Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 17.1


__ADS_3

"Hari ada kuliah, Nak? Kamu pulang jam berapa?"


Sasa keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan penampilan yang menyegarkan. Hari ini aja kuliah pagi hingga siang dan masuk lagi nanti sore. Cukup sibuk karena ada 4 mata kuliah yang harus dihadiri. Dosen di setiap mata kuliah punya karakter yang berbeda tapi sayang sekali tidak ada yang seru. Masuk kuliah agaknya membosankan untuk mata kuliah hari ini tapi kalau dilewatkan juga sayang karena absen kehadiran sangat diperlukan saat ujian akhir semester. Sasa tidak rela nilainya anjlok, apalagi kakaknya adalah alumni kampusnya yang terkenal berprestasi. Mau ditaruh dimana mukanya kalau sampai orang tahu kualitas otaknya berbeda dengan sang kakak.


"Hari ini ada 4 mata kuliah dan pulangnya insya Allah jam 5 sore kalau enggak ada kendala. Ngomong-ngomong kak Azira dimana, Umi? Aku liatin dari tadi subuh kok enggak nongol?" Tanya Sasa penasaran.


Biasanya jam segini Azira sudah standby di meja makan bantu Umi beres-beres tapi hari ini tumben Azira tidak kelihatan.


"Umi juga enggak tahu- nah, tuh kakak kamu. Tanya langsung aja kenapa Azira belum turun?" Kata Umi sambil nunjuk ke arah belakang Sasa.


Sasa menoleh ke belakang. Kenzie masuk ke ruang makan sendirian tanpa kehadiran Azira. Sasa kira kakak iparnya itu akan segera menyusul, tapi setelah menunggu beberapa detik, dia masih belum melihat bayangannya. Tidak, jangankan melihat bayangan Azira, mendengarkan suara langkah kakinya saja tidak ada.

__ADS_1


"Kak Kenzie kok turun sendirian?" Mengalihkan perhatiannya menatap sang kakak.


"Azira lagi kurang enak badan. Kakak tidak membiarkannya turun ke bawah karena dia membutuhkan waktu istirahat. Kenapa, kamu kangen?" Suara Kenzie acuh tak acuh tanpa menatap lawan bicaranya.


Dia merendahkan badannya untuk mengambil semangkuk bubur hangat di atas meja dan beberapa roti tawar tanpa selesai sebagai sarapan Azira di dalam kamar.


"Oh- astaghfirullah!" Saat akan memalingkan wajahnya mata Sasa langsung dibutakan oleh cetakan merah di leher bawah Kenzie.


Pipinya langsung merona merah seiring dengan pikirannya yang traveling memikirkan hal yang sangat... menantang!


Pantas aja kak Azira enggak turun ke bawah. Ternyata mereka abis ini, toh. Tapi kok tumben ya kak Azira absen setelah ngelakuin itu? Jangan-jangan main kak Kenzie tadi malam terlalu keras, yah- duh, Sasa! Apa sih yang kamu pikirkan?

__ADS_1


"Astaghfirullah... astaghfirullah.." Katanya sambil mengelus dada.


Kenzie dan Umi meliriknya aneh.


"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Abah yang baru saja bergabung di ruang makan.


Sasa melirik leher bawah Kenzie lagi. Kali ini dia tidak bisa melihat cetakan merah itu karena sudah tertutupi oleh kerah baju Kenzie. Merasa menyesal, dia segera menarik pandangannya berpura-pura santai.


"Enggak, Bah. Aku kepikiran Mona aja. Mau cepat-cepat pergi kuliah sama dia." Katanya menutupi kebenaran.


Sebenarnya dia memang ingin cepat-cepat bertemu dengan Mona. Tujuannya apa lagi kalau bukan bergosip. Soalnya Sasa geretan ingin berbagi cerita dengan Mona. Satu-satunya orang yang bisa dia ajak bicara dan satu-satunya orang yang punya pikiran yang sama dengannya.

__ADS_1


"Sarapan dulu, baru pergi. Bawakan juga sarapan untuk Mona. Anak itu akhir-akhir sangat senang tinggal di sini. Biasanya dia selalu menolak kalau diajak menginap." Ujar Abah kepada putrinya.


Beberapa hari ini dia sangat puas karena Mona menginap di sini setiap malam sehingga rumah jauh lebih ramai dan hidup dari sebelumnya.


__ADS_2