kenzie tidak mengikuti mereka ke sini. Jika tidak, dia pasti akan sangat malu.
"Semuanya bagus.. tapi aku pikir mungkin aku lebih cocok dengan warna ini." Azira menunjuk warna merah jambu, warna yang paling dekat dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Sejujurnya semua warna lipstik ini cantik-cantik dan menggoda. Hanya saja dia tidak berani terlalu boros karena harganya pasti tidak murah.
"Warna ini juga cocok sama kakak. Em... Kak Azira tahu nggak kalau warna bibir kakak itu membuat banyak wanita cemburu loh. Soalnya warna bibir kakak pasti serasi dengan berbagai macam warna lipstik. Ini nggak adil tau nggak, kak. Pertama kali kita bertemu aku mengira jika bibir kakak telah disulam sebelumnya hingga memiliki warna secantik ini." Tapi itu tidak mungkin karena setelah membuat penilaian selama berbelanja dengannya, Sasa menyimpulkan jika Azira adalah orang yang sulit membelanjakan uang. Jadi mana mungkin Azira membuang uang hanya untuk melakukan sulam?
Lagian kalau diperhatikan lebih dekat, warna bibir Azira cantik dan alami, bukan karena dibuat-buat. Ah, dia bertambah iri melihatnya.
Azira malu dipuji oleh adik iparnya.
"Kakak dulu tinggal di kampung?" Sasa bertanya bingung.
Bukankah Azira selama ini tinggal di kota, hidup bersama Ibunya yang bekerja sebagai wanita malam di sebuah klub ilegal.
__ADS_1
Azira menganggukan kepalanya dengan santai. Apa yang memalukan dengan tinggal di kampung?
"Aku lahir di kampung dan tumbuh besar di kampung hingga usia kakak 12 tahun kemudian, barulah aku dan Ibuku datang ke kota...." Lalu dia terdiam memikirkan beberapa kenangan buruk setelah datang ke kota ini.
Kenangan buruk... Awal dari hancurnya kehidupan mereka berdua. Tersenyum kecut, Azira mencela diri sendiri karena terlalu naif pada saat itu. Seorang Ayah yang tak pernah dilihat selama 12 tahun dan menghilang tanpa kabar, mana mungkin sosok Ayah itu memiliki sentuhan kasih sayang di dalam hatinya untuk mereka berdua?
Sungguh naif, saat itu karena cemburu melihat anak-anak lain yang memiliki Ayah, dia menumbuhkan pikiran bahwa dia harus memiliki seorang Ayah dan seorang Ayah tidak mungkin tidak menyayangi putrinya.
"Kak Azira?" Sasa menepuk pundak Azira.
"Oh.." Azira langsung sadar dari lamunan, tanpa menunggu rasa bertanya lagi dia langsung mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Jadi aku harus membeli yang mana?"